19 Jan 2010

MULYONO : ANTARA SUNDA WIWITAN DAN FACEBOOK

Nama lengkapnya Mulyono Era. Namun dia selalu membiasakan diri dengan memanggil namanya sendiri dengan Mul. Memang nama Muyono tidak lazim di gunakan oleh masyarakat Suku Baduy. Mul sempat bercerita jika namanya diambil dari seseorang yang bernama Mulyono yang membatu kelahirannya. Saat aku menanyakan arti nama Era dibelakang namanya, Mul mengatakan, “ Era dalam bahasa Sunda artinya malu, ini berarti Mul anak yang pemalu teh”. Mul baru berusia 15 tahun tapi saat pertama kali bertemu dengannya dan menatap matanya yang tajam aku menemukan sosok dewasa serta sebuah dunia yang penuh harapan.
Mul adalah anak pertama dari dua saudara pasangan keluarga Kang Sarpin. Induk semang ku saat tinggal di Desa Balimbing Baduy Luar. Kang Sarpin adalah Ketua Gapoktan Kahuripan (semacam kelompok tani) sekaligus penggiat pemberantasan buta aksara di wilayah Baduy. Seperti umumnya masyarakat Baduy lainnya, Kang Sarpin tidak sekolah, namun ia mempunyai kemauan keras untuk bisa membaca dan menulis. Hingga usia 13 tahun, Kang Sarpin belajar membaca dan menulis di tetangganya secara otodidak. Keinginan untuk maju terus ada hingga akhirnya Kang Sarpin telah mengambil ujian kesetaraan Kejar Paket A. Hampir setiap sore, Kang Sarpin mengumpulkan anak-anak tetangganya untuk belajar membaca dan menulis. Tidak hanya anak-anak, Kang Sarpin juga mengajarkan baca tulis untuk orang dewasa.
Semangat Kang Sarpin untuk lebih maju ternyata menular pada anaknya, Mul. Aturan dan adat suku Baduy mengikat kebebasan masyarakat Baduy untuk mengenal dunia pendidikan secara formal. Mul dan anak-anak Baduy lainnya tidak bersekolah. Saat Home Schooling baru d perkenalkan, sebenarnya Suku Baduy sudah mengenalnya sejak lama. Anak-anak Suku Baduy langsung belajar dari orang tuanya. Para anak laki-laki diajarkan untuk berladang. Sehingga tidak heran jika sepanjang jalan kita akan menemukan anak usia tiga tahun sudah membawa parang. Aku saja sempat bergidik ngeri, melihat senjata tajam yang tidak seharusnya dibawah oleh anak-anak. Sedangkan untuk anak perempuan, para Ibu mengajarkan tentang ”kerumahtanggaan”, termasuk mengajarkan untuk membuat kain tenun. Membuat kain tenun bagi perempuan Baduy memang bukan menjadi aturan adat, tapi merupakan tradisi budayayang akan terus dilestarikan (sepertinya aku harus membuat catatan khusus untuk perempuan-perempuan kuat di Baduy).
Namun berbeda dengan layaknya anak Baduy, Mul mengatakan,” Kalo Mul, sampe usia 7 tahun kadang-kadang masih di gendong sama Bapak waktu berangkat ke Ladang. Padahal banyak anak-anak yang usianya baru 3 tahun sudah berjalan sendiri ke Ladang”.

Saat saya menanyakan hal itu pada Kang Sarpin, dia hanya tersenyum saling berkata, ”Anak-anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Termasuk Mul yang masih kecil, dia adalah tanggung jawab saya”.
Aku dan Mul berbicara panjang lebar dari hati ke hati saat menunggu hujan reda di pinggir jembatan bambu. Walaupun lelah pulang dari ladang, tapi Mul masih mau mengantarkan kami menuju desa Gazebo untuk melihat jembatan bambu yang menghubungkan ke Baduy Dalam. Seperti halnya Kang Sarpin, Mul sangat lancar menggunakan Bahasa Indonesia, dan hal ini sangat berbeda dengan masyarakat Suku Baduy lainnya yang menggunakan Bahasa Sunda dialeg Sunda Banten. Ia mengatakan bisa menggunakan Bahasa Indonesia karena diajarkan langsung oleh ayahnya. Kemampuannya semakin terasah karena sering mengantarkan para pengunjung yang sebagian besar adalah Mahasiswa dan peneliti. ”Mul seneng banget teh, kalo ada tamu dari mahasiswa. Soalnya mereka sering bercerita tentang hal yang Mul tidak tahu. Seperti Facebook”
Aku melongo, “Facebook Mul”
Remaja tanggung itu menganggukkan kepala. Dia sudah 6 bulan ini menggunakan Facebook. Dengan semangat ia bercerita perkenalannya dengan Facebook. Waktu itu, rombongan Mahasiswa dari Jakarta sedang melakukan penelitian di Baduy dan tinggal dirumahnya. Para Mahasiswa itu banyak bicara tentang Facebook. Karena penasaran, Mul sempat bertanya tentang apa Facebook. Beberapa mahsiswa itu langsung menjelaskan secara panjang lebar Facebook pada Mul, termasuk menggambar aplikasi Facebook dengan pensil. Mul berusaha memahamina.
“Karena penasaran, Mul sama saudara Mul pergi ke Rangkas. Mul ingat, kata Aak Mahasiwa, Mul bisa buat Facebook lewat Internet. Mul nekat masuk ke warnet, padahal Mul sama sekali tidak tahu apa itu komputer. Apalagi tombol-tombol yang nggak Mul pahami. Untungnya ada yang bantu, akhirnya Mul punya Facebook. Tapi Mul belum begitu paham. Setiap ada mahasiswa yang datang ke rumah, Mul selalu tanya-tanya tentang aplikasi Facebook. Akhirnya sekarang Mul sudah lancar menggunakan Facebook. Apalagi, sejak Bapak membelikan Handphone buat On Line. Mul seneng banget. Mul jadi bisa belajar banyak dan bertemu dengan orang-orang baru”
Aku semakin tertarik dengan perbincangan ini, ”Banyak yang menggunakan Facebook?”, tanyaku. Mul tersenyum, ”Cuma 3 orang teh. Mul sama kedua saudara Mul. Yang lain, jangan Facebook, internet aja nggak ada yang tau. Banyak yang bilang, kalo keluarga Mul ini sedkit lebih maju dibandingkan keluarga lain. Apalgi ibu sekarang juga mulai pake kompor gas”
Entahlah apa yang dipikirkan Mul saat menceritakan hal itu kepadaku. Raut mukanya terlihat senang dan sepertinya banyak yang ingin ia tanyakan padaku.
Perlahan aku kembali bertanya, ”Mul......kamu nggak pingin sekolah?. Maaf ya kalo teteh tanya ini ke kamu”
”Siapa sih teh yang nggak pingin sekolah. Mul kepingin banget sekolah. Tapi Mul harus megang adat dari masyarakat Baduy. Kami dilarang bersekolah. Kalau seandainya Bapak dan Mul memaksa untuk sekolah berarti kami harus keluar dari Baduy. Lalu siapa yang akan megang adat Baduy?. Mul sadar kalau Mul lahir di Baduy dan Mul harus mengikuti adat di masyarakat disini. Tapi Mul banyak belajar dari Bapak, teh. Soalnya bapak sering diundang ke luar Baduy untuk mengikuti acara-acara seminar pendidikan, pameran-pameran. Biasanya kalau diperbolehkan Mul pasti ikut”.
Sepanjang perjalanan dari jembatan bambu ke rumah Mul aku kehabisan kata. Langkah kaki Mul terlihat sangat ringan. Mukanya tenang, polos dan sangat terlihatan kecerdasannya. Kenapa aku berkata seperti itu? karena aku punya feeling kalau kelak Mul akan menjadi orang penting paling tidak untuk kemajuan masyrakatnya.
(aku dan Mul, laskar pelangi dari tanah Baduy)

***
Senja mulai temaram. Dan Mul masih duduk manis di dalam rumah panggungnya sambil memainkan handphonenya. Entrah kenapa, aku lebih tertarik memperhatikan Mul dari pada anak-anak lain yang banyak bermain disekitar rumah. Layaknya pemuda kota, Mul menggunakan celana jeans biru dan kaos putih. Dia terlihat lebih rapi dari pada pertemuan kami sebelumnya. Kulitnya putih bersih. Indera keenamku mengatakan ada sesuatu pada diri Mul yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Tangannya asyik memainkan tombol Handphone.
”Online...”
”Nggak teh. Dengerin lagu”
Aku lihat ada tumpukan berkas milik Kang Sarpi dan tentu saja aku tak berani membukanya. Tapi aku yakin itu adalah kumpulan berkas penelitian atau sejenis laporan tentang pendidikan serta tentang kebudayaan suku Baduy. Tapi aku lebih tertarik dengan buku bacaan komik tentang Abu Nawas.
Aku mengambilnya, “Ini punya Mul?. Ia mengangguk sambil mempersilahkan aku duduk disebelahnya.
”Mul suka membaca?”. Untuk kedua kalinya ia mengagguk, ”Tapi jarang Teh soalnya nggak ada buku yang bisa dibaca”
Aku langsung beranjak mengambil ranselku dan mengambil sebuah novel yang selalu ada alam tasku. Judulnya Liur Emas. Novel yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat Karang Bolong sebagai pengambil Sarang Walet dengan latar belakang sejarah kemerdekaan. Aku belum selesai membacanya, tapi aku yakin novel ini lebih berguna disini.
”Teteh nggak bawa novel lagi selain ini. Memang sih ceritanya agak berat dibandingkan komik. Tapi paling tidak bisa kamu baca”
Tanpa berekspresi apa-apa dia mengambil novel itu dan membolak-balik memperhatikan sampul novel itu.
”Mul sudah pernah baca Laskar Pelangi atau liat filmya”
”Belum teh, tapi Mul sudah tau ceritanya dari Bapak waktu diundang nonton film”
”Teteh nggak janji tapi teteh akan usahakan untuk mengirim novel itu untuk kamu. Mul wajib baca novel itu”
Dia mengangguk. Dan senja itu menjadi saksi saat seorang pemuda tanggung dari Suku Baduy bernama Mul membaca sebuah novel di balik jendela dengan cahaya temaram sang Senja. Jujur.....aku langsung menyembunyikan air mataku melihat pemandang senja itu. Kekuatan Mul untuk belajar membuat ku selalu kalah. Senja itu ak berjanji akan mengirimkan Novel Laskar Pelangi termasuk tetralogi lainnya, Novel Sang Pemimpi, Novel Edensor dan Novel Maryamah Karpov karya Andrea Hirata yang menjadi koleksi di perpusatakaan kecilku. Karena disini di sudut Baduy, aku benar-benar menemukan Laskar Pelangi sesungguhnya. Mul, Laskar Pelangi dari Baduy.
***
Malam semakin beranjak. Tak ada sinar. Hanya nyala lampu tempel ataupun lilin yang bertebaran di wilayah Baduy bersama dengan seribu kunang-kunang. Makan malam telah selesai. Tinggal hujan kecil yang mengiringi perbincangan kami.
”Kang....kenapa Mul nggak disekolahkan saja dilura”
”Nggak mungkin mbak. Adat kami melarang. Saya yang akan mengajarinya sendiri. Karena jika membiarkan Mul sekolah tiap hari, maka keluarga kami akan mendapat sorotan tajam dari adat. Nanti saya akan mengikutkan Mul pada ujian kesetaraan. Kejar Paket A hingga nanti kejar Paket C. Walaupun tidak formal, tapi anak saya harus lebih maju dari bapaknya. Tentu saja dengan memegang adat dan agama kami Sunda Wiwitan. Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.”
Kang Sarpin dan Mul, dua laki-laki dari generasi yang berbeda. Tapi mempunyai semangat yang sama untuk lebih maju dengan tetap memegang teguh adat budaya. Ah....ternyata Kang Sarpin, mempunyai konsep pendidikan yang tidak ada di buku-buku yang telah aku bac, atau dari seminar-seminar yang penuh kebohongan. Di sudut terkecil tanah sunda, aku menemukan seorang Mentor sekaligus Dosen yang mengajarkan padaku tentang sebuah semangat untuk maju dengan tidak meninggalkan tanah yang kita pijak. Seorang dosen yang tulus memberikan ilmu tanpa harus membanggakan deretan title di depan dan belakang namanya. Aku menjadi sangat kecil di depan Kang Sarpin dan Mul. Maha Guru, selain ibuku, yang ku temukan selama perjalanan hidupku
***
”Teteh pulang sekarang Mul”
Aku menjabat tangan kecilnya. Dia juga menyambutnya. Aku merasakan getaran yang beda saat kami bersalaman.
”Teteh jadi kan ngirim novel buat Mul”
Aku mengangguk kuat untuk menyakinkan dia untuk mengirimkan novel itu untuknya. Berat....sangat berat kakiku meninggalkan Bumi Baduy. Meninggalkan Mul dengan semangatnya, meninggalkan keluarga Sarpin dengan ketulusannya. Dan aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya ada janji akan segera mengirimkan Novel itu untuk Mul.
Aku melangkahkan kaki tanpa berani menoleh kebelakang. Menuju kembali ke dunia yang penuh kemunafikan. Dari dataran tinggi, aku masih bisa melihat atap rumah keluarga Sarpin seakan memanggilku untuk kembali.
Dan hal yang terbodoh aku lakukan adalah aku lupa menanyakan nama ID Mul di Facebook serta meminta nomer Hpnya. Arrrgggghhhhhh......aku menyalahkan diriku sendiri. Tapi tak apalah, aku sudah memegang alamat rumah Mul. Dan seperti janji ku, akan segera ku kirim tetralogi Laskar Pelangi, untuk Laskar Pelangi dari Baduy.
Mul....yang hidup antara Sunda Wiwitan dan juga Facebook. Dua dilema yang tak pernah bisa dipaksa untuk dipilih.

Aku, Ika dan Keluarga Kang Sarpin


Catatan ini aku persembahkan kepada seluruh masyarakat Baduy
Kang Sarpin, Ibu, Mulyono dan adik
serta semua orang yang peduli dengan pendidikan








17 komentar:

Ivan Kavalera mengatakan...

Usai menuntaskan baca ini, tiba-tiba saya teringat lagu "Sang Pengabdi" Iwan Fals.

reni mengatakan...

Aku baru tahu kalau ternyata adat di Baduy melarang anak bersekolah...
Beruntungnya Mul memiliki bapak yg memiliki visi jauh ke depan dan sangat peduli dg pendidikan.
Rasanya pengalaman mbak Ira tak akan tergantikan oleh apapun juga....

duniaira.blogspot mengatakan...

@Mas Ivan: benar mas...Sang pengabdi! pengadi pada adat dan pengabdi pada pendidikan Andai pare pemimpin negeri ini belajar pada Kang Sarpin dan Mul......
@Mbak Reni: Seandainya ada kesempatan, Mbak Reni bisa ngajak Shasa mengunjungi saudara kita di Baduy. Aku yakin Shasa akan bisa lebih suvive. Aku sendiri sedkit berjanji kelak kalau aku mempunyai anak akan aku ajak mengunjungi mereka. Aku benar-benar jatuh cinta pada suku Baduy

yans'dalamjeda' mengatakan...

Eeeeh ternyata di sini kamu Mul?! Pantesan Aa' cari-cari kok ngga ada? Liur emas dari teteh di baca ya!

yasuyassyash mengatakan...

waa..

*ga bisa berkata-kata

duniaira.blogspot mengatakan...

@yans: ntar klo teteh balik ke Baduy tak samapaikan salam Aa' buat Mul ya hihhihi....akhirnya bisa juga bahasa sunda nggak cuma Suroboyoan Rek...
@Yasuyassyah: kenapa nggak bisa berkata-kata?

REYGHA's mum mengatakan...

What a great father ya kang sarpin dan itu menurun pada anaknya Mul...sekali lagi mba ira emang hebat kalo nulis...aku sampai berkaca kaca lho. Thanks ya ceritanya nambah wawasan.

nuansa pena mengatakan...

Lagi-lagi perasaanku terbawa oleh tulisan Mbak Ira, jika banyak anak muda seperti Mul, kemajuan akan cepat merubah suku baduy untuk membuka diri mempersilahkan anak kesayangan mereka untuk sekolah! Salut dengan Kang Sarpin punya anak seperti Mul!

JHONI mengatakan...

wah saya baru tahu ternyata masyarakat Badui dilarang bersekolah?!?!? dan itu adalah adat yang harus dipegang ya!?!?!

ir.....salut untuk kamu dan mul!!......semoga si mul bisa memberikan perubahan positif terhadap perkembangan msyarakat badui kelak!!!!

Yusnita Febri mengatakan...

klo udah terbentur adat susah juga yaa mba..
aku salut sama bapaknya Mul, mau ngajarin anaknya walau gak bisa sekolah. setidkanya anaknya bisa maju..
thx ceritnya mba, aku jadi tambah tahu suku baduy

Kabasaran Soultan mengatakan...

Dimana-mana ternyata ada yang namanya mutiara terpendam...

nice story

Salam buat Mul

ninneta mengatakan...

Salam sobat, datang mempererat silaturahmi... maaf baru mampir lagi... kesehatan memburuk baru membaik... Semoga selalu dalam kebahagiaan...

Ninneta

Syifa Ahira mengatakan...

baru tau kalo ternyata di badui dilarang untuk sekolah. terharu akan semangat mul yang tidak ada apa-apanya dibanding semangatku meraih sesuatu..
jangan lupa dikirimkan novelnya ya mba ira.. kasian mul..

Ika Ningtyas mengatakan...

Aku justru punya pandangan beda (hihi biar kesannya demokratis). Belitong di novel laskar pelangi kukira sangat berbeda kondisinya dengan Baduy. Pertama, minimnya akses pendidikan di sana akibat kesenjangan pembangunan yang sangat kontras dengan eksploitasi sumber daya alamnya. Sedangkan Baduy, tidak adanya sekolah karena memang secara adat Baduy tidak mengenal konsep sekolah modern/formal seperti dunia di luarnya.

Kedua, kebudayaan Balitong yang melayu tidak pernah melarang anak-anaknya sekolah. Orang-orang melayu dikenal pekerja keras, haus ilmu, tidak pantang menyerah, dan muslim taat. Ini terbukti dari sekian nama orang Melayu yang sangat berperan penting bagi negara ini, seperti Tan Malaka. Sebaliknya, Baduy, larangan sekolah masuk sebagai salah satu adat yang pantang dilanggar hingga anak cucu.

Ketika ada adat larangan sekolah formal ini, apa berarti masyarakat Baduy terbelakang? Bodoh? Dan karena itu harus diberi pencerahan untuk dimasukkan ke sekolah-sekolah formal? Saya kira tidak begitu. Mari untuk sementara kita tanggalkan dunia kita, dunia yang kita anggap lebih tinggi dari mereka.

Baduy memang tidak mengenal sekolah formal. Sekolah yang mereka kenal adalah belajar dari kearifan pendahulu. Belajar menyatukan hidup dengan alam. Mereka mempelajarinya dari orang tua, tetangga, dan sesepuh adat. Belajar dari tutur dan sikap -karena mereka tak mengenal tulisan.

Sekolah versi Baduy adalah yang bisa disaksikan dengan mata, didengarkan dengan telinga, dan dirasakan dengan hati. Mereka pantang menebas hutan, membunuh satwa dan mencemari sungai. Lelaki memperlakukan perempuan seperti memperlakukan diri mereka sendiri. Warisan dibaginya dengan adil tanpa melihat kelamin. Pergi ke ladang tanpa melihat kau perempuan kau lelaki. Anak-anak sedari kecil dikenalkan kerja keras, tak boleh cengeng,tapi tetap memberikan mereka waktu untuk bermain. Mereka tetap membangun rumah-rumah yang kokoh,hangat dan bersahaja. Membuat tenun yang indahnya aduhai di mata. Cobalah cari pencuri, tidak akan ada orang jahat di sana. tidak ada kata-kata kotor dari mulut mereka ke sesamanya. Semuanya hidup damai, berdampingan, saling mendukung, dan menghargai. Ah, hidup demikian bagi kita di luar komunitas mereka barangkali hanya dapat kita rasakan di surga (kalaupun surga itu benar adanya, hehe).

Perubahan sedikit demi sedikit, terjadi juga di Baduy ketika kawasan itu dicanangkan sebagai wisata Baduy. Orang-orang luar -yang mengaku diri mereka lebih beradab, ramai-ramai menonton Baduy. Barangkali reaksi mereka sama ketika Belanda datang ke Indonesia: melihat orang-orang bodoh yang butuh pencerahan.

Terlalu seringnya orang luar masuk, membuat Baduy Luar mulai terpengaruh budaya di luar mereka. Mula-mula alas kaki. Lalu baju, kaos, bahasa, handphone, facebook, sampai kompor gas.

Orang baduy pun mengira kita orang-orang hebat. Padahal mereka tidak tahu, kalau hutan di Kalimantan habis dibabat manusia yang punya gelar atau pendidikannya sampai ke luar negeri. Mereka tidak tahu, kalau di NTT sungai-sungainya banyak rusak karena pertambangan. Mereka awam, kalau banyak sarjana, profesor, dijerat karena suka korupsi. Mereka masih buta, kalau manusia-manusia di luar merekalah yang menyebabkan alam hancur lebih cepat. Bahkan yang akan mengancam kedamaian di bumi Baduy.

Lalu apakah salah jika kita berkunjung ke sana? tidak, sama sekali tidak. Orang-orang di luar Baduy wajib berkenalan dengan mereka dan menyaksikan kedamaian di sana. Tapi bukan untuk merusak atau memaksakan 'peradaban' kita. Sebaliknya, kita lah yang harus belajar dari kebersahajaan mereka.

Saya tetap sepakat biarlah Baduy tetap Baduy dengan segala keesotikannya. Memaksakan peradaban formal seperti jalan kita, hanya akan membuat mereka keluar meninggalkan adat. Ketika ini benar-benar terjadi, maka Baduy tinggalah cerita dalam buku-buku Antropologi.

Biarlah perubahan terjadi secara alamiah, di tangan orang-orang Baduy sendiri.

duniaira.blogspot mengatakan...

@all: tenkyu atas apirasinya
@Ika: huwaaaaaaaa...ternyata teman seperjalananku juga coment disini Thanks ya Ka! atas ke"demokratis"annya

13ahar mengatakan...

dari kaum lelaki; andrea hirata

dari kaum perempuan; ira rachmawati

mungkin ga' Mbak?

ranii mengatakan...

saallluuutttt bangeettt!! mau dunk ID fesbuknya Mul.. heheehe