19 Nov 2012

DUDUKLAH DISINI …..


 Duduk lah disini … temani saya. Kamu mau minum apa? Kopi? Es teh? Atau The panas? Atau mungkin hanya sekedar air mineral. Kamu boleh memilihnya. Saya masih bisa kok membuat minuman untuk kamu. Atau sekedar mengambilan segelas air mineral untukmu. Boleh saya menemani kamu makan malam? 

Iya duduklah kamu disamping saya. Sebentar ….. boleh saya memilih. Hhhhmmm, lebih baik kamu duduk di depan saya. Karena kita bukan pasangan yang harus berpegangan tangan. Ternyata saya lebih suka kamu duduk di depan saya agar saya bisa melihat mata kamu yang punya retina sedikit berwarna coklat. Agar saya bisa memperhatikan anak rambut kamu. Agar saya bisa mempelajari gerak kinesik mimik wajah kamu. Karena saya suka memperhatikan warna kulit kamu yang kontras dengan seragam hitam yang kamu gunakan saat ini.

Saya sedang tidak bodoh. Saya sedang tidak jatuh cinta. Eh, tapi bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa orang jatuh cinta itu adalah orang yang bodoh

Kata teman saya yang berinisial IH, “ Dia lebih pintar untuk menata hati”. Kau boleh tertawa puas sekarang.

Saya hanya ingin menulis tentang kamu, walaupun saya sendiri tidka tahu siapa kamu. Dimana rumahmu. Dimana kamu lahir. Kapan kamu lahir. Berapa ukuran sepatu kamu. Atau berapa jumlah tahi lalat di tubuh kamu.

Kau tau apa yang paling aku suka? Senyum dan mata kamu yang sederhana. Ini serius… senyum mu sederhana tidak mengada-ngada.  Saya pernah membaca, seorang peneliti menemukan bahwa ada sekitar 400 otot tubuh yang bergerak saat seseorang tertawa atau tersenyum. Saat tersenyum ada sekitar 12 otot wajah yang bergerak, seperti 2 otot mata kiri dan kanan mengerut, dua otot sudut bibir kiri dan kanan tertarik, otot disekitar hidung, dua otot di sudut mulut bergerak naik dan dua otot lagi membuat bibir melebar. Sedangkan pada seorang yang suka cemberut hanya menggerakan 11 otot wajah.

Kamu tahu? Banyak orang yang tersenyum diplomatis-politis atau senyum yang dibuat-buat dan mungkin tidak tulus. Senyum diplomatis-politis membuat zat stres, seperti kortisol dan adrenalin sedikit meningkat karena otak kita harus bekerja berat untuk menyesuaikan kepalsuan-kepalsuan yang dibuat. Efek yang terjadi otot-otot wajah bukannya rileks, tetapi tegang. Dan saya tidak menemukan itu di senyum kamu.

Saya melihat otot-otot wajah mu bekerja, karena kamu tersenyum spontan dan tulus. Zat kimia yang dilepaskan sangat berbeda dibandingkan dengan senyum yang tidak tulus. Saat tersenyum,  spontan dan tulus, zat kefalin dan endorfin yang dilepaskan. Zat kefalin, laiknya obat penghilang nyeri. Zat endorfin, seperti morfin yang membuat kita gembira dan bahagia hanya dengan sebuah senyuman sederhana.

: Itu senyum kamu …..

Mata kamu …. Iya mata kamu yang juga sederhana.  Hanya warna putih dan retina hitam sersemu coklat. Penuh binar… seperti sebuah bintang biru.

Hei Raaa…… tentu saja mata coklat dengan bintang biru itu beda. Siapa bilang … sama! Sama-sama berefek menenangkan. 

Ini malam dan saya memilih untuk menyendiri di dalam kamar. Diluar sana orang-orang pada sibuk dengan urusan  hatinya masing-masing Kau tau ? terkadang yang namanya manusia itu egois. Berusaha menyelamatkan hatinya sendiri. Sampai lupa bahwa orang lain juga punya hati. Tuhan juga masih menciptakan banyak hati yang rapuh dan hati yang sendiri. Biarlah ….. saya pikir mereka lebih dewasa  dibandingkan saya perempuan yang hanya berani menulis tanpa ada jeda. 

Sudahlah ….. saya hanya ingin kamu duduk di depan saya sambil mendengarkan keluh kesah saya. Hei Raa….. siapa kamu? Upsss….. saya lupa bahwa saya bukan siapa-siapa.

Kau tau… sebenarnya saya hanya ingin mengirimkan pesan kepadamu sekedar menanyakan apa kabarmu, tapi ternyata saya mempunyai kegamangan yang luar biasa. Kegamangan seperti saat saya memilih warna hitam dan merah.

“Keep silent ya Raa”
“Imajinasi setiap orang harus liar dan nakal… jarang lo sing iso berekspresi lewat tulisan ringan gitu tapi bertema”
“Sudah … sudah semuanya saya menikmatinya”

Saya mulai mengernyitkan kening. Rahasia itu tetap rahasia kan? Saya menyimpannya di sudut paling sudut. Berusaha untuk mengesampingkannya. Walaupun ia motor tanpa bensin untuk membuat saya kembali menulis. 

Iya … seharusnya saya membuatkan secangkir kopi atau segelas teh panas untuk mu sekedar sebagai ucapan terimakasih karena kamu…. Iya kamu…. Kamu yang membuat saya kembali bermain-main dengan catatatan gila.

“Kalau sudah clear …. On air ke mendut ya?”

Saya menggaruk-garuk kepala yang tidka gatal. Lakon apa lagi yang akan kamu mainkan Raa? Sembadra? Atau  Saraswati? Atau siapa?..... walaupun saya meng-iya-kan dalam hati untuk ajakan mu.



Duduklah di sini, di depan saya. Dan saya akan ceritakan pada kamu tentang hujan di waktu senja dan segerombolan anak remaja yang merayakan ulang tahun di bawah pohon kismis

: Ternyata kita bukan anak muda lagi

“Sudah makan malam?”

Tiba-tiba saya ingin menanyakan hal itu kepada kamu.\

Banyuwangi, 20 Nov 2012


1 komentar:

Fadhli Mu'allim mengatakan...

slam Bnyuwangi...