21 Apr 2011

SAYA HANYA INGIN MENULIS TENTANG KARTINI ? ATAU MENULIS TENTANG BUNDA?

Mendekati pertengahan bulan April 2011. Pikiranku semakin terbagi. Ya...bulan April adalah identik dengan perempuan. Perempuan Indonesia identik dengan Kartini yang di takdirkan lahir pada bulan April.
Bukan....bukan masalah aku harus membuat Insert di radio yang  bertemakan Kartini atau nara sumber yang membatalkan janji menjelang tanggal 21 April. Tapi banyak pergolakan-pergolakan yang muncul di pikiranku tentang pemikiran-pemikiran RA Kartini, Yang katanya adalah tokoh Emansipasi Perempuan. Aku mempertanyakan nya? apa iya tokoh emansipasi? Apa iya Kartini menuntut agar perempuan bekerja terus-terusan? apa iya kartini menuntut agar perempuan bisa menjadi persiden? direktur? kondektur? satpam? tukang becak sampai tukan gali sumur?

Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan Pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Ya....bermenit-menit aku menekuri kutipan surat itu. Ternyata cukup sederhana bukan? Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama.Dan aku kembali berpikir tentang diriku sendiri. Berbuku-buku feminis aku baca, forum-forum tentang perempuan aku datangi.Sampai berbuih mulutku aku berdiskusi tentang keberadaan  perempuan. Tentang emansipasi, tentang perwakilan 20 % perempuan diparlement. Tapi entah kenapa semua teori yang masuk dalam otakku tba-tiba blank! kosong! Mempertanyakan banyak pertanyaan dalam otakku. Apakah dengan perwakilan 20 % perempuan di parlemen bisa mengrangkul "kepentingan" perempuan? Program-program pemberdayaan perempuan. Kenapa harus memberdayakan perempuan? bukannya harusnya laki-laki yang lebih diperdayakan? berapa banyak perempuan yang menjadi korban trafficiking, koban kekerasan dalam rumah tangga, yang setiap saat menjadi konsumsi publik. Ketika perempuan lebih banyak di luar rumah dari pada di dalam rumah yang menjadikan sebuah rumah tangga berantakan? menjadikan mereka sebagai korban dari semua permasalahn yang ada dirumah tangga? Ibu bekerja anak-anak yang di asuh pembantu? entahlah.....

Dan aku kembalikan pada diriku. Raa......? lalu kamu bagaimana Ra? dari waktu 24 jam di rumah tidak pernah lebih dari 10 jam. Itu pun hanya tidur dna setrika baju,  Tapi apakah aku salah? ketika rumah bukan menjadi jawaban sebuah ketenangan? bekerja? sebagai bentuk aktualisasi diri? karier? hanya untuk sebuah harga diri? persinggungan-persinggungan idealisme dalam otakku semakin berbenturan dan semakin membuatku tidak bisa berpikir jernih.Apakah salah jika aku bekerja? apakah salah jika aku ingin menjadi seorang perempuan yang ingin "diakui" keberadaannya? Apakah aku salah jika aku merasa tidak nyaman di sebuah tempat yang disebut "rumah". Apakah salah jika mereka mengatakan aku bekerja hanya untuk sebuah kata "pelarian?" Pemikiran-pemikiran terus bergelanyut dalam otakku. Dan "cresh....................." Aku semakin berat berpikir!
 
 
Entahlah....dan aku berusaha berbagi kejenuhanku tentang sebuah pandangan yang bertabrakan diotakku, dengan dua laki-laki yang telah beristri perempuan bekerja.
Katakanlah lelaki A mengatakan, "Kalau aku bisa memilih, aku ingin istriku tidak bekerja. Menjadi perempuan penurut para suami."
"Penurut", aku memicingkan mata dan berpikir sambil menatap lelaki didepanku. Aku tidak sepaham dengan dia. Tapi biarlah mungkin dia punya alasan tersendiri.
"Dengan alasan untuk mencukupi perekonomian, aku mengijnkan dia bekerja. Tapi akhirnya, dia sewenang-wenang. Dia merasa lebih dan aku merasa tidak dianggap. Menghitung setiap uangnya yang aku pakai membuat aku semakin tertekan.Padahal seandainya dia percaya, aku akan berusaha untuk lebih bekerja keras untuk bisa menghidupi keluarga kecil kami Raa". Ya...sebuah keluarga kecil yang mulai goyah karena beberapa pertanyaanku.
Aku melihat ada tetesan air mata dari ujung matanya. Dadaku sesak.  Korban sebuah keegoisan. Apakah aku bagian dari keegoisan itu? resahku semakin membuncah!! Aku merasa sangat bersalah

Pertanyaan yang sama aku ajukan pada seorang lelaki, sebut saja B. "Apakah kamu nggk keberatan jika istri tidak bekerja dan tidak bisa "melayani" kamu?"
Sebuah pertanyaan konyol menurutku. "Raa...namanya pernikahan buatku bukan masalah melayani dan dilayani. Tapi bagaimana saling mengisi kekurangan. Bagaimana memberi kebahagian bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk pasangan kita"

Jawaban sederhana. Tapi semakin membuat otak ku terus berpikir  dan aku menjadi sangat lelah. Aku tidak bisa menemukan jawab-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus berlarian di otakku. Kepalaku semaki berat. Sebuah perang ideologi sedang berkecamuk dalam pikiranku.

Kembali aku baca petikan surat Kartini dengan suara parau
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” 
Ya.......keinginan kartini sederhana, tidak menjadi saingan laki-laki.  Sebuah pendidikan untuk perempuan agar lebih cakap melakukan kewajibanyya menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama

Tiba-tiba aku merasa lelah. Aku merasa sendiri. Aku ingin bersandar di pelukmu memejamkan mata. Aku merasa tidak berarti apa-apa.
Ya....aku bukan siapa-siapa. Jangankan untuk bercita-cita menjadi seorang Kartini, membayangkan saja pemikiran beliau saja aku sangat tidak pantas!

Wajahmu membayang, aku merindukanmu untuk menenangkanku malam ini. Dan berbisik, " Siapapun kamu Sayang........seberapa hebat pikiranmu. Kamu jangan lupa kodratmu sebagi seorang perempuan"

Kepalaku terkulai diatas meja kerja dan laptopku. Diantara serakan mimpi-mimpiku. Dan ternyata aku bukan siapa-siapa. Hatiku kecilku  berkata, "aku hanya ingin dipanggil Bunda agar aku menjadi perempuan sempurna"
 


SELAMAT HARI KARTINI RAA!







3 komentar:

Anonim mengatakan...

Sayangku, pergunakan formula kata mu untuk kebaikan ... jangan kau mudharatkan anugerah Tuhan, pasti kamu akan merasa nyaman dan tenang bila dengan sungguh2 di jalan-Nya...

Vicky Laurentina mengatakan...

Tugas perempuan sangat subyektif berdasarkan orang yang menyebutkannya.
Bagi perempuan, tugas perempuan adalah memastikan anak-anaknya bisa makan dan jadi pintar.
Bagi laki-laki, tugas perempuan adalah mengurus rumah, mengurus dapur, dan bercinta di kasur.

Logika sederhananya, laki-laki dan perempuan menikah untuk saling melengkapi kekurangannya. jadi kalau laki-laki tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi seluruh keluarga, selayaknya perempuan ikut turun mencari nafkah.
Tetapi jika perempuan tidak bisa membereskan rumahnya sendirian, semestinya laki-laki harus membantunya. Minimal, dengan membuat rumah itu tidak semakin kotor dengan kaos kaki bekas suami yang bergelimpangan di mana-mana. Karena, suami kan tinggal di rumah itu juga.

Emansipasi tidak lantas boleh menjadikan perempuan merasa dirinya lebih baik daripada laki-laki. Dan harus diingat, laki-laki tidak pernah lebih baik daripada perempuan. Karena memang di dunia ini tidak ada menusia yang lebih baik daripada manusia lain. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.

Sesungguhnya Tuhan menciptakan semua manusia itu sejajar, baik laki-laki maupun perempuan.

daur ulang mengatakan...

slamat hari kartini....tetap smangat buat perempuan indonesia..