19 Nov 2009

DARAHKU ADALAH DARAH RAJA SINJAI?

Keingin tahuanku tentang darah yang mengalir di tubuhku sudah mulai terbendung. Di Bali aku berhasil menemukan salah satu keluarga Ayahku. Keluarga Daeng Rabin Sila. Keluarga itu sebenarnya bukan keluarga yang asing bagiku. Dulu sejak kecil, jika ke Bali kedua orang tuaku selalu berkunjung ke keluarga Daeng Rabin Sila. Dan itu terjadi belasan tahun yang lalu. Setelah ayahku meninggal sekitar tahun 1995, intensitas kunjungan mulai menurun bahkan bisa dihitung dengan jari hingga Ibuku meninggal tahun 2008 lalu.

Dengan sisa-sisa ingatan masa kecil akhirnya aku berhasil menemukan rumah keluarga Daeng Rabin Sila, yang berada di Monang-Maning tepatnya di jalan Resi Muka Barat. Dan ternyata rumah yang aku temukan dalam keadaan kosong!!!!!



Dari tetangga keluarga Daeng Rabin Sila, aku baru tahu kalo Bu Daeng masuk rumah sakit Sanglah sejak dua minggu lalu karena penyakit Diabetes. Nekat!!!! karena aku sudah tidak tahan ingin mengetahui keberadaan keluargaku, aku segera menyusul ke Rumah Sakit Sanglah. Dan yang terjadi di luar dugaan!!!!!

Pertemuanku dengan keluarga Daeng Rabin Sila benar-benar menguras air mata. Bu Daeng berusaha bangun dari tempat tidurnya karena dia masih mengenali aku. Sedangkan Pak Daeng terlihat tertegun di pinggir ranjang seakan tidak percaya jika aku yang dulu gadis kecil kembali lagi hadir di antara mereka. Beberapa menit kami bertiga hanya menangis antara bahagia, terharu dan juga sedih. Apalagi saat mereka tahu jika Ibuku telah meninggal. Ah.....aku yang jarang menangis terpaksa harus rela "termehek-mehek" di dalam rumah sakit. Apalagi saat Bu Daeng berkata, " Aku ingin peluk kamu Raa......Kamu mau kan kembali cium Bu De...."". Kami berdua saling berpeluk dan menangis. Pertemuan yang tak terduga!!!! pertemuan di rumah Sakit Sanglah.

"Bu De....Pak De.....Ira kepingin ketemu keluarga ayah", aku memaksakan petanyaan yang selama ini membuncah dalam pikiranku. Bu Daeng dan Pak Daeng hanya saling menatap. Dan tiba-tiba pak Daeng, laki-laki yang sangat mirip dengan Almarhum Ayahku langsung membuka kaca mata dan kembal menangis. " Kau harus sabar Raa. Kau masih punya keluarga". Tapi Pak Daeng tidak bisa meberuskan kalimat-kalimatnya.

Bu Daeng kemudian meneruskan kalimat yang terhenti dari Pak Daeng,

"Raa....kamu harus janji jika nanti bertemu dengan keluarga Ayahmu jangan pernah kau bicarakan harta apalagi harta warisan. Ayahmu sebenarnya adalah turunan dari Raja Sinjai. Walaupun tetua-tetua sudah meninggal tapi kamu masih bisa bertemu dengan keluarga ayahmu. Keluargamu adalah turunan Raja Sinjai yang tinggal di salah satu daerah di wilayah Pantai Losari. Dan seharusnya kamu mendapatkan gelar Puan"

Jujuraku terhenyak saat Bu Daeng berkata jika aku bertemu keluarga ayah aku tidak boleh membicarakan harta warisan/ Ah......sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku tentang harta, tahta atau pun turunan Raja, ayau gelar Puan. Demi Tuhan!!!!!! bukan itu yang ingin aku ketahui. aku hanya ingin tahu tanah kelahiranku ayahku. Itu saja sudah cukup buatku. Saat aku bertanya apa alasannya, Bu Daeng hanya berrkata, "Kau sendiri sudah tau jawabannya".

Akhirnya aku hanya bisa menebak-nebak sendiri. Ayahku hanyalah seorang abdi negara di Angkatan Darat yang tak ku ketahui pangkat terakhirnya Ayahku sederhana, bahkan bisa di katakan sangat sederhana. Tak pernah mempunyai barang berharga. Hanya sepeda tua yang selalu mengantarnya ke kantor Kodam Udayana. Bahkan saat pensiun sepeda tuanya juga ikut di bawa ke Banyuwangi. Saat meninggal, tidak ada tembakan Salvo seperti kebanyakan orang-orang militer. Sejak kecil Ayahku selalu menceritakan keseserhaan Sukarno, MahatmaGandhi dan pernah memaksa aku untuk menyelesaikan buku yang berjudul "Di bawah bendera Revolusi" saat aku masih duduk di kelas 3 SD. Bahkan saat aku rewel seperi anak kecil kebanyakan, Ayahku selalu membonceng aku dan di ajak ke Rumah Sakit. Dan berkata, " Kamu harus banyak bersyukur. Lihat saja banyak orang yang sakit, tapi mereka nggak pernah mengeluh seperti kamu". Bahkan pernah ayahku nekat mengajak aku di Penjara (sekarang disebut LP) di Denpasar untuk mengajarkan padaku tentang pentingnya sebuah kemerdekaan. Dan aku sekarang baru menyadari, jika Ayahku adalah orang yang sangat sederhana dan lebih memilih meninggalkan tanah Makasar karena perebutan harta warisan? ah....entahlah. Aku sudah tak perduli dengan harta, keturunan raja atau pun gelar Puan. Karena aku tetap Ira Rachmawati, perempuan biasa yang lahir dari Ibu dan Ayah yang luar biasa.

Saat aku pamit untuk pulang ke Banyuwangi terus lansung ke Jakarta. Bu Daeng kembali memelukku. "Nanti kalau Bu De sudah sembuh, kita akan pergi ke Makasar bareng-bareng. Bu De sudah menyuruh Mbak Lila, anak Bu De yang sekarang tinggal di Makasar untuk cari keluarga kamu. Percaya Raa...... Kalau kamu tulus, Allah akan memberikan jalan terbaik untuk kamu." Bu De menyebutkan nomer HP yang diakui sebagai keluargaku yang ada di Makasar.

Pelukan terakhir Bu De dan Pak De terasa berbeda. Ah.....aku juga baru tahu, jika mereka sebenarnya bukan keluargaku. Pak Daeng dan Almarhum ayahku ternyata adalah sahabat sejak kecil. Kebetulan juga mereka berdua sama-sama bernama depan Daeng. Melihat mereka berdua, aku seakan melihat Almarhum Ayah dan Almarhum Ibu. Mereka berdua terlihat sangat tua dengan rambut putih merata. Yang tersisa hanyalah guratan-guratan kesederhaan di wajah uzur mereka. Dengan berat hati aku meninggalkan mereka berdua di Rumah Sakit Sanglah. Paling tidak aku sudah mengetahui kampung Ayahku di Makasar. SINJAI............Semoga Allah selalu melindungi mereka berdua. Amien.....

Suatu saat tinggal janji yang harus ku tepati. Untuk menginjakkan kakiku di SINJAI. Tanah kelahiran Ayahku. Darahku adalah Darah Raja Sinjai.......? biarlah!!!!! karena pikiran tersebut sudah aku hapus. Keturunan raja atau tidak. merupakan hal yang tidak penting bagiku. Apalagi meminta jatah harta warisan tidak pernah aku harapkan. Karena Tuhan sudah memberikan lebih dari cukup padaku.

Catatan ini aku persembahkan kepada kedua orang tuaku. Almarhum Daeng Moesa dan Almahum Ismiwati. Serta kepada keluarga Besar Daeng Rabin Sila. Semoga Persaudaran dan tali silaturahmi ini tidak pernah mati

(maaf kawan aku tak sertakan foto di posting ini karena lupa mengabadikan pertemuan karena keasyikan bercerita)

aira

apa karena keturunan, kecintaanku pada laut sangat berlebihan. entahlah......

16 komentar:

-Gek- mengatakan...

Terharu sekali ya Mbak, membaca tulisan mbak ini.
Semoga suatu saat bisa berkunjung ke tanah kelahiran di Sinjai.

Dari tulisan mbak ini saya bersyukur sekali masih mempunyai dua orang tua sehat - walau cerewet, dan lagi-lagi, kerinduan mengetuk pintu hati.

Pulang ah.. ke bali..
:)

Kabasaran Soultan mengatakan...

Sendiri di ruang baca, antara ada dan tiada seekor nyamuk menancapkan belalainya di lenganku. Aku marah, kutepuk luput.
Terbang ia meledekku.
Lihat ada aku dalam nyamuk.

Sabar menanti di dinding beku, seekor cicak merayap pelan. Hup !. Nyamuk diterkam.
Tersenyum ia dalam puncak pengorbanannya menjadi santap malam sang cicak.
Lihat ada aku dalam nyamuk, dalam cicak.

Bertengger di cemara taman, seekor burung menatap tajam celah ranting. Hup !. Cicak dipatuk, separuh tubuhnya menjadi santap pagi sang burung, separuh lainnya jatuh diurai tanah, dihisap rerumput.
Tersenyum ia dalam puncak pengorbanan mulianya.
Lihat ada aku dalam nyamuk, dalam cicak, dalam burung, dalam rerumput.

Darah kita ada dimana-mana !

ateh75 mengatakan...

Sungguh mengharu biru mba,semoga keluarga besarmu selau ada dalam lindungan-NYA amin..

yans'dalamjeda' mengatakan...

Semoga kisahmu, tentang pertemuan dan pepisahan mengajarimu dan mengilhami banyak orang. Tentang sebuah tekad!
Dengan caramu mengungkapkannya lewat tulisan itu, aku meyakininya.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

yg pasti darahnya berwarna merah ya?

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Saya jadi terharu mendengar kisah Ira.

Sekarang sudah ada titik terang tentang
daerah asal Ira di Negeri Butta
karaeng. Tepatnya Sinjai yang berjarak
200 km kesebelah timur Makassar.
Kebetulan Bang Iwan dulu KKN di sana.

Sinjai adalah Daerah yang indah....

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

kalau Ira kepingin tahu tentang Sinjai
lebih banyak silahkan klik situsnya
DISINI

Enno mengatakan...

halo ira... aku terharu bacanya...
semoga kamu tetap semangat ya...
dan semoga kamu bisa bertemu lagi dengan keluarga ayahmu, siapapun mereka.

nice story... bikin aku berkaca2

:)

Clara mengatakan...

semoga bisa ke sinjai ya mbak...
nda nyangka ternyata masih turunan raja.. ^^

Munir Ardi mengatakan...

Sinjai Suku bugis dengan banyak Keturunan Puang Disana selamat mbak semoga mbak secepatnya bertemu dengan keluarga wih Bangsawan Tuh

Cerita Tugu mengatakan...

sungguh suatu kisah yang menharukan

annie mengatakan...

Sebuah kisah yang mengharu biru tentang perjuangan, pengorbanan dan cinta kasih. Yakinlah, Allah tak pernah membiarkan segala peluh dan doa tersia-sia. Semoga kisah ini menjadikanmu makin kuat. Kapanpun Allah mempertemukanmu dengan keluarga, semoga yang terbaiklah yang terjadi disana.

Fanda mengatakan...

Ikut senang bahwa akhirnya kamu mengetahui kerabatmu. Moga2 Tuhan memberi kelancaran buat bertemu mereka.

Btw, ada award buatmu di blog Curhat Fanda, buat tanda persahabatan baru kita. Ambil ya...

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Ada Award buat Ira... mOga sudi dijemput.
Makasih.

amin mengatakan...

salam kenal, saya juga orang sinjai

amin mengatakan...

kalau boleh tau..ira tau silsilah keturunan dari sinjai