6 Okt 2009

BELAJAR MENULIS NOVELET......

(sampai segede ini aku masih belum bisa menemukan teori yang benar untuk membedakan mana novelet dan mana novel.....tapi aku nggak perduli tulisanku ini berbentuk novel atau novelet. Yang terpenting....kamu harus punya banyak waktu unuk membaca postinganku ini. Selamat membaca......)






SECOND WIFE MONOLOGH

“Maafkan aku Bu. Aku belum pernah bisa bahagiakan Ibu”, Raa menangis sambil memeluk perempuan separuh baya yang sedang memandang kosong ke depan. Wangi bunga kenanga tiba-tiba menyeruak di rumah itu, seakan mengimbangi suasana Bayuwangi saat sore yang tidak bersahabat.
Perempuan tua yang dipanggil ibu itu hanya terdiam dan memeluk permpuan muda dengan jaket merah itu.
“Kamu istirahat saja Raa. Kita tidak pernah tahu rahasia Allah. Ibu ikhlas dengan apa yang akan terjadi esok.Seperti saat ayahmu meninggalkan kita tanpa pernah ada firasat apapun. Jika memang Allah lebih mencintai kamu, apa ibu bisa melarang Nya?. Karena ibu yakin dan percaya bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik untuk kita.”.
“Tapi ini tidak adil bu. Raa masih punya banyak cita-cita. Membahagiakan ibu. Menikah. Melahirkan cucu-cucu untuk ibu”, ucap Raa ditengah-tengah isak tangisnya.
“ Sudahlah Raa. Sekarang kamu jalani hidupmu apa adanya. Kamu masih bisa tetap berdiri dengan penyakitmu. Simpan hasil CT scan itu. Anggap bahwa tidak pernah ada hasil pemeriksaan itu. Sekarang kamu nikmati hidup kamu, asal kau bahagia”.
Perempuan separuh baya itu mengelus rambut panjang Raa, dan segera melipat kertas putih yang menjadi racun untuk dia dan anak bungsunya.
“Carilah seorang suami. Menikahlah. Sebelumn semuanya terlambat. Kurangi aktivitasmu sebagai seorang wartawan. Kesehatanmu lebih penting Raa”.
Sore merangkan perlahan mendekati malam yang menyergap dua perempan yang sibuk menata hati. Hati mereka berdua ada kesamaan pertanyaan, “Adakah sebuah masa depan?.
Cinta itu indah
            Adalah oase dalam kekeringaku
                        Saat separuh diriku lepas
                                    Menanti dan semunya sirna
                                                Aku merindukanmu Doenk…..!
***
Eibis 7 Desember 2006
Seorang perempuan muda berdiri di depan receptionist hotel dengan tas ransel di letakkan di dekat kaknya. Wajahnya terlihat kelelahan. Keringat dingin membasahi lehernya. Sesekali pandangannya di alihakan kearah lift.
“ada yang bisa di bantu”. Seoang Room boy menghampirinya
“Maaf. Pelatihan Jurnalistik partisipasi perempuan dalam politik sudah dimulai?. Kereta saya telat, jadi terlambat cek in. Ini undangannya”
“Acaranya sudah dimulai. Nama mbak sapa?”
“ Raa. Maksud saya Aira. Dari Banyuwangi”
“Nama mbak sudah masuk dalam daftar tamu. Mau langsung ke aula atau ke kamar?. Tapi maaf , kunci kamar mbak sudah di bawa sama room mate mbak”
Tanpa berpikir panjang Raa berkata, “antar saya ke aula”.
Saat memperbaiki letak tas ranselnyanya, tatapan Raa terantuk pada lelaki berpostur jangkung dan berambut panjang sampai mendekati pinggang. Yang sedang berjalan kearahnya. Orang yang aneh, kata Raa dalam hati. Dan ternyata mereka menuju satu arah. Aula hotel.
***
“hai…aku Raa”
“Aku doenk. Dari mana”
“Dari tadi…..!” Raa jawab sekenanya. Ternyata mereka berdua mengikut seminar yang sama. Lelaki berambut panjang itu ternyata seorang wartawan senior yang menjadi pembicara pada acara ini. Pandangannya memandang takjub pada lelaki berambut panjang yang sedang bertanya didepannya. “Mas, rambutnya bagus”., tambah Raa.
Doenk melotot.. Secepat kilat, Raa segera mengambil segelas kopi dan beralih dari hadapan doenk, menuju ke mejanya. Cofee Break sudah selesai. Materi sudah masuk di diskusi perbedaan perempuan dan laki-laki. Tapi Raa belum bisa mengalihkan pikirannya dari laki-laki yang saat ini duduk di seberangnya, yang hanya dipisahkan meja. Perasaannya berbicara sendiri. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Raa kembali mencuri pandangan pada Doenk. Raa tergagap saat tahu doenk juga memperhatikan dirinya.
***
Raa
10 Desember 2006 , mutiara siang Gubeng – Karangasem
Doenk………aku jatuh cinta. Perjalanan ini tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. 306 kilometer dari kotaku ternyata menyisakan sebuah pertanyaan-pertanyaan baru. Apakah aku wanita atau aku perempuan. Saat ini, kita tidak sedang menunggu pagi. Hanya merangkai kata-kata yang tidak pernah diucapkan lewat suara. Tapi perasaan yang mengalir dari udara menuju nyawa kita. Apa yang ingin kamu katakan. Speak up man…….!!!! Orang sering mengagungkan kejujuran, tapi sangat sulit untuk jujur pada diri sendiri. Seperti halnya kamu. Mulut kita tak berbicara, tapi pagi ini sudah cukup mewakili kejujuran hati kita.
Kamu membawa aku ke sebuah suasana yang beda Doenk. Sebuah dunia yang polos, hanya ada dua bayi dengan pakaian kebenaran. Benar……kebenaran sendiri-sendiri. Bukan sebuah kebenaran haqiqi. Sebenarnya aku benci saat-saat seperti ini, saat aku harus menunggu pagi dengan seorang laki-laki. Seperti malam itu saat kau masuk ke dalam kamarku dan kita berbicara tentang segalanya. Tentang dunia, tentang mimpi tapi buka tentang perasaan kita. Iya…berbicara semalam dengan.laki-laki yang baru aku kenal dalam hitungan jam. Laki-laki yang tak pernah kukenal sebelumnya, tak pernah kuketahui hatinya, tak pernah memahami tatapan matanya, tak pernah menyentuh kulitnya, tak pernah memandang bibirnya, tak pernah berpikir untuk bercinta dengannya. Tapi saat aku menuggu pagi itu dengannya, semua BERUBAH!!!!!!
Doenk…Entah……udah berapa lama aku tidak pernah merasakan perasaan ini. Setahun yang lalu atau bahkan sudah lebih. Sejak cinta pertamaku meninggalka ku tanpa kabar. Rambutnya yang panjang dan sedikit tidak rapi, berhasil menarikku ke dalam magnet yang tidak berkutub. Negatif atau positifkah? Bau tubuhnya senafas dengan gerakku. Thats……itu yang aku cari, tatapan mata yang pernah ada tapi pernah hilang. Tatapan mata yang sangat aku rindukan.
Saat menunggu pagi , aku tak punya hak suara tapi bisa besuara tentang perasaanku.  Namun bukankah sebuah hal yang manusiawi, saat laki-laki dan perempuan saling membutuhkan. Kamu membutuhkan aku, dan aku membutuhkanmu. Tapi kemudian muncul pertanyaan. Apakah aku dan kau hanya saling membutuhkan saat menunggu pagi? Mungkin iya mungkin tidak. Iya , karena kita berdua dalam keadaan kosong. Benar benar kosong secara jiwa , batiniah dan lahiriah. Alasan yang tepat!!! Mungkin tidak , karena kutemukan sosok yang berbeda pada dirimu. Alasan klise bagi orang yang jatuh cinta. Hei…….tunggu dulu. Belum tentu aku menggunakan alasan itu, berarti aku jatuh cinta padamu. Walaupun jujur aku takut kehilangan kamu. Tapi bukan berati I’am falling in love dong!!!!!!!
Kau tau perasaanku saat ini. Aku bayangkan saat menunggu pagi , kau ada dipelukku dan kubelai rambut panjangmu. Apakah rambutmu yang membuat aku nyaman, atau karena kenyamanan aku suka pada rambut panjangmu. Sepertinya, ada sesuatu yang hilang dan aku temukan saat menatapmu. Aku berusaha membunuh perasaan, bahwa yang hilang itu tidak akan pernah kembali.
Doenk…..aku mencintaimu. Halah………………
Aku benci untuk berharap, karena aku terlalu lelah untuk berharap. Seperti saat aku berharap agar umurku lebih panjang. Mengalihkan perasaan sendiri. Munafik pada perasaan. Dalam perjalanan hidupku, ternyata yang paling sulit adalah jujur pada perasaanku sendiri. Termasuk saat aku meninggalkan Eibis, tanpa tatapan mata yang aku mimpikan. Tanpa pelukan , tanpa ada janji , tanpa ada komitmen, dan tanpa ada harapan. Dan tanpa ada kamu……Huh aku benci saat aku harus naik taksi sendiri ke Stasiun Gubeng untuk kembali ke kotaku. Kau tahu Doenk… aku harapkan kau mengantarku saat itu.
Jika dalam posisi menulis saat ini, aku seperti penulis kacangan dengan tulisan stainless yang dijual di balik tumpukan taboid. Yang hanya mengeksplor perasaan diri sendiri, tanpa melibatkan perasaan pembaca. Aku bertanya padamu, apakah perasaanmu terlibat dengan perasaan ini!!!!! Aku hanya bisa berkata jujur tanpa perlu berkata-kata. Aneh bukan ….pada sebuah tulisan aku bisa menggambarkan sebuah ketelanjangan , memainkan theater of mind , memenjarakan pikiran orang pada sebuah kotak kompleks. Dan aku ingin mengajakmu pada dunia kompleks itu. Hanya aku dan kamu. Tidak ada orang ketiga, orang keempat. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan, tidak ada mimpi. Hanya ada pemikiran kita berdua. Pemikiran yang tidak pernah terucap lewat kata-kata dan media.
Doenk……..andai kamu menemaniku dalam perjalanan panjang 308 kilo ini! Tapi…. Apa yang kamu lakukan jika tahu keadaanku yang sebenarnya?. Apakah kau mau menemani sissa hidupku.
Aku menghela nafas dan mengeluarkan file Kita tidak sedang Menunggu pagi dari monitorku. Catatan yang baru ku buat sepulang dari Surabaya. Aku jatuh cinta dan berhasil melupakan sisa umurku. Huh…..dua jam lagi beritaku harus on air di radio. Tinggal edit dan masuk produksi. Tapi sepertinya perasaanku sedang terbawa nuansa romantis. Beritaku terkalahkan dengan stainless pasaran. Tapi tak apalah. Sesekali bolehlah aku tak berkutat dengan politik Aku tersenyum sambil membayangkan laki-laki berambut panjang yang sudah memanjangkan nyawaku.
***
Doenk
Raa……aku temukan sosok yang aku cari pada dirimu. Caramu berpikir, caramu berkata, caramu berwacana. Kau perempuan yang aku cari Raa……bukan perempuan yang saat ini ada sebelahku. Ops……maaf Raa. Bukannya aku membela diri tentang keberadaanku. Aku jatuh cinta padamu Raa. Tapi disisi lain aku tak bisa meninggalkan tanggungjawabku. Istri dan anakku, Aku tahu kamu tidak suka laki-laki yag tidak bertanggung jawab. Raa…aku ingin mempunyai keberanian untuk ungkapkan perasaanku ini. Sebuah ungkapan bahwa aku jatuh cinta lagi. Sulit sekali mengakui perasaan ini. Tapi sosok perempuan yang sangat antusias saat bicara di forum tentang issue gender terus mengikuti langkahku pergi.
“ Tidak ada yang membedakan laki-laki dan perempuan. Dua makhluk itu sama-sama ciptaan Tuhan. Hanya organ seksual yang membedakan mereka”.
Aku masih ingat kata-kata itu Raa. Dan saat aku mebela diri dan mengatakan bahwa laki-laki mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dari pada perempuan. Kau secara tegas berkata bahwa perempuan juga mempunai tanggung jawab yang sama dengan laki-laki. Kontruks social yang membentuk wacana seperti itu.
‘Dan aku tahu Doenk!!! Kau lahir dari budaya jawa. Maka konruk social masyarakat jawa yang membentuk pola pikiranmu bahwa perempuan merupakan kaum minoritas. Aku tidak sepakat dengan itu, termasuk juga menentang pola pikirmu yang mengaku sebagai laki-laki sejati. Aku ragukan itu”
Huh……jujur aku ingin marah saat itu. Tapi entah kenapa aku tak mampu berkata-kata. Seluruh pesonamu seakan meluruhkan keegoanku. Kau tidak cantik Raa bahkan terkesan sembrono. Dengan gayamu yang cuek. Bisa membawa suasana menjadi lebih hidup. Cara bicaramu yang sistematis sempat aku pertanyakan. Tapi setelah tahu kau reporter radio. Aku hanya bisa angkat tangan. Kemampuanmu berbicara cepat dan tepat tak mampu aku lawan. 7 tahun Raa…aku melanglang buana dari satu daerah ke daerah lain, tak kutemukan perempuan sepertimu. Namun ada satu yang buat aku bertanya-tanya. Pandanganmu kosong Raa… Walapun kau tersenyum tapi feelingku mengatakan senyum itu hanya sekedar tarikan ujung bibir. Pandanganmu seakan-akan tidak ada jiwanya. Whats wrong with You Raa……Ingin aku tanyakan tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk itu. Selama 3 hari kita bersama aku berusaha menyelami dirimu tapi yang ku lihat hanya kulit luarnya. Jika kau sebuah buku, aku hanya bisa membaca judul di sampul tanpa tahu cerita apa yang ada dalam buku itu. Raa……aku harap kau adalah buku yang akan aku baca dan berikan sejuta kisah untukku. Tapi Raa…… apakah kau terima dengan statusku sebagai suami dan ayah dari seorang putri yang berusia 1 tahun?.
Raa……maaf jika aku berani memasuki kamarmu hotel mu ssaat itu. Keinginanku untuk berbicara berdua dengamu sudah tak terbendung. Sedangkan di malam terakhir pelatihan itu, kau lebih memilih mengunjungi jalanan Kya-kya dan Tugu Bambu runcing. Sampai dini hari……Tuhan, kenekatanmu semakin membuatku jatuh cinta padamu hanya dalam hitungan jam. Lama aku menunggu di lobi hotel sampai jam 2 dini hari hanya untuk menunggu kedatanganmu. Sambil nyengir kau serahkan sebungkus nasi goreng pesenanku sambil berbisik, “Doenk, tenyata suasana Surabaya saat malam lebih tenang. Tapi tidak ada yang menyamai ketenangan kota Bnayuwangiku. Cepet makan. Sori nasi gorengnya sudah dingin”
Sesaat kau masuk ke dalam lift dan meninggalkanku sendiri di lobi hotel dengan sebungkus nasi goreng. Tanpa ada ucapan selamat malam. Saat itu aku hanya bisa menghela nafas. Padahal aku harap sebungkus nasi goreng ini menjadi jembatan kita berdua. Tapi ternyata……
Kenekatanku untuk mengetuk kamarmu tidak terbendung. Dengan alasan kamarku digunakan panitia untuk selesaikan laporan, akhirnya kau menyetujui jika aku pindah ke kamarmu. . Aku tidak peduli dengan Ade yang sekamar denganmu. Walaupun akhirnya aku harus menelan kecewa saat masuk ke kamarmu ternyata sudah ada beberapa peserta lain. Kalian asyik ngobrol, dan kau berikan sebagian tempat tidurmu untuk aku.
Seorang perempuan memberikan sebagian tempat tidur untukku?. Sebuah hal yang sangat aneh. Tapi jangan khawatir Raa, aku tahu bahwa kau perempuan baik-baik.
“ Doenk, Aku tahu kamu capek. Langsung aja tidur ini udah hampir 3 pagi. Kemarin dari tuban terus besok ke malang kan?”, ujarmu sambil menggeser posisi ke pinggir tempat tidur.
“kalau kamu ngantuk gimana?”
“gampang deh……kita bisa berbagi. Biar ade sama nissa. Temen-temen yang lain bisa pindah kekamar sebelah. Kan ada pintu penghubungnya”, katamu sambil menunjuk pintu terbuka di tengah ruangan.
Aku mengangguk dan merebahkan tubuh di tempat tidur single bed jatahmu. Mataku terpejam tapi aku terus mendengarkan obrolan kalian. Raa……kamu seperti seorang jendral yang memimpin peperangan opini antar peserta  tentang second wife. Hingga akhirnya para peserta kalah karena ngantuk dan memilih untuk menyelesaikan peperangan opini itu dan pindah kamar. Yang tersisa tinggal dengkur ade dan nisaa di tempat tidur sebelah. Hendri yang lebih memilih tidur diatas sofa dan samsul yang langsung merebahkan diri didepan televise. Aku menelungkupkan badan dengan posisi wajah mengahdap ke samping. Menghadap ke dirimu.  Saat semua sudah tertidur, kau memilih mematikan lamu dan membuka lap topmu. Dalam keremamgan cahaya laptopmu aku melihat tanganmu sibuk menekan huruf, tapi kenapa kau menangis. Walaupun tidak terisak, tapi aku jelas-jelas melihat butiran airmata yang keluar dari sudut matamu. Karena tak tahan, aku raih tanganmu yang terkulai di sebelahku.
“Kenapa”, tanyaku sambil menggenggam jemarimu. Entah dari mana ku dapatkan keberanian untuk itu. Kau menggeleng dan melepas genggamanku sambil bertanya mengapa aku belum tidur. Ah……Raa. Akhirnya aku hanyut dalam perbincangan kita. Ceritamu tentang sebuah kesendirian dan kesepian. Dan akhinya kau tertidur dengan menggenggam tanganku erat saat matahari mulai membayang di jendela. Aku mengehela nafas. Perlahan aku lepaskan genggaman tangamu dan membetulkan letak selimutmu sambil berbisik Raa, aku jatuh cinta padamu. Aku yakin kau tak mendengarnya. Maaf Raa……aku harus pergi. Tapi aku sempat pasangkan gelang banmuku dipergelangan tanganmu kan? Perlahan aku mengambil tas ranselku. Takut mengganggu ketenangan tidurmu. Ada perasaan tertekan dalam hatiku, saa aku harus meninggalkan kamar 409 itu. Menatap wajahmu tenang saat tertidur seperti melihat wajah ibuku yang meninggal saat aku berusia 12 tahun. Tapi aku percaya bahwa aku akan menemuimu lagi. Aku akan pulang raa. Untuk mengatakan kesungguhan perasaanku dengan semua konsekwensi yang aku terima jika kau tau statusku. Raa…aku welas padamu
Aku menghela nafas sambil menatap layar computer di depanku.
“Doenk….dipanggil pimred tuh”
Aku terkejut dengan tepukan di bahu kananku. Dan langsung menoleh
Ada apa dan?”
Dani mengangkat bahu. “tau tuh. Dari tadi sudah dipanggil-panggil. Mangkanya kalau nulis jangan serius. Mentang-mentang deadline sampai lupa berdiri”.
“Thank Bro”
Aku berdiri dan segera menuju ke ruang pimred yang berada di seberang ruangku. Paling-paling tugas liputan khusus. Mobilitas yang cukup tinggi ini seakan-akan mengikatku dalam putaran waktu.
“Apa mas”
“Tolong Doenk. Kamu liputan khusus isu santet. Aku mau tema itu jadi liputan khusus di edisi depan”
Aku terdiam. “Santet….”, ucapku dalam hati. Aku langsung tersenyum lebar
“Siap mas. Aku pasti garap itu”
****


Raa
          Doenk……aku harus kembali pada aktivitasku sehari-hari. Payah……setelah semalaman berpikir bagaimana rangkaian kayu dan bamboo milikmu bisa singgah di kamarku? Bisa menghiasi pergelangan tanganku yang lumayan hitam. Apakah aku terlalu mengeksplor perasaanku. Memberikan porsi lebih besar pada otak kiriku untuk berimajinasi. Padahal hampir beberapa tahun terakhir, aku hanya menggunakan otak kananku. Berpikir tentang perempuan, atau tentang aku sendiri?. Apakah ini saatnya telah tiba? Memfungsikan otak kiriku yang hampir-hampir saja mati. Dan otaku akan mmebunuhku Doenk. Tidak berimajinasi , tidak bermimpi , tidak berharap , tidak pernah berfikir tentang hati.
Oh Doenk……kau mulai membuatku mati suri. Atau kamu yang telah mengembalikan nyawaku. Saat aku harus mengakui bertahun-tahun menjadi robot. Yang bergerak hanya saat menjalani perintah lelaki yang pernah memenjarakanku. Ah…..aku tidak perlu menjelaskan lelaki mana. Karena lelaki egois. Memaksakan keinginannya, tanpa tahu bagaimana perasanku. Males wis…….biar robot ini berubah menjadi shakespere, yang menceritakan sebuah kematian bahagia. Tidak ada yang tahu kan, kalau romeo dan Juliet mempunyai ending bahagia?  Walaupun mati, tapi mereka bertemu disurga.
Doenk…….aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Laptop ku juga seakan-akan bergerak-gerak dari satu file ke file yang lain. Tanpa tahu apa yang kan aku tuliskan. Tapi aku merasa betah pada Privacy file ku. Aku merasa kamu selalu ada difileku. Saat aku berkutat sengan aktivitas sehari-hari. Aku bosan…..tapi bagaimaa aku bisa melawan semua perasaan ini.
Seperti ABG, membuat surat-surat cinta tanpa berani mengirimnya. Doenk……..aku inginkan kamu saat ini.
Kamar Hijau ku , 00.45 dini hari
Aku kembali lagi menunggu pagi samnil menerim telpon darimu. Doenk……hanya dengan suaramu sudah cukup. Aku menikmati perasaanku saat ini. Tidak perduli bagaimana kau menilai kepribadianku. Wanita agresif atau wanita sundal……kata-kata yang sudah menjadi makanan sehari-hariku. Bodoh banget. Aku hanya ingin berkata jujur, walaupun terkadang menjadi keblinger. Keegoisanku selalu berbicara, saat aku tidak mendapat porsi seperti yang lain. Doenk…………aku malas menulis panjang. Karena kata-kataku sudah kamu ambil saat waktu menemukan kita, kembali menunggu pagi. Doenk……aku ngantuk. Besok aku harus mengucapkan selamat pagi pada Banyuwangi. Tapi kembali aku berkata bahwa aku tak berani berharap banyak denganmu. Walaupun penganut gender, tapi kontruk social itu masih tidak bisa aku lepas dari tubuhku. Karena aku perempuan kah……………………………?????? Apalagi dengan racun yang bertengger di otakku, Aku benci mengingat itu.
14 Desember 2006 Banyuwangi, 08.53 am
Pagi sudah aku lewati. Tapi mataku masih tak tahan menatap matahari. Ah……entah kenapa beberapa malam terakhir aku selalu menunggu pagi. Namun saat pagi itu datang, matahari pelan-pelan membunuhku. Yah….membunuhku dengan namamu. Doenk……..aku masih ingat saat kau bangkit dari tempat tidurku , wajahmu membias berbarengan dengan cahaya matahari yang memantul dari balik jendela dibelakangmu. Dan wajahmu….Tuhan aku tak bisa membedakan mana wajahmu dan mana matahari. Apakah kamu  surya? Sempat aku membenci Surya. Dia berselingkuh dengan kunti , ibu para pandawa , hingga lahir Adipati karna. Kau tahu , Adipati karna lahir dari telinga Kunti dan Surya menyuruh Kunti membuang Karna ke sungai gangga. Apakah untuk menyembunyikan hasil perselingkuhan?. Adipati karna mengalah dalam perang kurusetra itu. Hinga akhirnya Karna mati!!!!!!!! Tidak adil…….hidup ini tidak adil. Karna hanya jadi tumbal keegoisan manusia. Kunti juga!!!!!! Tapi apakah aku harus menyalahkan surya. Ah siapa yang mampu melihat surya. Kesombongan surya sudah ada dalam tahap klimaks. Saat surya berkata,“ Kau akan buta karena cintaku”.
Doenk……aku berharap kamu bukan surya. Kalau boleh, aku akan menyebutmu Pangeran lilin. Yah……mungkin aku kembali masih terjebak dalam mitos seorang putri. Aku sangat mencintai pangeran lilin. Dia aku ciptakan hampir 7 tahun yang lalu. Dan sampai saat ini , aku masih belum menemukan sosok pangeran lilinku itu. Setiap mimpiku , pangeran lilin selalu datang . Dengan cahaya sederhana , bias yang dingin . Tapi yang paling penting bisa memberikan sedikit cahaya untuk menyinari kamarku. Iya…….aku hanya butuh sedikit cahaya , tidak perlu berlebihan. Dulu aku pernah menemukan sosok pangeran. Tapi…...ternyata dia bukan pangeran lilin. Dia hanya pangeran Obor!!! Yang membakar tubuhku hanya dengan nafsunya saja. Doenk……aku benci saat-saat itu.
Memang terlalu pagi aku menulis kata-kata ini. Seharusnya bukan ini yang aku tulis. Bukan file dengan pasword “doenk” yang aku buka. Tapi gimana lagi. Aku lagi getol-getolnya mengasah otak kiriku. Kilas balik 2006 ku, lewat sudah!!!!!!! Berita harian, males!!!!! Garap teater capek. Aku hanya ingin bercinta denganmu lewat tulisanku ini. Making love and making seks with my poetry. Tanpa ada Inchoose. Tapi kepuasaan abadi, yang melebihi ejakulasi. Ah……tau apa aku tentang kepuasan seksual. Wanita menerima!!! Aku tetap saja tinggal dalam kontruksi masyarakat sosial. Ah malas aku ungkap semua itu.
***
Doenk
Aku menghabiskan separuh malam di depan computer. Capek. Tinggal satu berita criminal terus kelar. Fuich…..payah. Konsekwensi seorang wartawan. 7 tahun jalan ini aku pilih. Ada sebuah kepuasan saat beritaku tercetak dan terbaca orang lain. Aku menghidupkan sebatang rokok dan aku sedot kuat-kuat untuk mengurangi kepalaku yang pusing.
“Mas, belum selesai”, Eli tiba-tiba saja muncul di sampingku.
“Belum dik. Tinggal satu lagi. Nanggung, besok sudah cetak”
“Tapi ini sudah malam mas. Kapan kamu istirahat?. Aku ingin punya banyak waktu denganmu”, Eli menarik kursi disampingku sambil membetulkan letak rambutnya.
Eli, perempuan yang aku nikahi secara hukum dan agama yang sah 3 tahun yang lalu. Dia juga sudah menghadiahi aku seorang putri yang baru ulang tahun yang pertama November kemarin. Banyak orang yang mempertanyakan kkeputusanku untuk menikah termasuk keluargaku. La wong aku selalu berpindah dari satu kota ke kota lain. Manusia bebas yang tak mau terikat sebuah perasaan. Bahkan saat ini aku juga masih mempertanyakan kenekatan untuk menikah dan bekeluarga. Saat orang bertanya tentang itu, dengan ringan aku selalu menjawab. “Kalau yang lain bisa menikah, kenapa aku tidak”.
Aku menyedot kembali batangan rokokku. Suara tembakau yang terbakar yang seakan memecahkan keheningan malam.
“Mas, ini sudah jam 2 malam. Kapan sih kamu temani aku tidur.  Kalau tidak di depan komputermu, kau lebih memilih tidur di kursi depan. Itu pun kalau di rumah. Padahal kamu sudah habiskan banyak waktumu dengan liputanmu di luar kota
Aku mematikan rokok dengan menekankan ujung rokok pada asbak yang sudah penuh dengan puntung rokok. Mungkin Eli lupa atau malas untuk membersihkan meja komputerku.
“Kau sudah tahu kerjaanku kan dik!. Jangan banyak menuntut”, nadaku agak meninggi.
Eli menundukkan kepala dan beranjak dari kursinya menuju ke pintu keluar dan menutupnya dengan keras. Aku meletakkan kepalaku di depan monitorku yang masih berkedip. Aku tak mau mempertanyakan perasaanku pada Eli. Aku menghargainya sebagi seorang istri dan ibu dari anakku. El….maafkan aku tak bisa jadi suami yang sempurna untukmu. Tak pernah banyak waktu untukmu dan putri kita. Tiba-tiba saja bayangan Raa muncul. Perempuan yang jauh berbeda dengan perempuan yang baru saja meninggakanku sendiri di ruangan ini. Aku melirih perlahan. Eli, andai kamu adalah Raa. Mungkin kau akan menghargai perkerjaanku sebagi seorang wartawan. Bukan seperti kamu yang selalu menuntut banyak waktu untuk mengantarmu belanja tiap pagi dan jalan-jalan sore di taman bersama putrid. Aku tak bisa berikan itu El. Aku menjambak rambutku sendiri. Kenapa aku harus membandingkan Raa dengan Eli. Mereka berdua perempuan yang berbeda. Yang hidup pada lingkunngan yang berbeda pula. Tak seharusnya aku bandingkan mereka berdua.
Tanpa kusadari aku tertidur. Dan aku bermimpi berada di sebuah jurang yang sangat dalam. Aku mendengar teriakan dan kulihat Raa berada di dalam jurang itu menyorongkan kedua tanganya seakan meminta bantuan padaku Raut mukanya pucat dan mengernyit kesakitan. Niatku muncul untuk turun ke dalam jurang dan membatu mengangkat Raa dari dalam sana. Namun tiba-tiba saja muncul eli dan menahan langkahku. Dan saat aku melongok kembali kedalam jurang. Raa sudah terkulai dengan mata terpejam. Aku menangis keras-keras tapi tak ada yang menghiraukan aku. Eli hanya diam tak bergerak disampingku. Aku seperti kerikil yang terjepit diantara dua batu besar. Pecah

Raa
Aku ingin mencintaimu secara sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu secara sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu Kepada Api yang menjadikannya abu.
                                                                        (Sapardi djoko damono)

Mataku terpaku menatap email yang ada di depanku. Darimu laki-laki yang yang memberikan kontribusi pada percintaa mayaku. Aku mendesah perlahan. Akankah permainan perasaan ini terus berjalan. Pandanganku mengabur, mataku memanas. Tuhan….semoga ini bukan cinta.
From               : Aditha Rahman Negara
Subject                        : Aku akan menemui Raa
Date                : Sun , 13 Desember 2007 16:43:42 :07.00
Raa……aku akan ke Banyuwangi. Ada liputan khusus tentang santet. Bantu aku ya. Tapi ada yang lebih penting. Aku rindukanmu Raa. Aku tahu basi, tapi……Yang pasti aku akan datang ke Banyuwangi. 18 Desember aku naik mutiara siang. Bisa jemput aku kan?
Apakah aku perempuan saat harus merasakan rindu pada seorang Doenk.

Dunia Maya
(Doenk)           Selamat malam
(Raa)                Hai….aku sudah baca emailmu Bener mau ke Banyuwangi? Surprais.
(Doenk)           Sebenarnya sih mau buat kejutan buat kamu tapi aku nggak bisa kalau nggak ngasih tahu. Takut kamu sibuk. Paling tidak kamu bisa siapkan waktu untuk aku
(Raa)                Kapanpun kamu datang, aku selalu ada waktu kok untukmu
(Doenk)           Oh ya…maaf kemarin aku pulang ngak pamit. Nggak tega mau bangunkan kamu. Aku harus pulang soale emergency. Thanks atas tempat tidurnya
(Raa)                Nggak masalah. Tapi jujur aku merasa kehilangan kamu Doenk
(Doenk)           Sama lah Raa. Perasaanku juga sama. Oh ya, waktu itu aku kembali ke hotel jam 9 pagi. Niatnya sih mau ngantar kamu ke stasiun Gubeng. Tapi aku sudah liat kamu naik taxi, waktu aku sampai di gerbang hotel.
(Raa)                Oh ya….tau gitu kenapa nggak sms dulu. Kan aku bisa nunggu kamu.
(Doenk)           Untuk bikin kejutan
(Raa)                Dan kamu sudah bikin aku terkejut saat aku bangun tidak ada kamu di tempat tidurku.
(Doenk)           Kau marah Raa?
NO NICK NAME

***
Waktu masih jam 9 pagi. Tapi Raa sudah duduk manis di kursi kantin yang terletak di belakang gedung DPRD. Matanya terlihat kuyu. Tangaannya asyik memainkan cangkir kecil yang berisi kopi.
“ I’am Falling Love, Ros”, Raa membuka pembicaat setelah terdiam hampir 30 menit. Rosi terbahak. Raa menatapnya tajam sambil mennguncupkan dua bibirnya
“Salah?, tanya Raa
Rosi menggeleng sambil menyorongkan tisu ke hadapan Raa yang sudah mulai meneteskan airmata.
“ Jangan menangis dong Raa. Malu dong kalau seorang Raa nangis. Eits….tapi nggak perlu malu kalau kau jatuh cinta. Wajarlah Raa. Kamu juga perempuan normal kan.”, Rosi masih tertawa. “Sori Raa”, lanjutnya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Raa, “Aku sempat berpkir kau seorang lesbian”.
Raa semakin menekuk wajahnya dan memandang tajam pada Rosi. Raa dan Rosi bersahabat hampir tiga tahun. Sama-sama dari media radio membuat mereka semakin dekat. Apalagi wartawan di Banyuwangi masih di dominasi laki-laki membuat mereka berdua sering curhat bareng. Selama ini Raa selalu menjadi pendengar yang setia untuk Rosi. Jadi tidak ada salahnya jika pagi ini Raa berkeluh kesah pada Rosi.
“Kamu jatuh cinta sama siapa Ra”, kata Rosi sambil meneguk es teh di depannya
“Dengan dia”, Ra menunjuk monitor laptopnya.
Rosi melihat foto seorang laki-laki kurus berambut panjang tersenyum lebar di dibelakang Raa. Dengan latar belakang jembatan merah, mereka berdua tampak sangat akrab. Bukan hanya Raa dan lelaki itu yang ada dalam foto itu, tapi ada 6 orang yang berpose dengan gaya konyol.
Rosi mendekatkan matanya di monitor sambil memicingkan sebelah matanya.
“Raa aku sepertinya mengenal dia”
“Namanya doenk. Dia wartawan tabloid Kebebasan. Entah sejak bertemu dengannya, aku sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Kau tau kan bagaimana diriku kan?. Sulit bangaet untuk jatuh cinta Dia mau datang minggu depan. Tapi aku takut Ros. Jika dia tahu bahwa selama ini aku bersandiwara untuk menutupi penyakitku.”
Rosi mengangguk tegas dan meraih jemari Raa dan menggenggamnya erat.
“Raa. Aku tahu kamu perempuan yang tegar. Tapi aku harus jujur dengan kenyataan ini”. Rosi terdiam sejenak, “ Raa, kau mencintai orang yang salah. Doenk sudah menikah. Sori Raa dengan kejujuranku ini. But its real”
Raa terdiam dan Rosi lanjutkan penjelasannya dengan kalimat terpatah-patah.
“ Eh….Dia pernah liputan di Banyuwangi dan sempat singgah di kantorku untuk ambil data kasus krminal. Doenk sempat cerita padaku kalau dia sudah menikah. Waktu itu kami sempat diskusi tentang pasangan yang tepat buat seorang wartawan. Aku masih ingat Doenk sempat cerita tentang istrinya yang selalu protes dengan profesinya sebagai seorang wartawan….”
Kepala Raa tiba-tiba terkulai diatas meja kantin. Dia tidak perduli dengan apa yang dibicarakan Rosi.. Air matanya deras mengalir tapi tak mengeluarkan suara. Bahunya terguncang keras.  Untung saja kantin dalam keadaan sepi. Hanya beberapa staf DPRD yang melintas tanpa memperhatikan keberadaan mereka berdua.
Rosi meraih kepala Raa yan sudah mulai menangis dan memeluknya. “Raa kamu harus terima kenyataan”.
Sekitar 5 menit Raa melepaskan pelukan dari Rosi.
“Kamu nggak bohong kan Ros”. Rosi menggeleng. Raa mengusap air matanya dengan lengan jaketnya.
“Cinta dan perasaan tidak pernah salah Raa. Yang salah adalah sebuah sistem”, Rosi berusaha menenangkan Raa yang sibuk mematikan laptop nya dan memasukkan ke dalam ranselnya.
“Kau kemana Raa. Kamu nggak mau bunuh diri kan”, tanya Rosi. .
“Aku masih punya akal waras buat melakukan hal bodoh itu Ros. Tanpa bunuh diri pun nyawaku juga akan dicabut”, Raa berkata ketus.
“Tapi kamu mau kemana Raa. Kan ada jadwal rapat panitia anggaran jam 10. Berita bagus. Nggak kamu ambil”
Raa menggeleng dan menyangklong tas ranselnya menuju ke motor merahnya ang diparkir di bawah pohon mangga, “Aku mau menenangkan diri dulu Ros!!”, Raa berteriak sekali lagi sambil mengunjak kick satater, “sekalian coppy insert dan beritanya ntar aku barter liputan features”.
Pandangan Rosi mengikuti bayangan Raa yang hilang di pintu keluar dewan. Rosi merasa kasihan dan ngenes. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Raa. Selama tiga tahun bersahabat, dia tidak pernah tahu ada lelaki yang akrab dengan Raa. Rosi segera mengeluarkan handphone nya dan mengetik sms yang dikirim ke Raa.
‘Aku tahu kau cukup dewasa untuk menerima kenyataan ini raa. Don’t Forget. You’re Amoor raa”. Sending Aira.

***
Raa
Bukitku,  Desember 2006  , 08.02 pm
Aku masih tetap menunggu pagi, ditemani pasangan setiaku. Laptopku , yang jadi sahabat setiaku. Hanya pada dia aku berani jujur tentang perasaanku. Laptopku hanya bisa diam , tanpa berkata-kata. Aku juga tidak berkata-kata. Kita hanya bicara lewat mata. Tapi kita berdua saling jujur. Tapi Doenk……bukan berarti aku menyamakanmu dengan laptopku , seperti halnya kau membandingkan aku dengan kameramu!!!!! Tidak ada yang perlu dibandingkan dalam dunia ini. Karena pandangan setiap manusia berbeda. Jangankan manusia , mata uang saja mempunyai dua sisi. Apalagi manusia yang memiliki dimensi lebih dari 3.
Doenk……malam ini aku sendiri. Aku nggak tahu apa yang aku lakukan. Sepi Doenk.  Tapi ada pasangan di seberangku. Aku mengehal nafas berat. Halah……sedikit sakit hati, tapi aku kan lebih dewasa. Dibandingkan mereka yang mungkin masih berusia belasan. Ciuman , pelukan , ngobrol!!!!! Mungkin sudah bukan masaku lagi!!!!!!!Lalu aku bertanya. Masa apa yang harus aku lewati? Bercinta……aku sudah lupa kapan terakhir aku bercinta. Tuhan……aku selalu tak sanggup ingat masa-masa itu. Belum genap aku berusia 10 tahun , saat seseorang yang aku kenal melakukan hal yang masih belum aku mengerti. Hingga akhirnya aku pahami saat aku duduk di bangku SMP bahwa itu perkosaan. Akhirnya……aku terpuruk , nilaiku hancur , untung aku masih naik kelas.  Tapi aku harus cerita pada siapa. Ibu ku?. Tidak mungkin aku menyakiti dia. Menangis……dan kembali hanya menunggu pagi. Hingga aku baru berusia 17 tahun. Kejadian itu berulang. Dan aku kembali terpuruk. Lapor ke polisi. Hal terbodoh. Aku masih sanggup berdiri dengan dua kakiku. Walaupun akhirnya aku kembali terpuruk pada jalan yang salah saat aku kuliah di Jember dan juga bekerja paruh waktu di sebuah radio swasta. Jalan yang pernah kuanggap salah. Second wife!!!!!!!!tapi aku masih berpikir nalar untuk tidak menyandang gelar tesebut. Apalagi saat hukuman Tuhan turun padaku. Aku angap penyakitku  adalah hukman bagiku yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga.
Doenk…Pada suatu malam dikostan, aku mengalami kejang hebat. Saat aku terbangun, ada sesuatu yang begerak keras menuju bagian kepalaku. Tiba-tiba aku teringat Ayah yang telah meniggal dan Ibu yang menungguku di Bnayuwangi. Hingga akhirnya aku pingsan dan saat tersadar aku sudah berada di Rumah sakit. Saat itu lelaki beristri yang pernah aku cintai sudah bersimpuh di sampingku sambil berkata, “Jangan tinggalkan aku Raa”. Itu terakhir aku melihat wajah dan mendengar suaranya. Lelaki yang pernah menjanjikan masa depan untuk menikahiku. Kemudian aku di tinggalkannya seorang diri. Dan esok harinya seorang dokter spesialis syaraf datang dan menyarankanku menjalani CT scan atau MRI. Dokter itu bilang kejang ku bisa disebabkan beberapa sebab. Epilepsi, penyumbatan pembuluh darah di otak atau…tumor otak.  Mendengar kata terakhir itu menimbulkan rasa antipatiku pada dokter. Saat itu juga aku harus jalani scaning seorang diri. Aku dimasukkan pada sebuah tabung yang sangat besar yang seakan-akan menelanku di dalamnya. Tubuhku dikat dengan tali. Kemudian tabung itu di tutup. Aku merasa seperti seorang astronot yang sedang berada di dalam kapsul untuk dikirim ke bulan. Pandangaku tak lepas pada petugas yang sibuk memperhatikan monitor dan menakan tombol yang tidak aku pahami.
Tiba-tiba kapsul terbuka dan dokter itu berkata,”Kontars”. Sebuah kata symbol yang saat iu tak ku ketahui maknanya.. Dokter menyuruh petugas untuk mengulangi scaningku. Tapi berbeda dengan scaning yang pertama. Dokter menyuntikkan cairan dari tabung kecil ke lenganku. Aku juga mendapat pemeriksaan EEG, yaitu pemeriksaan rekam otak secara elektrinis. Dan akhirnya vonis itu turun. Aku mengidap kanker otak. Aku tak bisa menerimanya. Tidak ada seorang pun yang menemaniku. Duniaku seakan hancur. Aku tak punya masa depan dan kebahagiaan. Aku pun sengaja tak mengundang ibu untuk menjemputku. Ibu hanya tahu kalau aku kuliah dan bekerja di kota jember.  Dua minggu aku menyepi di rumah sakit.. Tidak ada satu pun yang tahu. Hari-hariku hanya aku isi dengan merenung dan menulis. Untung jari-jariku masih bisa di gerakkan, tidak seprti kakiku yang tiba-tiba lumpuh. Aku juga masih punya sedikit tabungan untuk meluasi semua pembiayaan di rumah sakit. Aku harus yakin bahwa aku bisa menyelesaikan semua maslah seorang diri. Aku tak ingin di kasihani hanya karena orang tahu penyakitku. Saat aku merasa enakan dan sehat, akhirnya aku putuskan untuk kembali ke kota Banyuwangi , kota kecil kelahiranku yang banyak memberikan seribu ketenangan untukku. Menghabiskan sisa umurku. Sambil menebus dosaku yang telah merusak pager sari sebuah keluarga. Memutuskan menjadi seorang wartawan di sebuah radio dengan bekal ijasah sarjanaku. Kau tahu Doenk?  Menjadi seorang wartawan  menjadi cita-citaku sejak kecil. Sebelum aku mati.
Dan malam ini aku juga telah melakukan kesalahan yang berulang. Mencintaimu Doenk……mencintaimu yang telah berdua. Mencintai orang yang salah. Tapi aku nikmati perasaanku sekarang. Aku nggak peduli. Aku punya masa lalu yang buruk . Dan aku yakin kamu juga punya masa lalu yang sama buruknya denganku. Selama aku tidak menyakiti  seseorang yang disana dan tidak ada yang dirugikan. Mungkin dulu saat aku di Jember , aku mempunyai keinginan merampas dia untuk tinggal bersamaku. Tapi tidak untuk kamu Doenk…aku nggak berani merampasmu. Aku hanya menikmati perasaan ini. Apalagi berharap kamu tinggal denganku? Menjadi bagian hidupku selamanya. JAUH……SANGAT TIDAK MUNGKIN!!!! Aku harus sadar dan lebih tahu diri. Tentang siapa aku dan siapa kamu. Intinya aku nikmati perasaan cintaku saat ini. Sudah mendekati jam 9 malam Doenk. Aku harus pulang.
Aku tutup lap topku dan mengusap genangan air mata di sudut mataku. Aku tidak mau terlihat cengeng di depan ibu saat aku pulang. Shit…..umpatku. Kenapa aku harus selalu ingin merasa kuat didepan ibuku. Aku hanya ingin bahagiakan dia. Tapi apakah ibu bahagia saat aku menjadi second wife. Tuhan apa yang harus kulakukan saat ini. Motor kua arahkan pulang ke rumah. Terbayang ibu yang menunggu kepulanganku.
***
Surabaya, 18 Desember 2006
            Doenk membetulkan letak rambutnya dan mengikatnya jadi satu tepat ditengkuk. Pandangannya nanar melihat putrinya yang sedang bermain boneka di atas tempat tidur. Doenk menghela nafas sambil mengenakan sepatu gunungnya.
“Jadi berangkat sekarang Mas”, Eli muncul sambil membawa sebotol susu untuk Putri.
Doenk mengangguk tanpa melihat ke raut Eli.
“Kapan sih kamu ada waktu untuk aku dan putri’, ungkap Eli sambi meraih Putri an menyorongkan botol susu ke mulut Putri.
“Jangan mulai masalah”
“Aku nggak mulai bikin masalah. Tapi tolong liat Putri. Kamu nggak ingin kan dia lupa sama bapaknya”, Eli berbicara ketus, “Kamu lebih banyak mengahabiskan waktu unuk liputan dengan seribu alasan. Jika dirumah pun kamu lebih asyik dengan beritamu dengan alasan deadline. Saat libur kamu juga lebih asyik dengan kameramu. Bahkan kamu tidak pernah bertanya, putri, anakmu, sudah bisa jalan atau nggak”.
“Aku berangkat!!!!”, Doenk mencangklong tas ransel yang berisi kamera Canon EOS 350 D Digital.
“Mas, denger nggak sih yang aku omongkan”
“Aku denger Dik!!! Tapi gimana lagi sebelum kita menikah aku sudah memilih pekerjaan ini. Dari pekerjaan ini aku dapat penuhi kebutuhan kamu dan putri. Aku akan menghargaimu, dan kau juga menghargai pekerjaanku. Sudahlah aku berangkat”. Doenk mencium kening Eli dan mengusap kepala putri yang masih asyik dengan botol susunya.
Doenk membelah pagi Surabaya dengan sepeda motornya menuju stasiun Gubeng. Jam 9 pagi kereta akan membawanya pergi ke Banyuwangi. Menemui perempuan yang membuatnya jatuh cinta. Raa….aku akan menemuimu. Doenk berkata dalam hati. Tak sadar dia menghela nafas saat ingat Eli dan Putri yang ia tinggal di rumah. Maaf dik, aku jatuh cinta lagi. Tapi aku tak akan pernah melepas tangung jawabku pada kalian. Janji Doenk dalam hati.
****
Raa
Sepulang dari liputan Pawai Budaya aku langsung melajukan sepeda motorku ke stasiun Karang asem. Doenk akan datang hari ini. Paling tidak jam 4 sore itupun kalau kerata api mutiara siang nggak telat. Aku melirik jam tanganku kurang 10 menit lagi. Masih cukup banyak waktu. Untung tadi aku sudah sempat ngomong sama ibu kalau hari ini aku kedatangan tamu dan kemungkinan tidur dirumah. Jadi aku nggak perlu telpon rumah untuk kasih tahu kedatangan tamu spesialku ini. Bahkan ibu sempat bilang, “Nggak perlu tidur di hotel, Raa. Kalau dia mau tidur aja di sini. Banyak kamar kosong kan?. Dari pada buang uang percuma. Asalkan dia mau nerima keaadaan kita”.
Ibu selalu ucapkan kata-kata itu, jika aku kedatangan tamu dari luar kota. Maklumlah mulai dari SMA aku punya mobilitas yang tinggi untuk keluar kota ditambah lagi aku kuliah.
Akhirnya aku sampai juga di stasiun Karang asem. Aku dulu sempat heran kenapa juga membuat akses transportasi tengah kota yang terkesan terpinggirkan. Angin sore menyapaku saat aku duduk diruang tunggu stasiun ini. Walaupun berada di pinggir kota Banyuwangi, Stasiun Karang asem merupakan stasiun dengan penumpang yang terbanyak dibandingkan stasiun Banyuwangi Baru yang berada di Ketapang dengan akses kendaraan umum terbanyak.
Belum sempat aku menikmati suasana sore yang sedikit mendung di Stasiun ini, dari arah selatan terlihat kereta mutiara siang dengan suara khasnya. Hatiku bergetar saat kereta tersebut berhenti tepat di depanku. Mataku terpaku pada pintu keluar gerbong tiga. Sosok Doenk turun sambil tersenyum mendekati tempatku berdiri di deretan kursi tunggu. Tiba-tiba dia meraih kepalaku dan mencium keningku. “Aku kangen kamu Ra”. Aku tak bisa berkata-kata lagi hanya meraih tas platik yang disorongkan kepadaku.
“Buatmu. Tabloid Kebebasan. Kamu bisa menilai tulisanku. Emang sih edisi lama tapi paling tidak bisa kamu baca”.  Dia tesenyum dan aku pun tersenyum. Angin sore semakin berhembus kencang. Sepertinya prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika Kabupaten Banyuwangi tentang badai Melanie hampir terbukti. Aku pun segera mengajak Doenk untu pulang kerumahku.
***
Doenk
            “Masukkan aja lewat pintu samping”, ujar Raa sambil membuka gerbang samping. Dengan sedikit canggung aku memarkir sepeda motor Raa di gerbang samping. Perempuan itu segera masuk ke dalam rumah sambil meneriakkan salam. Dari dalam keluar perempuan separuh baya. Aku yakin itu adalah ibunya.
“ Oalah….sudah nyampe le”, katanya ramah sambil membuka pintu.
Aku mengangguk sambil menyalaminya.
“Doenk Bu. Dari Surabaya”. Aku memperkenalkan diri.
“Raa sudah cerita banyak kok tentangmu. Langsung istirahat saja di kamar Raa saja. Biar untuk sementara dia tidur sama ibu. Soalnya kamar lain belum sempat dibersihkan. Maklumlah saya hanya tinggal berdua dengan Raa”. Ibu mengelus rambut Raa yang panjangnya hampir sama dengan rambutku.
Dengan sigap Raa membuka pintu kamarnya untukku.
“Selamat datang di istanaku”, bisik ia ditelingaku, “Aku nggak hanya bisa berbagi tempat tidur. Tapi juga bisa berbagi kamar dengamu”. Aku tersenyum mengingat kejadian di kamar hotel
Pandanganku menyapu kamar yang hanya berukuran 4 x 5 meter itu. Tempat tidur single bed, rak berisi puluhan buku-buku bacaan, satu set computer, satu lemari pakaian, meja rias kecil dipadu dengan cermin oval yang antic dan kalung-kalung etnik yang digantung didinding yang berwarna hijau, membuat kamar ini nyaman untuk ditempati.
“Boleh aku masuk”
“ Ya boleh lah. Selama kamu di Banyuwangi, ini adalah tempat tinggalmu”
Saat kami asyik ngobrol, ibu muncul sambil membawa 3 gelas susu coklat.
“ Lo raa. Kok malah ngobrol sambil berdiri. Nih ibu buat susu coklat. Lumayan buat menghilangkan rasa dingin dan capek. Kita ngobrol di teras belakang aja yuk. Kalau susunya sudah habis, baru Doenk mandi dan tidur”.
Aku meletakkan tas ranselku di salah satu rak buku. Dan kemudian menuju ke teras belakang bergabung dengan Raa dan ibu untuk menghabiskan segelas susu coklat seperti menghabiskan senja pertamaku di Banyuwangi. Aku seperti berada di rumah kelahiranku sendiri di Blora. Sesekali pandanganku tertumpu pada Raa. Senyumnya ceria tapi aku menyakini ada yang kosong dalam tatapannya. Seandainya tak ada ibu diantara kita, ingin aku raih Raa dalam pelukku dan mengatakan bahwa aku mencintainya.
Sepanjang waktu ini, ibu lebih banyak menceritakan masa kecil Raa dan kemandiriannya menghadapi hidup. Saat itu aku juga baru tahu kalau Ibu adalah seorang single parent membesarkan Raa dan kakak lelakinya yang kini tinggal di Jakarta. Entah kenapa aku semakin kagum dengan keluarga yang baru aku kenal ini. Malam belum begitu larut. Akhirnya kantukku tak tertahankan. Dan Raa langsung mempersilakan aku untuk mandi dengan air hangat yang sudah disiapkan untukku.
Tak sampai 15 menit aku keluar dari kamar mandi dan angsung merebahkan diri di tempat tidur Raa. Suara Ibu dan Raa masih ngobrol di teras belakang. Lamat-lamat suara mereka hilang. Aku terlelap dan merasa tenang di kamar ini. Zzzz……
****
Raa dalam malam
Aku tak pernah dapat merasakan sesuatu. Tapi ini semua berubah. Ada sesuatu yang menggeliat-geliat dalam jantungku. Apa itu?. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setiap malam, sesuatu itu seakan-akan muncul, meninggalkan getaran yang halus. Ya…sangat halus, bahkan tak ada alat untuk mendeteksinya. Aku bingung Tuhan!!!!. Semoga ini bukan…………
Sore tadi aku mengerjapkan mata. Tuhan …apa yang sedang terjadi padaku. Tiba-tiba getaran halus iu muncul kembali bahkan mengahangatkan tubuhku dan semakin membuatku nyaman meringkuk dalam kamarku. Sesaat aku nikmati dan aku beranikan diri untuk menatap di dadaku. Nafasku seakan berhenti berhembus. Jumlah libidoku langsung memuncak. Kupu-kupu sebesar telapak tanganku menggeliat perlahan keluar dar kepompong yang menggantung di jantungku!!!!. Apakah ini yang dilihat ayah saat ibu melahirkan aku. Jantungku semakin keras berdegup. Ayo cepat……kamu pasti bisa……mulutku nggrundel sendiri sambil berdoa untuk kupu-kupu yang lahir dari dadaku. Kupu-kupu itu telag keluar dan mengepakkan sayapnya perlahan. Ya Tuhan……aku tak pernah melihat kupu-kupu seindah ini. Kupu-kupu jenis apa ini?. Mataku membeliak mengamatinya. Tanpa berani bertanya. Sayapnya indah, dengan warna biru semburat merah, oh tidak. Ada warna kuning dan ungu di tengahnya. Atau itu warna emas dan perak. Aku menggelengkan kepala heran, bahkan aku tak tau warna apa itu. Seperi warna pelangi. Atau ini yang dinamakan Ndaru?
Tadi sore aku mampu melangkah ringan keluar dari Stasiun. Ih…ada sesuatu yang aneh dengan kupu-kupu ndaru dalam dadaku. Dia tidak membesar, juga tidak mengecil. Dia aman di sana, hanya sesekali mengepakkan sayapnya. Bahkan aku tak tahu apa yang dia makan dan apa yang dia minum. Aku tersenyum geli. Aku dan ndaru ku seperti Ken Arok dan kerisnya. Atau seperti prajurit dengan senjatanya?.serasi kan?
“Kau raa…”. Ups, aku langsung menutup mulutku. Suara itu menggema. Aku menoleh dan Oh My God. Dia…kupaksakan mulut ini menutup. Aku tak berkata hanya berjalan ringan sambil menjauhinya. Ow…ow….Kupu-kupu Ndaru di dadaku tiba-tiba mengepak perlahan. Geli dan tiba-tiba ada respon positif yang memaksaku untuk memandangnya sambil berkata, “Aku menyukaimu”, tapi hanya keluar dari jaringan bilabial dalam hati. Sangat tidak mungkin sekali aku mengucap kalimat itu, pada laki-laki yang baru kukenal dalam hitungan jam, ketika kupu-kupu Ndaru bandel ini terus mengepakkan sayapnya. Udara terasa hangat, lebih hangat saat aku meringkuk di bawah bed cover merahku. Ini sebuah sensasi yang maha dahsyat. Aku mengernyitkan keningku, mencoba mengingat kapan pernah ku rasakan sensasi seperti ini. Aku melumat bibirku sendiri dengan lidahku. Yang pasti kupu-kupu ndaru itu terus mengepakkan sayapnya yang indah. Bahkan disetiap kepakan sayap, warnanya berubah dan senssaiya juga berubah. Sesuatu yang aneg, atau aku saja yang terlalu berlebihan menganggap itu….Ah semoga ini bukan…
            Langkahku semakin ringan saat aku semakin menikmati kehadiran kupu-kupu Ndaru di jantungku. Banyuwangi seakan menjadi taman bunga yang mampu membuat kupu-kupu Ndaru dalam jantungku, dan dia akan terus mengepakkan sayap saat aku bertemu dengan…Ya aku sadar kupu-kupu itu mengepak saat aku mengingat sosok itu. Nafasnya, tatapan matanya, bau tubuhnya…ah…ah…aku telah gila. Aku menundukkan kepala. Kupu-kupu Ndaru ku diam, dia seperti merindukan bunga. Bukankan kamarku adalam taman bunga bagimu. Aku menangis,” Kupu-kupu Ndaru ku jangan bersedih, teruslah mengepakkan sayapmu untukku”. Tapi aneh tak ada air mata di pipiku bahkan aku terus tertawa dan tertawa sepuas-puasnya. Aku mentertawakan diriku sendiri atau aku yang akan semakin gila dengan kehadiranmu.
Semoga ini bukan cinta, aku tuliskan kata itu pada selembar kertas catatan liputanku. Dan tiba-tiba kupu-kupu Ndaru dalam jantungku berontak. Dia mengepakkan sayapnya dengan keas. Bukan lagi desir aneh, akan tetapi ini adalah badai, menghancurkan serta memporakporandakan perasaanku. Pikiranku bergelimpangan, lautan darahku bergolak seperti tsunami. Badanku terasa dingin dan mataku panas. Tuhan, aku menangis. Dan dari tiap tetes air mataku muncul seribu kupu-kupu. Aku semakin tak bisa berpikir. Mataku buta oleh seribu  kupu-kupu. Tiba-tiba dari seluruh pori-pori di tubuhku muncul kembali kupu-kupu itu. Aku semakin blingsatan. Libidok semakin tinggi, aku berteriak, menggeliat, mencakar, menjambak, berlari keluar dari kerumunan kupu-kupi sialan ini. Tapi aku tak bisa. Semakin aku berlari, Kupu-kupu bangsat ini terus mengejarku. Bahkan kupu-kupu Ndaru di jantungku sekarang bertengger dengan anggun di otakku. Seperti seorang komandan cantik yang sedang memberi perintah kepada pasukannya. Aku tak bisa lagi berpikir waras. Otakku telah dikuasainya. Aku pasrah, aku lemas, dan kubiarkan seribu kupu-kupu itu membawaku terbang ke dunia yang tak pernah aku jumpai. Dunia apa ini. Aku seakan berada di daerah gersang yang indah, apa ini sebuah taman bunga, ah…tapi mengapa kerongkonganku kering. Aku butuh minum!!!!! Aku butuh air !!!! Cepat berikan padaku. Tapi aneh, aku terus menikmati penerbangan dengan seribu kupu-kupu bangsat ini. Sesaat aku tersadar, ada kupu-kupu hitam jatuh dan sayapnya luruh di bawah kakiku. Tuhan….bukankah itu kupu-kupu yang dulu juga pernah singgah di jantungku beberapa tahun yang lalu. Sedang kini kupu-kupu Ndaru sialan itu menjadi raja di otakku. Tuhan…aku pasrah…
Raa menangis sendiri di teras belakang. Dia menangisi perasannya yang sedang jatuh cinta pada laki-laki yang salah. Waktu sudah mendekati jam 12 malam. Doenk sudah tidur dari jam 9 tadi. Dan ibu juga lebih memilih untuk tinggal di dalam kamar sambil mendengarkan radio.
****
Senja di Pantai Banyuwangi
“Aku ingin menikah dengan mu Raa”, Doenk berkata perlahan sambil menatap ke depan. Cuaca pantai Boom sore ini cukup tenang. Angin bertiup perlahan seakan sayang menggerakkan ramting pohon waru tempat mereka berdua belindung. Sudah 3 hari ini Doenk tinggal di Banywangi untuk liputan tentang Santet Jaran Goyang dan features untuk tabloidnya. Selama 3 hari itu pulalah dirinya merasa menemukan sebuah ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama wanita yang sangat ia cintai.
Raa terdiam dan membiarkan syalnya dimainkan angin.
“Raa. Mungkin aku terlalu cepat mengatakan sebuah pernikahan. Tapi aku hanya ingin bahagia denganmu. Aku merasa cocok dan jatuh cinta padamu sejak kita bertemu. Kamu yang selama ini aku cari Raa. Secepatnya aku akan melamarmu untuk menjadi istriku”
Dengan cepat Raa menjawab, “Kau melamarku untuk menjadi istri keduamu?”, katanya tenang.
Doenk terperangah, “Kau tahu?”, pungkasnya.
Raa mengangguk tegas.
“Jika kau tahu kenapa kau menerima aku di rumahmu. Menemaniku liputan di Banyuwangi. Tanpa ada segan atau ragu? Jujur Raa, aku pikir kau tak tahu statusku saat ini. Tapi bukan bearti aku akan membohongimu dengan statusku. Aku….”, suara Doenk langsung berhenti saat Ra memotong penjelasan Doenk.
“Kau ingin tahu kenapa aku menerimamu di rumahku? Karena aku juga sangat mencintaimu.”, Raa menatap Doenk tajam. “Aku sudah tahu semuanya Doenk. Awalnya aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku mencintai lelaki yang sudah beristri. Dan ini merupakan kesalahanku. Aku berharap bahwa aku hanya menggagumimu saja. Tapi ternyata aku baru sadar-sesadarnya bahwa aku benar-benar jatuh cinta. Entahlah Doenk. Proses ku hingga menjadi Raa yang sekarang sangat panjang dan rumit. Apa iya apa hidup yang sudah aku tata selama ini akan hancur hanya karena aku mencintaimu”.
Kini gantian Doenk yang terdiam.
“ Dulu aku pernah menolak dijadikan istri kedua dengan alasan tak ingin menyakiti hati perempuan lain. Sakit Doenk….saat aku bayangkan posisiku jadi  yang kedua. Aku tak sanggup bayangkan untuk berbagi cinta”
“Aku tidak memaksamu. Aku juga salah karena dari awal aku ak pernah cerita tentang statusku yang sebenarnya. Aku akan hormati semua pikiranmu tentangku Tapi ples Raa, ijinkan aku untuk bisa menemuimu di Banyuwangi.setiap waktu”
Raa melepas syal dari lehernya dan mengalungkannya pad Doenk, sertamembetulkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan terkena hembusan angina laut, “Aku sempat berpikir untuk menjadi istri keduamu. Tapi saat ini aku masih tak sanggup untuk memutuskan. Banyak beban yang aku pikirkan. Ibuku, masa laluku dan masa depanku. Tapi benar kau serius dengan perkataanmu untuk menikahiku”
Doenk mengangguk. Wajahnya di dekatkan pada wajah Raa. Ada ketulusan yang Raa temukan dalam mata Doenk.
“Demi ombak, demi angin, demi laut, demi senja ini demi Tuhan yang ciptakan cinta ini. Raa aku mencintaimu tulus”. Pertamakalinya Doenk mencium bibir Raa. Dingin sedingin senja yang beranjak malam. Doenk dan Raa akhirnya lupa berapa jumlah pasir di bawah kakinya.

****
Doenk
From               : Aira
Subject                        : Catatan setelah kau pergi
Date                : Sun , 31 Desember  2006 16:43:42 :07.00
Doenk, waktu telah membawa18 Desember mendekati 21 desember pag denganmui. Tuhan….aku tidak bisa menceritakan semua, tentang 4 hari 3 malam perjalanan ini. Aku menulis catatan ini ditengah-tengah lautan manusia. Banyuwangi sedang berpesta merayakan kelairannya. Keramaian yang sangat. Kemeriahan yang pernah aku ceritakan beberapa waktu yang lalu padamu. Tapi aku merasa diriku kosong dan sepi. Oh…apa sanggup aku nikmati perjalanan ini.
“Kau dan aku, seperti halnya  rel kereta api itu. Berjalan berdampingan, sejajar bahkan satu tujuan. Tapi tak pernah bertemu dalam satu titik. (tapi bukankah rel kereta api di Jawa Timur, bertemu dalam 3 titik. Titik pertama di Stasiun Banyuwangi Baru, Ketapang Banyuwangi. Titik kedua di Bangil dan titik ketiga di Stasiun Semut Surabaya). Jangan tersenyum dengan alasanku yang tidak masuk akal ini. Jadi kita hanya bisa bertemu di tiga titik itu. Halah…
Doenk……aku selalu membayangkan kau dan aku adalah rel kereta api. Jumlahnya ada dua kan ? Seperti halnya kita yang selalu berdua, bersama ke arah yang sama. Bisa bayangkan kalau tidak ada dua rel?. Tidak akan ada keseimbangan, dan pasti namanya monorel. Tuhan sudah menciptakan dunia berpasangan. Berdua. Seperti malam dan siang. Langit dan bumi. Putih dan hitam. Laki-laki dan perempuan. Semuanya berpasangan. Tapi penentuan berpasangan, hanya diciptakan untuk melengkapi alam. Masyarakat sendiri yang membuat kontruksi berpasangan itu. Bukan Tuhan. Kita satu tujuan kan sayang……tapi kita tidak pernah bertemu dalam satu titik.
Rel kereta itu yang telah membawaku 308 km ke arah barat menemuimu. Rel kereta itu pula yang telah membawamu datang dan pergi dariku. Rel kereta itu pula yang membawa jiwa dan cintaku. Kapan kembali?.
Aku tidak sanggup Tuhan. Terlalu berat, seperti halnya saat ayah pergi meninggalkan keluargaku. Mau tidak mau harus mau. Suka atau tidak suka harus suka. Ikhlas atau tidak ikhlas harus ikhlas. Seperti halnya saat kau pergi. Aku harus mau, aku harus suka dan aku……harus ikhlas.
Kamu pergi dan aku tidak pernah tahu kapan kau kembali. Aku paling benci pertemuan, karena aku yakin jika ada ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kamu berkata padaku, “Anggap aku berangkat liputan. Karena pasti aku kembali. Rumahku disini di Banyuwangi. Aku akan selalu merindukanmu Raa”.
Doenk…… aku tidak pernah tahu siapa kamu. Apa yang kamu lakukan disana. Bahkan saat ini aku berpikir, apa hanya aku, wanita yang pernah sangat dekat denganmu?. Aku yakin bahwa jawabannya, TIDAK!!! Mobilitasmu tinggi. Kau akan bertemu dengan orang-orang baru, yang tidak menutup kemungkinan kedekatanmu dengan mereka. Seperti halnya kedekatanmu dengan aku.
Tapi……aku tidak akan menghakimimu dengan pola pikiranku ini. Aku tetap anggap kau bagian dari puisiku yang tidak akan pernah selesai aku tulis. Sampai saat ini, kau tetap puisi yang terindah bagiku, Doenk.
Puisi tanpa ikatan. Hubungan tanpa komitmen, karena kita tidak pernah berani untuk bermimpi tentang masa depan. Tapi Doenk…kau tahu yang terikat adalah perasaan kita. Ikatan perasaan itu akan lebih kuat dibandingkan ikatan komitmen. Aku malas menjanjikan dan dijanjikan. Dari pada hanya sekedar bisa bermimpi.This is real time…
Doenk…aku mencintaimu tanpa syarat. Atau meng-kotakmu dalam sebuah aturan. Tidak. Biarlah perasaan dan waktu yang menjawab perjalanan cerita ini. Seperti kisah-kisah yang aku tulis. Seperti masa-masa yang juga aku lewati mulai aku lahir hingga aku berada di dunia ini, bersama mu. (jangan senyum ya sayang………)
Tangan Doenk langsung menekan Control A, men cut  tulisan ira di emailnya dan langsung men copy  difolder pribadinya. Doenk terdiam sesaat membayang Raa yang sendiri, Raa yang lebih suka berkutat dengan lap topnya dari pada ngobrol dengan teman-temannya, Raa yang selalu kritis dengan pertanyaan-pertanyaan yang membunuh nara sumbernya. Seharusnya Raa tidak di kota kecil itu. Tapi Raa menolak saat aku tawarkan untuk pindah ke media yang lebih besar. Dengan alasan yang simple. “Aku ingin habiskan hidupku di Banyuwangi”. Aku sempat membantahnya dengan mengatakan usianya masih muda, baru 27 tahun. Tapi Raa malah berdebat denganku dan mengatakan kita bukan Tuhan yang bisa menentukan panjangnya umur..
“Doenk…..deadline!!!!!Cepat selesaikan surat pembaca. Kalau sudah selesai kirim ke meja pimred. Di tanyakan tuh”, Deni berteriak dari ruang sebelah. Aku hanya diam dan berpindah ke file Surat pembaca. Fuich….Coba ada Raa, pasti dia yang akan menjawab surat-surat ini, seperti saat dia memaksa agar diberi kesempatan menulis artikel liputanku tentang jaran goyang. Tiba-tiba aku teringat segera aku ambil handphone dan mengirimkan pesan singkat pada Raa. Thanks Raa minggu depan tulisanmu atas namaku muat di tabloidku. Aku pasti pulang dan akan bawakan hadiah special untukumu. .
****
“Ros…aku putuskan untuk mengakhiri kesendirianku”
Rosi terperanjat bahkan es campur didepannya hampir saja tumpah. Raa seperti tidak berkata apa-apa. Raut mukanya tetap tenang.
“Kamu ngomong apa Raa. Apa aku nggak salah dengar”, ucap Rosi sambil memicingkan sebelah matanya, “Baru beberapa minggu kamu bilang kalau kamu jatuh cinta, pada orang yang salah lagi. Beberapa hari terkahir kamu juga menghilang tanpa kabar. Bahkan Koordinator liputanmu sempat telpon ke aku tanyakan keberadaanmu. Eh….sekarang tiba-tiba akan mengakhiri kesendirianmu. Kamu mau menikah? Surprais banget. Nanti aku siap jadi even organizernya dech. Mau pesta seperti apa?.Out door?indoor? Garden party?. Tinggal pilih.  Kalau perlu biar aku umumkan lewat radio, lewat Koran atau lewat baliho. Biar semuat tahu kalau Aira yang selama ini terkenal sebagai perempuan anti laki-laki akhirnya menikah. Dengan siapa Raa”, pungkas Rosi
“Doenk”
“Haah”, mulut Rosi terbuka lebar.
“Tidak ada pesta tidak undangan tidak ada pengumuman. Aku hanya ingin ajak kamu sebagai saksi. Aku akan nikah bawah tangan. Aku juga tidak punya wali hakim. Ayahku sudah meninggal. Kakak laki-laki di Jakarta. Cukup kau dan ibuku”
“Kau tidak sedang gila kan Ra”
“Aku waras Raa. Minggu kemarin Doenk datang ke Banyuwangi. Memang aku akui aku baru mengenalnya dalam hitungan hari. Tapi aku merasa dia adalah pelabuhan terakhirku. Dia melamarku Ros. Tidak ada salahnya kan jika aku menerima lamaranya.  Niat dia baik bukan?”
“Kamu sudah siap dengan konsekwensinya”
“La iya lah. Bukan Raa kalau tidak berpikir panjang. Sudah lah Ros….aku tidak akan menyesal dengan keputusanku”
“ Kapan Raa….”
“ Secepatnya. Mungkin bulan depan. Pasti aku kabari lagi”
Rosi dan Raa terdiam dan asyik dengan lamunan masing-masing.
Raa tiba-tiba bangkit, “ Masuk ke dewan yuk. Tanya kelanjutan organsisasi perangkat Daerah”, ucap Raa sambil mengambil tas ransel dan meninggalkan Rosi yang masih sibuk berpikir tentang keputusan sahabatnya untuk menjadi istri ke dua.
***


Doenk
Tut…tut…tut…
Aku memaksa mataku terbuka dan berusaha mencari HP ku yang selalu ku letakkan di bawah bantal. Sudah jam 11 siang. Kemana Eli dan Putri. Suasana rumah sangat sepi. Biasanya jam sekian Putri sudah sibuk dengan ocehannya untuk membangunkanku. Tubuhku seakan remuk. Capek. Tiba-tiba aku ingat dengan suara yang membangunkanku. Segera ku buka HP yang sudah ada di genggamanku.
Mataku terbelalak. Kantukku seketika hilang. Penatku seakan tersedot bumi dan tergantikan energi Baru. Sms dari Aira.
“Doenk.......apakah tawaran yang kau janjikan masih berlaku. Jujur aku tidak bisa melupakanmu. Dan aku siap menerima segala konsekweinsinya”
Aku segera membalas tanpa beranjak dari tempat tidur.
Maksudmu kau mau menjadi istri keduaku”
Tak berlangsung lama hp ku kembali berteriak Masih dari Aira
“Demi ombak, demi angin, demi laut, demi senja ini demi Tuhan yang ciptakan cinta ini. Raa  mencintaimu tulus Doenk. Kapan kau datang untuk melamarku”
Aku tersenyum sambil mempermainkan jemariku diatas keypad Handphoneku
“secepatnya aku akan pulang Raa. Anggap aku masih liputan. Karena aku telah temukan pelabuhan terakhirku. Tapi aku tak pernah bisa meninggalkan tanggunjawabku disini. Aku akan belajar adil Raa”
1 menit. 5 menit. 15 menit. Sampai 1 jam aku menunggu balasn dari Raa hingga aku kembali tertidur dan terbangun oleh teriakan putri yang menarik selimutku. Tanggung jawabku sudah datang. Maafkan aku putri, ucaku dalam hati. Kulayangkan ciuman hangat dipipinya. “Ayah mencintaimu Putri, seperti ayah mencintai ibumu dan mencintai Raa”.
***
Banyuwangi 11 April 2007
Langkahku seakan terhenti saat turun dari line 6 di jalan Yos sudarso. Rumah kuno yang pernah aku kunjungi 4 bulan yang lalu masih tetap berdiri. Aku melihat dalam tas pinggangku untuk memastikan cincin yang aku beli di Martapura saat aku liputan bulan kemarin masih ada. Aku juga membawa tas laptop water resistant untu Raa. Biar laptopnya tidak terkena air jika liputan di musim hujan. Tapi ada yang aneh di rumah itu. Semua jendela besar ciri khas rumah tempo dulu terbuka lebar. Kursi tamu dijejer di gang samping. Apakah Raa menikah?. Tanyaku dalam hati. Aku bergegas menyeberang dan menuju halaman rumah. Banyak orang dan semunya memandang aneh padaku. Aku tidak perduli dengan mereka dan juga masa bodoh dengan tas ransel dan pakaianku yang kumal.
Seorang laki-laki yang usianya mungkin sama denganku menyalami dan mepersilahkanku duduk di tikar yang digelar di ruang tamu. Banyak orang hilir mudik yang semakin membuatku bingung.
“Saya Doenk teman Raa dari Surabaya”, aku memperkenalkan diri sambil melepas ransel dari punggungku.
“Abdi. Saya kakaknya Raa”. Lelaki yang mengaku kakak Raa itu melepas kopiah hitamnya. “ Sudah bisa saya tebak. Kalau anda Doenk yang sering diceritakan Raa pada saya”, ucapnya sambil mengehela nafas berat.
“Maaf, kalau saya mengganggu acara keluarga di rumah ini. Saya hanya ingin bertemu dengan Raa. Handphone nya nggak aktif. Email yang saya kirim juga tidak di balas. Saya juga mau minta maaf sama dia karena pernah janji untuk datang februari lalu. Tapi kantor menugaskan saya liputan ke Malaysia. Jadi baru sempat datang sekarang. Kalau sendainya Raa tidak mau menemui, mungkin saya bisa bertemu dengan ibu”. Jelasku panjang lebar.
Tiba-tiba aku baru sadar jika semua orang disini berpakaian hitam dan bermata sembab.  Aku terdiam. Abdi tiba-tiba bangkit dan masuk kedalam. Jika tidak banyak orang dirumah ini, aku akan langsung masuk dan berteriak memanggil ibu seperti kebiasaan Raa jika datang dari kerja. Tiba-tiba perasaanku melayang pada Raa, perempuan muda yang membuatku jatuh cinta. Entah sudah ratusan kilometer aku lewati untuk sampai disini. Bahkan aku masih belum menemui tangung jawabku , Eli dan Putri di Surabaya. Kabar tentang tenaga kerja Indonesia di Malaysia telah menyita waktuku untuk menemui Raa. Kerinduan pada Raa seperti candu yang memberikan semangatku untuk kembali ke Banyuwangi. Aku akan menikahimu sekarang Raa. Seperti pintamu saat itu.
“ Doenk….”
Aku mengangkat kepalaku yang tertunduk. Suara yang juga aku rindukan selain suara Raa. Suara ibu yang sudah aku anggap ibuku sendiri. Sejak kedatanganku pertama di Banyuwangi aku selalu menelpon ibu setiap minggu sekedar tanya kabarnya. Aku berdiri dan mencium tangannya.
“Maafkan Doenk ya Bu. Saya baru pulang liputan khusus dari Malaysia dan langsung ke sini. Raa dimana ibu?”
Ibu seakan tidak peduli dengan pertanyaanku, “Raa sudah banyak cerita tentang hubungan kalian juga status kamu. Ibu restui hubungan kalian”
“Saya akan menikahi Raa, Bu”,ucapku tegas.  Ibu tersenyum dan menggandeng tanganku menuju kamar Raa.
Kamar itu masih sama seperti saat aku tinggalkan. Hanya ada yang bertambah di kamar ini.  Foto Raa yang aku ambil saat pulang ke Banyuwangi terpasang diatas rak buku. Foto Raa tertawa lebar. Aku terhenyak kaget saat aku melihat foto diriku juga terpasang di dinding itu. Aku tak pernah menyadari jika Raa mengambil gambarku saat aku sedang memotret laut sore itu dengan kamera milik Raa. Finefix S5800.
“Ibu hargai ketulusanmu Doenk. Tapi semuanya sudah terlambat”. Ibu membuyarkan lamunanku
“Maksud ibu”
“Raa sudah meninggal. Pagi tadi jenasahnya sudah dimakamkan. Ibu tahu Raa sangat mencintaimu,Doenk. Raa sudah cukup bahagia saat tahu kau akan menikahinya. Karena Raa sudah tahu kalau pernikahan antara kalian tidak akan munkin terjadi. Bukan karena kau sudah berkeluarga. Tapi karena Raa sudah tahu umurnya tidak mungkin panjang. Kanker otak sudah mengirim Raa pada Tuhan”.
Langit seakan runtuh di atas kepalaku. Aku berteriak sekeras-kerasnya sambil berontak dan tidak perduli dengan kerumunan orang yang disekitarku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak terima dengan kenyataan ini. Aku menangis tergugu. Tanpa aku sadari jemariku terkepal dan memukul bayangnku sendiri di cermin milik Raa. Pecah berantakan seperti perasaanku saat ini. Darah mengalir dari jari-jari ku. Aneh sama sekali tidak kurasakan sakit. Bayangan Raa tiba-tiba melintas. Saat Raa berdiri di stasiun Karang asem sambil menangis dan melambaikan tangan saat mengantarku pulang. Raa…kamu buat aku menangis saat ini tanpa sempat mengantarmu pergi.
Ibu mengelus rambut panjangku, “Sudahlah Doenk. Ikhlaskan Raa. Oh ya dia berikan laptop dan kameranya untukmu.”
Dengan gemetar aku menerima laptop dengan stiker kuning bertuliskan Travel warning Indonesia:Dangerously Beautyful dan kamera Finefix S5800. Dua barang yang paling dicintai Raa.


***
Second Wife monologh
Aku wanita baik-baik  Bukan wanita murahan yang menjajakan cinta di pinggir jalan. Tapi …? Siapa yang bisa mengerti aku. Aku siap menghadapi tudingan sebagai wanita sundal, pengganggu suami orang. Halah……tau apa mereka tentang diri aku. Apa mereka takut suami mereka akan beralih padaku. Apalagi untuk ukuran Ibu-ibu rumah tangga yang hanya menuntut suami pergi, bekerja, pulang dan bawa uang. Tidak tau kenapa Doenk, pikiranku saat ini aku telah menjadi second wife mu.
Aku berpikir untuk menjadi istri kedua, bukan karena kekurangan materi. Memang….streotipe istri kedua adalah ingin menjadi lebih kaya lebih makmur. Tapi itu bukan aku. Penghasilanku satu bulan sudah cukup, bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kehidupanku sehari-hari. Terkadang aku berfikir apakah aku wanita simpanan? Ah…. mereka memang bodoh  tidak mampu dan bisa membedakan wanita simpanan dan istri kedua.
Namany Aditha Rahman Negara, tapi panggilannya Dudung. Tapi entah alasan apa aku selalu menulisnya deng D O E N K, bukan dengan akhir NG, tapi NK. Secara structural beda, tapi makna sama. Hanya lebih simple. Aku suka yang simple seperti pikiranmu yang sangat dan cukup simple untuk ukuranku.
Kenapa aku merasa lelah ya…… Seakan-akan aku baru saja melakukan perjalanan panjang.  Entah apa yang aku pikirkan saat aku memutuskan jatuh cinta padamu. Hanya ketenangan yang aku temukan, saat menatap dua telaga yang terletak tepat dibawah baris alis yang tidak rapi itu. Aku temukan tatapan ayahku yang hilang, lebih dari 20 tahun yang lalu. Doenk……Aku mencintainya tanpa syarat. Sebagai wanita dalam posisiku, tidak aman jika harus hidup sendiri. Apa salah aku mencintai lak-laki yang telah berdua, kalau laki-laki itu berniat baik dan bisa melindungiku. Prinsip……aku tidak mau mengganggu sekaligus tidak diganggu. Tapi dengan statusku, apakah aku tidak mengganggu keluarganya?. Aku tidak ingin gara-gara aku, dia menceraikan istrinya. Terlalu jauh aku berpikir tentang hukum sebab akibat. Tapi  apa semua orang akan setuju dan menerima alasan ini?
Entah…perasaanku tidak tenang. Ada apa?
Aku paling benci  jika malam datang. Karena inilah saat – saat yang paling berat bagiku. Kalau dipagi hari dan siang hari, aku mungkin bisa mengesampingkan kepedihan dan kekesalan hatiku, dengan menyibukkan diri dengan beritaku. Namun malam hari, aku paling tidakberdaya. Mengusir perasaan-perasaan yang menekan. Begitu malam  biasanya bapak atau ibu pulang kerumah masing-masing berkumpul dengan keluarganya. Tapi aku…. Aku merasa ketinggalan, seperti seorang pemain komedi yang tertinggal disebuah panggung yang kosong. Sementara lampu mati satu persatu. Tertinggal tanpa punya tempat yang bisa didatangi, tanpa tahu apa yang harus dikerjakan, kecuali menunggu. Menunggu datangnya pagi. Menunggu datangnya pemain-pemain lain kembali ke atas panggung keesokan harinya.
Tuhan……apa yang terjadi perasaanku saat ini. Kenapa aku tiba-tiba kangen sekali pada dia. Apa sekarang dia sedang berkumpul bersama istri dan anak-anaknya. Apakah aku cemburu?. Jika cemburu itu ada, apakah itu cinta?. Tidak pernah ada definisi yang tepat tentang arti cinta. Dari sekian buku, blog atau catatan steinless. Tapi dalam perjalanan hidupku, cinta adalah menerima. Menerima kelebihan, menerima kekurangan, menerima nasib, dan menerima takdir. Seperti kau menerimaku, dan aku menerimamu. Doenk……apakah kau menerima aku?
“Bukalah lembaran baru nan putih itu bersama diriku…”. Doenk…..aku bertanya padamu, “Membuka lembaran baru yang mana”. Membuka lembaran baru dengan keegoisanmu. Membuka lembaran baru, berarti menutup semua kisah lalu kita. Tapi apa iya, aku tega memaksamu menutup lembaran lamamu. Tidak…….dan tidak akan pernah aku lakukan. Dua pasang mata itu tidak bisa kamu tinggalkan. Karena dua pasang mata itu bagian dari nyawa kamu. Sedang aku hanya bagian ginjal kamu. Nyawa ada satu Doenk……sedangkan ginjal, walaupun dipotong tetap akan tumbuh, walaupun harus melewati waktu yang cukup panjang.
 Surat An-nisa ayat 3  berbunyi, Maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu sukai, dua, tiga, atau empat.  Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja.  Tapi  mereka semua yang menggunakan ayat tuhan sebagai alasan lupa, pada ayat setelahnya. Dalam Al Qur’an surah An Nisaa (4) : 129 dinyatakan : “ Kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap para istrimu, walau kamu sangat ingin berbuat demikian” Ayat suci yang terlupakan. Seharusnya mereka-mereka tahu tentang keberadaan ayat ini. Jangan hanya diambil enaknya saja.
Keadilan macam apa yang harus ada diantara 2 wanita dan 1 laki-laki. Keadilan tidak dalam bentuk, misalnya tiga hari dirumah istri pertama, 3 hari dirumah istri kedua.  Keadilan tergantung pada kebijakan sang suami dalam mengatur dan membahagiakan istri-istrinya. Apakah kau sudah bisa berbuat adil?. Hatiku berkata iya,  kau sudah bersikap adil. Dalam hal materi aku tidak menuntut, karena aku sanggup untuk menyukupi kebutuhanku sendiri. Tapi dari segi hati?. Lalu apa alasanku untuk ingin menjadi istri kedua? Ketenangankah? Aku sendiri tak memahami jalan pilihanku.
Gila…….semua gila. Kenapa sih semua orang sibuk dengan pembicaraan poligami. Padahal istilah yang mereka gunakan semua salah besar. Selama ini poligami identik dengan seorang laki-laki dengan banyak istri dan poliandri adalah sebaliknya. Padahal poligini merupakan istilah yang lebih tepat untuk seorang laki-laki dengan banyak istri. Istilah poligami sendiri mencakup poligini dan poliandri. Sayang, heboh “poligami” kyai terkenal  malah makin memperkuat salah kaprah tersebut.
Orang sering bilang. Daripada zina, lebih baik poligami. Pertanyaannya  Mengapa poligami dibandingkan dengan zina yang jelas-jelas salah dan dosa ?. Walaupun aku bagian dari mereka yang salah dan dosa.  Bandingkan donk poligami dengan monogamy. Ini ibarat orang tua ditanya, mengapa pukul anaknya yang nakal, dan dia menjawab: Mending saya pukul Daripada saya bunuh ! Orang yang bodoh.
Saya sering bertanya Pengertian adil itu apa ?. Sama rata, sama rasa, sama-sama ?. Kalau itu ukurannya maka : nggak makan satu nggak makan semua. kelaparan satu kelaparan semua, itu sudah memenuhi kreteria adil.  Tapi apakah rumah tangga macam ini membahagiakan.
Seharusnya pria pelaku poligami, harusnya dapat lebih secara jujur, mengakui bahwa ia jatuh cinta lagi, bahwa ia mencintai dirinya sendiri, bahwa kadar cinta kepada anak dan istri pertamanya, memang sudah berkurang. Ngaku gitu aja koq repot. Tapi apakah hukum ini juga berlaku ? Bukankah aku juga bisa menghindarimu doenk. Ah….mungkin itu dulu tapi sekarang Kontekstual masalahku sangat berbeda.
Janganlah mengaku-ngaku karena Allah, sunnah rasul, ingin menolong, mengangkat derajat wanita. Kalau ingin menolong, ya tolong aja. Kenapa harus dikawini. Kalau mau angkat derajat wanita, ya angkat aja. Kenapa harus dikawini. Ops….jika aku berbicara seperti ini. Bagaimana denganku.
Dan jika banyak yang menggunakan alasan sunah rosul. Pikir dong !!!! tentang rasul dan para nabi, mereka tidak dapat dijadikan ukuran. Mereka adalah orang-orang yang terjaga hati dan perbuatannya. Nabi Muhammad,  beliau panutanku, mengawini Khadijah ketika beliau masih berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah sudah berumur 40 tahun. Khadijah sebelumnya sudah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi SAW. Suami pertama Khadijah, Aby Haleh Al Tamimy. Suami keduanya adalah Oteaq Almakzomy, keduanya sudah meninggal, sehingga menyebabkan Khadijah menjadi janda. Lima belas tahun setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW pun diangkat menjadi Nabi, yaitu pada umur 40 tahun. Khadijah meninggal pada bebarengan dengan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW ke Surga. Nabi SAW sangatlah mencintai Khadijah. Sehingga hanya setelah sepeninggalnya Khadijah lah Nabi SAW baru mau menikahi wanita lain. Dan rata-rata perempuan yang dinikahi rosul adalah janda tua dari para prajurit perang. Tidak seperti alasan poligami yang dilakukan sekarang. Jika dalam ajaran islam ada poligami. Dalam ajaran agama hindu, poligami disebut tresna  atau treshna brahmacari. Ajaran itu mengandung arti boleh menikah lebih dari satu kali maksimal empat kali. Tapi dengan alasan tertentu, Misalnya karena tak punya keturunan dari istri pertamanya, atau karena sakit, dan yang lainnya. Selama alasannya untuk dharma, tak masalah. Ingat, menikah itu bukan sekedar pemenuhan nafsu. Hubungan seks menurut Hindu itu adalah hal yang sacral, jadi tak sembarang orang bisa menikah seenaknya. Kalau dalam ajaranmu, yang aku tahu tidak ada perceraian.Ah……aku sendiri bingung Sebenarnya aku tidak sepakat dengan poligami, tapi kenapa aku ingin menjadi istri keduamu.
Apalagi dalam agama yang di anut istrimu  melarang perceraian. Dan kau korbankan kepercayaanmu untuk menikahinya, dulu. Sebelum kau mengenalku. Penganut monogamy yang menuntut sebuah totalitas yang cukup tinggi pada sebuah pernikahan. Lalu jika pernikahanmu terganggu dengan kehadiranku?. Dalam KHK kanon 1141-1155 dijelaskan mengenai perpiahan suami istri ynag berisi ketentuan mengenai pemutusan ikatan perkawinan, perceraian suami istri dengan tetap adanya ikatan perkawinan dan meknaismenya. Dalam agama yang kamu anut kini pemutusan ikatan perkawinan berada di bawah pengadilan gerjawi, khususnya di dalam tribunal perkawinan, yang menadi sarana dalam mencai keadilan dalam berbagai persoalan perkawinan sesuai dengan hukum yang berlaku. Aku meragukan  kau mau lewati proses yang sulit itu untuk seorang Raa. Tapi tak usah khawatir Doenk. Karena aku akan mati lebi dulu.
Aku hanya mencari ketenangan. Ketenangan saat aku melihat wajahnya. Persis ayahku. Ah……aku tak mau lagi mengingat ayah. Dia sudah pergi, bahkan saat aku belum mengenal bau tubuhnya, dan ujung tangannya.
Baju tidur yang sangat indah. Aku lupa membelinya dimana. Hanya yang aku ingat, aku berjanji akan memakainya saat malam pertamaku, walaupun aku sudah tak mempunyai malam pertama lagi. Berjanji memakainya dengan orang yang benar-benar aku cintai dan mencintaiku secara tulus. Baju ini warnanya merah menyala, tapi tidak norak. Kainnya lembut saat menyentuh kuliku dengan corak mawar, mampu mengekspresikan perasaanku. Putri mawarkah? Entah kenapa aku langsung jatuh cinta saat melihatnya. Walaupun aku harus membuang sekian rupiah yang tidak masuk akal bagiku, hanya untuk mendapatkan selembar baju tidur. Tapi ketenangan memakainya saat aku kesepian, tidak mampu terbayar oleh uang. Dan aku impikan aku memakainya saat bersamamu.
Doenk….Banyak yang membicarakan perasaan istri pertama. Tapi apa iya ada yang bertanya, bagaimana perasaan dan alasan menjadi istri kedua. Seperti halnya pandawa dan kurawa. Semua selalu melihat Kunti sebagai ibu suci yang melahirkan para pandawa. Dan drupadi, sebagai ibu yang buruk, karena melahirkan para pandawa. Lalu …pernahkah ada yang mengerti, bagaimana kesetiaan drupadi?.Bersedia menutup mata karena setia pada suaminya yang buta. Pernahkah ada yang bertanya bagaimana perasaan drupadi, seorang ibu yang setiap hari menangis, karena satu-satu anaknya mati pada perang antara kurawa dan pandawa. Keagungan dari seorang istri dan ibu. Dan sedikit yang tahu, Ibu Kartini dan Bunda Theresia tidak pernah memiliki anak dari rahimnya. Sempat bertanya dalam pikiranku, apakah ketulusan dan pengabdian mereka hanya sebuah obsesi?. Keegoisan yang terus di agungkan seisi umat manusia.
01-Jan-2007, 21 59 jujur dari hatiku paling dalam aku ndak mau kehilanganmu?tau yang kurasakan hari? Aku nangis!entah kenapa Raa aq ndak mau kamu pergi dari sisi ku. Doenk berani ambil resiko untuk menikahimu. 01-Jan-2008,21.07 Maksudku ndak ramai, apakah nikah kita nanti pakai pesta besar-besaran atau cukup penghulu?trus kalau ibu  tahu jika aku punya keluarga ibu mau terima ta ma?
01-Jan-2008 20.59 Aku mau menikahimu!tapi ibu bagaimana?apakah km mau tak madu?ju2r aku mau nikahimu……aku ndak mau kehilangan km ,kalau kita nikah gak ramai?
Aku masih simpan sms mu Doenk. Membaca sms ku semakin memanjangkan nyawaku. Doenk……perasaanku kosong. Seperti di ruang ini. Aku selalu berharap kamu muncul dari pojok ruangan ini, dengan gayamu yang khas, membetulkan letak rambut panjangmu, dan menenteng kameramu. Aku rindukan kamu Doenk……semalam aku benar-benar lelah. Aku butuh kamu doenk. Tapi kau bilang lelah. Aku mengerti dan sangat mengerti. Kau dan aku sama-sama lelah. Bukan hanya lelah dalam pekerjaan kita, tapi lelah dalam perjalanan kita. Kau lelah dengan perjalananmu, dan aku lelah dengan perjalanku. Perjalanan kita berbeda. Tapi tujuan kita sama, mencari kebahagian haqiqi
Doenk………aku sangat mengerti dengan duniamu. Karena duniamu dan duniaku sama. Bukan duniamu yang aku benci. Tapi….Doenk. Apakah aku harus jujur dengan perasaanku? Belum selesai aku membaca suara hak-hak perempuan di radio jurnal perempuan, disela-sela menunggu keputusan besar yang akan ku ambil. Ada satu artikel yang membuat aku menghela nafat. Its Me…Artikel dengan judul perempuan di titik nol, sebuah judul novel karya nawal el sadawi, penulis perempuan asal mesir.
Karena aku perempuan cerdas, aku memilih menjadi pelacur bebas, dari pada istri yang diperbudak
Sebuah kebenaran tentangku, yang tak pernah terwakili kata-kata. Kata-kata itu muncul dari seorang firdaus tokoh yang diciptakan nawal el sadawi (aku belum membacanya, tapi pernah membaca sinopsisnya). Firdaus memilih tubuhnya digantung untuk membuktikan dirinya lebih berhak atas tubuhnya, bukan laki-laki dan Negara.
Doenk…apakah aku harus mengatakan apa yang dikatakan oleh firdaus?. Aku yang berhak atas tubuhku, dan jalan mana yang harus aku pilih?. Bukan ditentukan oleh system dan kontruks social dimana aku tinggal. Tapi apa bisa aku mengambi keputusan besar itu Doenk?.
Pramudya ananta toer pernah mengatakan, bahwa perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya dalam menentukan hidup, menginjak bumi yang sama serta menghirup udara yang sama. Seperti halnya laki-laki, perempuan juga bisa mandiri, bebas dan berjiwa merdeka.
Keputusan perempuan seperti aku memang tidak dapat dipaksakan. Dan jka aku menikah, perkawinan membawa segala konsekwensi bagi diriku dan pasanganku. Termasuk juga masa depanku.
Doenk…aku ingin menikah denganmu walaupun hanya di bawah tangan. Dan aku juga sadar, bahwa undang-undang pernikahan di Indonesia masih mengesampingkan perempuan. Kau tahu doenk…Di Indonesia, perkawinan di atur dalam undang-undang perkawinan nomer 1 tahun 1974, tapi sama sekali tidak berpihak pada perempuan. Salah satu contohnya saat undang-undagf yang menganggap bahwa sahnya perkawinan adalah ketika pasangan suami istri menikah di kantor urusan agama atau di kantor catatan sipil. Padahal dalam kenyataannya, masih banyak pasangan yang melakukan pernikahan di bawa tangan, dan aku akan menjadi bagian dari mereka. Berat doenk…saat aku dihadapkan dalam konteks masyarakat dan perasaan. Walaupun pernikahan bawah tangan akan bedampak buruk pada perempuan, seperti ditinggal begitu saja oleh laki-laki tanpa bisa menuntut haknya secara huum. Dan pasti juga akan berdampak pada status anak yang akan dianggap sebagai anak diluar nikah. Bias gender itu masih lekat pada undang-undang perkawinan Indonesia. Doenk…terkadang aku berpikir untuk apa ada hukum? Hukum memang untuk mengatur kita, tapi tidak harus mengukung hak asasi kita sebagai manusia yang diciptakan Tuhan Bukan?. Doenk…kau tahu jawabannya? Kau adalah obsesiku. Kau jembatan yang harus kulewati menuju masa depanku. Denganmu doenk…ingin aku curahkan segala pikiran-pikiran dan pertanyaanku padamu. Lelaki samudra yang menerimaku. Seperti halnya kau menerima segala keluh kesahku. Doenk…aku rindukan kau, walau terkadang rindu itu sakit dan sangat sakit.
Menikah adalah sebuah pilihan. Dan pilihan itu harus lahir dari kesadaran perempuan sendiri, bukan karena paksaan. Bukan sebagai usaha untuk menghindar dari cap sebagai perawan tua, atau perempuan yang tak laku, atau sekedar memenuhi tuntutan keluarga. Tapi…aku belum sadar itu Doenk. Yang aku sadari aku hanya mencintaimu. Fuich… I ‘am second wife !!! “Doenk…… may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you”,//  Sory……..
Aku benci ……aku benci hidup ini ……Doenk……maafkan aku. Aku lelah selalu bangga dengan keinginanku sebagai second wifemu. Mungkin aku yang harus pergi bukan kamu. Perasaanku yang saat ini sedang sakit. Doenk……Kamu sudah membuka jalanku menuju Tuhan. Bu…maafkan aku, karena aku bukan putri kecilmu yang pantas kamu banggakan. Aku sadari hanya ayah  satu-satunya lelaki yang sayang dan mengerti aku. Dan kau satu-satunya lelaki yang aku cintai.
Hanya aku dan tuhan yang dapat mengerti makna sebuah keadilan.


 (catatan sepanjang akhir 2007 hingga pertengahan 2008. kupersembahkan pada ibuku yang pergi lebih dahulu......dan duniaku, inspirasiku D)




























































 

6 komentar:

sendal jepit mengatakan...

weleh.. jujur, hatiku "disentil" tuh ngebaca ini.. gak biasanya mataku betah melototin ni cerita yang lumayan panjang.. karya yang mantap sist.. pertahankan itu !!!

irarachma mengatakan...

@ tenkyu sendal jepit.....(apa ada kemiripan cerita ya)

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Ceritanya mantep banget..
aku belon sempet selesein deh... cuman gunakan UPS, udah 10 menit mati lampu. entar balik lagi.

duniaira.blogspot mengatakan...

@ setaiawn: nggak maslah kok....kalo udah baca tinggalin komentar ya

Tisti Rabbani mengatakan...

Puanjaang sangats...tp aku kok menikmatinya, baca sampai habis.. :)

keren, lho ra..
layak bikin novel deh...
ditunggu bukunya ya :)

irarachma mengatakan...

@@ tis: hahahaha bisa aja mbak!!!!tapi belum ada yang mau tuh!!!! sementara biar aja terbit di blog pribadi