16 Sep 2009

KARDUS BERANGKAT MUDIK

Tetangga-tetanggaku heboh!!! Semua sedang mencari kardus. Mulai bongkar bawah kasur yang biasanya beralas kasur, hingga rela jalan ke toko terdekat untuk mencari kardus. Yang lebih heboh lagi, tetangga satu dndingku, Budi. Dia rela mengendara sepeda motor dengan satu tangan dari kantor hingga kerumah, sedangkan satu tangan lainnya membawa lembaran kardus. Waktu aku tanya dia menjawab, "Buat mudik Ra..."
Aku cuma geleng-geleng kepala saat sadar betapa berharganya sebuah kardus saat musim mudik tiba. Padhal biasanya, kardus-kardus yang aku miliki langsung saja terlempar di tempat sampah.
Iseng, aku perhatikan info mudik di televisi dan koran, baik online maupu cetak. Saat aku amati, hampir sebagian besar pemudik membawa KARDUS!!!! Kalo nggak percaya coba dech perhatikan. Hampir pemeudik membawa rentengan kardus, mulai dari kardus terfavorit yaitu kardus mie instan, kardus rokok, kardus dispenser sampai kardus televisi dan bahkan kardus kulas. Samapi-sampai, sang pemudik tak tampak tertutup tumpukan kardus.Sempat sih aku berpikir apa aja yang mereka bawa. Dari survei kecil-kecilan ditetangga, ternyata mereka ada yang bawa krupuk, kue-kue kaleng, VCD player sampai ada yang bawa TV dan juga tape compo. Gila juga ya.....nekat bawa barang-barang berat yang terbungkus dalam kardus yang terkadang cuma diikat dengan tali rafia. Apalgi kalo packingnnya nggak betul terus kena air atau hujan. Bisa hancur berantakan.
Kalo ak jujur saja nggak sanggup!!!! Walaupun aku sempat mempuynai mobilitas yang cukup tinggi ditahun 2009  ini (pasca ibuku meninggal aku hampir satu bulan sekali PP Jakarta-Banyuwani dan aku jalani selama kuran lebih 6 bulan...) namun hanya sekali aku membawa kardus yang aku isi madu asli dari Gunung Ijen, dan beberapa koleksi bukuku yang sngaja aku bawa ke jakarta. Itu pun aku paksa karena nggak cukup masuk ke dalam tas troly ku. (tetanggaku sering bilang tasnya eliminasi AFI jaman di Indosiar dulu). Dancukup sekali itu saja. Tau alasanya, karena aku cukup ribet awalaupun naik pesawat. Apalgi pas di pengambilan barang. WAduh agak setengah malu soalnya kardusku sudah tidak berbentuk, untung saja isinya buku yang sudah aku packing lebih rapi sebelum dimasukkan ke dalam kardus. aku ngak bisa bayangkan bagaimana caranya para porter melempar kardusku ini. Selain malu aku juga kesulitan membawa kardusku keluar dari bandara. Waduh....apalagi saat maduku pecah dan semaki berantakan yang namanya kardus. Sejak saat itu aku janji tidak akan bawa kardus lagi.......
Untungnya, suamiku  punya tiga tas berbentuk troly (tetanggaku sering bilang tasnya eliminasi AFI jaman di Indosiar dulu), yang lumayang kuat, tahan banting, anti air, dan multi fungsi buat duduk sambil menunggu kendaraan datang. Walhasil, mulai dari beras hasil panen sendiri dari kampung, sambel pecel, krupuk, bahkan sampe terong pun aku packing dalam tas troly. Emang agak aneh sih, tapi alasanku cukup beralasa. NGGAK RIBET!!!!!!!!
Balik lagi kekardus, waktu aku tawarin tas troly buat mudik ke tetanggaku, dia cuma bilang, "Nggak mau ah, kayak orang kaya aja". Aku jadi senyum-senyum sendiri, berarti aku orang kaya dong, kan aku pake tas trolly, padahal perekonomian ku juga sama saja dengan mereka. Masih dibawah standart......Apa itu menandakan kardus sebagai streotipe masyarakat kelas bawah?. Untuk hal itu aku sama sekali tidak sepakat!!!! Mau bukti. Nyatanya di bandara yang nota bene kamu elit juga masih banyak kok yang bawa kardus. Intinya.....kardus adalah mudik, dan mudik adalah kardus. 
Satu hal yang aku ambil pelajaran, ternyata barang yang sepele sangat berarti bagi yang membutuhkan!!!! contohnya ya kadus itu. Kalo lagi nggak butuh, hilang sudah kardus dalam pandangan kita, tapi saat musim mudik kardus adalah barang yang paling berharga.
BTW, mudik kali ini aku bawa kardus nggak ya......Secara kompak aku dan suamiku akan berteriak TIDAAAAAAAAAKKKKKKKKK!!!!! 

6 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kalo gitu saya mau jualan kardus akh. ha ha ha.

mr-mung mengatakan...

jualan kardus juga ah... tp via online... hihi...

NURA mengatakan...

salam sobat
wah kasihan ya,,mau mudik bawa badan saja susah,,ditambah lagi kardus2 isi oleh2,,nambahin susah kan bawanya.

selamat idhul fitri 1430 H
minal aidhin walfaidzin
maaf lahir dan batin mba.

rizky mengatakan...

untuk tiap lebaran, dari dulu ampek sekarang sayah tak pernah mudik.... karena desa sayah yak surabaya ini :D hihihi

irarachma mengatakan...

sssstttttt....jangan bilang-bilang ya Janji!!!! ternyata mudik dan balik lebaran taun ini aku bawa banya kardus!!!! kutukan tulisan sendiri....

Freya mengatakan...

hahahaha...aye mah diomelin bawa kardus kalo mudik hihi.