22 Jan 2015

BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA. PAHAM?


Anak-anak rumah baca saat membersihkan Pantai Bangsring Banyuwangi
Sudahkah anda membuang sampah di tempatnya hari ini?

"Kak aku sudah ambilin sampah dan buang ke tempatnya. Tapi om-om itu abis minum gelasnya langsung aja di buang ke pasir," kata seorang anak sambil menarik-narik baju saya dan menunjuk rombongan pelancong di Pantai Bangsring

"Sekarang kamu lari kesana. Ambil gelas plastik yang dibuang om-nya masukkan ke tempat sampah. Anak hebat selalu berbuat baik,".

Perempuan kecil itu berlari dan langsung mengambil gelas plastik dan membuangnya ke tempat sampah. Om-om ber kaos putih itu langsung pucat pasi. "Om besok jangan buang sampah sembarangan ya," kata gadis itu. Lalu ia berlari kembali dan melakukan toss dengan saya.

Saya tertawa jahat semacam ibu tiri di sinetron saat melihat muka om-om merah karena malu.

"Aku kan capek. Sudah ambilin sampah ehh ada yang buang sampah juga"

"Mangkanya kamu jangan buang sampah sembarangan. Anak baik selalu buang sampah di tempat sampah"


SIDAT, UNAGI JEPANGNYA BANYUWANGI






Diriku mendapat tantangan darai Eliza Gusmeri buat upload foto makanan selama lima hari berturut turut. Nahh baru sempat memulai hari ini. Dengan banyaknya pilihan makanan, maka saya akan memilih dan memilih poto poto makanan khas Banyuwangi.

Saya memilih makanan khas. Keindahan dan kebagusan sisi fotografinya saya abaikan secara sudah nggak pernah lagi angkat-angkat kamera "gede". Hanya modal kamera dari handphone saja karena yang terpeting sisi "kekayaan kuliner" tersampaikan. Saya menyebutnya politik meja makan.

Untuk hari pertama saya memilih Sidat.

Di Banyuwangi dikenal dengan nama Uling. Kalau di Jepang dikenal dengan Unagi. Harganya cukup mahal mencapai 150 ribu lebih per kilo gram bahkan lebih.

Unagi bukan belut. Unagi adalah sidat. Dagingnya lembut dan bumbu bisa dengan mudah meresap ke dalamnya. Di Jepang, Unagi biasanya di masak Kabayaki dengan saus terbuat dari campuran kecap asin, mirin, gula pasir, dan sake.

Unagi kabayaki dipercaya orang Jepang sebagai makanan bergizi untuk menambah stamina sepanjang musim panas. Pada hari Doyō no Ushi musim panas (sekitar minggu ke-3 atau minggu ke-4 bulan Juli) terdapat tradisi makan unagi kabayaki di seluruh Jepang.

Saya doyan banget !!!!!

Nah bagaimana sidat di Banyuwangi? di Banyuwangi, Sidat kebanyakan di pepes atau di pelas. Dengan bumbu merah pedas dan di bungkus dengan daun pisang lalu di bakar.

Rasanya Indonesia banget. Seperti biasa saya juga doyan Sidat dimasak versi "Banyuwangi". Kuliner ini ada di Singgasana SIdat, di sebuah tambak yang dikelola secara mandiri di wilayah Parijatah Banyuwangi. Bulan Januari rencananya mereka akan membuka restoran dengan Sidat sebagai salah satu menu utama.

Jayalah terus kuliner Indonesia

MIE NYONYOR RASA RAWON



Namanya "Mie Ramen Rawon" dari Kedai Mie Nyonyor

Memang ini bukan makanan khas lokal Banyuwangi. Namun mie yang satu ini adalah hasil kreasi dari Fendra Agoprilla Putra, salah satu putra asli Banyuwangi. Saya sangat menghargai proses dia hingga seperti saat ini mempunyai beberapa gerai Mie Nyonyor di beberapa titik bahkan di luar Banyuwangi. Omzetnya? luar biasa sampai puluhan juta rupiah.

Mie Ramen Rawon adalah menu baru di kedai Mi Nyonyor. Sebelumnya, menu yang tersedia adalah Mie Nyonyor dengan pilihan level kepedasan. Lalu berkembang ke Mie Ramen, lalu ada pilihan lain Mie Ramen Kare Ayam, da Mie Ramen Rawon.

DEAR SENJA


Dear Senja.

Jika di mejaku ada sepotong roti dan segelas kopi maka aku akan mengundangmu datang. Kita akan berbincang tentang hujan yang tidak turun di kotaku. Lalu kita sama sama tersipu ketika jemari mu menyentuh tidak sengaja lenganku. Kita duduk terlalu dekat.

Dear Senja.

Aku yang tidak menyukai hingar bingar. Aku yang mencintai ketenangan dalam kamar. Aku yang diam diam merindukan kamu diantara tumpukan buku-buku.

"Kita hanya bisa mengumpulkan banyak kenangan Raa"

SAAT PECEL DAN RAWON KAWIN DI BANYUWANGI



Kali ini saya memilih kuliner khas Banyuwangi yaitu "Pecel Rawon"

Banyuwangi yang terbentuk dari berbagai macam suku menghasilkan tradisi kuliner hasil akulturasi. Termasuk juga pecel rawon yang baru muncul di awal tahun 1990-an.

Biasanya pecel ya pecel aja. Rawon ya rawon saja. Banyuwangi berani mencampurnya dan menghasilkan rasa yang luar biasa.

Urutan penyajiannya pun harus sesuai. Nasi, sayur, lalu di siram bumbu pecel baru lah ditambahkan daging dan kuah rawon. Ada juga yang menambahkan empal daging atau telur asin. Plus rempeyek kacang atau kerupuk udang.

Perkawinan antara pecel dan rawon ini lebih 'mak nyus" rasanya.

Dulu saat masih di Batam, jika kangen makanan ini saya akan membelinya terpisah dan mencampurnya di rumah. Paling tidak mirip walaupun rasanya tidak mengalahkan yang asli dari Banyuwangi.

"Bila tidak memiliki beras yang dapat mengenyangkan perut yang lapar, jadilah tangan yang mengolahnya"

Maka nikmati dan bersyukurlah dengan makanan mu hari ini.