10 Agt 2012

PUTRI GUNUNG LEDANG ; Hei... perempuan itu hebat kan? FINISH

“Gunung Ledang itu ada?,” tanyaku.Kamu mengangguk.

“Lalu siapa Putri Gunung Ledang?”

“Pacarnya Hang Tuah”

Hah? Hang Tuah punya pacar,”  aku tertawa terbahak-bahak, “Kirain manusia setengah dewa nggak bisa punya pacar.  Nggak bisa patah hati”

“Kamu lupa cerita Amok Hang Jebat Nda….”

“Upssss….. lupa”

Sempat  aku membaca sebuah kisah legenda tentang Putri Gunung Ledang. Dan dia dari Jawa? Haaaahhh?  Iya… aku mendengarnya pertama kali saat melihat teater Bangsawan Amok Hang Jebat di Kampung Tua Tanjung Uma.  Dan kamu sedikit bercerita kepada ku.

Gunung Ledang sampai saat ini masih berdiri di antara Muar dan Malaka. Jaman Imperium Melayu, Malaka berada di bawah pemerintah Sultan Mahmud Syah. Suatu ketika Putri dari Kerajaan Majapahit yang bernama Gusti Putri Retno Dumilah jatuh cinta pada Laksamana Hang Tuah. Entah bagaimana cerita nya Gusti Putri Retno Dumilah bisa jatuh cinta pada pemuda Melayu. Apakah ketika Hang Tuah datang ke Majapahit dan mendapatkan Keris Tameng Sari? Entahlah.


Saat kerajaan Majapahir di serang oleh Demak, Raja Majapahit Adipati Handaya Ningrat menyerahkan adiknya Gusti Putri Retno Dumilah ke Demak  untuk di nikahi oleh penguasa Demak. Namun Gusti Putri Retno Dumilah menolak. Kemudia dia berlayar menuju ke Gunung Ledang untuk mencari Hang Tuah. Mengetahui adiknya  menikah dengan Sultan Mahmud Syah.  Sultan Mahmud Syah menyetujui dan memerintahkan Hang Tuah yang nota bene kekasih Gusti Putri Retno Dumilah dan Datuk Setia beserta Tun Mamat untuk menjemput serta meminang sang Putri yang tinggal di Gunung Ledang.  Iya dua hati harus terpisah hanya karena perintah Sultan.

Sang Putri menolak dengan halus dengan meminta beberapa persyaratan yang tidak mungkin bisa di wujudkan.
  1. 7 tempayan air mata anak dara sunti
  2. 7 tempayan air pinang muda
  3. 7 dulang hati hama / kuman
  4. 7 dulang hati nyamuk
  5. Jembatan perak dari Malaka ke Puncak Gunung Ledang
  6. Jembatan emas dari Malaka ke Puncak Ledang
  7. Darah segar Putra Mahkota
Sultan Mahmud Syah geram, karena ia tidak mungkin bisa meloloskan syarat sang Putri hingga kemudian dia bersumpah sembil menancapkan kerisnya di Bumi Malaka

"Karena Daulat sultan Malaka bertanah sakti dan berbumi tuah, berarti engkau mendurhaka kepada Sultan. Engkau aku izinkan tinggal di Puncak Gunung Ledang berseorang diri, namun barang siapa melihat wajahmu akan hilang nyawa dan bermuntah darah”

Gusti Putri Retno Dumilah akhirnya menetap selamanya di Puncak Gunung Ledang dan lebih di kenal dengan Putri Gunung Ledang. Lalu bagaimana Laksamana Hang Tuah?  Sejak tragedi itu, dia hilang bagai di telan bumi setelah mengembalikan tanjak kebesarannya. Laksamana Hang Tuah pun membuang jauh keris saktinya Tameng Sari dan bersumpah,

“Selagi Tameng Sari tenggelam di dasar sungai ini, hamba tidak akan kembali”

Saya menghentikan tulisan ini hampir 4 hari lebih. Entah kenapa tiba-tiba otak saya buntu setelah membaca tentang Legenda Putri Gunung Ledang.

“Kamu telalu dalem kalo mikir dan memplejarai sesuatu Raa,” kata sahabat saya Deni

“Itu namanya Fokus Den…”

“ Fokus yang berlebihan. Itu otak mu bisa jebol”

Dan saya akan terbahak-bahak dari handphone yang menghubungkan kami.

Entah kenapa tiba-tiba saya jatuh cinta pada Legenda Putri Gunung ledang. Bukan hanya sekedar sebuah legenda dari Tanah Melayu, mungkin juga karena ada kaitannya dengan Jawa? Mau tidak mau saya harus mengakui, walau darah sisi ayah saya Bugis tapi saya besar dalam budaya Jawa dan saat ini saya tinggal di tanah Melayu. Bukan sebuah kebetulan kan? Akhirnya saya menemukan garis merah antara Jawa dan Melayu selain ttg keris tameng sari dan Pangeran Paku Negara Tokong Pulau Siantan di Pulau Tujuh.

Memposisikan diri seperti Gusti Retno Dumilah yang mengejar cinta Hang Tuah sampai ke tanah Melayu, termakan sumpah Sultan hingga akhirnya memilih menetap seorang diri di puncak Gunun ledang? Ahh… terlalu naïf jika saya berpikir seperti itu.

Putri Gunung Ledang berhasil membunuh sebuah pikiran yang menganggap bahwa perempuan tidak memiliki banyak pilihan dalam menentukan jodoh sesuai dengan hatinya.  Bukan hanya Putri Gunung Ledang, tapi banyak kisah-kisha perempuan yang mengajukan syarat berat dalam pernikahan yang menunjukkan bahwa perempuan pun punya daya tawar untuk menentukan kebahagian mereka dalam sebuah pernikahan. Tentang Roro Jonggrang? Dayang Sumbi ? walaupun dengan alasna-alasan yang berbeda, tapi mereka masih tetap punya daya tawar.

Tiba-tiba iseng saja saya menganalisis 7 permintaan Putri Gunung Ledang dengan pikiran saya sendiri.

  1. 7 tempayan air mata anak dara sunti : Malaka pada saat di pimpin Sultan Mahmud syah mengalami puncaj kejayaan dan itu membuat Malaka menjadi tempat niaga serta banyak dikunjungi oleh banyak orang. Nah disitu di harapkan sebagai gadis melayu atau anak dara tetap menjaga kehormatannya.
  2. 7 tempayan air pinang muda. Mengapa harus Pinang muda? Pinang yang belum berwarna  merah?  Bukankah Pinang Muda tidak mengeluaran air?.  Pinang adalah salah satu pokok yang banyak di tanam di daerah malaka. Selain itu bukankah pinang sangat bermanfaat mulai ujung atas hingga ujung bawah, dan itu berarti adalah symbol perekonomian. Selain bukankah  kebiasaan masyarakat melayu makan sirih pinang? Bukan sesuatu yang kebetulan kan?
  3. 7 dulang hati hama / kuman : Hama ? kuman ? saya hanya berpikir ini salah satu cara untuk menyehatkan masyarakat di Malaka.
  4. 7 dulang hati nyamuk : Nyamuk tidak ada ubahnya dengan hama dan kuman. Penyakit. Dan ini adalah tanda kebersihan
  5. Jembatan perak dari Malaka ke Puncak Gunung Ledang
  6. Jembatan emas dari Malaka ke Puncak Ledang : syarat 5 dan 6 ; sederhana. Jika perjalanan laut bisa dig anti dengan darat bukankah perniagaan dan perekonomian semakin maju.
  7. Darah Segar Putra Mahkota : Bagi saya ini adalah syarat yang mensimbolkan sebuah harga diri. Adalah sebuah kebodohan jika seorang laki-laki mengkorbankan anaknya hanya untuk menikahi seorang perempuan. Ini mungkin adalah cara halus Sang Putri untuk mengingatkan sang Sultan tentang posisinya sebagai seorang pemimpin yang berdaulat di tanah Malaka.
Cerdas bukan? Walaupun dia Putri Jawa tapi dia masih memikirkan tanah Melayu walaupun mungkin dalam pandangan sang Sultan dia adalah seorang pendurhaka.  Tiba-tiba saya berpikir apakah saya terlalu ke-“jawa”-an menulis catatan ini. Biarlah… toh memang saya adalah orang jawa bugis atau bugis jawa?  Masih penting berbicara kesukuan ? pentinglah jika kita berbicara untuk kebhineka-an tapi bukan untuk perpecahan.

Putri Gunung Ledang adalah sebuah symbol keberanian perempuan Jawa yang memang lebih berani untuk merantau bahkan seorang diri. Tampaknya kemandirian Retno Dumilah itu mengalir pula dalam darah darah kebanyakan wanita jawa. Feminimitas yang maskulin. Mau tidak mau harus ada pengakuan bukan? Termasuk kesetiaan pada lelaki. Pada Hang Tuah. Sebuah pengorbanan. Memilih untuk tinggal sendiri di puncak Gunung Ledang dan mengubur cintanya pada Hang Tuah serta di anggap sebagai seorang pendurhaka.

Lalu bagaimana degan kisah Hang Jebat ? Hang Lekir dalam porsi ini Raa. Saya sengaja men”diam” kannya. Saya focus… hanya focus pada Putri Gunung Ledang. Saya sudah pernah menulis kanya bukan?

Gusti Putri Retno Dumilah akhirnya menetap selamanya di Puncak Gunung Ledang dan lebih di kenal dengan Putri Gunung Ledang. Lalu bagaimana Laksamana Hang Tuah?  Sejak tragedi itu, dia hilang bagai di telan bumi setelah mengembalikan tanjak kebesarannya. Laksamana Hang Tuah pun membuang jauh keris saktinya Tameng Sari dan bersumpah, “Selagi Tameng Sari tenggelam di dasar sungai ini, hamba tidak akan kembali”

Hei… perempuan itu hebat bukan?

Saya mengakhir catatan ini dengan perasaan rindu yang membuncah pada Tuah ku… pada tanah Jawaku.

Putri Gunung Ledang dan aku? Sama-sama dari tanah Jawa untuk mencari cinta Tuah dan kami sama-sama tersakiti hingga akhirnya memilih mundur dan sendiri.,



FINISH!!!!

1 komentar:

Pengobatan herbal untuk penyakit jantung mengatakan...

makasih banyak atas semua info nya ,,,