5 Nov 2009

SURAT KEPADA PANGERAN LILIN

Selamat malam. Aku mulai rangkaian surat ini dengan kalimat Bismillahirrohmanirrohim karena saya adalam muslim. Mungkin hanya untuk mengingatkan bahwa kita lahir dari sabda Tuhan yang meniupkan ruh pada Rahim Bundaku, Bundamu dan Bunda kita. Saat aku kembali menggandeng sunyi melewati nyanyian malam.

Aku sendiri, dan mungkin esok masih banyak puisi yang lahir dengan namamu. Pangeranku, semoga ini bukan surat yang pertama tapi juga bukan surat yang terakhir yang aku tulis dengan menyebut namamu. Awal kedua panggil aku Raa, Amoor Raa, Dewi matahari. Kau tahu alasannya? karena matahari selalu sendiri, matahari selalu memberi panasnya, Matahari adalah sebuah keegoisan karena kau tak kam mampu memandang dengan mata telanjang. Dan kau tak tahu Matahari selalu memandangimu dari disini!!! altar tertinggi di bagian bumi kita.Matahari.......aku bahagia dengan kata yang keluar dari tulisanmu. Karena hanya aku, hatiku, dan Tuhan yang tah. Atau kau mungkin bagian dari hatiku?


Selamat Malam, Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Dini Hari atau Selamat Tinggal? Saat waktu menemukan kita, dan aku masih mengenangnya sampai detik ini. Dengan tidak meninggikan hati, aku bertanya padaku dan bukan padamu. Matahari mengagumi sebatang Lilin?. " Aku terlalu merah untukmu, Raa". Aku masih mengingatnya.

Dan malam ini aku berusaha mengukir lagi hari-hari yang berlari meninggalkanku. Apa ini cinta, rindu atau sekedar sebuah Rindu Matahari pada sebatang Lilin!!!! Dan panggil aku Amoor Raa!!!!!!!!!!!

Surat ini bukan surat pertama dan juga bukan surat terakhir. Tapi munkin sebuah awal dengan melepakan sekelompok burung yang terkurung untuk mencari persinggahan sejati? Dan aku bertanya, Dimana?. Saat kata menjadi sebuah belati yang akan membunuh perasaan kita berdua. Aku merindukan Pangeran Lilinku tuk kubawa bercerita tentang mimpiku di kamar merah yang sepi sambil berbisik lirih

lelaki adalah teka teki yang sulit di jawab 

perempuan adalah teka-teki yang tidak masuk akal

dan
pertemuan serta perpisahan adalah teka-teki yang tidak ada jawabannya


Pangeran Lilinku.....aku merindukanmu 


11 komentar:

Aulawi Ahmad mengatakan...

aku suka banget cerita ttg pangeran lilin ini...hmmmmm btw moga putri mawarnya gak layu gara ketumpahan lilin he2

SeNjA mengatakan...

nice poem mba,...

semoga pangeran lilin mendengar bisikanmu dikamar merah ini...
dan menggenapi kerinduanmu padanya....semoga !

Munir Ardi mengatakan...

lilin seharusnya rela menderita dan hancur bagi orang lain bukan malah membuat orang menderita

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

ada sebuah rindu yg singgah dlm kesunyian malam disini..
semoga tertaut pd akhirnya nanti..
nice post :)

Aryo Halim mengatakan...

hmmm..banyak ya sekarang yg pada curhat nih heheheh..curhat apa puisi sih bro?

Clara mengatakan...

bagus suratnya ini, aku suka bagian terakhir. pertemuan serta perpisahan adalah teka teki yang tidak ada jawabannya...emang bener juga, ya. kita nggak pernah tau akan ketemu siapa lalu pisah sama siapa.

-Gek- mengatakan...

Aduh.. lebih susah dounk jadi cewek ya.. karena tidak masuk akal.

Kerinduan terhadap pangeran lilin si lentera jiwa, pastinya dalem banget..
Nice poem.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

pangeran lilin? yg di museum madam tussaud ya?

-3- mengatakan...

nice post ...

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Semua adalah teka-teki....
bagi yang tidak berupaya untuk mengungkapkannya, maka akan menjadi misteri untuk seterusnya.

Pinjam lilinnya dong entar lagi mati lampu nih.

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

matikan lampu, dan nyalakan lilin, lebih bagus lagi kalo PLN berhati baik dengan mematikan listrik... hehehe