5 Okt 2009

SEDANG AKU RINDU....

Apa mungkin?

Tanah yang ku jejak saat ini sama dengan tanahku di sana

Saat baunya membuat aku muntah, terlalu tengik buatku!

Apa mungkin?

Udara yang ku isap saat ini sama dengan udaraku di sana

Yang saban pagi melatih paru-paruku berlari memompa darah menuju jiwaku



Meninabobokkanku dengan nada nafas-nafs bengek

Aku akan mati jika terus di sini

Kembali ku bertanya

Apa mungkin? ombak di depanku saat ini seperti ombak di bumiku?

Menggulungku dengan birahi, menghempaskanku dengan mimpi dan menyetubuhiku lewat gendingnya

Sedang aku merindu

Disini!!!!!!tanahnya terlalu bece tuk menopang hatiku yang kerdil

Aku berlari-lari dalam labirin, Gelap!!! Kemana!!!!

’tuk menghembuskan nafas pun aku menunggu mereka menjauh dariku menuju ke wc ukuran 1x1 meter

Kini aku menuup lubang hidung dengan mimpi tanah yang kurindu, "pemborosan udara", katanya

Jejalan sedikit demi sedikit masih pada lipat-;ipat rasa yang masih ada

Tentang bayangan saat ku bercinta dengan samudra

Hahahahahaha lembut bibirnya mampu membuat aku menangis

Dan belum lagi kerlingan mata gandrung Temu, dan aku juga rindukan nglaik-nlaik anginnya

Ini sebuah dialog? atau sekedar bertanding dengan waktu

AKU KALAH!!!! Sepi, sunyi, hampa, kosong, nol adalah ketiadaan

Semoga ini awal dari mimpi dalam dunia ada dan tiada

"Apa yang membedakan tanah yang ku pijak ini dengan tanah Blambanganku?

Apa air lautnya juga sulit di peluk seperti samudraku"

Segera ingin kukuirimkan rindu saat hati telah mati

Waktu berbenah meyimpulkan jubah merahnya antara senja dan malam

Dan berdendang,

"Banyuwangi......Ba......nyu.....wang....i......Banyu.....wang......i........aku.....rindu......Bnauwangi........aku rindu.......Banyuwangi.......aku.......rindu...........aku.......rindu.....Ba....nyu.....wang.....i....Aku rindu"

Tak kan pernah usai percakapan ini

Apakah esok ku masih bisa bercerta tentang tanahku, tentang bumiku, tentang ibuku, dan tentang cintaku

Apakah aku mampu berdiri lama di sini sedang dulu aku pernah bercinta di sana, di tanahku, dengan samudra, kekasihku dan cintaku?

Tinggal satu kerinduan abadi

Ketika ku mengikat untaian cinta Sri Tanjung dan Sidopekso

Disini!!!!!! di dadaku

dan ternyata, Minak jinggo itu masih satu dan meluruh pada darahku

Dan aku akui itu!!!!

Hanya ada dalam mimpiku

Apakah ini nyata rindu pada bumi Blambanganku?

Tanahku!!!!!!!!!

Ceritakan tentang bumiku, bumimu, buminya, bumi mereka...saat kita menjadi satu

Pada dunia pada langit, pada samudra, pada matahari, saat kita tak lagi bertemu

Persetubuhanku dengan Bnayuwangi akan ku mulai

Jika lakon lalu berawal dari Sidopekso bunuh Sritanjung dengan cinta....

Maka beda denganku....

Banyuwangi teah menikamku dengan pisau rindu telak di jantungku

Wahai.....satukan aku dengan ganda rindu

Tak kan pernah ada lagi pengkhianatan kedua

Segera ingin ku kirimkan rindu saat hati telah mati

Waktu berbenah menyimpulkan jubah merahnya antara senja dan malam

aku berdendang,

"Banyuwangi......Ba......nyu.....wang....i......Banyu.....wang......i........aku.....rindu......Bnauwangi........aku rindu.......Banyuwangi.......aku.......rindu...........aku.......rindu.....Ba....nyu.....wang.....i....Aku rindu......Bersatulah kau dalam aliran nafsuku"

Banyuwangiku....membuatku mati berpuisi

(dengan segenap kerinduanku pada tanahku)

Jakarta, 1- 3 Desember

4 komentar:

Itik Bali mengatakan...

hmmm...Banyuwangi..
Tarian dan budayanya hampir mirip Bali

Brokoli sehat mengatakan...

mmm jadi pengen ke banyuwangi nih. Tapi katanya puanass banget yaa

irarachma mengatakan...

@ itik bali: karena kita tetanggaan...kebetulan juga aku kelahiran bali....
@brokoli : emang nggak pernah ke banyuwangi?kan deket banget sama jember?

-Gek- mengatakan...

Puisinya menghanyutkan,
jadi kangen sama tanah jawa.. :)