8 Jun 2017

ANTRA TEMUK DAN DIDIK

Foto Iraa Rachmawati.

Yang satu adalah Mbok Temu (64) dan satunya Mas Didik Nini Thowok (63). Keduanya adalah maestro tari yang dimiliki Indonesia.

Kemarin mas Didik ke Banyuwangi dan beliau berkunjung ke rumah Mbak Temu untuk belajar tari. Melihat mereka berdua menari Gandrung bersama sama, saya kok yakin bahwa Indonesia akan baik baik baik saja.

Percaya dari mana? Ya iya. Karena selama beratus ratus tahun Indonesia dibangun atas keberagaman suku, agama, adat dan budaya.

Ada yang bilang kalo ada orang yang susah senyum, pikirannya kayak gini :!&*,×:÷:÷?÷_/!(×)*£÷.!,*:*. ruwet. Konon alasannya karena kurang "kudangan". Kurang dinyanyikan. Kurang liat tari tarian. Jadi kaku wangkot dan sejenisnya.

Jadi kalau liat saya agak kurang enak diajak ngobrol dan agak keras kepala. Berarti saya kurang kudangan dan tandanya kode untuk diajak dolan dan jalan jalan.

Selamat berakhir pekan.


Banyuwangi 20 Mei 2017

5 Jun 2017

Dear Senja


Dear Senja.


Jika di mejaku ada sepotong roti dan segelas kopi maka aku akan mengundangmu datang. Kita akan berbincang tentang hujan yang tidak turun di kotaku. Lalu kita sama sama tersipu ketika jemari mu menyentuh tidak sengaja lenganku. Kita duduk terlalu dekat.



Dear Senja.

Aku yang tidak menyukai hingar bingar. Aku yang mencintai ketenangan dalam kamar. Aku yang diam diam merindukan kamu diantara tumpukan buku-buku.

- Kita hanya bisa mengumpulkan banyak kenangan Raa -

- Iyaa mengumpulkan banyak kenang karena kita yakin bahwa kita tidak akan pernah berdua selamanya bukan? -

-Tidak ada yang abadi Raa. -

-Aku tahu. Karena itu kamu bilang kita harus mengumpulkan banyak kenang dan kita tinggal memutarnya begitu saja jika rindu? -

Maka biarkan saja saya berdamai dengan kenyataan. Menyederhanakan mimpi bersama kamu.

Dear Senja.

Singgahlah sebentar saja di rumahku. Agar aku bisa melihat mata kamu dan membiarkan kamu membaca catatan ini. Lalu kita bisa memulai kembali tanpa harus menghentikan apapun yang sedang berjalan.

Percayalah. Menunggu itu tidak lantas membuat orang bahagia tapi aku percaya kamu akan datang dan membawaku pergi ke tempatmu.

Dan pecinta semacam kita ini akan mati perlahan. Tenggelam dalam perasaan kita masing masing.

Dear Senja

Kalau cinta ini buat lucu lucuan saja kenapa kita begitu menyedihkan?

Singgalah sebentar. Kita akan berbagi secangkir kopi dan sepotong roti dengan sedikit buter di atasnya

20 Mei 2017

Foto Iraa Rachmawati.

Arabica? Robusta

Hari itu saya belajar membedakan kopi arabica dan robusta.
Bukan hanya sekedar bentuknya tetapi juga aroma dan rasanya. Robusta bentuknya cenderung lebih bulat dan berisi dibandingkan Arabica. Robusta juga lebih cocok jika dicampur dengan susu dibandingkan Arabica. Iyaa Arabica memiliki rasa asam yang lebih kuat dibandingkan Robusta.
-Kamu suka yang mana?-
-Robusta. Aromanya rasanya benar benar membuat saya jatuh cinta-
Lelaki disebelah saya tertawa dan mengatakam bahwa saya perempuan robusta.

-Robusta cenderung cocok untuk para pekerja keras karena rasa dan cafeinnya lebih kuat. Berbeda dengan Arabica yang lebih cocok untuk ngobrol ngalor ngidul- Dia kembali menjelaskan.
-Atau ada pilihan blend? Campuran antara keduanya?-
Saya tertawa dan berkata tetap akan setia pada Robusta.
Saya berpikir kopi bukan hanya sekedar kamu membayar mahal untuk secangkir kopi yang enak. Ketika kamu menyecap secangkir kopi disana ada banyak cerita tentang para petani kopi. Tentang kemelaratan. Tentang perjuangan. Tentang kapitalisme. Tentang kehidupan.
-Kopi itu adalah eksekusi-
: kepada mu
Besok kita ngopi lagi sebelum kamu atau aku yang pergi
Oh yaa namaku iRaa. Panggil Raa. Aku matahari

Foto Iraa Rachmawati.

RUMAH DI HATIMU

Yang tak kau ketahui aku telah bekerja keras membuat rumah di hatimu. Yang aku bangun dari kumpulan harapan dan keraguan. Akannkah rumah yang aku bangun di hatimu akan terus kokoh?
Aku membangun rumah itu pelan pelan tanpan pernah kau sadarai. Dengan pondasi mimpi mimpi yang beserak dan perlahan aku kumpulkan. Aku tahu tidak mudah tapi apalagi yang aku inginkan selain menetap disana dan tidak kemana mana lagi.
Berpeluh. Saat satu persatu doa aku lanjatkan untuk membuat dinding dindingnya. Ada banyak air mata dan kau tetap tidak menyadari. Mendirikan tiang perlahan lahan yang aku buat dari beberapa kenangan masa kecil. Tentang kisah putri dan pangeran yang tinggal di sebuah istana indah. Ada banyak pohon pinus di belakangnya.
Rumah di hatimu hampir saja selesai tanpa pernah kau sadari. Tapi kau tetap saja tak berkenan membuka pintunya agar aku bisa pulang kesana

Foto Iraa Rachmawati.

Pasar Malam

Jika kamu temukan cekungan tanah menampung bekas air hujan. Semacam itulah perasaanku. Tidak mengalir kemana mana. Terpercik karena tekanan atau menguap begitu saja menjadi bagian dari angin. Terabaikan.
Kita adalah dua jiwa yang sama sama luka. Tidak perlu dibandingkan siapa yang paling sakit. Aku atau kamu. Kita sama sama memilih menyakiti dan disakiti sejak pertama kita bertemu. Tanpa perlu kita bicara.
Aku bilang rindu dan kamu katakan harus bertemu. Kau suruh aku cepat pulang dan aku pun melakukan perjalanan pulang.
Semacam cekungan air hujan di tanah. Semacam sewarna coklat ataupun es kopi susu. Keruh. Pahit. Menggoda. Lalu entahlah.....
Apalagi yang di cari selain bahagia. Bahkan perjalanan pun butuh jeda. Untuk menunggu kereta tiba dan memamah pelan pelan dua potong roti coklat yang manis. Manis dengan harapan lupa dengan rasa pahit.
Tiba tiba menjadi perjalanan panjang dan entah besok dimana lagi.
- Detak jantung kamu membuat saya tenang..... dan selalu menyuruh saya untuk segera pulang -

Banyuwangi 24 Mei 2017

Foto Iraa Rachmawati.