15 Jan 2010

MALAM DI RANGKAS BITUNG

Memaksa menulis walaupun sudah mendekati tengah malam dengan bantuan laptop teman.
Perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus mengasyikkan dari Jakarta menuju Rengas yang jaraknya sekitar kurang lebih 100 meter. Setelah naik turun angkot dari Blok M menuju Kalideres akhirnya menemukan juga Bis jurusan Rengas. Bis ekonomi sengaja kita pilih, karena kami ingin benar-benar merasakan Backpacker kembali. Dan ternyata hanya dengan 17.500 kita sudah sampai di daerah Rengas. Perjalanannya? cukup memberikan pengalaman beda bagiku karena aku sudah lama sekali tidak memanggul rensel heheheheheheh.....
Perjalanan panjang dimulai dengan menembus kemacetan di Kalideres, melewati tol untuk keluar dari Jakarta hingga melewati pemandangan yang sangat berbeda. Pemandangan yang masih alami. Bisnya juga cukup menarik bagiku. Bus kecil dengan isi penumpang full dan juga musik dangdut dengan kedua speaker didepan sopir. Mengingatkan ku pada Novel "Sang Pemimpi" karya Andre Hirata. Dan setelah masuk di wilayah Rengas. Jalan aspal berubah menjadi lautan lumpur.
aku sempat bertanya sendiri dalam hati, "Ini aspal yang berbatu atau batu yang beraspal?".
Yang membuat aku mengelus dada adalah ternyata banyak juga industri yang berskala nasioanal yang ada di penjang perjalanan menuju ke Rangkas. Dan jalan-jalan rusak berlumpur itu berada di tepat di depan perusahaan-perusahaan nasional itu. Fuich.....padahal aku yakin. Perusahaan-perusahaan itu yang mempunyai kepentingan terbesar menggunakan jalan untuk mengangkut hasil mereka ke kota.
Aku bertanya sendiri kenapa mereka tidak menyisihkan sedikit keuntungan mereka untuk memperbaiki jalan-jalan rusak yang menjadi akses transportasi mereka. Sepanjang perjalanan  bus yang aku naiki  selalu berpapasan dengan truk-truk bermuatan berat yang seharusnya menggunakan jalan jenis A, tapi meraka tetap memaksakan diri melewati jalan yang berlumpur. Sesekali aku juga melihat beberapa pengedara sepeda motor yang terpeleset karena kondisi jalan yang licin. Fuich.......kenapa masyarakat kecil selalu menderita? kenapa kekuasaan tak pernah berpihak pada mereka? apakan ini yang dinamakan keadilan? mereka masuk ke daerah pinggiran, mengambil tanah mereka tapi tak memberikan fasilitas yang mencukupi bagi mereka.  Dan aku yakin mereka pasti adalah buruh. Rumah-rumah mereka tenggelam diantara pabrik-pabtrik yang menjulang.
Busk sudah terlihat lelah karena kepenuhan penumpang apalagi kondisi jalan yang berlumpur. Aku sendiri merasakan seperti menaiki perahu. Goyang kanan goyang kiri.....mengikuti nyanyian dangdut. Dan aku bener-bener menikmati perjalanan ini.
Rencana awal, kita menginap di Baduy Luar hari ini, tapi ternyata meleset. Kita kemalaman dan tidak memungkinkan untuk menuju Ciboleger, pintu masuk utama ke perkampungan Suku Baduy. Tak apalah, mencari hotel di daerah Rengas ternyata cukup sulit, dan kita menemukan satu-satunya hotel di wilayah itu. Harganya.....bagiku sih lumayan mahal. Karena dengan harga sama, di Banyuwangi aku mendapatkan kamar di Hotel pinggir pantai dengan view yang mantab. Biarlah, walaupun sedikit mahal dengan model backpacker, patungan pun jadi dari pada tidur di jalanan tanpa ada jaminan pengamanan. Paling tidak dengan tidur di hotel aku bisa menulis postingan ini.
Sudah hampir tengah malam....sepertinya aku harus mengakhiri tulisan ini. Karena besok selepas shubuh perjalanan ini akan diteruskan. Perjalanan yang aku yakin akan lebih melelahkan dan lebih seru dari pada hari ini. Oh ya.....semoga esok aku tidak lupa untuk membeli ikan asin dan terasi serta rokok kretek untuk sahabat-sahabatku di pedalaman Baduy.
Catatan kecilku malam ini harus ku akhiri. Maaf tak ada postingan foto di dua tulisan terakhirku karena tidak memungkinkan untuk upload foto
Selamat malam kawan

5 komentar:

Ivan Kavalera mengatakan...

Perjalanan yang asyik nih. Oh ya kapan nih recording voiceny, mbak? Ditunggu lho hehehe. Met wiken ya.

Noor's blog mengatakan...

Dari Jakarta menuju Rengas : 100 meter ? semoga petualangannya menyenangkan...

13ahar mengatakan...

keep survive Mbak Ira

anganku suatu saat bisa turut dalam perjalanmu,,

ku nanti goresanmu lagi

Good Luck!!!! 13,

reni mengatakan...

Hebat... masih sempat posting juga ternyata...
Ditunggu kelanjutan ceritanya.

Anonim mengatakan...

Before finding out about links of london uk watches you should be familiar with some of the terminology. cheap links of london The word horology has two meanings; it is the study or science of measuring time links london jewellery or the art of making clocks, watches, and devices for telling links of london sale time.Since the first appearance of man on the earth an effort has links of london silver been made to determine time.The tracking of the sun's movement across discount links of london the sky, candles that were marked at intervals.Water clocks did links of london bracelet not depend on the observation of the sky or the sun.