27 Jun 2012

SEHARUSNYA ......

Seharusnya saya tidak pulang. Seharusnya saya tidak kembali ke Batam. Seharusnya saya menunda tiket saya. Seharusnya saya masih menemani adik-adik saya yang sedang libur sekolah. Seharusnya saya membantu mereka mendaftar di sekolah baru. Seharusnya saya menemani mbak Yuni dan Wawan yang pindahan. Seharusnya saya menunggu kiki yang datang tanggal 29 dari Jakarta karena ia tidak bisa pulang saat lebaran. Dan dik Ida dari Pasuruan. Seharusnya saya menunggu mereka semua di Banyuwangi. Ya… seharusnya saya menunda mengakhir perjalanan saya.

Tapi apakah saya menyesal…? Tidak… saya tidak pernah menyesal dengan semua keputusan yang telah saya ambil apapun itu. Bahkan sampai saat ini saya duduk di pojok kamar saya dengan di topang bantal dengan kemeja lusuh saya

‘Dia bilang "Diam membuat kita MATI, Bergerak membuat kita HIDUP"’

Saya membaca status seorang teman saya.  Entah apakah status itu di tujukan untuk saya atau tidak. Saat saya membacanya saya hanya merasakan ia sedang menghantamkan sebah gada besar di kepala saya. Iya… saya selalu mengatakan kepada teman saya, “Bergerak lah terus…. Jangan berdiam. Dengan berdiam kamu akan mati… hanya dengan bergerak kamu akan hidup”

Dan sekarang saya merasa menelan racun yang telah saya siapkan untuk diri saya sendiri. Saya tidak bisa bergerak. Badan saya masih sama seperti 2 minggu yang  lalu. Panas dingin tidak jelas. Sayangnya saya tidak mempunyai termometer untuk menghitung suhu badan saya. Semalam jam 3 dini hari badan saya bergetar hebat dan membuat saya hilang akan kesadaran.  Alahai Tuhan…. Apa lagi ini. Perut saya tegang dan serasa isinya berontak ingin keluar.  Ah… beberapa hari ini makan hanya sebagai sebuah rutinitas tanpa sebuah jiwa. Memasukkan ke dalam mulut menelannya

Saya seperti Annelies, tokoh perempuan dalam Novel Bumi Manusia karangan Pram. Yang hanya bisa terkapar di tempat tidur saat Minke kekasih hatinya pergi meninggalkan dia. Kehilangan harapan. Tiba-tiba ingat saat perempuan  itu datang dan bercerita kepada saya,

“ Kau tau Raa…. Laki-laki yang aku cinta menghabiskan makan malam bersama perempuan lain di hadapan ku dan dia hanya mengatakan agar aku tidak berpikir macam-macam. Lalu bagaimana dengan mu Raa… jika laki-laki mu berpamitan makan malam dengan perempuan lain ? apakah salah aku berpikir macam-macam? Lalu aku? Dianggap apa? Aku hanya perempuan yang disembunyikan oleh dia Raa….. Aku disuruhnya instropeksi? Aku sudah menginstropeksi diri Raa…. Menanyakan kabarku pun lebih banyak dari cangkir kopi yang aku habiskan. Aku tau aku terlalu egois untuk mendapatkan dia. Tapi tidak seperti ini. Banyak lelaki yang memberikan harapan kepada ku Raa. Bahkan beberapa minggu terakhir , lelaki lain datang dengan menawarkan sesuatu yang membuat ku  tidak payah untuk bekerja. Tapi aku mundur perlahan Raa. Aku menolaknya. Aku belajar untuk setia walaupun aku bukan perempuan setia. Aku belajar ,menghargai dia.  Dia tidak tau Raa…. Bagaimana aku mati-matian menolak laki-laki lain untuk menjamah tubuh ku. Tapi apa Raa……  apa yang aku dapatkan?

Saya diam dan membunuh perempuan itu. Dan dia terkapar tanpa darah. Yang penting dia diam dan ocehannya tidak merecoki otak saya yang ikutan panas.

Saya akan terus bergerak ………..!!!! jika saat ini saya tidak bisa bergerak dengan fisik saya maka saya akan bergerak dengan mata saya, dengan jari-jari saya Dengan mata batin saya…..

Sedarhana … saya tidak mau mati dengan kesia-siaan …. Seorang pelacur pun masih berharap ingin bermanfaat bagi umat

Atau seharusnya saya menjadi pelacur saja……….. yang akan mati perlahan dan setiap orang akan mengatakan, “semoga dia di ampuni oleh Allah atas dosa nya”

Seharusnya …… saya tidak pernah mengirim surat itu ke pada kamu


1 komentar:

Viella Sabina mengatakan...

bergerak dan semangat baru