23 Okt 2009

SAAT KEPERAWAN DI PERTANYAKAN

Sejak lama aku mau menulis tema ini tapi masih ada rasa sungkan dan etika sopan santun. Tapi kalo nggak batin ini terasa tertekan jika tidak mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini menjadi tanda tanya di benakua. Apalgi untuk menyusun judul apa yang pantas untuk postingan ku yang nggak jelas ini. Jadi dengan segala kerendahan hatiku aku meminta maaf apabila ada yang merasa riskan atau mungkin muak dengan tulisanku ini. Karena ini hanyalah tuangan ideku yang terkadang hancur banget.....!!!!!



Berawal dari beberapa tahun yang lalu saat aku membaca sebuah buku dengan judul Perempuan dalam buadaya Patriarki. Aku lupa siapa pengarangnya. Tapi aku hanya ingat jika buku itu adalah sarduran dari penulis mesir tentang makna keperawanan di budaya masyarakat mesir. Buku itu entah sekarang terselip di mana tapi isinya masih sangat membekas di otakku. Budaya mesir - bukan ajaran islam- lebih bangga jika mempunyai anakl aki-laki di bandingkan anak-anak perempuan. (Jadi ingat jaman jahiliah), Namun kembali ke masalah keperawanan, mereka masih menganggap bahwa anak gadis harus menjaga keperawanan karena keperawanan adalah sebuah harga diri. Apalagi jika malam pertama, sang suami tidak menemukan darah keperawan bisa jadi akan ada kiamat kecil dalam keluarga mereka. Padahal jika di pikir secara logika. Tidak adanya darah keperawanan pada malam pertama bukan berarti sang gadis pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya. Bukankah elastisitas selaput darah setiap perempuan berbeda-beda? atau mungkin karena kecelakaan saat melakukan aktifitas seperti menari, berolahraga atau kegiatan lain?. Bahkan dalam buku itu di katakan jika orang tua berani membayar mahal agar keperawan anaknya bisa kembali. Dan jika mereka di perkosa, bisa jadi sang anak akan di hapus dari keluarga mereka (Huh....)

Karena alasan takut hilangnya keperawanan, para orang tua selalu menjaga anak gadisnya. Di larang melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan laki-laki seperti berkuda bersepeda atau olah raga lain. Dan itu bukan hanya terjadi di mesir tapi juga terjadi di budaya masyarakat jawa. (Dengan tidak menasbihkan diriku sendiri yang keturunan jawa). Bisa dilihat kan dengan budaya pingitan dan penggunaan jarit atau kain panjang yang di gunakan untuk para gadis jawa untuk mengurangi gerak mereka dengan alasan mengatasnamakan menjaga keperawanan? Dan aku tidak sepakat!!!!!! Karena perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Melakukan apapun tanpa ada batasan perbedaan antara lak-laki dan perempuan.

Dari segi seksuil, (maaf jika kurang sopan), masih dari buku Perempuan dalam budaya patriarki, masyarakat mesir -bukan ajaran islam- masih mengenal budaya sunat pada perempuan dengan memotong sedikit ujung klitoris. Dan kau tau kenapa? ternyata untuk mengurangi gairah perempuan agar tidak terlihat binal di depan laki-laki calon suami (Bukankah wilah G spot perempuan ada di ujung klitoris) Fiuch...begitu hebatkan seorang perempuan sehingga harus melewati berbagai macam ritual yang tidak hanya berdampak buruk saat ini tapi untuk selamanya....

Kembali ke masalah keperawan. Aku bukan orang suci, tapi aku sangat menolak kehidupan bebas, free seks, dan melepas keperawanan sebelum pernikahan. Sekali lagi aku menekankan aku hanya memberikan perhatian pada mereka yang kehilangan keperawan karena sebuah kecelakaan. Bukan kecelakaan yang mereka lakukan sendiri diluar pernikahan. Dan aku langsung muak melihat sebuah berita yang mengiklankan tentang SELAPUT DARAH BUATAN.

Dunia memang sudah gila!!!! keperawanan akhirnya sudah bisa di perjual belikan, bahkan secara bebas dan dengan harga yang terjangkau. Apakah ini berarti kesucian sudah tidak ada harganya lagi?. Tapi catatan penting Selaput darah buatan ini ternyata tidak laku di negera yang mempunyai tingkat free sex cukup tinggi, dan ternyata lebih laku di negara yang masih menjunjung tinggi nilai moralnya seperti Indonesia dan Mesir. Alat bernama Artificial Virginity Hymen itu didistribusikan perusahaan China, Gigimo, dengan harga 30 dollar AS (sekitar Rp 300.000). Alat itu membantu wanita yang baru menikah untuk mengelabui suami bahwa dia masih perawan. Alat itu akan mengeluarkan cairan seperti darah jika dimasuki alat kelamin pria atau pecah. Gigimo mengiklankan produknya di seluruh negara-negara Arab. Sebagian besar warga Timur Tengah masih menganggap keperawanan adalah harga mati yang harus dimiliki seorang istri.

Kehadiran selaput dara buatan yang bentuk dan penggunaannya mirip kondom perempuan namun dilengkapi cairan merah kental menyerupai darah ini dinilai dapat mempercepat laju penyebarluasan HIV/AIDS di masyarakat. Loh, kok bisa? Dengan masih kuatnya mitos darah perawan di Indonesia dan adanya selaput dara buatan ini, akan semakin banyak wanita yang merasa percaya diri untuk bergonta-ganti
pasangan dan men-cap dirinya masih perawan. Lalu, para pria pun semakin lengah karena mereka menganggap pasangannya itu belum pernah melakukan seks. Padahal bisa saja kan pasangannya itu menderita HIV/AIDS dan akhirnya menulari dia.

Keperawanan sebenarnya merupakan sebuah kejujuran dengan pasangan masing-masing. Bila menganut keperawanan adalah suatu kejujuran, maka manfaat dari selaput dara buatan hanyalah sensasi seksual semata. Namun, mengapa alat ini begitu digandrungi?

Selaput dara buatan ini akan tetap diminati selagi persepsi para pria mengenai keperawanan tidak berubah, yakni menginginkan calon istrinya berdarah di malam pertama. Ya, mengubah pola pikir masyarakat mengenai arti keperawanan saat ini sangatlah susah. Hal itu dikarenakan orangtua jaman dahulu selalu memberikan pengertian bahwa menandakan perempuan masih perawan adalah ketika malam pertama harus berdarah.

Dan aku berpikir, adanya selaput darah buatan ini lahir karena keegoisan laki-laki yang terlalu menuntut kesucian sang perempuan. Dan maaf jika aku mengatakan, "Apakah laki-laki bisa di ketahui apakah dia masih perjaka atau tidak? aku jadi membayangkan jika Tuhan memberikan Selaput darah juga pada laki-laki. Halah....Maafkan aku Tuhan.

Aku jadi ingat cerita dari Mahabarata. Kunti, ibu dari para orang suci Panndawa, saat masih gadis melakukan hubungan dengan dengan Dewa Surya hingga hamil dan melahirkan bayinya dari telinga yang kelak menjadi Adipati Karna. Kenapa harus melahirkan melalui telinga? hanya untuk menjaga kesucian sang Kunti yang kelak akan melahirkan orang suci Pandawa,

TersErah apa yang kau pikirkan setelah membaca postinganku ini. Namun yang terpentingan kesucian dan keperawan itu hanya ada dalam hati. Dan silahkan kau menilai sendiri sejauh apa kesucianmua karena jujur aku bukanlah orang suci!!!!!


Catatan kecil tentang mereka yang mengagungkan kesucian. Maaf jika kesucian ini telah ternoda dengan pikiranku. Sekali lagi maaf karena hidup ini adalah pilihan dan aku menghargai pilihan yang engkau buat!!!!!!

18 komentar:

Munir Ardi mengatakan...

cerita dari berbagai sudut pandang dan berbagai sumber nice article mbak mengenai yang itu nggak bisa koment deh

penari rajam mengatakan...

Sebenarnya suka sih dengan tulisannya. Tapi sedikit tergelitik dengan hawa emansipasi wanita.

Wanita dan laki2 tidak akan bisa disamakan. karena memang diciptakan berbeda. dengan kelelebihan dan kekurangannya. walaupun memang mereka disatukan oleh satu kata : MANUSIA.

Dan jujur saja, produk selaput darah palsu sangat konyol. Membuktikan bahwa rakyat kita tidak menjunjung tinggi kejujuran. buat apa hidup dalam kepura2an? hidup yang sangat sia2 :)

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Kesucian diri memang berarti luas ya. Baik lahir maupun batin. Sayangnya, di jaman yang udah jauh dari nilai-nilai agama ini, jangankan kesucian batin (baca: kepribadian), menjaga kesucian diri yang sifatnya lahir aja udah susah. Sebab, yang kita saksikan justru mereka berlomba untuk mengobral seluruh potensi dan pesona tubuh yang dimiliknya.
Nggak usah dijelasin secara detil, toh kita juga udah sering lihat dalam kehidupan nyata; baik di lingkungan sekitar kita, maupun yang kita lihat di televisi dan yang kita baca di media cetak.
Ckckckck.. kasihan banget tuh.
dengan adanya selaput darah imitasi, gimana kalo wanita-wanita di dunia jadi menggampangkan arti sebuah keperawanan. Bagaimana kalo seorang wanita virgin mengatakan "ah gak papa deh, besok juga bisa beli yang palsu, Cuma 300 rebong ini, sama aja". Parah bangeeettttttt...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

aku setuju dg operasi selaput dara apabila orang itu kehilangan virginitasnya karena kecelakaan atau pemerkosaan. setidaknya bisa membangkitkan kembali rasa percaya diri dan harga dirinya. dan aku juga setuju kalo kita harus tetap menjaga virginitas itu serta hanya memberikannya pada suami yg sah.

tapi bagaimana dg pria ya? kadang mereka gak perjaka lagi eh, nuntut ceweknya perawan. gak fair banget.

Yunna mengatakan...

dunia semakin kacau...
keperawanan itu hal yang gak pantas untuk diperjualbelikan...

yans'dalamjeda' mengatakan...

Mempertanyakan keperawanan berarti mempertanyakan kejujuran. Jika itu kemudian terabaikan, apalagi yang perlu dijaga dan dipertahankan selain kehormatan itu sendiri. Bukan karena "sebab lain" yg jd persoalan, cm ketika itu tak menjadi kebanggaan perempuan, kita bs bayangkan bagimana wajah-wajah perempuan.
Keegoisan mereka yg menuntut dan mempertanyakan keperawanan, layak juga dipertanyakan tentang keperjakaannya. tapi menurut saya justru tak akan menemukan akar masalahnya.

ranny mengatakan...

hohohoh topic yang menggelitik untuk di coment..

keperawanan bagi sayah itu penting!!masa bodoh dengan dunia yang udah maju kek apa tapi kita sebagai perempuan kudu bisa menjaga hal tersebut.bukan mo sok agamais tapi rasanya kurang afdol jika keperawanan direnggut ma bukan suami :) ini dari sudut pandang sayah

hawa genderisasi sangat kental disini hehehe emang ga adil yah ce udah ga perawan tuh dibuang di masyarakat sedangkan co ga perjaka hmmm mana ada yang tau..tapi kalo membahas hal ini pun ga akan ada ujungnya semua kembali ke kita

alat selaput darah haihaihia so annoying :D macam mana pula itu emang dunia ini makin edaaaannn!!!!stujuh ma mbak fanny kalo alat iini berfungsi juga bagi korban pemerkosaan untuk membangkitkan harga diri mereka ^^

met wiken mbak dah kepanjangan hehehe

andyka-dwi mengatakan...

Kalo bahas masalah virginitas mang sedikit, gimanaaa gitu...pada dasarnya setiap orang yg telah kehilangan virginitasnya, bisa terjadi karena dua hal, yg sengaja dan yg tidak disengaja, kalo yg tidak sengaja seperti diperkosa atau karena kegiatan seperti yg disebutkan dipostingan tadi, tidak seharusnya disalahkan namun harus ditambahkan semangat dan percaya dirinya bahwa hilangnya virginitasnya bukan karena dia melakukan dosa yg memalukan yg harus dipertanggung jawabkan dihadapanNya, dan gak seharusnya menambah lagi dengan kebohongan dengan memasang selaput palsu,..
Lain lagi dengan sengaja dengan melakukan hubungan intim yg tidak seharusnya dilakukan, maka orang tersebut harus mempertanggung jawabkan pada Tuhan serta pada pasangannya yg sah nantinya...
Kenapa saya menggunakan kata virginitas bukan keperawanan, karena pria juga mempunyai virginitas yg dalam bahasa kita disebut keperjakaan, kalo hanya menggunakan kata keperawanan, seakan tanggung jawab menjaga virginitas hanya ditanggung oleh para wanita, namun sebaliknya setiap orang yg beriman pada agamanya, mempunyai tanggung jawab yg sama utk menjaga virginitasnya hingga hubungan yg dilakukan menjadi halal dan ibadah, bukannya dosa, memang virginitas pria sangat sulit dibuktikan, oleh karena itu bagi setiap wanita jgn pernah mau melakukan hubungan intim hanya dengan diberi janji akan dinikahi, karena gak semua pria mempertanggung jawabkan perbuatannya, mungkin kalo sudah hamil baru gak berkutik, tapi kalo "aman-aman" saja, semua bisa ditinggalkan, ini berdasarkan pengalaman temenku,...semua orang mempunyai masa lalu, bisa jadi masa lalu yg terlalu buruk utk diingat, tinggal kita melihat bagaimana personality dan ketakwaan org itu setelah semuanya terjadi, apakah semakin baik atau semakin terpuruk, itulah yg kita nilai, memang hanya pasangan yg berjiwa besar yg bisa menerima bahwa pasangannya telah kehilangan virginitasnya, lagi-lagi masalah virginitas adalah tanggung jawab semua orang, bukan utk satu gender...
regards
---------

Vicky Laurentina mengatakan...

Selaput dara buatan itu menarik, Ra. Aku harus lihat contohnya supaya aku tidak tertipu pasienku kalau suatu hari nanti aku harus periksa vagina mereka.

:-D

Sebenarnya gagasan tentang keperawanan itu diciptakan oleh pria, karena mereka mau wanita yang menjadi milik mereka itu dalam keadaan murni total supaya posisinya selalu di bawah pria. Wanita-wanita yang juga mengagungkan keperawanan, itu karena mereka terlalu lama dicekoki budaya paternalistik yang menuntut wanita selalu jadi pihak inferior. Jadi, siapapun yang masih fanatik terhadap keperawanan, berarti mereka masih menolak kesetaraan jender.

Kenyataannya, banyak perempuan yang selaput daranya masih utuh, tapi mereka sudah banyak nonton film biru. Apakah mereka masih layak disebut perawan? Sebab menurutku, alam pikiran mereka sudah tidak perawan lagi, karena mereka sudah pernah melihat alat kelamin pria lain, biarpun hanya baru sebatas film..

pelangi anak mengatakan...

Perempuan memang cenderung dibatasi kebebasannya hanya untuk menjaga kesuciannya. Padahal apalah arti kesucian secara lahiriah dibanding dengan kesucian hati. Kalau menurut saya kesucian bukanlah hal mutlak atau harga mati untuk seorang wanita. Yang penting adalah kejujuran yang lahir dari hati untuk meyakinkan pasangan bahwa masih perawan,bilamana tidak keluar darah di malam pertama. Bagi yang mengalami kecelakaan fisik dalam artian bukan bukan karena kontak fisik secara seksual dengan sadar, tidak perlu harus membeli selaput dara buatan untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tapi yang terpenting adalah mengakui pada pasangan dengan gentleman ala wanita. Paling tidak dengan begitu pria tidak akan merasa terkelabuhi. Dan pasangan yang baik pasti mau menerima apa adanya keadaan yang pernah dialami oleh si wanita(take it for granted). Jadi demi kesetaraan jender selain pria dan wanita sama-sama terbuka untuk mengungkapkan keperawanan dan keperjakaan, aktivitas wanita juga tak perlu dibatasi, karena wanita dan pria sama-sama manusia ciptaan Tuhan dengan hak yang setara pula.

Rumah Ide dan Cerita mengatakan...

Keperawanan sih lumayan penting. tapi kayaknya sungan kalo mo nikah nanya soal keperawanan (soalnya saya belum pernah).

Emang ada beda rasanya yang perawan dibanding yang enggak karna kecelakaan? ( kalo saya sendiri sih belum tahu).

lilliperry mengatakan...

saya pernah baca tentang selaput dara buatan itu..

nice posting mbak, membuka mata :)

isti mengatakan...

kadang cowok menginginkan cewek perawan, bolehkah cewek juga menuntut cowok perjaka ? :)

Aulawi Ahmad mengatakan...

Saya suka cara penyampaian dan pemaparan tulisan anda, yang jelas berbobot dan patut jadi referensi :)..mengenai keperawanan dan keperjakaan kembali kepada diri masing2 bagaimana cara menyikapinya :)

golden info mengatakan...

ARTIKEL YG MANTAP, KREATIF, LANJUTKAN

-3- mengatakan...

wow...artikelnya keren mbak ...

duniaputri mengatakan...

keramaian atas nama gender.. untung saya bebas gender.. hohoho...

Yugata mengatakan...

WOW! Greatest Artikel! TOP! :)