4 Mar 2012

SAYA GALAU ? Ahhhhhhh........TIDAK LAGI

Sesore ini saya sudah bisa tersenyum. Ya….bener-bener. Rasanya kenyang tanpa makan.

Hampir 1 minggu ini otak saya tegang. Benar-benar tegang. Bukan karena pekerjaan, bukan karena masalah pribadi saya. Tapi seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. Galau karena SEMINAR INTERNASIONAL DAN FESTIVAL TRADISI LISAN VIII & REVITALISASI BUDAYA MELAYU III. Saya hanya berpikir saya harus ikut, paling tidak mencoba mengirimkan abstraksi saya tentang tradisi lisan Banyuwangi.

“Kenapa Banyuwangi Nda? Kenapa bukan Melayu? Bukankah kamu sekarang di Batam”

“Karena Nda besar di budya Banyuwangi. Kalu Nda ikut kan dapat dua-duanya, karena di sana juga ada revitalisasi budaya Melayu”

Kamu menganggukkan kepala, menyetujuinya

Saya berpikir tentang tradisi lisan yang ada di Banyuwangi. Basanan? Wangsalan? Bisa di bantai habis saya. Secara Tanjung Pinang tempat acara adalah kota Pantun. Sedangkan membuat pantun, wangsalan, basanan, saya butuh waktu 1 jam untuk 4 baris. Awalnya saya berniat untuk menulis tradisi lisan tentang Mocoan Lontar Yusuf, di desa Kemiren. Tapi sahabat saya Ika Ningtyas protes.

“Untuk wawancara langsung lama Raa. Apalagi kalau via telpon. Apalagi ada dua buku tebal yang harus kamu kaji. Emang ada waktu? Sudahlah ambil yang kamu bisa. Mantra Santet Jaran Goyang. Bukankah kamu ahli dalam hal itu?. Lagian mocoan kan tidak hanya ada di Banyuwangi tapi di semua wilayah Jawa ada. Efesien waktu Raa”.

Saya membenarkan usulan Ika. Dan kembali menulis kembali tentang Santet Jaran Goyang, sebuah tulisan yang pernah saya buat saat Lomba Karya Tulis Mahasiswa hampir di atas 5 tahun yang lalu. Saya ingat pernah menulisnya di blog.

Saat saya searching di internet saya menemukan fakta yang mengejutkan bahwa semuanya men-copy paste tulisan saya yang pernah saya kirim via email ke sahabat junalis saya. Persis …bahkan gilanya lagi ada yang mencantumkan nomer hp untuk praktek ilmu itu di blog nya. Oh tidaaakk…………..! serasa berdarah-darah.


“Tulisan Nda di copy paste yah”

“Itulah dunia maya Nda…sudahlah……itu tandanya tulisan mu di butuhkan orang lain”

“Tapi ada yang menyertakan nomer hp di bawah copy paste tulisan Nda. Apa dipikir Nda dukun”

“Sudah di hubungi nomer telponnya?”

“Nggk aktif……”

Ah….tapi saya tidak peduli lagi dengan copy paste article saya. Yang terpenting  saya sudah menyelesaikannya sore ini. Mau tau judulnya? Sama dengan artikel saya beberapa tahun yang lalu. Mantra Santet Jaran Goyang, Aktualisasi Dendam Masyarakat Using Kabupaten Banyuwangi.

Ya…saya hanya akan menulis apa  yang ingin saya tulis. Dan saa berhasil menulis apa yang ingin saya tulis.

“Cek dulu tulisanmu. Kebiasaan buruk. Pasti ada huruf yang kurang, kalimat yang nggk lengkap”

Saya nyengir kuda. Saya pastikan semua hurufnya tidak kurang sayang.....

Setelah saya mengirimkan abstraksi saya ke Jakarta, saya berusaha menghubungi panitia lokal Dinas Pariwisata Kota Tanjung Pinang.

“Mbak Ira…….semoga tulisannya di setujui dengan Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta ya. Kalau nggk nanti nama Mbka Ira di masukkan ke undangan budayawan Lokal dari Tanjung Pinang. Tapi ya itu tadi tidak ada akomodasi penginapan, karena budayawan lokal kan rumahnya ada di sini semua. Untuk konsums di tanggung penyelenggara. Nggk apa-apa kan? Mbak Ira di Batam kan?”

“Iya pak saya di Batam . Nggk apa-apa Pak…….nanti saya bisa cari penginapan sendiri”

“Makasih ya mbak atas apresiasinya”

Saya menutup telpon dan mengepalkan tangan saya. Yiiihhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………..Walaupun belum pasti tapi paling tidak itu adalah angin segar untuk saya.Saya berpikir tidak masalah saya tidur di hotel kecil. Bukankah sudah terbiasa menjadi backpaker?

Sore ini saya menulis catatan saya tanpa beban. Rasanya mengalir seperti air mengalir. Tinggal menunggu waktu saja.

Membayangkan wajahmu tersenyum. Hei Dear…… terimakasih kamu selalu menyemangati saya. Membuat saya kembali percaya diri dalam kegalauan saya.

“Liat muka kamu yang tegang buat saya nggak tega Nda. Sini……”. Kamu merentangkan tangan kamu senja itu.

Saya memeluk kamu dan meletakkan kepala di dada kamu.  “Terimakasih mengurai ketegangan saya”. Dan kita tertawa terbahak-bahak sat menyadari betapa bodohnya kita.

: dear…..saya galau? Tidak lagi. Terimakasih sudah menemani saya hingga detik ini, dengan cara kamu sendiri yang terkadang membuat saya terheran-heran.



Saya ingat saat saya ingin bercerita tentang ini kepada kamu terpotong,  karena kamu sibuk menerima telpon. Dan saya memilih menghabiskan potongan kue dan segelas teh tarik sore itu.

"Nggk apa-apa sesekali Ngopi Nda...."

"Telat.....aku sudah pesan teh tarik panas"

Batam indah sore ini,

Serumpun Radio, 4 Maret 2012 (saat kehilangan jaringan internet di rumah Baloi)

2 komentar:

daur ulang mengatakan...

pertamaxxxx... wah itu parah bgd mba sampai ada yg copas...?

Kampung Karya mengatakan...

wah semoga berhasil tulisannya mbk...