10 Sep 2011

SAYA ADALAH PEREMPUAN DAN STATUS SAYA MENIKAH

"sudah menikah Raa...."
"suami kamu yang mana...?"
"wahhh...pasti masih bujang. boleh nggk kenalan"
"masih kuliah ya"
"Ibu punya anak laki-laki...siapa tau cocok"

Saya hanya tersenyum simpul dan tertawa kecil saat ada chating yang masuk di FB atau saat bertemu pertama kali dengan saya. Sayangnya saya tidak pernah melakukan survei kecil-kecilan, menanyakan kepada mereka mengapa mereka menganggap saya sebagaiseorang lajang. Apakah karena saya berukuran sangat pendek. Hanya 150 cm? atau karena saya lebih banyak menghabiskan waktu saya di studio dan di jalanan bersama teman-teman saya dari pada di rumah dan menghabiskan waktu saya bersama keluarga saya?. Tepatnya suami saya. Atau mungkin sifat saya yang easy going saat di luar rumah dan tidak adanya batas waktu untuk diluar rumah yang memperparah pandangan orang lain bahwa saya adalah seorang lajang

Ya....saya adalah perempuan dan status saya menikah. Saya adalah seorang ibu rumah tangga seperti layaknya perempuan rumahan. Mengurus cucian, setrika, ngepel dan memasak walaupun sekarang sudah sangat terbantu dengan kehadiran pembantu rumah tangga saya. 


Saat mereka menanyakan apakah saya sudah menikah? saya akan menjawabnya, "apa penting mengetahui status saya menikah atau tidak?". Bagi saya menikah bukan sebuah hambatan untuk sebuah pertemanan, pekerjaan dan sebuah pemikiran. Dan rata-rata mereka yang menanyakan status saya mengatakan sangat penting mengetahui status saya menikah atau tidak. Paling tidak agar bisa jaga jarak. Hingga akhirnya muncul asumsi saya. Jika dengan yang berstatus lajang tidak ada jarak dong, "semena-mena" dalam pergaulan?. Lalu jika menjaga jarak dengan yang menikah bukan untuk menghormati tapi lebih karena ketakutan pada suaminya. Bukankah begitu? Bukankah perempuan baik itu lajang atau sudah menikah sama-sama harus di hargai dan dihormati? sama-sama punya hak di kehidupan sosial. Tapi ini akan berbeda jika memang laki-laki itu hanya ber "niat" untuk mencari jodoh. Dan pertanyaan menggelitik mncul. Jodoh yang pertama atau jodoh yang kedua? hahahahahahahhahahahha

Yang lebih parah lagi. Seorang laki-laki iseng. Ya saya mengatakan iseng dan sudah saya delete pertemanan saya di FB dengan dia. Memaksa untuk mengetahui status saya. Dan saat bilang saya telah menikah, dia memaksa saya untuk memberi tahukan siapa suami saya. Bagi saya sangat tidak penting. Dan hanya menghabiskan waktu saya untuk meladeni chating dia. Hingga suatu hari dia mengirimkan link profile FB sambil mengatakan, "Saya sudah tahu suami kamu". Dan saya tertawa ngakak saat link itu saya klik malah beralih ke salah satu sahabat saya. Saat saya menanyakan apa alasan dia mengatakan bahwa dia adalah suami saya. Dia dengan entengnya menjawab karena saya sering berphoto dengan dia. Ampun...begitu piciknya ia. Walaupun 100 persen saya tidak bisa menyalahkan dia dengan pikiran sempit dia. 

Saya menulis catatan ini sebagai refleksi pernikahan saya yang ke tiga tahun. Ya....3 tahun. Waktu yang sangat sebentar dalam sebuah pernikahan. Tapi tidak untuk masa perkenalan dengan suami saya. 13 tahun lebih saya mengenalnya. Dan itu bukan waktu yang sangat pendek untuk sebuah kedekatan emosional bagi saya dengan makhluk yang bernama laki-laki. Jangankan dengan laki-laki lain. Dengan ayah saya yang notabane sebagai orang tua kandung laki-laki, saya hanya mengenalnya tidak sampai hitungan 10 tahun.

Apakah ada kebosanan. Pasti saya menjawabnya ya.....sebuah rutinitas yang terkadang membuat saya lelah dan hanya bisa saya tuangkan dalam tulisan-tulisan saya. Sebuah protes dalam sebuah konsep rumah tangga yang selalu saya pertanyakan. Tapi saya sadar selama 3 tahun ini saya hidup dalam keegoisan saya. Dalam mimpi saya. Dan berdiri dengan kedua kaki saya dan keputusan-keputusan besar dalam kehidupan saya. Pernikahan adalah sebuah pembelajaran terbesar bagi Tuhan kepada saya bagiaman saya harus bertahan, menekan keegoisanku, dan membunuh separuh mimpi saya. Ya....saya katakan membunuh. Tidak perlu saya jelaskan dengan detail bagian mimpi mana yang terbunuh. Hanya saya dan Tuhan yang tahu. Ya....saya mengatakan mimpi saya yang tidak mempunyai efek buruk bagi semuanya termasuk rumah tangga saya.
3 tahun pernikahan saya. Sebuah refleksi bagi saya. Apa yang telah saya lakukan untuk rumah tangga saya. Sangat tidak etis jika saya menulis detail apa saja yang telah saya korbankan. Karena saya belajar untuk ikhlas. Bukankan pernikahan juga mengajarkan saya untuk belajar ikhlas dan kehilangan?. 

Mungkin bagi orang lain catatan saya ini adalah bentuk kebodohan saya, karena saya terlalu jujur dengan pernikahan dan kehidupan saya dalam catatan-catatan saya. Tapi saya tidak mau disebut pecundang.Tidak mungkin ada pernikahan cinderela di muka bumi ini. Pernikahan seperti di negeri dongeng. Puteri menikah dengan pangeran melahirkan anak-anak hidup di istana dan mati dengan tenang.
Tidak ada seorang ibu yang mengatakan pada anaknya bahwa hidup ini mudah. Ibu yang bijaksana pasti akan mengatakan bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan dalam menyelsaikan sebuah masalah.

Fuichhh......saya telah menyelesaikan3 tahun pernikahan saya. Dan di depan mata saya sudah ada tahun-tahun yang harus saya lalui dan saya sendiri tidak tahu sampai kapan saya menyelesaikan tahun-tahun pernikahan saya. Karena itu adalah tanggung jawab terbesar saya saat saya memutuskan untuk menikah.

Jika ada yang mengatakan saya menyembunyikan pernikahan saya. Atau tidak bangga atas pernikahan saya. Saya hanya akan tertawa menghadapinya. Tidak pernah ada yang saya tutup-tutupi dalam kehidupan sosial saya. Walaupun ada itu bersifat privacy. Yang sama sekali tidak berhubungan dengan orang banyak. Di FB saya ada foto bersama suami saya. Hanya saja saya bukan kategori orang yang suka mengupload photo dengan pasangan saya. Merasa risih saja. Jika ada yang mengatakan mengapa harus risih foto dengan suami sendiri tapi tidak risih dengan photo bersama laki-laki lain. Upsss.......its my life. dan jangan pernah menghakimi saya jika tidak  pernah tahu bagaimana kehidupan saya. Dan saya akan mengatakan malas berdebat dengan anda. Karena kehidupan saya mengajarkan saya untuk hidup mandiri tanpa laki-laki, walaupun secara kehidupan saya masih membutuhkan kaum adam itu. ~mungkin~

Kembali lagi saya terlalu egois dalam kehidupan saya. baik secara pribadi maupun secara rumah tangga. Dan saya berusaha membunuh ego saya untuk menjadikan saya perempuan yang mampu bertahan dengan semua permasalahn yang ada dan bertanggun jawab dengan semua keputusan saya. Termasuk keputusan besar saya untuk menikah dan menghentikan masa lajang saya sejak 3 tahun lalu.

Catatan ini adalah catatan bodoh saya. sebagai bentuk pembelajaran dan refleksi dalam pernikahan saya yang ke 3. Tidak perlu ada ucapan selamat. Tidak perlu ada kue tart. Tidak perlu ada tumpeng atau acara makan-makan. Atau mungkin sebuah pesta. Tidak perlu ada kado dengan pita merah muda di atasnya. Yang terpenting adalah bagaimana cara aku bertahan..........sebagai seorang perempuan.

Ya.......saya adalah perempuan. Dan status saya adalah perempuan yang menikah.....
dan tidak perlu lagi dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat saya bertambah muak. Saya belajar bertanggung jawab dengan keputusan saya untuk menikah.



My dear
:tentu kau akan cemburu, mengeleng-gelengkan kepala atau bahkan membuatmu semakin jauh
Tapi percayalah saat namamu selalu aku selipkan dalam doa-doaku.
walaupun aku tidak pernah memastikan bahwa ada nama ku dalam doamu.

Tidak ada komentar: