10 Jul 2009

KUPU-KUPU NDARU




Hotel ibis Surabaya, 9 Desember 2007
Pada laki-laki berambut panjang di ujung meja
Aku tak pernah dapat merasakan sesuatu. Tapi hari ini semua berubah. Ada sesuatu yang menggeliat-geliat dalam jantugku. Apa itu?. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setiap malam, sesuatu itu seakan-akan muncul, meninggalkan getaran yang halus. Ya…sangat halus, bahkan tak ada alat untuk mendeteksinya. Aku bingung Tuhan!!!!. Semoga ini bukan…………

Pagi ini aku mengerjapkan mata. Tuhan ….apa yang sedang terjadi padaku. Tiba-tiba getaran halus iu muncul kembali bahkan menghangatkan tubuhku dan semakin membuatku nyaman meringkuk dalam kamarku. Sesaat aku nikmati dan aku beranikan diri untuk menatap di dadaku. Nafasku seakan berhenti berhembus. Jumlah libidoku langsung memuncak. Kupu-kupu sebesar telapak tanganku menggeliat perlahan keluar dar kepompong yang menggantung di jantungku!!!!. Apakah ini yang dilihat ayah saat ibu melahirkan aku. Jantungku semakin keras berdegup. Ayo cepat……kamu pasti bisa…..mulutku nggrundel sendiri sambil berdoa untuk kupu-kupu yang lahir dari dadaku. Kupu-kupu itu telah keluar dan mengepakkan sayapnya perlahan. Ya Tuhan……aku tak pernah melihat kupu-kupu seindah ini. Bahkan tidak di Taman Kupu-kupu TMII. Kupu-kupu jenis apa ini?. Mataku membeliak mengamatinya seperti seorang preman Kampung ujung yang mengamati aku saat aku masuk ke wilayahnya. Tanpa berani bertanya. Sayapnya indah, dengan warna biru semburat merah, oh tidak. Ada warna kuning dan ungu di tengahnya. Atau itu warna emas dan perak. Aku menggelengkan kepala heran, bahkan aku tak tau warna apa itu. Seperi warna pelangi. Atau ini yang dinamakan Ndaru?
Kakiku melangkah ringan keluar dari Kamar Hotel. Ih….ada sesuatu yang aneh dengan kupu-kupu ndaru dalam dadaku. Dia tidak membesar, juga tidak mengecil. Dia aman di sana, hanya sesekali mengepakkan sayapnya. Bahkan aku tak tahu apa yang dia makan dan apa yang dia minum. Aku tersenyum geli. Aku dan ndaru ku seperti Ken Arok dan kerisnya. Atau seperti prajurit dengan senjatanya?. Pasangan serasi bukan?.


***

“Kau Raa…”. Ups, aku langsung menutup mulutku. Suara itu menggema. Aku menoleh dan Oh My God. Dia….kupaksakan mulut ini menutup. Aku tak berkata hanya berjalan ringan sambil menjauhinya. Ow…ow….Kupu-kupu Ndaru di dadaku tiba-tiba mengepak perlahan. Geli dan tiba-tiba ada respon positif yang memaksaku untuk memandangnya sambil berkata, “Aku menyukaimua”, tapi hanya keluar dari jaringan bilabial dalam hati. Sangat tidak mungkin sekali aku mengucap kalimat itu, pada laki-laki yang baru kukenal dalam hitungan jam, ketika kupu-kupu Ndaru bandel ini terus mengepakkan sayapnya. Udara terasa hangat, lebih hangat saat aku meringkuk di bawah bed cover merahku. Ini sebuah sensasi yang maha dahsyat. Aku mengernyitkan keningku, mencoba mengingat kapan pernah ku rasakan sensasi seperti ini. Aku melumat bibirku sendiri dengan lidahku. Yang pasti kupu-kupu ndaru itu terus mengepakkan sayapnya yang indah. Bahkan disetiap kepakan sayap, warnanya berubah dan sensasinya juga berubah. Sesuatu yang aneh, atau aku saja yang terlalu berlebihan menganggap itu….Ah semoga ini bukan…..
Langkahku semakin ringan saat aku semakin menikmati kehadiran kupu-kupu Ndaru di jantungku. Banyuwangi Surabaya seakan menjadi taman bunga yang mampu membuat kupu-kupu Ndaru dalam jantungku, dan dia akan terus mengepakkan sayap saat aku bertemu dengan…..Ya aku sadar kupu-kupu itu mengepak saat aku mengingat sosok itu. Nafasnya, tatapan matanya, bau tubuhnya…ah….ah…aku telah gila. Aku menundukkan kepala. Kupu-kupu Ndaru ku diam, dia seperti merindukan bunga. Bukankan kamarku adalam taman bunga bagimu. Aku menangis,” Kupu-kupu Ndaru ku jangan bersedih, teruslah mengepakkan sayapmu untukku”. Tapi aneh tak ada air mata di pipiku bahkan aku terus tertawa dan tertawa sepuas-puasnya. Aku mentertawakan diriku sendiri atau aku yang akan semakin gila dengan kehadiranmu.
Semoga ini bukan cinta, aku tuliskan kata itu pada selembar kertas. Dan tiba-tiba kupu-kupu Ndaru dalam jantungku berontak. Dia mengepakkan sayapnya dengan keras. Bukan lagi desir aneh, akan tetapi ini adalah badai, menghancurkan serta memporakporandakan perasaanku. Pikiranku bergelimpangan, lautan darahku bergolak seperti tsunami. Badanku terasa dingin dan mataku panas. Tuhan, aku menangis. Dan dari tiap tetes air mataku muncul seribu kupu-kupu. Aku semakin tak bisa berpikir. Mataku buta oleh seribu kupu-kupu. Tiba-tiba dari seluruh pori-pori di tubuhku muncul kembali kupu-kupu itu. Aku semakin blingsatan. Libidoku semakin tinggi, aku berteriak, menggeliat, mencakar, menjambak, berlari keluar dari kerumunan kupu-kupi sialan ini. Tapi aku tak bisa. Semakin aku berlari, Kupu-kupu bangsat ini terus mengejarku. Bahkan kupu-kupu Ndaru di jantungku sekarang bertengger dengan anggun di otakku. Seperti seorang komandan cantik yang sedang memberi perintah kepada pasukannya. Aku tak bisa lagi berpikir waras. Otakku telah dikuasainya. Aku pasrah, aku lemas, dan kubiarkan seribu kupu-kupu itu membawaku terbang ke dunia yang tak pernah aku jumpai. Dunia apa ini. Aku seakan berada di daerah gersang yang indah, apa ini sebuah taman bunga, ah…tapi mengapa kerongkonganku kering. Aku butuh minum!!!!! Aku butuh air !!!! Cepat berikan padaku. Tapi aneh, aku terus menikmati penerbangan dengan seribu kupu-kupu bangsat ini. Sesaat aku tersadar, ada kupu-kupu hitam jatuh dan sayapnya luruh di bawah kakiku. Tuhan….bukankah itu kupu-kupu yang dulu juga pernah singgah di jantungku beberapa tahun yang lalu. Sedang kini kupu-kupu Ndaru sialan itu menjadi raja di otakku. Tuhan…aku pasrah…


***

10 Desember 2007 , mutiara siang Gubeng – Karangasem
aku jatuh cinta. Perjalanan ini tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. 306 kilometer dari kotaku ternyata menyisakan sebuah pertanyaan-pertanyaan baru. Apakah aku wanita atau aku perempuan. Saat ini, kita tidak sedang menunggu pagi. Hanya merangkai kata-kata yang tidak pernah diucapkan lewat suara. Tapi perasaan yang mengalir dari udara menuju nyawa kita. Apa yang ingin kamu katakan. Speak up man…….!!!! Orang sering mengagungkan kejujuran, tapi sangat sulit untuk jujur pada diri sendiri. Seperti halnya kamu. Mulut kita tak berbicara, tapi pagi ini sudah cukup mewakili kejujuran hati kita.
Kamu membawa aku ke sebuah suasana yang beda. Sebuah dunia yang polos, hanya ada dua bayi dengan pakaian kebenaran. Benar……kebenaran sendiri-sendiri. Bukan sebuah kebenaran haqiqi. Sebenarnya aku benci saat-saat seperti ini, saat aku harus menunggu pagi dengan seorang laki-laki. Iya….laki-laki yang baru aku kenal dalam hitungan jam. Laki-laki yang tak pernah kukenal sebelumnya, tak pernah kuketahui hatinya, tak pernah memahami tatapan matanya, tak pernah menyentuh kulitnya, tak pernah memandang bibirnya, tak pernah berpikir untuk bercinta dengannya. Tapi saat aku menunggu pagi itu dengannya, semua BERUBAH!!!!!!
Entah…….sudah berapa lama aku tidak pernah merasakan perasaan ini. Setahun yang lalu atau bahkan sudah lebih. Rambutnya yang panjang dan sedikit tidak rapi, berhasil menarikku kedalam magnet yang tidak berkutub. Negatif atau positifkah? Bau tubuhnya senafas dengan gerakku. Thats…….itu yang aku cari, tatapan mata yang pernah ada tapi pernah hilang. Tatapan mata yang sangat aku rindukan.
Saat menunggu pagi , aku tak punya hak suara. Tapi bukankah sebuah hal yang manusiawi, saat laki-laki dan perempuan saling membutuhkan. Kamu membutuhkan aku, dan aku membutuhkanmu. Tapi kemudian muncul pertanyaan. Apakah aku dan kau hanya saling membutuhkan saat menunggu pagi? Mungkin iya mungkin tidak. Iya , karena kita berdua dalam keadaan kosong. Benar benar kosong secara jiwa , batiniah dan lahiriah. Alasan yang tepat!!! Mungkin tidak , karena kutemukan sosok yang berbeda pada dirimu. Alasan klise bagi orang yang jatuh cinta. Hei…….tunggu dulu. Belum tentu aku menggunakan alasan itu, berarti aku jatuh cinta padamu. Walaupun jujur aku takut kehilangan kamu. Tapi bukan berati I’am falling in love dong!!!!!!!
Kau tau perasaanku saat ini. Aku bayangkan saat menunggu pagi , kau ada dipelukku dan kubelai rambut panjangmu. Apakah rambutmu yang membuat aku nyaman, atau karena kenyamanan aku suka pada rambut panjangmu. Sepertinya, ada sesuatu yang hilang, dan aku berusaha membunuh perasaan, bahwa yang hilang itu tidak akan pernah kembali. Aku benci saat aku harus memupuk sebuah harapan. Sejak dulu aku berharap ayahku selalu menemaniku, tapi hingga aku tulis catatan ini, dia tidak pernah ada dan muncul. Jangankan memelukku, menemui dalam mimpi aja nggak pernah. Dan aku tak pernah berani berharap banyak pada kedatanganmu. aku mencintaimu. Halah………………
Aku benci untuk berharap, karena aku terlalu lelah untuk berharap. Mengalihkan perasaan sendiri. Munafik pada perasaan. Dalam perjalanan hidupku, ternyata yang paling sulit adalah jujur pada perasaanku sendiri. Termasuk saat aku meninggalkan 409, tanpa tatapan mata yang aku mimpikan. Tanpa pelukan , tanpa ada janji , tanpa ada komitmen, dan tanpa ada harapan. Dan tanpa ada kamu…….
Jika dalam posisi saat ini, aku seperti penulis kacangan dengan tulisan stainless yang dijual di balik tumpukan Koran tempo. Yang hanya mengeksplor perasaan diri sendiri, tanpa melibatkan perasaan pembaca. Aku bertanya padamu, apakah perasaanmu terlibat lewat tulisan ini!!!!! Aku hanya bisa berkata jujur lewat tulisan, tanpa kata-kata. Aneh bukan ….pada sebuah tulisan aku bisa menggambarkan sebuah ketelanjangan , memainkan theater of mind , memenjarakan pikiran orang pada sebuah kotak kompleks. Dan aku ingin mengajakmu pada dunia kompleks itu. Hanya ada aku dan kamu. Tidak ada orang ketiga, orang keempat. Tidak ada masa lalu, tidak ada masa depan, tidak ada mimpi. Hanya ada pemikiran kita berdua. Pemikiran yang tidak pernah terucap lewat kata-kata dan media.
andai kamu menemaniku dalam perjalanan panjang 308 kilo ini! Tapi…. Apa yang kamu lakukan jika tahu posisiku.


Atas nama orang yang jatuh cinta

Tidak ada komentar: