7 Des 2012

MONOLOGH SETENGAH TIGA DI BANDARA SOETA


Untuk Endik

: ternyata Bintaro membuat saya rindu

Ndik..... setelah seharian berkutat dengan rancangan undang-undang kesetaraan gender akhirnya saya memutuskan pulang ke Bintaro. Memilih meninggalkan fasilitas hotel. Bermacet-macet menuju sebuah rumah petak di Pondok Jaya.

Ada sebuah perasaan aneh saat saya melewati jalan-jalan sepanjang Bintaro.

Iya sadar bahwa saya memulai status baru bukan lagi sebagai lajang. Fuich......ketika saya menginginkan sebuah rumah tangga normal. Lalu apakah selama ini rumah tangga kita tidak normal? Mungkin tidak lazim lebih tepatnya.

Rumah petak yang dulu kita tinggali masih tidak berubah. Cat nya masih biru di bagian luar. Entah di dalam? Apakah hijau seperti warna kesukaanmu? Entahlah karena saya datang terlalu malam. Tidak mungkin saya mengetuknya karena tidak ada kamu di dalamnya. Penghuninya sudah berbeda.

Lapangan di depan tempat saya menjemur baju ku dan kamu sudah tertembok rapat. Di dalamnya katanya ada kolam renang. Tentu saja milik orang kaya. Bukan orang-orang seprti kita. Gang nya masih sama. Saat saya mencium tangan kamu saat berangkat kerja, menunggu mu berjam-jam untuk menjadi pembuka pintu. Berkutat dengan dapur dan segala sesuatu yang berurusan dengan rumah. Melupakan mimpi saya menjadi perempuan karier. Menjadi seorang jurnalis. Mengabdi ... mengabdi .......kepada kamu.

Ternyata saya terlalu lelah. Ketika saya hanya diam sedang otak saya memaksa saya untuk terbang. Jangan salahkan saya Ndik jika memutuskan hidup seperti ini. Kita harus sama-sama instropeksi diri bukan? Bukan hanya saling menyalahkan atau mendiamkan atau sekedar berbasa basi menanyakan kabar. Ketika kita larut dengan dunia kita masing-masing.

Saya terpaku di depan rumah petak kita dulu. Saya mendengar suara saya di dalam. Ketika saya tertawa terbahak-bahak saat kamu membawakan saya sebuah lemari buku baru dan sebuah kasur tanpa dipan. Ketika kamu membawakan sebuah mawar merah tanpa mengatakan apa-apa. Saat mengatakan masakan ku enak padahal terlalu banyak garam. 

Dan saya dengan bangga naik di belakang motor merah kamu. Mengabaikan semua mimpi saya.  

Ndik.... tiba-tiba saya kangen hidup kita yang dulu. Yang sederhana. Tidak punya apa-apa. Toh kenyataannya sampai sekarang kita tetap tidak punya apa-apa kan? Saya kangen ketika berbelanja kita selalu menghitung-hitung berapa uang dalam dompet kamu. Dan selalu menanyakan, apakah kamu punya uang lebih mentraktir saya makan di Bintaro City Walk?

Ndik .... tetangga tetangga kita menyambutku dengan penuh kebahagiam. 3 tahun aku meninggalkan Bintaro. Cukup lama juga ternyata. 

Kau tau apa yang membuat saya nelangsa selain kenang tentang kamu? Sebuah tulisan sederhana dari cat air yang di tempel di depan pintu. "Welcome..... we love u". Saya menghela nafas Ndik........ saya baru sadar betapa mereka kehilangan dan merindukan saya selama ini. Anak-anak itu telah menjadi anak-anak remaja. Satu persatu mereka memeluk saya dan mengatakan "tante iraaaa kangennn"

Tidak lebih 6 jam saya di bintaro. Saya selesaikan catatan ini di perjalanan menuju Bandara Soeta. 30 menit lagi penerbangam kembali ke surabaya dan melanjutkan ke Banyuwangi. 

Oh ya Ndik.....kapan kita melakukan perjalanan berdua. Tanpa memikirkan pekerjaan dan isi dunia.
Saya sudah terlampau lelah menjalani hidup ini ndik.......

Ketika waktu tidak pernah berpihak pada pilihan kita berdua. 

Jakarta.... Bintaro membuat saya berpikir tentang kamu. Tidak lupa kan? Bahwa kita punya banyak kenang di sini.

Published with Blogger-droid v2.0.9

1 komentar:

roel mengatakan...

jadi...
Ndik itu, adalaah...
?