10 Nov 2009

AKU TAK MELIHAT BULAN DI JAKARTA

Setiap mendekati tengah bulan Jawa aku selalu berdiri di depan rumah petak kecilku. Mendongak keatas. Celingak-celinguk mencari cahaya pucat yang sangat aku rindukan beberap bulan terakhir ini setelah tinggal di Jakarta. Cahaya pucat itu dulu selalu menemani aku setiap malam. Entah pada waktu bulan muda, tengah bulan atau pun pas akhir bulan. Dan kini aku tak menemukan cahaya bulan itu. Padahal sekarang malam tanggal 15 jawa. Seharusnya Bulan berbentuk bulan utuh dengan warna merah memucat agak kuning terkadang berubah menjadi emas. Tapi di sini, di Jakarta aku tak melihat Bulan.


Dulu saat masih berusia belasan........di kampung tiap malam, tiap jam setengah delapan malam aku selalu duduk manis di teras rumah. Melihat bentuk bulan yang selalu berubah tiap malamnya. Terkadang hanya tipis bercampur sedikit air hujan, kemudian berubah seperti sabit, dan yang paling aku suka saat bulan ditengah bulan. Bentuknya bulat seperti donat. Ditengah-tengahnya terdapat siluet hitam yang berubah-rubah seperti anjing yang melolong, seperti barisan gunung dan yang paling aku suka saat bayangan hitam itu berubah bentuk menjadi seorang ibu yang duduk menyusui bayi. Ibuku juga sering bercerita jika kita sudah meninggal, kita akan tinggal di bulan. Di sana kita akan jadi bidadari, banyak makanan, banyak buku cerita dan di bulan kita bisa memiliki apapun yang kita inginkan. Dan aku sempat bertanya, " apa nanti jika aku mati dan tinggal di bulan, aku akan mempunyai ayah?". Aku masih ingat ibuku memeluk ku hangat sambil mengecup keningku, " Pasti Raa. Kamu akan punya ayah, karena Ayahmu sekarang ada di bulan".  Dan aku akan terus memandang bulan dengan atau tanpa ibu tiap malam, sambil sedikit berharap Ayah turun dan memberikan sedikit kecupan manis padaku sebelum tidur. Tapi harapanku menipis, karena ibu berkata kalau Ayahku lebih bahagia tinggal di Bulan, dan dia selalu melihatku dari atas bulan. Akhirnya aku melakukan kebiasaan baru, memberikan salam jauh pada bulan setiap akan masuk ke dalam rumah dan percaya ayah akan melihat salam jauhku.

Saat memasuki usia remaja dan dewasa. Kebiasaanku duduk di teras rumah tiap jam setengah delapan malam telah berubah. Tapi aku tetap melihat bulan. Terkadang di pinggir pantai sambil menciptakan puisi, saat diatas sepeda motor berangkat dan pulang kerja atau kuliah, menghabiskan kopi berjam-jam di pinggir jalan sambil berdebat alasan mengapa manusia menikah, berdiskusi tentang politik di panggung terbuka, atau membaca puisi dan apresiasi sastra di halaman gedung Juang 45. Aku tetap menikmati bulan. Dan saat yang paling membuat aku rileks adalah saat aku menikmati bulan seorang diri di pinggir pantai sambil menghabiskan segelas kopi yang ku pesan di warung yang ada di sepanjang Pantai Boom.......Ada ketenangan dan kedamaian saat aku menikmati Bulan.


Padang Mbulan ning Pesisir Banyuwangi.....
Kinclong-kinclong segorone koyo koco

Bulan itu terus bersamaku tiap malam. Tapi mengapa bulan hilang saat aku tinggal di Jakarta?
Awalnya aku tidak sadar karena aku kira mungkin bulan tertutup lampu-lampu pijar, terhalang oleh bangunan-bangunan sangat super tinggi. Tapi ternyata tidak.....!!! Bulan benar-benar hilang dari pandanganku. Sudah berhari-hari aku duduk manis di teras rumahku hanya sekedar ingin melihat cahaya bulan. Tapi Bulannya hilang......tidak ada. Aku nekat mengendarai motor maticku ke Lapangan Monas dengan harapan yang sama aku ingin melihat bulan. Tapi kembali tak kutemukan Bulan....yang ada hanyalah patung yang menjulan tinggi dengan ujung berbentuk lidah api. Kata orang terbuat dari emas, Apa cahaya bulan telah diambil oleh monas.....yang cahayanya benar-benatr membuatku silau. Perasaanku semakin bertanya-tanya kemana Sang Bulan pergi. Dengan sedkit harapan aku pergi ke Ancol, dan berharap dipinggir pantai aku akan melihat bulan Seperti tahun-tahun lalu!!!! Tapi kembali aku tak menemukan bulan. Padahal ini sudah tengah bulan jawa, seharusnya ada bulan purnama, seharusnya ada bayangan seorang ibu yang menyusui anaknya, seharusnya aku memberikan cium jauh pada Ayahku yang katanya tinggal di Bulan. Dan dengan kecewa aku kembali ke rumah petak kecilku. Tanpa melihat sedikit pun sempat cahaya bulan.

Aku menangis....aku berteriak........sampai suaraku menghilang. Aku berbicara dengan tembok!!!! menceritakan keluh kesahku. Aku ingin kembali melihat bulan, ingin kembali kopi di pinggi pantai, atau ngopi di pinggir jalan sambil berdiskusi tentang kehidupan, ingin kembali berteriak-teriak baca puisi di tengah jalan, kembali menulis tentang kebebasan.......!!!!!!! tentua saja di temani dengan Bulan!!!!!! Tangisku semakin membuncah!!!! sampai aku tak mendengar lagi suaraku. Badanku bergetar hebat....aku ingin melihat bulan!!!!!!! walaupun hanya sebentar!!!!! sekedar menyampaikan salam jauh pada Ayah ku, atau melihat siluet Sang Ibu menyusui anaknya. Dan berrharap aku melihat almarhum ayah dan almarhum ibuku bersama di atas Bulan!!!

Kenapa atu tak melihat Bulan di Jakarta.......? apa karena Bulan hanya ada saat aku merasakan kedamaian?.....karena aku tak pernah merasai damai tinggal di Jakarta.....Tuhannnnnnnnnnn!!!! berikan aku kesempatan sekali lagi untuk melihat Bulan!!!!!



(catatan ku buat dengan penuh kerinduan, karena aku benar-benar tak melihat bulan di Jakarta. Bagiamana bentuk Bulan di Banyuwangi? masihkan tetap sama seperti saat aku tinggalkan dulu. Aku akan kembali dengan kedamaian yang kau janjikan padaku. )












12 komentar:

ateh75 mengatakan...

Bulan ada pada kesabaran dan ketegranmu mba..coba ditengok kembali terlihat cahaya bulan menerangi hidupmu dalam kesabaran dan ketegranmu..

@ Aku terpesona membaca alur dan tulisanmu yg mengalir indah....so sweet.( sampai melongo..dahsyat)

Vicky mengatakan...

Terakhir kali aku lihat bulan dua bulan lalu. Lagi ditelfon cem-ceman, aku di teras, dan kulihat bulan sabit. Aku nanya ke cem-cemanku, "Coba lihat keluar, Mas. Ada bulan, nggak?"

Jawabnya, "Ada. Bulan sabit."

Aku ketawa renyah. Asyiik! Biarpun kita jauh, tapi kita melihat bulan yang sama..

Sekarang aku dan cem-cemanku sudah nggak berhubungan lagi, pasca pertengkaran yang dia sulut. Dan semenjak itu, aku jadi benci banget liat bulan.

munir ardi mengatakan...

bulan disemua tempat berbeda kalau dilihat dari tempatku seperti seorang yang sedang mancing dibawah pohon tapi ah aku lebih suka baca tulisan temanku semua disini di dunia blogger dari pada melihat bulan

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

bulanmu tdk menghilang, sobat.. dia masih selalu ada di hati..
letakkan risaumu, sobat.. kan kau temukan bulan di hadapan pada saatnya nanti..

nice post..
kata2 yg indah penuh kerinduan ^^

-Gek- mengatakan...

Ah, setuju sama kata2 Pohon.
Aku juga rindu sabit tersenyum yang biasa kulihat di Bali, mbak..

sibaho way mengatakan...

tulisan yang dibuat dengan hati. sangat ber-jiwa.
seandainya bulan tahu tulisan ini, pasti dia akan muncul untukmu :)

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Tapi semalem koq aku nggak liat bulan yah...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

jakarta memang gak aman tapi saya tetap lihat bulan kok.hehehe

Ivan Kavalera mengatakan...

si Bulan ada tuh di rumah sebelah (tetangga saya) he he he

Bandit Pangaratto™ mengatakan...

Bulan di Maumere masih benderang lho...

hehehe


hope you'll find your moon soon..


http://banditpangaratto.blogspot.com/2009/08/bulan.html


http://banditpemoto.blogspot.com/2009/11/full-moon-yellow.html..


beberapa bulan hasil foto saya..
:D

desieria mengatakan...

Untung di Bandung masih bisa liat bulan dgn indah, bahkan dari jendela kamar kos-ku pun keliatan.
Mungkin bulan di ajkarta ketutupin polusi kali yaaa? bisa ga sih? hehe

Fanda mengatakan...

Bulan bisa menghilang, tapi tidak cinta yang ada dalam hatimu. Ia akan terus berpendar memancarkan cahayanya, meski semua lampu di dunia ini padam dan yang ada hanyalah kegelapan total...