3 Jan 2012

MASJID AGUNG BAITURRAHMAN : SAAT SAYA BERADA DI ATAS BANYUWANGI

Desember 2011. Adalah kesekian kalinya saya pulang ke Banyuwangi. Seperti biasa buat saya Banyuwangi adalah sebuah lautan yang tidak pernah selesai saya selami. Ya karena semuanya berawal dari sana

Saya berpikir tempat mana lagi yang akan saya datang dalam kepulangan saya desember ini. Dengan waktu yang cukup pendek. Sempat saya agendakan untuk mengunjungi makam-makan keramat yang ada di wilayah Banyuwangi Barat. Tapi entah kenapa pikiran saya hanya menuju pada satu tempat. MASJID AGUNG BAITURRAHMAN.



Jam 8 pagi, 11 Desember 2011,  belum jam 9 pagi. Saya dan sahabat saya Surti sudah berada di halaman utama masjid. Saya mengirim pesan kepada rekan yang yang ternyata menjabat sekertaris umum pengurus untuk meminta ijin ambil gambar dan menulis (kembali) sejarah masjid terbesar di Banyuwangi ini. Dia membalas, “Jam 10 ya Raa. Setelah pengajian Dhuha dalam rangka harlah masjid 7 desember”.  Saya baru sadar ternyata pengetahuan sejarah Banyuwangi saya perlu dipertanyakan. Saya baru tahu jika masjid ini telah berusia 238. Ya.....7 Desember 1773. Dan saya menunggu dengan satu tumpuk berkas sejarah Masjid Agung Baiturrahman – Banyuwangi.

Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi (yang akan saya singkat dengan Masjid Agung) adalah sebuah bukti dan saksi dari perjalanan panjang Blambangan yang kelak dikenal dengan Kab. Banyuwangi. 

Islam masuk ke Banyuwangi tepatnya Blambangan melalui sebuah proses yang cukup panjang. Sejarah Banyuwangi tidak bisa di lepaskan dengan sejarah kerajaan Majapahit. Pada masa-masa terakhir yang dipegang oleh Hayam Wuruk terpecah menjadi dua bagian yaitu Kedaton Kulon yang tetap menjadi Majapahit, dan Kedaton Wetan yang kelak akan di kenal dengan Blambangan, cikal bakal dari Kabupaten Banyuwangi, yang dipimpin oleh putra raja Hayam Wuruk yaitu Raja Bhre Wirabumi dengan pusat kepemimpinan di hutan Alas Purwo yang kemudian di gantikan oleh putranya Menak Sembuyu atau Menak Dedali putih yang terkenal dengan kesaktiannya.  Pada saat itulah Kerajaan Blambangan sedang mengalam masa pagebluk. Putri Raja pun yang bernama Putri Sekardalu terkena dampak pagebuk. Ia terjangkiti penyakit aneh sehingga membuat sang raja memanggil seluruh tabib terkenal untuk menyembuhkan penyakit putr Sekar Dalu dan masa pagebluk. 



Alhasil, pagebluk berhasil di hilangkan oleh seorang ulama dari Samudra Pasai yang bernama Syekh Maulana Ishak. Masyarakat Banyuwangi sendiri menyebutnya dengan Syekh Wali Lanang. Karena jasanya itulah, Raja Menak Dedali Putih menikahkan anaknya Putri Sekar Dalu dengan Syekh Wali Lanang dan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak di kenal sebagai salah seorang wali songo yaitu Sunan Giri. Kedatangan Syekh Maulanan Ishak adalah tonggak awal masuknya Islam di Blambangan. 

Kenapa saya hapal cerita ini, karena dulu saat masih aktif di karang taruna saya pernah mementaskan kisah ini dalam bentuk teatrikal di karnaval 17 agustus tingkat Kabupaten. Saya ingat yang jadi Syekh Maulananya adalah adik saya Kiki yang jatuh dari kuda di halaman gedung DPRD Banyuwangi. (Syekh Maulana Ishak saya gambarkan lelaki gagah menggunakanan surban putih dan menaiki kuda. Sayangnya saya memilh kuda paju, yang “njoged” saat mendengarkan music hadrah.Dan adik saya yang ganteng itu jadi pilihan utama karena gratsis). Sedangkan Putri Sekar Dalu nya adalah sahabat saya Shinta. Selain gratis juga, saya berpikir bahwa dia lebih cantik di bandingkan saya. Tahun berapa? Saya lupa antara akhir 99 atau awal 2000-an. Cukup lama kan? Sayangnya aya tidak punya dokumentasinya…..

Kembali ke Masjid Agung. Di kepemimpinan Bupati Mas Alit, yaitu Bupati pertama Banyuwangi sekaligus Bupati Blambangan yang terakhir, perkembangan Islam semakin meluas. Bupati Mas Alit pun sudah memeluk agama Islam. Beliau besar di Madura. Ibu kota Banyuwangi pun di pindah. Dari Ulupangpang (sekarang masuk kecamatan Benculuk, kalau tidak salah tempat ibu ku di lahirkan) ke Banyuwangi. Perpindahan tersebut juga di ikuti dengan migrasi penduduk yang juga mendirikan masjid yang sekarang ada di depan mata saya. Masjid Agung Baiturrahman. . Dari data yang ada “Nagari Tawon Madu” karangan I Made Sudjana menyebutkan Nagari Banyuwangi selesai di bangun pada tanggal 24 Oktober 1774 (sebagian besar menjadikan Hari Jadi Banyuwangi. Kontroversi dengan 18 Desember).

Kebetulan sekali kunjungan saya kali ini pas dengan Pengajian Dhuha dalam rangka Harlah Masjid Agung ke 238. Ya…beberapa hari setelah hari jadi Masjid Agung pada tangal 7 Desember 1773.  Dari tumpukan data yang ada di depan saya, Selasa, 7 Desember 1773 adalah tanggal yang tertera pada surat wakaf dari keluarga besar Mas Alit atau Raden Tumenggung Wiraguna 1 Bupati pertama Banyuwangi untuk umat Islam di Banyuwangi.  

1. Masjid Pertama (7 Desember 1773 – 1844)

Konon…..tempat pertama yang di bangun oleh Bupati Mas Alit saat pindah dari Ulupangpang adalah mushola kecil cikal bakal Masjid Agung, yang digunakan untuk melakukan sholat lima wkatu berjamaah., karena pengikut-pengikut Mas Alit adalah penganut agama Islam yang taat. Masjid Agung itu berdiri megah di antara Pendapa Shaba Swagata Blambangan (Rumah dinas para Bupati Banyuwangi).


2. Masjid Kedua (1884-1971)

Pembangunan Masjid secara permanen oleh Bupati Raden Adipati Wiyodanu Adiningrat . Ia adalah cucu Mas Alit yang memerintah Banyuwangi selama  35 tahun (1832-1867). Sebagai pelaksana pembangunan Patih Raden Pringgokusumo yang di bantu oleh Hakim Bagus Achmad bin Ngabsi pada tanggal 18 Sya’ban 1260 H /1844, setelah kurun waktu 71 tahun.  Pembenahan fisik dilakukan sedikit demi sedikit oleh Raden Pringgokusumo Hadiningrat yang pada tahun 1867-1881 (14 tahun) menggantikan saudaranya menjadi Bupati Banyuwangi yang ke 5. (Saya berpikir saat itu ada demo nggk ya…yang protes terhadap nepotisme dan penguasaan daerah satu trah bertahun-tahun, padahal sudah dalam bentuk kabupaten). 


Kakek saya bercerita dulu di depan masjid banyak sekali warung-warung makanan. Namun yang terkenal adalah Warung Angsle (minuman khas yang terdiri dari santan jahe dan berisi ketan dll). Di warung Angsle itu ada sebuah radio yang digunakan oleh masyarakat untuk mendengarkan informasi tentang kemerdekaan Indonesia. Kakek saya Nasikin juga bercerita tiap malam dia datang ke warung itu hanya untuk mendengarkan pidato Sukarno. Kerennn…….saya bayangkan kalau seandainya saya hidup di masa itu.

3.    3. Masjid Ke tiga (1971 – 1990)

S   Setelah di renovasi oleh Bupati Djoko Supaat Slamet pada tahun 1971 (jaman ibu saya masih mahasiswa), Masjid Jami’ berganti nama menjadi MAsjid Agung Baiturrahman. Pemugaran Masjid Jami’ selesai dalam waktu 2 tahun, di mulai tanggal 28 Maret 1969 sampai 8 maret 1971. Awalnya kepanitiaan reovasi di pegag oleh pihak Takmir Masjd namun kemudian di alihkan kepada Sekertaris Daerah Banyuwnagi agar segera menyelsaikan pembangunan Masjid Kabupaten tersebut.

4
      4. Masjid Ke empat (1990-2005)

Pemugaran ke empat masjid Agung Baiturrahman daridi fokuskan pada bagian atas, dari model Kubah di bongkar menjadi Joglo di mulai pada tahun 1986 oleh Bupati S. Djoko Wasio dan selesai tahun 1990 oleh bupati Harwin Wasisto. Peresmian dilakukan pada tanggal 7 Maret 1990 oleh Bupati Banyuwangi Harwin Wasisto. Pemugaran bentuk atap masjid membutuhkan waktu sekitar 4 tahun.
5.       Masjid ke lima ( 2005 -…….)
Gambar rencana pembangunan Masjid Agung Baiturrahman di luncurkan pada kepemimpinan bpati Ir. H Samsul Hadi dan peletakan batu pertama pada Jumat 9 September 2005 oleh Plth Bupati H. Asmai Hadi SH MM. Pemugaran sudah di rencanakan setahun sebelumnya yaitu sejak September 2004 tapi baru terealisasikan 9 September 2005. 


“Raa…..nggak mau naik ke atas?
“Kemana Mas….”
Mas Azies menunjuk menara tinggi di sebelah selatan Masjid, “Hah……” Saya melihat ke atas.
“Mumpung……..sebentar lagi mau di bongkar. Nanti sama penjaga ya…..namanya Waras”
Upssss……saya melihat sahabat saya yang memakai celana pendek. Dia mengangguk. “Berangkatttt!” 

Dan ternyata penjaga masjid adalah Kak Waras. Kakak Pembinaku sata masih SD da SMP. Alhasil reunian. Pendakian dimulai…….menara dengan usia hampir 50 tahun. Tingginya? 12 tingkat dengan anak tangga dari kayu serta ukuran masuk dari masing-masing tingkat hanya sebesar pinggang saya. Ampun…..engap! tanpa persiapan. Dan saya berhasil merayu Kak Waras untuk menemani saya naik sampai ke atas yang entah jaraknya berapa meter dari permukaan tanah.Sempat juga debat kusir dengan sahabat saya. Dia bilang 30 meter tapi saya membantahnya dan mengatakan lebih tinggi lagi. Dan sampai saya tulis catatan ini saya tidak tahu berapa meter tinggi menara itu. Bodoh kan? Saya cari referensinya pun tidak menemukannya. 


Di atas menara….saya teriak kegirangan! Bahkan sempat di tegur Kak Waras, “Raa…menara masjid. Jangan teriak-teriak”. Upsss…..saya lupa. Tapi saya berhasil membunuh phobia saya akan ketinggian. Saya berada di titik paling tinggi di Kabupaten Banyuwangi!!! Sebuah prestasi terbesar saya! Bahkan menara Masjid pun berada di bawah saya. Dari atas saya bisa melihat dengan jelas kearah timur. Pulau Bali. Taman Sritanjung tempat saya menghabiskan masa kecil saya bersama ayah saya.  Kea rah barat, Gunung Ijeng. Ke arah utara jalan saya pulang ke rumah Banyuwangi dan ke arah selatan ke pusta kota. Saya merasa seperti seorang puteri yang sedang naik kuda Pegasus dan di ajakn ke negeri dongeng. Dalam hati saya berkata, “Tuhan selalalu memberikan kesempatan yang baik buat saya. Belum tentu ibu saya, nenek, kakek, paman, teman-teman saya mempunyai kesempatan emas seperti ini”.


 Saya berhasil menaklukkan menara itu !!!!!





 Pokoknya besok kalo ajak Surti lagi nggak boleh pake celana pendek! Titik!!!!
(saya, surti dan kak Waras)

Dan saya behasil mengabadikan Banyuwangi dari atas!
“Kita ke makam bupati-bupati Banyuwangi Raa”

Aku mengangguk, mengiyakan
“Tapi makamnya di tutup…..kita lihat dari atas saja ya………..Kita turun terus naik lagi lewat tangga darurat dari bangunan sebelah utara”

Mau tidak mau saya menangguk….dan saya haru menaiki 2 tangga yang benar-benar darurat hingga akhirnya saya berhasil dengan kenekatan saya. Huwikkss……sayangnya saya tidak mungkin memoto diri saya sendiri saat naik tangga sebagai bukti! Halah….kenapa harus pake barang bukti.

 belakang saya pulau Bali!!!! tanah kelahiran kedua saya...

Akhirnya saya berhasil berada tepat di di kubah masjid sebelah utara. Melihat makam bupati-bupati Banyuwangi. Saya hanya bisa melihat dari tempat saya berdiri dan mengirimkan Al-Fatihah untuk mereka.
Tempat terakhir adalah tingkat dua yang belum selesai di bangun bagian utara. Wow…….saya tidak menyangka bahwa saat ini saya maish berada di Banyuwangi.

Tiba-tiba saya teringat kamu. Andai kamu berada di sini. Menemani saya…..menggenggam jemari saya saat naik dari satu anak tangga ke anak tangga selanjutnya. Berdiri di atas Banyuwangi bersamamu. Dan kita akan bersama-sama turun menuju Altar. Dan saya akan bercerita padamu betapa penuh sejarah tanah Blambanganku. 



Akhirnya saya harus menyelesaikan “petualangan” saya di Masjid Agung Baiturrahman. Saya harus segera pulang dan berkemas untuk malam kembali ke Batam. Menemui cinta saya yang tertinggal disana.
Di Masjid Baiturrahman saya banyak belajar hal. Tentang perjalanan sebuah sejarah. Tentang sebuah proses untuk mencapai puncak bukan hal mudah……dan nanti saat di puncak pun saya harus kembali turun ke dasar. Karena tidak selamanya saya berada di atas……(kalau kelamaan bisa masuk angin hehehehehehhehehe)


Banyuwangi adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah bisa saya selesaikan……….



Ya….saat saya merasa bahagia, saat saya merasa bahagia berada di atas Banyuwangi………Masjid .Agung Baiturrahman Banyuwangi (data dan foto lengkap di sini)
 


 Nb: Sayang.....saya pulang kan? walaupun saya tidak pernah tau apaka kau menunggu kepulanganku!



Batam, 3 Januari 2012





5 komentar:

RanggaGoBloG mengatakan...

kereeen poto potonya... :D

sprei murah mengatakan...

thaks Gan your blog baggus info and useful, greetings and salutations successful blogger

FIRMAN mengatakan...

sy suka blog ini,apalagi masjidnya.
sy belom prnah ke atas MAB

hartanto mengatakan...

Pada Masjid "versi ke-3" mirip sekali dengan Masjid Taqwa di kota Metro Lampung. Sayang sekali Masjid Taqwa sudah dihancurkan demi pembangunan "versi baru".
Sila ke:
http://hartanto.wordpress.com/2013/05/29/masjid-taqwa-metro-dalam-kenangan/

hartanto mengatakan...

Masjid versi ke-3 mirip sekali dengan Masjid Taqwa di kota Metro Lampung. Sayang sekali Masjid Taqwa sudah dirobohkan.
Sila mampir ke http://hartanto.wordpress.com/2013/05/29/masjid-taqwa-metro-dalam-kenangan/