6 Nov 2013

SURAT TERBUKA UNTUK TANJUNG UMA - BATAM

Banyuwangi, 24 Oktober 2013

Hai Tanjung Uma ... apa kabar mu hari ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Masih ingat saya? Saya Iraa. Perempuan Jawa keturunan Bugis yang pernah jatuh cinta padamu dan sampai saat ini pun masih cinta ke kamu.

Tanjung Uma... kamu sedang sakit ya? Duhhh seharusnya saya di sana menina bobokkan kamu dalam pelukan saya. Tapi bagaimana? saya bukan Melayu. Saya hanya perempuan Jawa. Apa iya saya di terima di sana?.

Tanjung Uma. Beberapa hari ini saya membaca status sahabat-sahabat saya yang ada di Batam. Yang saat ini sedang membela kamu. Membaca komentar-komentar di bawahnya. Tiba-tiba saja saya terpojok dan menjadi sangat kecil. Saya tidak berada disana. Saya hanya bisa membacanya dari berita.

"Kenape pula Jawa ada disini. Suruh die balek kampung".
"Jawa tak sadar numpang kat kampung orang. Bale sana ke asalmu"

Serta komentar-komentar povokasi lainnya

Di sini di Jawa Timur tepatnya di Banyuwangi, beberapa malam saya selalu membacanya. Saya mengisak seorang diri. Sejak awal saya tidak sepakat dengan sentralisasi Jawa. Saya tidak sepakat dengan peng-kotak-kotak-an Indonesia. Apa bedanya kita dengan Belanda? Adu domba.

"Iya Raa, berdoalah tuk Tanjung Uma dan kampung tua di Batam"

"Kakak.... iraa jawa. Tapi kakak tau kan kalau ira sangat mencintai melayu"

"Raa.....pergerakan masyarakat Tanjung Uma ke BP Batam bukan berhadapan dengan suku. Murni untuk memperjuangan kampung tua. Ini antara Tanjung Uma dengan BP Batam. Bukan antara masyarakat dengan kampung tua dengan suku tertentu"

"Kakak isuenya sudah melebar antara Jawa dan melayu"

"Sengaja di sebar Raa"

"Lalu sekarang apa kita bisa membendungnya? ini provokasi"

Akhirnya saya memilih diam dan menahan sakit dalam hati saya. Sangat. Sambil menangis. Melihat foto-foto demo. Masyarakat yang di kepung oleh aparat dan preman. Masyarakat yang menjaga tanah kelahirannya. Tuhan membuat perbedaan itu sebagai warna agar hidup indah. Bukan malah memecah belah seperti ini.

Tanjung Uma. Apa kabarmu? apakah kamu baik-baik saja malam ini. Berhari-hari saya tidak lepas dari gadget dan internet untuk mengetahui kabarmu. Walaupun mungkin kamu melupakan saya karena saya hanya perempuan Jawa. Sama seperti Hang Tuah melupakan Putri Gunung Ledang.

"Aku mau ke Batam sekarang"
"Ngapain kesana. Macem-macem saja. Katanya Desember"
"Aku mau ikut demo"
"Gila kamu. Kamu itu siapa. Apa iyaa kalau kamu ke sana masalah akan selesai? sadar diri Raa. Kamu itu perempuan Jawa. Mereka itu orang melayu"
"Kamu lupa ayah saya bugis, walaupun saya perempuan Jawa. Bugis dan melayu seperti mata hitam dan mata putih"
"Raa tau diri lah kamu"

Dan kembali saya diam sambil menatap layar notebook saya. Saya ingin balik ke Batam. Sungguh. Saya mau bergabung dengan masyarakat Tanjung Uma. Bukan karena saya Jawa atau Melayu tapi karena saya perempuan yang jatuh cinta pada Tanjung Uma.

Ketika saya banyak menulis catatan tentang Tanjung Uma. Tentang Melayu. tentang Batam. Tentang Kepulauan Riau. Bukan hanya satu atau dua. Tapi banyak.

http://duniaira.blogspot.com/2011/09/tanjung-uma-dilema-antara-cagar-budaya.html

http://duniaira.blogspot.com/2012/02/saya-dan-tanjung-uma.html

http://duniaira.blogspot.com/2012/03/teater-bangsawan-amok-hang-jebat-di.html

Catatan itu masih menumpuk di blog dan di notebook saya.

***********************************

Tanjung Uma, 14 September 2011

Saya terdiam cukup lama di pelataran Tanjung Uma.
Otak saya berpikir. 3 Miliar untuk pembangunan pelataran Tanjung Uma, dengan dasar awal meningkatkan perekonomian penduduk. Memasukkan Tanjung Uma dalam inventaris kampung tua dan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Batam. Lalu apa yang di dapatkan oleh warga Tanjung Uma? Mereka semakin terdesak oleh pembangunan. Rumah-rumah kayu mereka akan menjadi sejarah. Laut mereka yang konon dulu bening sekarang menjadi hitam legam terkontaminasi sampah abad modern.

Saya ingat saat kamu menceritakan kepada saya. “dulu kami sering menangkap ikan, atau mengantar para turis untuk menikmati keindahan pelabuhan tradisional Tanjung Uma”. Saya masih ingat. Dan saat saya memaksa sejak tahun berapa kamu tinggal di Tanjung Uma. Kamu hanya diam dengan alasan saya bukan orang yang pantas menjelaskannya. Ah…saya tau pasti kamu juga merasa perbedaan antara Tanjung Uma dulu dan sekarang. Atau kau juga merasa kehilangan Tanjung Uma mu?

Pertanyaan saya apakah perekonomian Tanjung Uma benar-benar meningkat?. Saya diam. Saya miris saat saya menyadari perahu pompong tertambat tanpa penumpang bukan di atas air laut yang bening. Tapi hitam legam. Sampah-sampah menyerobot masuk ke bawah rumah panggung.

Perempuan-perempuan nelayan yang duduk bergerombol di tepi pelataran. Dan saya yakin, jumlah ikan yang ditangkap oleh suami mereka akan berkurang melihat “rusak” nya alam di pelabuhan tradisional ini.

Tanjung Uma menjadi sebuah bukti keegoisan para penguasa. Mereka mengagung-agungkan Tanjung Uma sebagai kampung nelayan. Sebagai kampung tua yang menjadi cagar budaya melayu yang ada di Batam. Dengan sebuah gapura besar berwarna kuning hijau yang memudar.

Tapi apa pernah mereka melihat ke dalam. Apa yang di butuhkan oleh warga Tanjung Uma? Apa mereka dianggap ada? Saya hanyalah perempuan biasa yang tidak mempunyai kapasitas apa-apa di Tanjung Uma. Tapi saya melihat Tanjung Uma mempunya sebuah potensi yang cukup besar. Bukan hanya sebagai cagar budaya melayu, tapi potensi wisata sejarah.

Tanjung Uma memiliki sumber daya manusia yang cukup banyak, yang bisa diberdayakan. Mempunyai komunitas-komunitas seni dan budaya yang jika diberdayakan menjadi asset yang luar biasa. Tanjung Uma mempunyai sejarah yang sangat spektakuler dalam sejarah Batam.

Tanjung Uma hanya menjadi korban lips service bagi dunia politik. Karena mempunyai jumlah warga yang nilainya cukup fantastis, dan menguasai Tanjung Uma berarti bisa mendulang suara cukup banyak. Menjadikan Tanjung Uma sebagai kantong-kantong politik mereka.

Janji utuk membangun Tanjung Uma? Membangun yang mana? Menutup semua menjadi satu pelataran luas hingga keseberang ? hingga tidak perlu lagi perahu pompong? Hingga tidak lagi rumah-rumah kayu? Tidak lagi ada jaring-jaring nelayan? Tidak ada lagi logat melayu dan berubah menjadi istilah loe gue? Tidak ada lagi kias pantun dan berubah menjadi musik dangdut dengan pakaian erotis! Muda mudi tidak lagi mengenal musik kompang tapi lebih mengenal club malam yang berada di seberang rumah mereka. Pembangunan keblinger……..

Seharusnya tidak merubah Tanjung Uma. Biarlah Tanjung Uma tetap menjadi sebuah kampung nelayan tua dengan khasanahnya. Pemerintah hanya perlu membina. Mendampingi. Memberdayakanya. Menjaganya. Tetap menjadi sebuah kampung sebagai cagar budaya.

Saya akhirnya membayangkan kalau seandainya Tanjung Uma seperti halnya kampung di Suku Baduy atau mungkin suku Samin?. Tetap bertahan dengan adat budayanya. Menjunjung ke arifan budaya lokal. Ah mana mungkin para pejabat di Batam berpikir sejauh itu untuk Tanjung Uma. Sedangkan mengurusi sampah saja mereka saling menyalahkan!

Ya….Tanjung Uma adalah sebuah dilema antara cagar budaya dan pembangunan kota.

**********************************************

Tanjung Uma, Agustus 2011

Tanjung sendiri berarti daratan yang menjorok ke laut, atau daratan yang dikelilingi oleh laut di ketiga sisinya. Sedangkan Uma sendiri dalam Ibrani berarti adalah perempuan atau Ibu. Sedangkan dalam bahasa Mentawai artinya adalah Rumah. Perempuan, ibu dan Rumah.

Tiga kata yang dapat disimpulkan sebagai sebuah ketenangan. Sekarang siapa yang tidak tenang saat kita berada di dekat ibu kita? Di rumah kita.

Bukan sebuah kesalahan kan jika saya mengartikan bahwa Tanjung Uma adalah sebuah daratan yang memberikan kita ketenangan? Ibu dari kota Batam. Rumah dari Kota Batam. Pusat dari kebudayaan melayu Batam yang semakin terlupakan.

Saya akhiri catatan saya tentang Tanjung Uma dengan sebuah pertanyaan besar bagi saya, “Apa yang bisa kamu lakukan untuk Tanjung Uma Raa? Kampung tua yan sudah kamu mimpikan sejak jaman kamu kuliah dulu”

Saya sempat sharing ke teman saya di Jawa. “Kamu pasti bisa Raa! Anggap Tanjung Uma adalah Banyuwangi kedua kamu. Konsep kamu di Banyuwangi bisa kamu terapkan di Tanjung Uma”

Saya menggelengkan kepala. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang perempuan Jawa yang mempunyai mimpi dan singgah di Tanjung Uma.

Ah…andaikan ada seseorang yang mengatakan, “Kita akan buat Tanjung Uma bukan hanya menjadi sebuah sejarah untuk anak-anak kita, tapi tempat tinggal anak-anak kita nanti”

Saya hanya bisa menulis dan menulis. Saya hanya ingin mengatakan kepada Indonesia bahkan pada dunia. Bahwa ada sebuah kampung tua yang perlu diselamatkan. Yaitu Tanjung Uma.

Dan inilah jawaban saya mengapa saya sangat mencintai Tanjung Uma seperti yang selalu ditanyakan mereka yang ada di sekitar saya.
(1) mimpi jaman kuliah saya untuk datang ke Tanjung Uma dari sebuah searching di Internet
(2) Saya bermain-main dengan indera ke enam saya. Bahwa saya percaya dan yakin kakek nenek atau nenek moyang saya dari suku bugis pasti pernah tinggal di Tanjung Uma, walaupun saya sampai detik ini tidak pernah menginjak tanah Bugis di Makassar sana
(3) karena saya berada di Batam dan saya bekerja di sebuah radio yang mengangkat budaya Melayu.

Serta alasan yang harus saya sembunyikan karena alasan tersebut adalah alasan yang tidak masuk akal dan tidak masuk secara nalar. Konspirasi hati!

Kalau bukan kita siapa lagi? Karena saya percaya Tanjung Uma tidak akan menjadi cerita dongeng untuk anak-anakku kelak.

“Melayu takkan Hilang di bumi”.

Saya jadi ingat perjuangan teman-teman Koseba, Komunitas Sejarah Banyuwangi untuk mengumpulkan sejarah-sejarah Banyuwangi yang tidak terlacak. Menjadikan satu dalam kumpulan tulisan. Tapi apakah saya bisa? Siapa yang akan dukung saya disini? Karena saya adalah perempuan Jawa bugis yang terdampar di Batam yang mulai mencintai budaya Melayu. Dan sendiri!! Entahlah….mimpi saya kembali menggila.

My dear

: Saya mencintaimu seperti saya mencintai Batam dan Banyuwangi

Pagi ini saya ingin berbisik padamu, Melayu Takkan Hilang di Bumi!

Finish!! menutup tulisan dengan doa semoga saya bisa berguna untuk Tanjung Uma, Melayu dan Batam! Paling tidak tulisan saya di baca oleh dunia.

Tanjung Uma, Sebuah dilema antara Cagar Budaya dan pembangunan kota

Ya...seperti seorang bocah mendapatkan mainan baru. My Lovely Tanjung Uma

Catatan ini aku persembahkan pada Ibuku yang mengajarkan aku untuk menghargai sejarah

Ayahku yang menciptakan aku sebagai perempuan yang harus belajar

Pada Banyuwangiku, Pada Batamku, Pada Melayuku
Pada semua yang peduli tentang warisan sejarah Indonesia

Pada Tanjung Uma, yang mengajarkanku bertahan di antara "kemajuan"

Padamu My Dear, yang mengajarkanku bagaimana aku harus bersabar!

****************************************************

Tanjung Uma ku. Bagaimana kabar mu? Sungguh saya rindu sekali pada mu. Pada bukit Semocong. Masihkan banyak ilalang liar nya di sana? pada Kampung Agas. Masihkan ada kakak penjual masakan melayu tempat saya memesan Ayam Kunyit? Lapangan Tanjung Uma saat saya sibuk memotret Teater Bangsawan

Tanjung Uma. Apakah kamu mau menerima doa perempuan dari Tanah Jawa? ketika tiba-tiba kata "Jawa" menjadi momok yang menakutkan di tanahmu? Kau tau Tanjung Uma? Saya ingin bergabung bersama dengan wargamu. Berdiri merebut michropne dan mengatakan, "Saya Indonesia yang membela sejarah Kampung Tua".

Tanjung Uma. Entahlah saya bingung mau bilang apa lagi ke kamu. Saya hanya berharap BP Batam atau apalah itu namanya bisa bijak untuk menyelamatkan kamu. Saat "anak-anak" Tanjung Uma bergerak membela kamu, "ibu" ya.

Tanjung Uma saya mencintai mu. Sungguh *ngusap air mata. Sekali lagi walaupun saya perempuan Jawa.

Damai untuk mu.

"Raa nyebranglah ke sini. Amuk da mau mulai"

"Duh... kalau seandainya dulu sultan Mahmud menyetujui permintaan putri Gunung Ledang untuk membuat jembatan antara Jawa dan Tanah Melayu. Saya akan disana berada bersama orang-orang Tanjung Uma. Saya doakan yang terbaik untuk Batam dan Melayu serta Tanjung Uma. Satu kata Lawan"

Saya masih sangat percaya pada kata-kata keramat Laksamana Hang Tuah "Takkan Melayu Hilang di dunia"

dan saya berkata Takkan Melayu Hilang dari Tanjung Uma"

Baiklah Tanjun Uma. Saya harus selesaikan surat terbuka saya ini untukmu. Kamu akan baik-baik saja. Sunggung saya percaya anak-anak kamu akan menjaga kamu. Uma. Umi. Ibu. Anakmu ribuan. Dia akan berdiri menjaga kamu. Tentu dengan bantuan Tuhan. Kamu akan abadi.

Saya tidak ingin nanti Tanjung Uma hanya menjadi negara antah berantah dalam dongeng anak-anak saya

Lalu apa yang bisa kamu lakukan Raa? saya sekarang hanya berdoa yang terbaik untuk Tanjung Uma. Allah menjagamu Tanjung Uma. Sejak dulu saya menyebutnya. My Lovely Tanjung Uma. Titip masa lalu dan kenang saja di kampung tuamu.


Tertanda
Iraa Rachmawati


*Saya berbaju orange di foto kiri bawah dengan kawan-kawan dari Sanggar Pangsebu. Waktu itu. Gelar Budaya Melayu anak negeri. Masih tentang Tanjung Uma.
 
 

1 komentar:

MOH HADIANSYAH mengatakan...

Masyarakat tg uma tdk bnci org jawa dan mrk tdk pernah mengusir org jawa yg tinggal disana. Mereka hanya tdk suka dg wakil gubernur kepulauan Riau yg punya andil dlm penjualan lahan kampung tua tg uma ,kemudian yg coba memanggil paksa sesepuh tg uma ke rumahnya d perum duta mas tuk tdk meributkan lhn kampung tua tg uma, dan yg paling tdk disukai warga tg uma ketika segerombolan anak buahnya yg menamakan diri sbg perkumpulan jokoboyo menyerang kampung tg uma dg membawa senjata tajam.
Sekali lagi warga tanjung uma tdk membenci org jawa, buktinya waktu demo mereka tdk menolak perkumpulan bonek surabaya tuk gabung dan mendukung warga tg uma saat demo.