10 Jan 2013

ANTARA NORMAL DAN TIDAK NORMAL

: ini bukan judul lagu antara ada dan tiada


"Hidup normal, sederhana.  Tumbuh baik-baik, isi hidup dengan tuntunan ajaran yang kita yakini. Meninggal dengan senyum . Itu saja…..”

Saya menggerutu sendiri. Lalu apakah selama ini hidup ku yang selalu kamu anggap tidak normal berarti bsaya tumbuh dengan tidak baik-baik, mengisi hidup tidak menggunakan tuntunan ajaran yang saya yakini? Dan nanti jika saya meninggal saya tidak tersenyum?

Lalu bagaimana?

Mas… ..saya selalu mempertanyakan pada diri saya sendiri. Apakah hidup saya normal? Ketika saya lebih asyik dengan  buku dan laptop di bandingkan berkutat dengan dapur dan bumbu-bumbu masakan? Apakah hidup saya tidak normal ketika saya kerja berangkat pagi dan pulang tengah malam kemudian melanjutkan dengan bergadang sampai menjelang shubuh? Apakah tidak normal ketika saya lebih suka ‘nglayap’ masuk-masuk hutan, naik gunung,  merendam kaki di air terjun, dari pada berdiam dalam kamar dengan pasangan. Duduk berjam-jam di sebuah café dengan secangkir kopi. Sibuk dengan buku saat makan entah di warung atau di kantor. Lebih ikhlas mengeluarkan uang  untuk membeli buku daripada membeli jilbab dengan model yang terbaru. Lebih memilih sebuah ransel dari pada tas tangan manis dengan sebuah pita bagian depannya.  


Kau tau mas…. Baru saja saya berdebat dengan seorang teman. Dia bilang kepada saya, “Berdoalah Raa agar kamu diberi kesehatan, panjang umur, banyak rejeki…”.

Saya langsung membantahnya. Saya tidak mau berdoa seperti itu. Saya hanya akan meminta kepada Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada saya. Debat saya habis-habisan dan saya tetap ngotot pada teman saya bahwa saya tidak akan berdoa baik-baik untuk diri saya sendiri. Saya tetap keukeuh kalau saya hanya meminta yang terbaik pada Tuhan. Jika saya  meminta sehat tapi bagi Tuhan lebih saya sakit bagaimana? Jika saya meminta ini dan bagi Tuhan yang lebih baik adalah itu apakah saya akan protes?

Saya lelah berdamai dengan kenyataan. Saya ada dalam sebuah titik bahwa saya harus belajar menyederhanakan mimpi.

Mas…. Saya pingin hidup normal. Sangat ingin hidup seperti perempuan normal kebanyakan. Bangun tidur menyediakan secangkir kopi atau teh. Menyiapkan sarapan untuk anak dan suami. Sibuk menanyakan apakah buku pelajaran mereka sudah masuk semua di di buku. Lalu saya akan sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makan siang.  Mengambil raport, ikut rapat komite. Menandatangani perjanjian anak agar tidka nakal dan membuat kerusuhan di sekolaha. Dan mengakhiri hari di sebuah ruang yang di sebut ruang keluarga dengan berebut remote tv atau mendongengkan mereka tentang sejaran nusantara. Bercerita tentang perjalanan bunda nya yaitu saya.

Saya ingin hidup seperti itu mas… seperti orang kebanyakan.

Bahkan jika di suruh memilih saya akan memilih menjadi perempuan bodoh yang mempunyai keluarga lengkap. Bukan menjadi perempuan karier dengan segudang prestasi.

“Mas aku dapet beasiswa”
“Terus beasiswamu itu buat siapa”
“Buat aku la…”
“Iya terus nantinya buat apa”

Kamu tahu? Membaca pesan pesan itu membuat saya menekuk muka. Menginstropeksi diri.
Ah …. Kalau seandainya saya memilih mas. Saya menukar semua yang saya miliki ini dengan kehidupan normal yang selalu kamu katakan ke saya.

Dan akhirnya saya menyimpulkan 

: Kadang cara Tuhan membahagiakan kita tidak dengan cara yang 'normal'

Pertanyaan kamu terakhir.

“Kamu bahagia Raa?

Saya keluar dari ruangan dan meneruskan catatan ini tanpa pernah bisa menjawabnya. Iya atau tidak.



Finish.

1 komentar:

Cerita Tugu mengatakan...

baca judul aku kaget, tapi itu normal saja