1 Okt 2010

RENDEZVOUS

Kembali ke sebuah kota. Tentang masa lalu. Tentang awal perjalanan. Tentang sebuah akhir (kelak) saat aku menghentikan perjalanan panjangku Kota ini masih sama seperti yang aku tinggalkan tahun-tahun lalu. Tetap hangat, walaupun hawanya membuat kering kulit tubuhku yang mulai menghitam.
Tidak ada yang berbeda. Rumah lamaku masih tetap kosong. Bau kencing tikus menyengat dari ujung dapur. Daun-daun bunga Kenanga menumpuk digang sebelah rumah. Entah....mengapa pohon itu tak lagi berbunga sejak hampir 2 tahun yang lalu, pasca Ibuku meninggal. Pohon bunga itu memang manja. Selalu! setiap ada keluarga meninggal, ia selalu ngambek. Tidak berbunga. Nenek ku, Adik nenekku, Ayahku, kedua anakku dan kini ibuku. Aku dulu pernah bertanya tentang itu, dan beliau menjawab,"Pohon itu adalah jiwa keluarga kita. Jika penghuninya sedih, maka dia tidak akan berbunga. Jadi kalau kamu mau pohon itu berbunga, kamu harus tertawa dan menari di bawahnya". Dan aku ingat setelah ayahku meninggal, aku menari-nari sambil bernyanyi "Oh ibu dan ayah selamat pagi. Ku pergi sekolah sampai kan nanti......". Dan berharap pohon Kenanga itu kembali berbunga dan menandakankeluarga ku kembali bahagia.

Rumahku adalah persinggahan ku yang pertama. Walaupun penuh dengan perasaan nelangsa. Menikmati kopi, dari cangkir yang dulu selalu digunakan ibu ku menikmati susu paginya. Dan tiba-tiba aku merasa sendiri di lebaran hari pertama ini. 

***

Tanah perkuburan sudah terkurung oleh rumah-rumah baru. Bahkan untuk menuju kesana, aku harus melewati ilalang yang tingginya sebatas pinggangku. Tanah yang tidak terlalu luas. Makam-makam tua, buyut-buyutku, ayaku, adikku, dan ibuku. Sayangnya, anak-anakku tak sempat mampir ke tanah kelahiran Ibuku.
Entah kenapa.....aku merasa nyaman di tanah kubur ini. Tenang, nyaman, dan aku bersimpuh di depan makam ibuku yang tanahnya pecah dan mengering. Beberapa bunga dan pandan kering bertabur diantara rumput yang terlihat gagah di atasnya. Aku kembali pada ibuku yang kini telah tenang bersama Tuhan. Nisan yang dulu putih dan sempat kupeluk erat saat pemberangkatan jenasah ibuku, kini terliat lebih coklat dengan tulisan yang mulai mengabur. Aku sempat protes, kenapa tidak langsung di kijing? biar makam ibuku terjaga dan indah. "Nanti kalau sudah seribu harinya, baru boleh dikijing Raa". Makam ibuku memang berbeda diantara makam-makam lain yang sudah rapi tertutup dengan keramik putih.
Bersimpuh lama, air mata sudah tidak mempunyai batas. Ingin rasanya aku kembali ndusel di antara kedua dadanya yang sudah mengkeriput. Payudara yang selalu membuatku nyaman sejak aku dilahirkan hingga aku sudah sangat dewasa. Ibu..........!
Seandainya aku tahu ibuku akan lebih cepat meninggalkanku, tiap hari aku akan mencuci kakinya.Tiap malam aku akan menggantikannya menutup pintu dan mengantikannya menyiapkannya susu dan kopi untuk kami berdua. Membawakan bekal untuknya berangkat mengajar. Atau paling tidak membatalkan pernikahanku, agar ibuku tidak merasa sendiri. Atau mungkin, saat ibuku meninggal aku bisa menemaninya menemui malaikat maut.
Sebuah penyesalan selalu ada diakhir perjalanan. Merasa nyaman didepan sebuah pusara ibu tercinta.
***
RENDEZVOUS.......perjalanan panjang! memunguti satu persatu kenangan masa kecil disebuah kota kecil Banyuwangi!
 MERINDUKANMU IBU!

catatan lama setelah satu bulan hiatus! 
Aku kembali dalam catatan-catatanku. Dalam perjalanan panjang

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Ceritamu membuatku terharu biru dan sangat menyentuh, yaa.. Keluarga bagaimanapun adalah bagian dari jiwa, mereka adalah segalanya, yg membuat hati ini nyaman dan bahagia, semangat mba..Matahari sinarnya tak akan pudar walau mendung duka menerjang..salam kangen slalu untuk, serius aku menitikan air mata membacanya mba.Latifah sahabatmu..

catatan kecilku mengatakan...

Kembali ke tanah kelahiran, kembali ke kampung halaman dan kembali pada kenangan masa lalu... sungguh sangat sulit utk dilepaskan.
Semoga kehadiran mbak Raa kembali ke Banyuwangi mampu memberikan suntikan semangat utk menjalani hari2 yang akan datang.

NDA mengatakan...

kirim alfatihah yuk mbak :)