5 Agt 2012

MASJID AGUNG NATUNA : “TAJ MAHAL INDONESIA”


"Nanti kalau Natuna kamu harus mampir ke masjid nya Raa. Kereeeennnnn tau”. Pesan seorang teman saat saya menceritakan akan ke Natuna.

Saya mengernyitkan dahi? Keren? Sekeren apa bangunan masjid apa lagi di daerah perbatasan?
Saya ingat suatu hari saya pernah mengajak almarhum ibu saya untuk pertama kalinya datang ke Masjid Istiqlal.  Dan saya tidak tahu apa alasan ibu saya tiba-tiba menangis selepas sholat magrib di Masjid Istiqlal. Saat saya tanya mengapa?  dia mengatakan dia merasa kecil di dalam Masjid Istiqlal, apalagi di hadapan Tuhan?

Saya saat itu hanya berpikir bahwa ibu saya berlebihan. 

Dan saya mengalami hal sama yang di alami oleh ibu saya waktu itu, saat saya melihat Masjid Agung Natuna. Euforia…….


Masjid Agung Natuna, "Taj Mahal Indonesia"

“ Ini Taj Mahal versi Indonesia”, kataku dalam hati. Mata saya terbelalak melihatnya. Kalau seandainya pun saya melihat masjid ini di dataran Jawa mungkin tidak akan seheboh ini. Tapi saya menemukan “Taj Mahal Versi Indonesia” ini jauh dari pusat Ibu Kota Indonesia. Ratusan kilometer. Di perbatasan. Bahkan lebih deket ke  Thailand atau Malaysia dibandingkan ke Jakarta.  Di sebuah tempat yang mempunyai jaringan internet lebih lambat dari pada jalan keong di padang pasir. 

Masjid Agung Natuna ini di bangun pada tahun 2007 dan selesai pada tahun 2009.  Masji ini sendiri sudah direncakan mulai tangal 13 Agustus 2006 pada masih di pegang oleh Bupati Natuna Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si. (namanya Pak Daeng sama seperti nama depan bapak saya). Rencananya, Masjid Agung Natuna ini akan di jadikan Kompleks Gerbang Utaraku, sebagai pusat pemerintahan dan bisnis di Ibu Kota Kabupaten Natuna yaitu Ranai.  Dari sejarah pembangunan,  peletakan batu pertama masjid tersebut di lakukan pada tanggal 4 Mei 2007. 

Saya dari jarak 1,5 km dari pintu masuk



Dari cerita yang saya dapatkan,  bangunan yang saya lihat saat ni adalah ring 1 yang kelak akan dikembangkan menjadi 3 ring. Luar biasa………!! Nantinya akan di bangun fasilitas lain sepertipembangunan masjid Laut, Pusat perekonomian, terminal, pasar, STAI, gedung olahraga dll.  Sedangkan dari pandangan mata, saya melihat ada beberapa bangunan yang digunakan untuk kantor  SKPD dari pemerintahan Kabupaten Natuna.  Ada perpustakaan (saya tidak sempat masu kedalam). Serta ada asrama haji.  Dari data yang saya baca, kompleks gerbang utaraku dengan Masjid Agung Natuna ini merupakan implementasi pembangunan 5 pilar yaitu Keimanan, Kesehatan, Pendidikan, Perekonomian dan hukum.

Di depan halaman di hari ke sekian

mendung di suatu sore
 
 Masjid Agung Natuna letaknya tidak jauh dari pusat kota Ranai. Sebentar…. Sampai detik ini pun saya masih belum tau dimana pusat kota Ranai? Pantai Kencana kah? Bukit Arai sebagai Kantor Kabupaten Natuna? Atau Bandara? Entahlah… Intinya adalah tidak begitu jauh dari tempat saya menginap di dekat Pantai Kencana.  Masjid Agung Natuna berada di bawah kaki Gunung Ranai. Iya… berdiri megah dengan latar belakang Gunung Ranai. (Seharusnya itu adalah bukit , tapi masyarakat menyebutnya Gunung).  Saya melihatnya pertama dari atas saat saya berada di pesawat.  Sedangkan dari jalan utama menuju gerbang masjid sekitar 1,5 kilometer dengan jalan di sebelah kiri kanan sedangkan ditengah-tengahnya adalah sebuah kanal besar dengan batu-batu putih yang katanya adalah untuk mengalirkan air dari gunug Ranai. Dari jauh seperti Taj Mahal, walaupun saya belum pernah melihat wujud asli Taj Mahal.  Dari jauh saja, di pintu masuk dengan jarak 1,5 meter, Masjid Agung Natuna sudah terlihat indah dengan kubah hijau dan menara-menara di sekelilingnya.  Dan saya lebih suka melihat dari titik ini. Titik pintu masuk ke dalam area masjid dan duduk manis di tengah batu putih yang berada di tengah kanal air. Damai, tenang rasanya melihat rumah Tuhan yang begitu megah berkolaborasi dengan Gunung Arai yang menjulang tinggi. Seperti seorang ibu yang melindungi anaknya. Mulut saya tidak berhenti berdecak. Entahdalam keadaan cuaca mendung, hujan atau pun terang. Pemandangannya bagi saya tetap luar biasa. 

Masuk kedalam Masjid Agung Natuna tepat pada malam tarawih yang pertama.  Iya dalam kegalauan saya yang luar biasa. Ketika saya mengalami kelabilan atas ketidak percayaan saya kepada Tuhan setelah proses hidup yang saya alami. Jujur, ini adalah keterpaksaan. Hah…? Heran?  Tidak perlu heran. Bukankah setiap orang mempunyai perjalanan religious yang berbeda-beda termasuk saya. Tuhan telah mengirim saya pada sebuah komunitas baru yang tepat. Komunitas yang kembali menarik saya ke pada jalur yang benar. Kembali ke jalan Tuhan. Kembali ke Allah. Apalagi malam tarawih pertama ini adalah tahun pertama saat saya kehilangan Aulia, anak saya dan tahun kesekian mungkin 20 tahun lebih saya kehilangan seorang ayah. Mereka berdua sama-sama meninggal di malam pertama tarawih.  Dan malam tarawih saya pertama di tahun 2012 saya habiskan di dalam Masjid Agung Natuna dengan konflik batin yang membuat dada saya sesak tanpa bisa mengungkapkannya. Jauh beratus-ratus kilometer dari keluarga saya dan orang-orang tersayang saya.  Dan dalam Masjid Agung Natuna ini saya menundukkan kepala sedalam-dalamnya dan menangis dalam hati, “ Ya Allah.. saya telah kembali ke rumah – Mu”. Dan saya tidak lagi bisa berkata-kata. Ada sebuah dialog tanpa kata dengan Tuhan di dalam Masjid ini. 


Pilar dalam penuh lengkungan

sisi sebagian


Tampak dari pintu masuk utama


Shaff perempuan dan lantai dua


Luar biasa


sisi dari bagian laki-laki


1 shaff 180 orang

 Kembali ke Masjid Agung Natuna.  Yang khas adalah kubah nya yang memang mirip dengan kubah Taj Mahal di India, dan ternyata menjadi masjid terbesar dan termegah di Provinsi Kepulauan Riau.  Satu barisan shaf di dalam masjid ini cukup untuk memuat hingga 180 jemaah. Saya sempat mendengarkan selentingan, jika  pembangunan Masjid Agung Natuna di Kepulauan Riau dibiayai oleh APBD ini menghabiskan biaya tidak kurang dari 400 Miliar dan kemegahannya jauh melebihi Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri di Depok. Sayangnya karena letaknya jauh diperbatasan, tidak banyak media nasional yang mengekspos keindahan masjid ini. 

Lurus... dibawah Gunung Ranai


Sisi sebelah kanan


masih dari sisi sebelah kanan

Salah satu pilar.....

Masjid Agung Natuna juga dipenuhi dekoratif yang islami. Ruang bagian dalam sangat luas. Untuk ruang sholat ada 2 lantai, sedangkan tempat wudhu berada di bagian bawah masjid.  Jadi jika kita ingin berwudhu maka kita harus menuruni tangga ke bagian bawah. Ah saya jadi ingat kakak Najwa yang selalu menarik tangan saya dan menemani saya berwudhu di lantai bawah sambil bercerita segala macam tentang sekolah dan kegiatannya. Kakak Najwa juga suka mengumpulkan batu putih yang dihamparkan di sekitaran masjid terutama di bagian bawah tempat wudhu.  Kakak Najwa…. Tante Iraa kangen. Fuich….. sedangkan  Untuk tempat wudhu laki-laki ada disebelah barat, sementara untuk tempat wudhu perempuan ada disebelah timur.
Jadi saya tidak bisa mengatakan masjid ini berapa lantai. Lantai utama sangat luas kemudian di sayap kiri kanad ada shaff untuk perempuan yang di batasi dengan pagar kecil tidak lebih dari 1 meter dari shaff pria dan ada juga lantai dua tepat di atas shaff sholat perempuan.   Sedikit gelap, tapi agar terang terdapat sebuah  bukaan berupa karawangan yang  ada di atas pintu dan menimbulkan sebuah suasana tersendiri. Sumber cahaya alami berada di tengah yang berasal dari  kubah masjid yang menjulan tinggi dengan lukisan kaca kaligrafi dan bermotif bunga. Untuk  pintu masuknya berbentuk lengkung tapi memiliki atas yang lancip. Menurut saya dari banyak pintu semuanya focus pada ruang tengah terutama tepat pada jatuhnya cahaya alami dari kubah pusat. Sedangkan mihrab nya? sumpah kereeeeennnnnnn sekali. Di buat dari kayu yang cukup besar. Hampir sama dengan bentuk pintu masuk. Bentuknya melengkung atau busur dengan lancip di bagian tengah dan pusatnya. Entah mengapa ya… saya banyak menemukan bentukpbentuk geomteris yang bertemu dalam satu titik lancip. Apakah ini sebuah filsafat bahwa semuanya akan berakhir di satu titik? Tujuan utama hidup? Entah lah… 

Dari depan samping
Kubahnya mencolok.....


Gerbang... halaman luar untuk latihan paskibraka

beduk nya juga besar, tingginya lebih tinggi dari manusia normal

Salah satu pintu

Mata saya selalu menyapu setiap detail masjid ini dan menulisnya dalam note di handphone saya.  Masjid ini mempunyai 6 kubah dan saya mungkin bisa menganalogikan ini adalah symbol dari rukum iman.  Jika di lihat dari luar, terlihat kubah utama masjid dengan beberapa kubah kecil di sekelilingnya serta 4 menara masjid di ke emat sisinya. Kenapa 4? Saya pikir ini adalah 4 penjuru mata angin. 
Tiba-tiba saya sadar….. saya tidak menemukan arsitektur khas melayu disini. Apa mata saya kurang jeli atau memang pengetahuan saya tentang melayu masih sangat kurang? Entahlah…… Yang pasti saya suka di masjid ini. Setiap malam selama 1 minggu saya selalu shalat isya dan tarawih disini. Menumpang bersama Pak Long, Ibu, Abang, Kakak, Nazia dan Bu de. Serta beberapa kali bersama “Geng Asyik” menunggu waktu magrib dengan duduk manis di pelataran masjid ini.

Gagah...... luar biasa... kolaborasi Indah

 Dan otak saya selalu melintas, seharusnya kamu disini menemani saya.

“Yah… kapan kita bisa jalan bareng. Keliling Kepulau Riau mungkin”

“Nanti Nda… akan ada saatnya kita bersama berdua tanpa ada yang mengganggu terutama dengan ketakutan-ketakutan kita”

Setahun saya masih berusaha untuk percaya bahwa mimpi itu terwujud. Dan kini saya memupusnya. Tanpa kamu saya masih bisa hidup dan bergerak………… dan saya telah menemukan kembali jalan ke-Islaman saya  setelah kamu mencampakkan Tuhan di hadapan saya. Saya ingin bertanya kepadamu? Siapa yang jadi pecundang di antara kita sayang?

Ki-ka ( Rian - Ira - Darius)


Menggila di halaman depan masjid ( Panji "bertopi", Rian "berkacamata", Darius "standing", Ira "berjilbab")

Duduk di atas batu putih tepat di atas kanal menghadap ke barat ke arah Masjid Agung Natuna yang tepat berada di bawah kaki Bukit Arai. Tuhan… saya begitu kecil. 

Saya mengusap air mata saya. Bagaimana jika almarhum Ibu  saya ajak ke sini ya? Lalu kamu menemani perjalanan ini. Bahagia itu sudah tidak perlu lagi di bayangkan Raa…… Saya meloncat dari batu putih ke arah motor Darius dan berkata kedia, “Kalau saya tinggal disini Yus…  saya akan menemukan ketenangan yang sejati”. Dia tertawa dan berkata, “ Kakak terlalu muda jika ingin memutuskan untuk tinggal di Natuna. Disini tidak ada hiburan seperti kota-kota lain kak”. Saya tersenyum sendiri dan tidak mengomentari pernyataan dia. Dalam hati saya berkata, “Alam Natuna sudah membuat saya jatuh cinta”.

Saya dan Genk Asyik.........


Dari Batam saya percaya bahwa Masjid Agung Natuna itu akan menjadi sebuah sejarah yang luar biasa bukan dalam hitungan belasan tahun tapi mungkin ratusan tahun. Tapi satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya. Semoga Masjid Agung Natuna bukan hanya sebuah symbol… tapi sebagai penggerak motor kejayaan islam di Nusantara khususnya di perbatasan Indonesia.


Saya akan kembali........

Saya persembahkan tulisan ini.... 
untuk Tanah Natuna, 103 Radio Pradana, Keluarga Besar Pak Long
Genk Asyik, Darius, Rian, Panji, Jupri, Tina, Riska, Eko, Rossa, Aris........
Terimakasih juga untuk Imam Masjid Agung Bapak Tirta Yasa....(sayang lupa photo sama beliau)
Saya selalu merindukan Bumi Serindit....












































5 komentar:

Jimox mengatakan...

megah banget masjidnya...
Gitu kok ya nggak pernah di ekspos media ya. emang bener kata mbak ira, mungkin karena letaknya :)

Met puasa ya mbak :)

denizblackside mengatakan...

i'm sorry for articel unread..
hit me if we meet...hehhe

obat ambeien tradisional mengatakan...

wah keren sekali memang mirip banget ya sama taj mahal ..
subhanallah ..

Yunna mengatakan...

cantik banget yaaaa
jadi pengen berkunjung sambil menenangkan diri di masjid...

obat jantung herbal mengatakan...

woow indah banget masjid nya ,,,,,,,