7 Nov 2009

AKU RINDUKAN MAKASAR




ujung pandang


Aku sendiri tidak tahu mulai dari mana memulai tulisan ini. Tiba-tiba ada rasa sesak di dadaku. Saat Sang Cerpenis menulis posting tentang cintanya pada sang Papa. Aku baru menyadari jika aku melupakan ada darah lain selain Banyuwangi yang mengalir di tubuhku. Darah tanah Karaeng.......Makasar!!!!!



Aku lahir di Banyuwangi dari rahim seorang wanita asli suku Using, suku asli kabupaten Banyuwangi. Dan ayahku bernama Daeng Moesa bin Sila yang berdarah asli Makasar Karena alasan pekerjaan, ibu ku tinggal di Banyuwangi dan ayahku tinggal di Denpasar. Dan aku besar di Banyuwangi yang jaraknya hanya terpisah selat bali dan ditempuh dengan waktu kurang lebih empat jam. Al hasil keluarga kami hanya bertemu pada akhir pekan dan kebersamaan keluarga kami hanya sementara karena saat aku masih berusia 7 tahun ayahku telah meninggal tanpa sempat memberitahukan padaku tentang indahnya tanah Makasar. Hanya satu yang aku ingat, sebelum ayah meninggal dia sempat berkata padaku, " Kamu adalah Ira anak dari Banyuwangi" Entah sampai sekarang aku tidak tahu alasan apa yang membuat ayah berkata seperti itu padaku.

Mungkin karena obsesi kalimat terakhir ayahku, keinginanku mengenal budaya Banyuwangi semakin tinggi. Entah sudah berapa buku terjemahan dari belanda tentang Banyuwang yang aku baca. Beberapa budaya Banyuwangi yang aku pelajari secara detail mulai dari tarian, makanan bahkan santet jaran goyang. Semua tentang Banyuwangi sudah merasuk dalam jiwaku. Bahkan aku lebih memilih Fakultas Sastra di bandingkan Fakultas Psikologi hanya dengan satu alasan. Aku ingin mempelajari budaya Banyuwangi dari segi akademis. Dan akhirnya.....aku sempat mendapat julukan Kamus Banyuwangi berjalan!!!!!

Dan beberapa hari ini, perasaanku tidak tenang setelah membaca profile teman Blogger, Munir Ardi dan Setiawan Dirgantara. Ah....mereka ternyata tinggal di tanah yang sama dengan ayahku tinggal dulu. Terbersit rasa bersalah dan merasa tidak adil!!!!!!!! atas darah yang mengalir di tubuhku,

Hampir seperempat abad lebih aku di lahirkan, belum pernah sedetik pun aku menginjakkan kaki ku di Makasar. Padahal, itu adalah tanah ayahku. Tanah laki-laki yang memberikan rohnya untukk. Tanah laki-laki yang mewariskan kecintaanku pada samudra, mewariskan kecintaanku pada dunia petualangan, mewariskan rasa harga diri dan keegoisan dalam kebenaran.

Hampir di seluruh sudut kabupaten Bnayuwangi sudah aku datangi, tapi Makasar? jangankan tanahnya. Pinggir pantainya pun aku tak pernah tahu. Setelah ayahku meninggal, ibuku selalu mendongengkan tanah Makasar padaku. Ibuku pernah sekali ke Makasar saat pengantin baru. Beliau bercerita, bahwa nenek moyangku adalah seorang pelaut, dia adalah pemberontak pada jaman kolonial Belanda. Kalau tidak salah namanya Mangkaok Daeng Maroompak. Karena selalu dicari Belanda, nenek moyangku tinggal di dataran tinggi yang terlindung oleh barisan gunung. Dan aku tidak tahu daerah mana itu. Masih menurut ibuku. Rumah ayahku berada di barisan pegunungan itu, dan terbuat dari kayu dan bambu yang hanya diikat dengan tali ijuk. Bahkan dulu aku sempat bertanya apa nggak roboh. Ibuku hanya bilang nanti kamu harus mempelajarinya Raa. Dibawah rumah kampung ayahku digunakan pekarangan untuk memelihara binatang peliharaan seperti kambing, ayam ataupun ikan. Setiap pagi, semua orang pergi berladang dan berburu setelah rutinitas minum kopi di depan perapian. Dan aku sempat membayangkan jika tanah kelahiran ayahku seperti yang ada di acara Petualanan Si Bolang. Ach...kenapa ya tiba-tiba aku menangis menulis potingan ini.......!!!! Aku rindu ayahku......

Aku ingin sekali ke Makasar paling tidak aku ingin tau kampung Ayahku. Sayangnya ibuku telah meninggal bulan Maret 2008 dan sama sekali tidak meninggalkan rekam jejak kampung ayahku di Makasar. Sekali lagi aku tidak tahu alasannya........Alasan yang tertutup rapat hingga Ayah dan Ibu menghadap Sang Kuasa

Tuhan......kalo boleh aku memohon pada Mu. Beri aku kesempatan untuk datang ke tanah Makasar. Mungkin dengan keajaiban dari Mu, aku bisa menginjakkan kaki di tanah Ayahku. Tanah Makasar yang benar-benar aku rindukan. Ku mohon Tuhan.....!!!! aku ingin dongeng ibuku tentang Tanah Makasar bisa aku alami sendiri. Aku ingin berbakti pada almarhum Ayahku dengan berkunjung kesana karena yan aku tahu, selama aku ada Ayahku tidak pernah lagi pergi ke Makasar. Bahkan saat ayahku meninggal, tidak ada satupun keluarga dari pihak Ayahku yang hadir. Ibuku berkata karena dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Dan jika aku nekat pergi ke Makasar, aku tidak tahu harus pergi kemana, dan mengunjungi siapa?

Almarhum ibuku pernah bilang, " dimana-mana itu adalah bumi Tuhan". Dan aku percaya itu. Banyuwangi dan Makasar adalah bumi Tuhan yang darahnya dititipkan padaku. Sekali lagi Tuhan, berikan keajaiban Mu untuk menemukan tanah kelahiran Ayahku. Karena aku sudah lelah dengan rindu yang membuncah pada tanah Karaeng...............!!!!!

Dan kata-kata dari Bung Munir Adi masih aku simpan

Puncak lompobattang dan angin buritan lae-lae akan selalu memanggil anda dimanapun berada


Tuhan....aku sudah lelah menangis!!!!!! aku benar-benar lelah dan ingin tidur serta bermimpi tentang Puncak Lompobattang dan Angin Buritan Lae-lae ditemani oleh Almarhum Ayah, Almarhum Ibu dan Kakakku.




(catatan ini aku persembahkan pada Almarhum Ayahku. Janji....! sauatu saat aku akan menginjakkan kaki ku di Makasar untuk menyampaikan rasa kerinduan mu pada tanah kelahiran yang tak pernah kau kunjung hingga kau kembali pada tempat yang Abadi. Yah.....Ira mencintaimu)

11 komentar:

ranny mengatakan...

pertamaaxx??/

ranny mengatakan...

keduaa jugaaaaaaa

ranny mengatakan...

uhmm pulanglah mbak..if u have a lil time and money :)

i miss my father too..miss him so much

-Gek- mengatakan...

Mbak, saya terpekur membaca tulisan Mbak.
Mbak kuat sekali ya..
Ayo mbak kunjungi bagian lain yang sudah mengalir dalam tubuh Mbak, semoga berhasil..

Munir Ardi mengatakan...

Hampir bersamaan ya mbak kita posting tentang ini sy coba bikin puisi untuk mbak meski jelek tetapi dari lubuk hati yg paling dalam

Munir Ardi mengatakan...

Sm mbak ayah jg telah tiada hkk

reni mengatakan...

Pasti besar sekali kerinduan mbak ira akan tanah kelahiran ayah tercinta.
Semoga kelak ada kesempatan utk datang kesana ya..?

albertus goentoer tjahjadi mengatakan...

moga apa yang menjadi keinginan cepat tercapai ya mbak.... salam kasih...

Clara mengatakan...

mbak, semoga suatu saat bisa pergi ke Tanah Makasar, ya.

Cerita Tugu mengatakan...

wujudkan kerinduan biar bisa terobati

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

terlebih dahulu saya mohon maaf
baru sempat membaca postingan ini.
Jujur....
aku terharu dengan apa yang Ira tulis diatas.
Bumi Butta Karaeng akan senantiasa menantimu.
Saya, Munir Ardi, Sastra Radio Ivan Kavalera, Putri malu dan sahabat2 yang lainnya akan senang menemanimu disini.