4 Mar 2010

SURAT PADA Y (3)

Entah....sudah berapa lama aku meninggalkan mu dalam kesendirian. Bagimana kabarmu? bagaimana tanahmu? bagaimana hujanmu? bagaimana senjamu? bagaimana secangkir kopimu?
Hhhhmmmmmmm.........rindu ini membuncah. Benar-benar mebuncah apalagi saat aku melewati tanah-tanah yang sangat kau cintai. Aku tau besarnya cintamu pada tanahmu sebesar cintaku pada tanah Blambanganku.


Y......aku sekarang kembali pada tanah Blambanganku. Tanah tempat aku dibesarkan dimana ari-ariku di larung di Selat Bali untuk kembali ke tanah ini, Banyuwangi. Andai kau menemanimu dalam perjalanan ini.
Kau tau? tanah Blambanganku sangat indah. Benar-benar indah. Perpaduan antara pegunungan dan lautan yang tak akan pernah kau temukan di tanahmu yang sedikit gersang (kau jangan tertawa saat ku sebut tanahmu gersang, karena tanahmu benar-benar sudah retak dan tak bisa agi dibuat untuk tempat tinggal).

Kelak kau akan ku ajak menelusuri bentangan pantai yang sangat indah. Pasirnya hitam, dan dapat kau gunakan untuk mengubur kakimu untuk mengurangi nikotin di tubuhmu. Ini merupakan cara turun temurun yang dilakukan oleh keluargaku untuk menjaga kesehatan. Dan yang lebih mengasyikkan lagi adalah saat melihat matahari terbit yang seakan-akan muncul dari Pulau bali yang jaraknya hanya sekitar 4 sampai lima kilometer dari bentangan pantaiku. Dan aku yakin kau akan menyukainya. Seperti diriku yang kuat duduk berjam-jama setelah shubuh sampai jam 10 pagi menjelang siang hanya untuk menikmati proses munculnya sang Pangeran Matahari. Seperti yang sempat ku katakan padamu, "Mataku pernah buta menatap cahayanya" Dan aku ingin lakukan itu bersamamu. Tidak perlu bergandengan tangan. Cukup saling bercerita tentang perjalanan hidup kita. Sambil sesekali membetulkan letak posisi duduk dengan harapan agar aku bisa sedkit menyentuh ujung jemarimu.

Dan jika malam telah tiba kau akan ku ajak menyelusuri sudut lain dari pantai ditanahku. Pantainya lebih landai dengan pandangan bebas lepas tanpa ada yang menghalangi. Apalagi jika malam itu adalah malam pertengahan bulan. Wow.......aku selalu spcehles pada saat-saat seperti ini. Bulan penuh tepat berada di atas selat Bali dan cahanya membentuk satu garis lurus yang aku lihat sama persis dengan cahaya saat film Mister Bean dimulai. Dan mungkin kita akan sama-sama menghabiskan bercangkir-cangkir kopi sambil berdiskusi tentang bulan, samudra, hujan dan juga secangkir kopi. Dan kita akan disuguhi sebuah pantomim Maha Akbar yang di sekenario oleh- Nya. Dan sekali lagi aku yakin dan percaya kau tak akan pernah menemukan pertunjukan itu di tanahmu yang kini dan kering dan tandus.
Ah Y......aku benar-benar merindukanmu menemaniku untuk menikmati setiap jengkal tanahku.

Dan aku akan mengajakmu untuk menelusuri bentangan setapak jalan menuju gunung Ijen. Kau tau kenapa disebut Ijen?. Ijen dalam bahasa jawa artinya sendiri. Dan gunung Ijen benar-benar gunung yang menyepi, sendiri dan terpisah dari jajaran pegunungan lain. Gunung Ijen itu adalah gunung yang egois dengan ketinggian 2.443 m. Ia tak mau menyatu dengan yang lain dan sepertinya aku berjodoh dengan "Sang" Ijen. Karena kami sama-sama suka menyendiri. entah sudah berapa sering aku mengunjungai Sang Ijen yang egois itu seorang diri. Ah....aku jadi rindukan saat-saat itu. Jaraknya mungkin lumayan jauh. Hanya 17 kilometer dari desa Jambu, desa terakhir di kaki gunung Ijen.Dan aku pernah menyusurinya dengan jalan kaki, naik mobil belerang atau sepeda motor saat jalannya telah diperbaiki menuju ke tanah landai yang disebut Paltuding. Disinilah kita bisa istirahat. mendirikan tenda sambil membuat api unggun atau hanya sekedar mengistirahatkan diri di dalam kamar-kamar penginapan yang telah disediakan. Tapi entah kenapa, aku lebih memilih meringkuk di dalam tenda dari pada kamar penginapan yang hangat dan nyaman.Dan aku harap kau juga akan merasakan ketenangan penyatuan batin ini. Kau tau Y......gunung Ijen ini adalah gunung berapi aktif yang sudah empat kali meletus di kisaran tahun 1796, 1817, 1913, dan 1936. Bahkan sempat ada legenda yang mengatakan, letusan ini yang membuat pulau Bali terpisah dengan Jawa. Untuk kebenarannya aku tak pernah tahu. Oh ya.....disini kau juga bisa menyaksikan sang pejuang-pejuang yang mendaki untuk mendapatkan belerang. Dan aku dulu pernah membuat sebuah patung yang berbentuk stalakmit dari air belerang yang menetes dari tepi-tepi kawah. Subhanallah......! Sayangnya dokumentasinya tidak dalam bentuk digital. Dan kelak jika kau mengunjungi tanahku, akan kutunjukkan rentetan dokumentasi itu dengan kisah-kisahnya termasuk saat aku harus merangkak untuk menghindari "racun" yang sesekali keluar dari kawah pada waktu-waktu tertentu -dan kini aku baru tahu, angin racun itu adalah gas amoniak yang sewaktu-waktu bisa membunuh nyawaku -. Atau kau ingin yang lebih ektrim. Kita bisa mendakinya melewati Jalur Bondowoso, menginap di wilayah perkebunan Jampit - Perkebunan ini sempat digunakan untuk pembuatan film King. Dan selama melihat film ini aku seperti melihat sebuah slide-slide masa lalu. Karena seluruh lokasi tempat shuting film itu telah aku singgahi termasuk Pohon besar tempat "sang King" berlatih Badminton - singgah di Kali pait - air buangan dari kawah Ijen yang mengandung Belerang dan ampuh mengobati penyakit kulit - mendaki gunung Ijen dan turun lewat Kabupaten Banyuwangi. Wow.....kau akan mendapatkan sebuah pengalaman yang spektakuler. Dan inilah perjalanan yang sebenarnya. Perjalanan seorang Backpacker sejati - dengan motor tentunya, karena tidak ada kendaraan umum menuju kesana.
Dan banyak mimpi dan rencana jika kau menemaniku dalam perjalanan ini termasuk menyusuri pematang-pematang sawah atau sekedar blusukan  dalam pasar tradisional sambil berwisata kuliner. Atau kau ingin lebih menantang dengan mendatangi sebuah penambangan Emas ilegal dan "yang hampir berijin" dan semoga ijin eksploitasi itu dicabut karena dampaknya telah membunuh ratusan ikan di wilayah penghasil ikan Muncar. 
Y......aku benar-benar merindukanmu jika aku menjejak tanahku. Karena jarak antara kau hanya sekian kilometer - kau pasti mengelak jika aku katakan sekian kilometer karena yang benar ada ratusan kilometer walaupun tidak sampai mendekati angka 500 kilometer-. Arrrrrggghhhhhhhh.................Y! perjalananku terasa sepi tanpamu. Tunggu aku di kotamu. Walau hanya sekedar berjabat tangan dan melepas sedikit kenyataan! Aku merindukanmu dalam nyataku bukan dalam mayaku.  



Catatan kecil ini kupersembahkan pada Y,
pada tanahmu yang kehilangan kehidupandan
pada tanah Blambangan yang menjadi inspirasi tak pernah mati
dan pada sobat blogger yang masih belum sempat aku kunjungi

11 komentar:

Dhana/戴安娜 mengatakan...

salam sahabat
wah suratnya isi panjangggg banget,,,pada intinya kerinduan yang datang...semoga si Y-nya gimana gitu he..he..thnxs n good luck ya

the others... mengatakan...

Sekali lagi "Y" memberikan inspirasi utk sebuah surat yg indah.
Senang bisa membaca tulisan mbak Ira lagi... ^_^

catatan kecilku mengatakan...

Mbak Ira benar-2 cinta dg tanah kelahiran, Banyuwangi, ya..?

Abi Sabila mengatakan...

semoga si Y 'membaca' surat ini...

d'yans mengatakan...

Banyuwangi.....hmmm.......

duniaira.blogspot mengatakan...

@ dhana: suratnya bukan panjang lagi tapi supeerrrrrrrr panjang! nih sudah ada 3 babak Lagi rindu juga ta?
@ mbak reni: Hiks iya mbak......nggak tau kenapa ya aku cinta banget sama Banyuwangi Halah...maaf masih belum sempat pasang award dari mbak reny
@ abi: Aku yakin kok si Y udah baca hahahahahahahahaha
@ d'yans : upss.....ada orang baru kah disana?

NURA mengatakan...

salam sobat
wah bangga pastinya teman "y" mba Ira,,
diberikan catatan ini yang penuh rindu dan ingin bertemu di dunia nyata bukan dunia maya.
apa kabar mba Ira?

harto mengatakan...

panjang baneeeet.... cape deeh bacanya. lagi kangen yaaa, mo ketemuan niiih.... selamat yaa smg berbahagia.

ninneta mengatakan...

semoga mba Ira bahagia terus ya..... -Amin-

mahesa wira mengatakan...

aku nggak tau ini cerpen atau bener2 surat mbak ira buat si Y...gaya nulisnya sangat hidup...walaupun panjang banget aku suka....seperti mendengarkan orang cerita di depanku saja....salam kenal...

Anonim mengatakan...

Before finding out about links of london uk watches you should be familiar with some of the terminology. cheap links of london The word horology has two meanings; it is the study or science of measuring time links london jewellery or the art of making clocks, watches, and devices for telling links of london sale time.Since the first appearance of man on the earth an effort has links of london silver been made to determine time.The tracking of the sun's movement across discount links of london the sky, candles that were marked at intervals.Water clocks did links of london bracelet not depend on the observation of the sky or the sun.