10 Des 2009

SAAT TETANGGA TIDAK "BERTETANGGA"

Entah kenapa, selama ini aku di takdirkan tinggal di daerah-daerah yang mempunyai daerah private yang tidak mewajibkan aku untuk bersosalisasi dengan tetangga Di Banyuwangi, aku besar di rumah pinggir jalan utama menuju Pelabuhan Ketapang menuju Pulau bali. Dan aku tidak memunyai tetangga, selain toko meubel dan lapangan parkir truk. Saat kuliah pun, aku memilih satu kamar di lantai atas yang juga memberi jarak aku dengan para penghuni kost lainnya. Dan aku adalah orang yang sangat sulit untuk bertetangga. Aku merasa lebih nyaman berada di dalam rumah berjam-jam, lebih memilih berdialog dengan laptop dari pada ngbrol nggak karuan dengan tetangga. Lebih memilih membaca buku Sukarno Penyambung lidah rakyat dari pada harus bergosip ria di pagi hari.


Tapi tidak saat aku tinggal di Jakarta!!!!!

Di  Jakarta aku harus tinggal di wilayah perkampungan. Dan Tuhan.......!!! aku sangat sulit untuk beradaptasi!!! Berbaga macam cara sudah aku lakukan, mulai belajar untuk ngobrol dengan ibu-ibu, walaupun temanya sangat-sangat tidak nyambung dengan piranku. Belajar berbelanja sayuran di warung kecil (yang biasanya aku lakukan seminggu sekali di pasar besar) sambil sesekali nggomongin tetangga baru walaupun jujur aku nggak bisa menerima hingga saling berkirim makanan antar tetangga walaupujn aku tidak bisa masak. Bahkan tidak jarang aku mengundang para tetengga untuk makan-makan di rumah walaupun hanya sekedar sayur asem yang aku beli dari warung betawi di gang depan rumah!

Dan malam ini adalah puncak kesabaranku!!!!!!

Niatku belajar untuk belajar bersosialisasi dengan tetangga sepertinya harus berhenti disini. Aku akan kembali ke sikap awalku! diam dan tak perlu keseringan bergaul dengan tetangga. Alasannya sederhana. Secara tidak sengaja malam ini aku keluar dan duduk di teras rumah. Tetangga depan rumah mengadakan selamatan, dan aku baru sadar hanya rumahku yang tidak di undang dan tidak diberi berkat selametan!!! sedangkan tetangga-tetangga samping rumah semua dapat!! ironisnya lagi, bagi-bagi berkat itu dillakukan di depan rumahku. Tuhan.....rasanya perasaanku sakit banget! memang sih sederhana, tapi aku lmenyadari bahwa ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal yang tidak adil ini.

Akhirnya aku merasa bahwa pengorbanan yang aku lakukan selama ini sia-sia.!!! Belajar ngrumpi, belajar nonggo (istilah jawa ang artinya berkunjung ke tetangga) tidak akan aku lakukan lagi!!!! Mending hidup wajar apa adanya dengan style ku sendiri. Yang penting aku tidak menutup mata saat tetangga sakit, tetangga meninggal, tetangga hajatan dan saat tetangga membutuhkan.


Aku jadi ingat nasehat almarhum ibuku!!! Hidup bertetangga itu seperti gelas.kaca Kalau di tata terlalu dekat, maka gelas kaca itu mudah pecah, Karena itu harus ada jarak, biar gelas kaca itu tidak mudah retak! Dan aku akan pegang nasehat itu!!!! aku nggak mau bermasalah dengan tetangga hanya karena aku berusaha dekat dan memhami mereka. dan aku akan hidup seperti styleku sendiri dan tidak akan memaksa diri untuk mengikuti gaya hidup orang lain. Semoga Tuhan memberiku rejeki agar aku bisa mencari tempat tinggal yang aku harapkan!!! agar aku bisa kembali hidup normal seperti sebelum aku tinggal di Jakarta!!! Fuich...semoga!!!

Cataan untuk koleksi bukuku, Aku akan memilih membacamu dari pada nggosip yang tidak jelas dengan para tetanggaku! Whatever.....


21 komentar:

rismahutabarat mengatakan...

Waahh..kita sepertinya sama dan sejenis nih, Ra. Lebih suka melakukan segalanya sendiri. Aku juga seperti itu. Malas rasanya berkunjung ke tetangga kiri kanan hanya untuk ngobrol ngalur ngidul. Mendingan di depan laptop, atau baca novel, atau nonton dvd. atau malah tidur sekalian. hahaha

Ivan Kavalera mengatakan...

mengamankan posisi tetangga yang KEDUA hehehe..

ivan kavalera mengatakan...

Semestinya memang harus ada keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas. Hubungan antar tetangga harus tetap jalan di samping hubungan tetangga antar blogger. Aku kan termasuk tetangga blogger, iya toh? hehehe

Bintang mengatakan...

hahaha..Ira..sama banget sih kayak aku..dulu pertama kali aku datang ke sini..tahun pertama aku berusaha ngumpul dengan orang2 indo disini yang lumayan banyak..dengan maksud supaya aku gak jenuh aja di rumah karena gak ada kegiatan..lama2 aku jengah juga ngumpul ama mereka, yg omongannya gak nyambung n gak jelas kemana tujuannya..tahun kedua aku menarik diri dari mereka, aku bilang ke suami, lebih baik aku dirumah, watch movie and internetan..daripada bergaul dengan mereka..tahun ketiga..aku mulai cari2 kerjaan disini, yg akhirnya aku dapet kerjaan, yang bikin aku sibuk..n gak ngurusin ibu2 komplek yg gak jelas maunya apa...hehehe

moh. ghufron cholid mengatakan...

Kuberi kau gelar pengelana sunyi
Lalu kutulis puisi untukmu di blogku

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, tetangganya keterlaluan banget ya. sudahlah, cuekin saja, Ra. begitulah sikap orang2 yg individualis.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Sabar yah Ir....
Wasiat Ibunda harus senantiasa dipegang.
Moga bisa beradaptasi di tempat yang baru nantinya. Tapi sebaiknya jangan pindah dulu deh...

ninneta mengatakan...

mendingan tetanggan di blog aja deh..... aman damai tentrem... hehehehe

sibaho way mengatakan...

tetap aja balik ke kecenderungan aslinya ya mbak :D itulah yang terbaik..

Kabasaran Soultan mengatakan...

Yang sabar dan dinikmatin saja ....
Lama-lama juga iramanya akan bisa diikuti.

anindyarahadi mengatakan...

sama mbak :(

Munir Ardi mengatakan...

tinggal didesa yuk

reni judhanto mengatakan...

Hidup bertetangga emang gampang2 susah mbak.., harus mwmiliki toleransi yg tinggi sekali..

Yunna mengatakan...

teman,,
Yunna sekarang pindah rumah di http://yunna-mylifediary.blogspot.com

-Gek- mengatakan...

Sabar aja Mbak..

saya juga gitu kok. Tetangga seadanya saja.. ga di undang, monggo..

Jadinya mereka yg bertanya-tanya sendiri..
"kerja di mana?"
"kuliah di mana?"
"udah nikah ya?"

Sedangkan saya lebih ekstreme.. nama pun saya tidak tahu..
What so ever.

They hurt me once, and that's enough.
The scar is still there, in my heart - they won't see or feel it. :)

Fanda mengatakan...

Sama, aku memilih ga terlalu dekat dgn tetangga. Seperlunya aja, ketika mereka hajatan ato kesusahan, ato ngasih selamat saat hari raya. Di luar itu, biarlah kita menjalani hidup masing2 dgn cara kita sendiri.

Nita Febri mengatakan...

ternyata susah yaa.. hidup bertetangga..
tp saya baik2 saja dg tetangga, walaupun jarang ikut kumpul. Apa mungkin karena saya sudah lama tinggal di sini.

1000jalan mengatakan...

hidup bertetangga juga bisa diterapkan di jejaring internet, saat ini banyak peluang2 u/ saling kenal antara individu 1 dengan yang lain, semisal FB, YM, TWITTER dsb. Jadi tdk ada salahnya kalau hidup bertetangga ini kita terapkan di jejaring internet dengan hidup rukun dan damai.

Mahrizal Pemalang mengatakan...

Lho bu ko rada2 mirip sama denganku
aku termasuk sulit bertetangga
aku termasuk kaku dalam bergaul
aku tahu ini kurang baik
tapi aku tidak tahu harus bagaimana caranya

Anonim mengatakan...

Sama seperti keadaanku saat ini bu. Dimanapun aku tinggal, aku sulit sekali utk bergaul. Kebetulan suamiku kerjanya pindah2, dari satu daerah ke daerah lain. Aku pun lebih suka menghabisakan waktu utk mengerjakan pekerjaan rmh, mengurus anak2, membaca, nonton berita, ketimbang harus ngumpul dgn tetangga dan membicarakan hal2 yg ga jelas arahnya. Apalg klo udah harus ngomongin orng lain, udah paling males deh.

Ibu Pipiet mengatakan...

Ternyata aku tdk sdr, sama mbak... sulit rasanya membaur ma tetangga, entah kenapa, kadang ada keinginan utk berubah, tp hanya keinginan niatnya gak bisa. Ya wis spt mbak kembali pd kebiasaan lama, yg penting sll berusaha baik dan tdk menyakiti saja lah.