18 Des 2011

FESTIVAL SANGRAI KOPI, SAAT SUKU USING TER "EKSPLOITASI"


Bagi saya Banyuwangi adalah tempat pulang. Setelah saya melakukan sebuah perjalanan panjang. Dan Desember 2011 ini saya kembali ke Banyuwangi.

Kebetulan sekali ada 2 event yang ada di Banyuwangi yang pas sekali di adakan saat saya pulang kampung. Event tersebut berkaitan dengan Hari Jadi Banyuwangi yang 240 setiap 18 Desember (berbarengan dengan ulang tahun Ibu saya). Dua event itu (1) nyapu bersama sepanjang jalan utama di Kab. Banyuwangi mulai dari Kecamatan Kalibaru sampai Kec. Wongsorejo. (2) Festival Sangrai kopi. Kegiatan pertama? Buat saya hanya sekedar sebuah formalitas. Bukankah setiap hari kita menyapu halaman? Hanya sebuah moment saja menyamakan waktu menyapu! Nothing spesial di mata saya. Alhasil saya memilih kegiatan kedua. FESTIVAL SANGRAI KOPI!
Ada beberapa alasan saya memilih Festival Sangrai Kopi
  1. Saya adalah pecinta kopi (dunia akhirat semua tahu kalau saya suka kopi)
  2. Saya akan bertemu dengan teman-teman wartawan dan itu berarti adalah REUNI!
  3. Refresh klik kanan. Eksplore dan belajar fotografi lagi!
Sabtu 10 Desember 2011.
Festival Sangrai kopi di adakan di Desa Kemiren Banyuwangi. Pada Festival Sangrai Kopi Massal tersebut, menghabiskan 300 kilogram biji kopi robusta, 300 tungku, penggorengan dan kayu. Masing-masing tungku berjarak kurang lebih satu meter yang di pasang berjajajar di sepanjang jalan desa yang mencapai 2 kilometer yang sukses yang membuat keringat saya terkuras seperti orang marathon. Dan memaksa saya untuk membeli topi tani untuk sedikit mengurangi rasa panas yang menyengat.

Secara teori, untuk menyangrai satu kilogram kopi membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan temperatur 180 hingga 200 derajat celcius. Tidak perlu sampai hitam gosong tapi coklat tua. Dalam proses ini akan di hasilkan biji kopi yang berkualitas dengan cita rasa yang luar biasa. Tapi ingat! Secara terori...lepas dari teori Hanya Tuhan yang tau.......
Dari 270 bungkus kopi hanya 10 bungkus yang lolos untuk proses giling dan kemudian diuji oleh para penguji kopi. Dan sayangnya saya bukan salah satu pengujinya (mikir....siapa saya ya harus ikut jadi penguji?).  Dan Festival Sangrai kopi ini tercatat dalam Museum Rekor Indonesia sebagai sangrai kopi massal terbanyak di Indonesia.

Bangga.....? Iya saya sanggat bangga sekali. Tapi saat saya duduk di teras rumah seorang warga di Kemiren saya ngbrol dengan seorang ibu yang usianya sudah udzur. Saya bertanya, “Ibu Senang dengan acara ini?”. Dengan bahasa diplomatis dia menjawab, “Kadung hang ngongkon pemerintah yo klendi maning? Tapi kadung milih yo lebih seneng kadung acarane iki bisa ngasilaken picis kanggo masyarakat kene” (Kalau yang menyuruh pemerintah ya bagaimana lagi. Kalao bisa pilih ya memilih kegiatan yang lebih menghasilakn uang untuk masyarakat sini).

Sayakembali bertanya, “bukankah ibu bisa jualan kayak sekarang?” Dia tertawa pelan, “Dodolan kang mung dino iki thok! Kesuk? Mosok eling uwong-uwong iku ambi awak-awak hang ono reng kemiren”. (jualan kan hanya hari ini. Besok? Mereka tidak akan ingat dengan masayarakat Kemiren). Katanya sambil menunjuk rombongan orang yang sedang jalan-jalan di sepanjang jalan dengan sorotan banyak kamera. Saya diam dan tidak meneruskan pertanyaan saya.

Acara sudah hampir usai. Para pejabat sudah menuju satu lokasi. Dan akhirnya saya memilih untuk menepi bersama salah satu sahabat saya untuk makan siang di sebuah warung kecil. Sambil tiduran saya berpikir tentang  perkataan ibu yang saya ajak bicara tadi. Ya...saya bangga sebagai warga Banyuwangi. Saya bangga dengan pemecahan MURI sebagai sangrai kopi terbanyak. Saya bangga Banyuwangi di ekspose habis-habisan di sleuruh media massa lokal, nasional, bahkan internasional. Tapi secara substansial bagaimana?

Saya terus berpikir kenapa Banyuwangi tidak membuat program yang lebih mengena pada masyarakat?. Perbaikan jalan mungkin? Ya...saya baru sadar jika jalan di Banyuwangi benar-benar parah. Apalagi jika di bandingkan dengan jalan aspal dari kota-kota lain yang saya kunjungi? Kenapa program-program yang di gembar-gemborkan pada tahun-tahun ini hanyalah program yang hanya “jual tampang?”. BEC yang sumpah buat saya nggk banget karena nyontek kabupaten sebelah dan harus mengeluarkan dana hingga 500 juta? Angka yang fantastis yang saya pikir kalo di alokasikan untuk pembangunan jalan, pendidikan, kesehatan atau mungkin untuk pemberdayaan masyarakat kenapa tidak?
Dan semuanya selalu beralasan atas nama melestarikan budaya Banyuwangi, yang notabene terwakili oleh Suku Using. Apakah untuk sebuah pencitraan nama pemimpin, Suku Using harus di eksploitasi? Picik!

Saya jadi ingat sahabat-sahabat saya dari komunitas sejarah banyuwangi. Mereka lebih semangat memberdayakan Banyuwangi dan merekamnya dalam tulisan-tulisan yang saya pikir lebih baik dari pada program-program yang hanya pengumpulan massa, pencitraan. Bekerja menggunakan otak. Merekam perjalanan sejarah dalam tulisan. Bukankah dalam tulisan sejarah akan bisa abadi? Bukan hanya sekedar pencitraan yang selintas lalu kemudian.....terlupakan!
Saya sengaja memilih judul yang saya yakin akan menimbulkan kontroversi. FESTIVAL SANGRAI KOPI, SAAT SUKU USING TER “EKSPLOITASI”. Ya...saya sengaja memilih kata eksploitasi. Kalo bukan eksploitasi lalu apa? Semua ramai-ramai bicara tentang Using, tentang Banyuwangi......berbicara ini....itu....tapi apa yang telah kita lakukan untuk Suku Using? Untuk Banyuwangi...?
Ya saya tahu saya tidak dan bahkan belum melakukan apa-apa untuk Banyuwangi tanah kelahiran saya. Hanya mengkrittik, protes, nggrundeng lewat catatan yang tidak seberapa ini.

Masih ada Paidi, Saidi, Gopar yang butuh lapangan pekerjaan........Mbok Nah, Mbok Tun, Mbok Sri, Mbok Ipah dan mbok-mbok yang lain yang tidak perlu lagi banting tulang untuk membeli kebutuhan bahan pokok yang harganya semakin naik. Masih banyak ana-anak putus sekolah karena biaya mahal, walaupun klaim pendidikan gratis terpampang di semua sekolah-sekolah negeri. Nyatanya? Sama aja Nihil!!! Penjual di pasar Blambangan bisa berjualan dengan tenang tanpa takut jualannya diangkut oleh oknum.  Para nelayan bisa melaut dengan tenang tanpa takut dengan solar yang hilang dari peredaran. Pak Pri yang kesulitan membeli pupuk untuk sawahnya yang nggk seberapa. Tidak ada lagi perempuan-perempuan Banyuwangi yang menjadi TKW yang menjadi korban!Saat saya menemukan cerita bahwa Banyuwangi adalah salah satu kontong terbesar pengirim TKW!

Saya menyelesaikan tulisan ini di Batam dengan perasaan tidak karuan. Saya rindu Banyuwangi. Banyak yang ingin saya lakukan untuk Banyuwangi tapi saya tidak punya daya apapun. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang perempuan yang lahir di Bali dengan ibu asli suku Using, Ayah Bugis dan menghabiskan banyak masa-masa saya di Banyuwangi. Banyak yang ingin saya protes? Tapi pasti ada yang bilang , “Kamu Cuma bisa ngomong doang Raa”. Ah...biarlah....dari sini saya hanya mengatakan saya mencintai Banyuwangi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Dan jika saya protes, maka itu sama saja dengan memprotes diri saya sendiri. Jika saya menilai banyuwangi buruk, maka itu berarti sama saja mengatakan bahwa saya juga buruk. Entahlah saya berharap agar Banyuwangi lebih baik lagi. Bukan hanya sebuah ruang kosong melompong tanpa isi tapi di luar berhias bunga plastik. Palsu!

Saya akhir catatan ini dengan menyesap kopi terakhir saya di malam ini, 17 Desember 2011. Pahitnya sama dengan kopi yang saya nikmati di Banyuwangi. Hanya saja di sini tidak berampas. Dan saya selalu membiarkan gulanya menggumpal di bawah tanpa perlu mengaduknya. Pahit memang! Tapi saya yakin bahwa saat habis saya akan menemukan rasa manis di sesapan terakhir kopi saya. Saya suka menyesap kopi dengan kedua gigi saya di satukan hingga mengeluarkan suara khas. .....yang tidak akan di miliki oleh orang lain saat meminum kopi!

Ya....seperti Suku Using yang mempunyai khas sendiri! Yang tidak akan tergantikan. Suku Using sudah mengalami proses panjang seperti pembuatan kopi. Dan saya yakin suatu saat Suku Using akan menemukan rasa manis di sesepan terakhir. Entah kapan...tapi saya percaya.......

Ah semakin malam catatan saya semakin kacau! Segera harus diakhiri. Untuk terakhir saya ingin katakan bahwa Saya sangat mencintai Banyuwangi. Banyuwangi sangat indah. Suku Using sebagai suku asli Banyuwangi adalah suku yang mempunyai budaya yang luar biasa. Percayalah dengan kalimat-kalimat terakhir saya......

Tiba-tiba saya ingin kembali lagi ke Banyuwangi! Karena Banyuwangi adalah jalan di mana saya pulang...........Saya percaya....pada saatnya Suku Using tidak akan ter “eksploitasi” Tapi Suku Using akan tetap bertahan di jaman modernisasi dan bukan lagi korban sebagai ajang pencintraan diri!

Saya Rindu Banyuwangi!

Kita pernah berbincang kan? pada malam itu saat kita berbicara tentang hidup........tentang akal, tentang pikiran! tentang semuanya .........Hei....bukankah kalian selalu menasehati saya untuk berpikir positive dan optimis.........Santai saja kawan.....saya akan kembali pada kalian....dan akan saya ceritakan kisah perjalanan saya.........






Kembali ke Habitat......... Kembali ke mereka seperti kembali ke awal perjalanan ku, kembali ke dunia yang membuat saya bahagia. Kembali ke dunia yang penuh tawa..........ya! perbincangan bersama meraka membuat saya terlahir kembali. Kembali ke mereka membuat saya tahu di mana jalan untuk pulang ke tanah kelahiran saya Banyuwangi!

1 komentar:

Lonk mengatakan...

Saya rasa dengan diadakannya acara "nyapu bareng" + festival sangrai kopi ini koq kesannya seperti mempertontonkan kemiskinan saja (di mata saya).Padahal banyak kegiatan yang lebih berguna misalnya bakti sosial benerin jalan yang bolong bolong atau rumah warga yang sudah mau ambruk.
Yang ditakutkan adalah mengadakan acara asal asalan tp dengan dana anggaran yang menggelembung besar.

Tapi salut saya dengan mbak.Sebagai warga memang harus kritis dalam bersuara.Salam.