9 Jul 2009

TENTANG PEREMPUAN........

Perjalanan Jakarta – Surabaya, 7 Mei 2009

Perempuan memang makhluk social, kaum marjinal yang selalu mempunyai daya tarik sendiri untuk dibicarakan dan selalu menjadi jawaban dari semua kesalahan yang pernah dilakukan laki-laki. Seperti kabar yang saat ini booming dibicarakan oleh Indonesia. Seorang Antasari Azhar, ketua KPK yang terkenal sebagai pendekar korupsi dijadikan tersangka sebagai actor intelektual pembunuhan seorang direktur BUMN. Ironisnya, kabar yang beredar menyebutkan jika pembunuhan tersebut dilatar belakangi cinta segitiga antara Antasari, Sang direktur dan seorang Candy Golf yang bernama Rani. Bahkan kasus tersebut di blow up secara besar-besaran oleh semua media massa karena dianggap sebuah skandal terbesar yang pernah dilakukan oleh pejabat Negara hingga berakhir sebuah pembunuhan.


Tak pernah bisa kubayangkan jika aku berada di posisi Antasari, Sang direktur, apalagi berada di posisi Rani.
Mungkin Rani hanyalah bagian kecil dari sebuah sekenario besar yang telah dirancang oleh “sang penguasa”. Lepas dari semua hal yang berbau plitik dan kekuasaan, pernahkah ada yang berpikir tentang perasaan Rani?. Rani tentunya sudah mampu untuk menentukan sebuah pilihan untuk menjadi istri ketiga sang direktur walaupn hanya secara sirri. Aku yakin latar belakang ekonomi yang membuat Rani memilih jalan seperti itu. Untuk mendapatkan sebuah materi secara instant. Secara logika kita bisa berpikir berapa gaji seorang Candy Golf? Padahal Rani harus menghidupi keluarganya bahkan masih harus mengirimkan uang pada keluarga besarnya di Serang Banten. Ironis……..Lalu sebagai seorang istri ke tiga yang dinikahi secara sirri, apakah Rani mendapatkan sebuah keadilan dari Sang direktur?. Apalagi media massa sempat memberitakan jika keluarga Sang direktur sama sekali tidak pernah mengenal nama Rani. Huh…sebuah pilihan sulit yang telah diambil oleh Rani. Salahkan jika Rani mencari sebuah ke adilan dan kepuasan lain misalnya dengan ketua KPK Antasari disebuah hotel berbintang lima?. Aku heran ketika seluruh media massa menyudutkan Rani, dan di blog juga menghujat Rani habis-habisan. Ini tidak adil. Seharusnya Rani juga mempunyai hak yang sama dengan suaminya. Jika suaminya mampu poligami kenapa Rani tidak mempunyai hak yang sama yaitu Poliandri?.....
Bukannya sebuah pembelaan pada Rani. Tapi aku memposisikan jika aku berada dalam posisi Rani. Keberadaannya dicari-cari hingga di hotel hingga Cottage di pinggir kota Jakarta. Tidak puas hanya itu, media massa berusaha investigasi dengan mencari Rani di keluarga besarnya. Bahkan mewawancari kakek Rani yang usianya mungkin tinggal hitungan jari. Huh…..untungnya aku sudah tidak ada dalam posisi tersebut. Tetangga Rani juga seperti pahlawan kesiangan yang mengaku mengenal RAni hingga diwawancarai secara ekslusif oleh sebuah televise swasta. Namun wawancara tersebut kosong…..Tidak ada isinya dan sama sekali tidak bermutu.Tiba-tiba saja semua orang yang tinggal di sekitar Rani merasa dirinya yang paling kenal dengan Rani padahal mereka hanya sekedar menyapa Rani dan malaha menggunjingkan Rani sebagai candy Golf dan seorang istri ketiga. Padahal tidak ada yang salah dari pilihan hidup Rani.
Mungkin scenario dari tangan Tugan bermain disini. Entah sebuah kesengajaan atau sebuah kebetulan. Pengungkapan kasus pembunuhan yang membawa nama Asntasari Azhar berbarengen dengan pemutaran perdana Film Jamilah dan Sang president. Film yang benar-benar membekas dalam pikiranku. Jamilah, sorang pelacur kelas kakap yang mempunyai masa lalu buruk membunuh seorang menteri yang notabene juga seorang pejabat Negara. Jamilah di hukum mati tanpa proses yang berbelit karena dianggap mengacaukan system pemerintahan. Sebuah keadilan sama sekali tidak mendampingi keberadaan Jamilah…….!NAmun sebaliknya yang terjadi di Indonesia, seorang pejabat Negara mengotaki pembunuhan pada pejabat Negara lainnya hanya karena seorang “Candy Golf” yaitu Rani. Jamilah dan Rani sama-sama menjadi korban dari makhluk yang bernama kekuasaan. Baik kekuasaan dari seorang laki-laki- ataupun kekuasaan politik dari sebuah Negara. Seandainya Rani memepunyai pikiran yang sama dengan Jamilah, mungkin kenyataannya akan lain. Jika dalam film Jamilah membunuh seorang menteri, seharusnya Rani juga “membunuh” para pejabat negar. Bukankah itu sebuah keadilan……..
Harta, tahta dan wanita adalah beberapa hal yang dapat menghancurkan Dunia…..
Sebuah pernyataan yang bodoh……Karena yang dapat menghancurkan dunia adalah ketidakadilan.

1 komentar:

eka wijayanti mengatakan...

Iya. Setelah membaca ini, baru saya sadar kalau Jamilah dan Rani itu muncul di waktu yang sama.

Kadang saya berpikir, kita sebagai perempuan, bisa menjadi sangat berbahaya. Kalau kita sedikit saja keliru menempatkan diri.