3 Jul 2012

HAI DOENK .........

Hai doenk … apa kabar mu. Tiba-tiba saja nama kamu muncul berkelibat di bayangan saya siang ini. Tidak … tidak … aku tidak pernah melupakan kamu. Bagaimana mungkin aku melupakan laki-laki yang mengajarkan bagaimana indahnya hidup dengan berpetualang. Indahnya hidup dengan berjalan dan bergerak. Pindah dari satu titik ke titik yang lain.

“ Ke Jawa kok ya ndak bilang-bilang to dek”

Aku ingin mengirim pesan kepadamu dan mengatakan aku di Jawa waktu itu. Tapi entah kenapa aku tiba-tiba menjadi peragu?. Padahal kamu tidak pernah suka jika aku menjadi seorang peragu.

“Jangan jadi perempuan plin-plan dek”

Ak takut Doenk …. Aku takut kamu sibuk dan tidak bisa menemui aku. Atau yang lebih buruk lagi aku tidka ada keberanian untuk bertemu kamu dalam keadaan yang berantakan. Upsss…. Bukan berantakan dalam arti fisik ya. Tapi secara batin. Aku takut … kamu akan menceramahi aku habis-habisan dengan mengatakan bahwa aku perempuan cengeng,  tidak berprinsip, tidak berpendirian, tidak punya kekuatan untuk bertahan. Aku tahu kalau hanya penampilan fisik yang berantakan kita tidak perlu menutup-tutupi. Bermalam dan berhari kita sering melakukan perjalanan panjang bukan? Dan aku heran kamu selalu terlihat rapi dengan ke sangaran kamu. Aku suka saat kamu mengelungkan rambut panjang mu di atas tengkuk mu dengan selipan ranting atau pulpen agar rambutmu  tidak lepas. Aku selalu terbahak-bahak. Lelaki feminis  yang sangar!!!


Doenk …. Apa kabar mu hari ini? Kamu sedang dimana? Ada di negara antah berantah mana? Baik-baik saja kan? Tanggal segini biasanya kamu deadline? Kamu tahu? Aku masih sering membeli majalah yang memuat laporan perjalanan mu. Dan aku akan geleng-geleng kan kepala. Aku ingat dulu ibu selalu tanya jika kau tak ada kabar berminggu-minggu.

“Doenk kemana Raa….”
“Ke Pulau Komodo….tau tuh. Nyamain muka kali Mam”

Kapan waktu juga aku menjawab, “ Doenk lagi ke papua cari koteka”

Saat ibu sakit pun dia masih menanyakan kamu.  Aku mengatakan bahwa kamu sedang liputan jauh dan nggk ada sinyal telpon. Kamu tau… waktu itu ibu memaksakan menelpon kamu. Untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja.

“Kasian Doenk Raa …. Ibu tahu dia butuh seseorang yang mengerti. Dia butuh rumah untuk istirahat. Untuk  pulang dan merehatkan kaki dan otak dia. Ibu nggk tega liat matanya yang kosong.  Kamu jadilah sahabat dia. Jangan suka bertengkat dengan dia. Anggap dia kakak kamu. Kalau seandainya ibu nggk ada, dia masih boleh pulang ke rumah ini. Istirahat disini. Disini rumah dia. Jangan buatkan dia kopi. Buatkan dia secangkiri susu atau jahe panas. Urusankalian berdua mau ngopi di luar ibu nggk mau ambil urus. Kalo dia sudah ada sinyal dan dia telpon kamu , tolong kasih ke ibu ya Raa. Ibu kangen sama dia”

Dan ternyata ibu meninggal tanpa sempat bertemu kamu lagi Doenk.

Hei masih ingat tidak saat kita berdua kehujanan dan ibu sibuk beteriak-teriak menyuruh kita segera mandi dan memaksa kamu menggosokkan minyak kayu putih agar kamu tidak masuk angin serta menyuruh kita segera meminum susu coklat panas? Padahal kita masih uforia dengan hasil photo-photo kita? Ibu selalu mengatakan, “Doenk itu anak aku walaupun dia tidak lahir dari rahimku”

Doenk …. Melihat photo mu di berandaku  menyibak sebuah kenangan. Iya … aku kangen kamu. Aku kangen memelukkan tangan ku ke pinggang mu dan kemudian kita berpetualang entah kemana. Aku kangen  menikmati laut bersama kamu. Belajar mengarahkan lensa dan otak atik program. Aku kangen kamu yang mengajarkan aku beragama “canon” sampai detik ini. Aku kangen berlompatan bersama kamu. Aku kangen rambut kamu yang jatuh di anak kening dan aku main-mainkan dengan ujung jari ku. Aku kangen umpatan kamu.  Aku kangen menyisir rambut kamu dan belajar menggelungnya agar rapi ….. dan kita berdua akan bediri menghadap kaca untuk membandingkan rambut siapa yang paling panjang. Dan aku kangen kamu menunggu aku di luar ruang kaca saat aku harus siaran sebelum bepergian. Aku kangen kamu yang mencekoki aku tentang jurnalism.

Dihadapan mu aku adalah seorang bocah perempuan yang menemukan kakak sesuangguhnya. Aku suka bergelanyut di lengan kamu yang kurus kering itu.

“Kadang capek dek  hidup kayak gini”, katamu suatu waktu. “Semua orang membanggakan aku. Enak ya… bisa kesana kemari. Padahal aku juga pingin istirahat. Aku ingin banyak waktu untuk keluargaku”

Aku terdiam. Saat itu aku maish belum bisa mengikuti cara pikiran mu.

Doenk … dan aku kini aku pun mengalami dengan hal yang kau keluhkan bertahun-tahun lalu. Lelah … jenuh …..bercampur jadi satu.

Doenk ….. aku tiba-tiba kangen naik motor sama kamu terus kita “blusukan” kemana pun. Asal keluar dari rutinitas ini. Aku kangen tangan kurus kamu yang siap memegang tangan ku saat aku meloncat ke parit.  Aku kangen obrolan berdua sambil ngopi di pagi hari. Atau makan nasi goreng di malam hari ….. Aku kangen kamu yang duduk manis mendengarkan ocehan ku. Aku kangen kamu yang selalu memaksa aku untuk berani menembus jalan gelap atau duduk manis di pinggir kuburan. Aku kangen menarik-narik ransel kamu. Memakai kamera kamu.

Doenk … aku kangen pelukan kan kamu dan kata-kata kamu yang selalu menyakinan aku bahwa hidup itu adalah sebuah tantangan dan perjalanan yang harus diselesaikan saat aku terisak seperti anak bocah yang mengadu pada kakak nya.
Hai Doenk ….. aku doakan semoga kamu baik-baik saja …. Aku menyimpannya dalam sebuah kotak rahasia. Karena persahabatan dan persaudaraan itu tidak bisa dipisahkan oleh keadaan.

Hai Doenk …. Kelak bawa aku untuk melewati sebuah jurang. Dan yakinkan aku bahwa aku bisa meloncatinya. Dan aku aku akan berteriak-teriak kegirangan saat menyadari aku sudah berada di seberang dan melawan ketakutanku sendiri. Sederhana saja Doenk …. Yakinkan bahwa  aku tidak sendiri.

"Mas .... join kopinya ya...", aku menyeruput kopimu dan tidak mengiraukan kamu yang melotot dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Suatu pagi saat kita menikmati hamparan pantai lewat sebuah ruang kaca .......


"Saya keren ya mas......", kata ku saat itu. "Iya keren .... tap lebih keren yang moto kayaknya Dek". Cincin mata ungu itu masih aku gunakan Doenk ......termasuk batu berbentuk hati itu. "Aku dapetin dari gunung kawi lo de....". Aku menyimpannya dan membawanya setiap perjalanan ku

2 komentar:

Richardo Sitompul mengatakan...

catatan hati nya romantis sekali...

penuh penjiwaan...

cara bercerita yang menarik.

salam mba

outbound training malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.