12 Mar 2012

TENTANG KITA (kamu - aku)


Bukan hanya sekali dua kali saya berdiri di atas panggung besar seperti saat ini. Saya bukan penyanyi. Saya bukan stand up comedy. Saya hanya seorang perempuan biasa yang berusaha agar waktu saya tidak sia-sia dan bermanfaat bagi orang lain.

“Setengah jam lagi Raa. Istri walikota on the way. Praktisi pendidikan juga sudah duduk di undangan. Nara sumber yang lain sudah siap kok”

Saya mengiyakan sambil mencoret-coret kertas di depan saya. Sesekali saya memandang ke pintu masuk yang jaraknya 300 meter di depan saya. Sosok yang saya cari tidak ada. Walaupun ada ribuan orang yang hadir hari ini, saya akan tahu bagaimana bayang dia.

“Raa….temani nara sumber yang sudah datang ya”.

Saya menghela nafas. Waktu semakin dekat.

Rombongan istri ibu walikota sudah masuk. Saya mundur memilih ke samping panngung. Seorang laki-laki menyalami saya. Dan memberikan banyak pengarahan. Suara dia tiba-tiba berubah menjadi suara ribuan lebah di telingaku. Saya hanya memperhatkan dia menunjuk beberapa sofa dan sudah di tempelkan nama sesuai dengan nara sumber dialog interakif tentang pendidikan anak. Dan nama saya tertera di kursi moderator. Saya menghela nafas.

“Raa…..10 menit lagi”


Saya membetulkan letak jilbab dan merapatkan jaket saya. Nama saya dipanggil. Sekali lagi saya melihat ke pintu masuk dengan karpet merah. Terhalang seribu orang. Dan kembali saya tidak menemukan wajah kamu.

Waktu mulai berjalan.  Teori-teori pendidikan, psikologi anak semuanya berjalan. Semuanya mengalir saat saya belajar mengkpnsentrasikan diri.  Dan saya masih berharap bahwa ada kamu di antara ribuan orang yang hadiri di ballroom hotel ini.

Jam 16. Ada sebuah kode. Finish….tugas saya selesai. Setelah berbasa basi di atas panggung, saya menepi dan masih berharap kamu mengejutkan saya dengan memeluk pinggang saya dan mengatakan, “Kamu hebat Nda….”. Dan kemudian saya mencium tangan kamu.

Tapi semuanya kosong.  Ucapan terimakasih dari beberapa orang seperti menggarami air laut. 

Datar……….. Saya hanya butuh genggaman tangan kamu.

Ballroom lantai empat ini sudah mulai kosong. Semuanya sudah pulang satu persatu. Dan saya mengemasi tas dan kamera, melangkah sendiri melewati lorong-lorong hotel yang cukup sepi buat saya.  Dipelataran hotel hujan turun semakin lebat…….saya terduduk sendiri di tangga hotel. Tiba-tiba air mata saya mengalir tidak terbendung. Saya membenamkan wajah saya dalam kedua telapak tangan saya.

Kau tau Yah….Nda ingin menceritakan betapa bangganya Nda hari ini. Betapa berharapnya, kamu menemani Nda setiap kegiatan Nda. Betapa inginnya Nda, kamu yang pertama kali menyalami Nda saat turun dari panggung.

Hujan mulai mereda tinggal gerimis.

Saya membaca pesan yang saya kirim 1 menit sebelum saya duduk di kursi moderator

“Ayah….Nda cuma mau bilang Nda sayang sama Ayah. Love U”
“ Love u too Nda…sukses buat Nda, Mff ayh ngk bisa nemenin ya…..emmmuuaachh”

Sebuah pesan sederhana yang membuat saya bisa terus berbicara di atas panggung, walau dia tidak ada di samping saya.

****

“Nggk nyangka, Nda bilang seperti itu”

Saya terdiam. Saya sadar bahwa saya baru saja mengatakan bahwa dia selalu bisa membantu untuk orang lain. Dan kamu tersinggung.

“Kalau nda minta temenin, aku nggk pernah bisa. Iya kan Nda”

Saya semakin diam. Saya terpojok. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya pikir bukan sesuatu yang harus di debatkan. Saya menginstropeksi diri. Apakah selama ini saya selalu memaksa kamu? Apakah saya selama ini selalu marah-marah dengan nada suara tinggi jika kamu tidak menemani saya? saya tidak akan pernah menuntut kamu. Memaksa kamu mengikuti kemauan saya.

Apakah saya pernah melarang saat kamu membantu orang lain? bahkan mengkorbankan diri mu sendiri untuk kepentingan orang lain? Pernah saya protes? Seingat saya tidak pernah……..Bahkan saya selalu mendukung kamu untuk membantu orang lain. Bukankah kamu selalu mengajarkan hal itu kepada saya? Bantu orang selain selama kita bisa Nda….Jangan hitungan….rejeki nggak kemana.  Kalau nglakuin apa-apa harus ikhlas.

“Nda minta maaf Yah….”.Saya mengalah. Iya saya meminta maaf atas keegoisan saya. Ya….saya menganggap saya yang egois yang masih belum bisa mengerti kamu,

***

Balkon hotel

“Sama siapa Mbak?. Nggak di jemput”

“Sendirian aja…….”

“Tadi keren lo mbak……dialognya nggk berat. Mengalir”.  Saya tersenyum sambil mengucapkan terimakasih

“Abang nya pasti bangga sama mbak. Pinter. Mandiri. Nggk tergantung sama laki-laki”. Senyum saya terhenti  seketika dan melihat wajah perempuan muda yang berdiri di sebelah saya.

“Iya dia sangat bangga kepada saya”. Suara saya lirih nyaris tidak terdengar.

“Duluan ya Mbak…..pacar saya sudah jemput.”. Perempuan muda itu segera menuju ke seorang laki-laki yang duduk di atas motor sambilng memberikan jaket dan helm warna merah”

Hujan semakin deras. Saya tidak peduli……saya melangkah dan membiarkan air mata saya bercampur dengan hujan. Tanpa kamu ada di samping saya, saya sangat mengerti bahwa kamu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk saya……

“ Dear, Saya mencintaimu dengan kekuranganku!



Catatan selepas Hypnomotivasi dan Talkshow Edukasi
"Mengenali dan Memahami Pola Pikir anak-anak kita. Tantangan menjadi pendidik /orang tua di zaman modern" - Yayasan Matahati - Ikatan Jasa Psikologi Indonesia





1 komentar:

daur ulang mengatakan...

hemmmm...sedih juga bacanya.. tapi tetap semngat mba....