13 Feb 2012

BAPAKKU.....20 TAHUN LALU (atau lebih)


13 Februari….20 tahun yang lalu….(mungkin lebih), tepat malam pertama sholat tarawih.

“Adik mau minta apa bulan puasa tahun ini”

“Adik mau bapak pulang ke rumah. Nemenin adik baca buku sama cerita perang. Terus nanti lebaran sama Bapak, ibu dan Mas Nurul”.

“Sekarang adik berangkat sholat tarawih sama emak. Doakan bapak cepet sembuh ya. Biar bisa lebaran dirumah. Ibu ke rumah sakit dulu…..nanti nyusul ya abis tarawih sama Kang Su. Katanya bapak pingin denger adik sama mas ngaji. Tadarusan di rumah sakit. Adik mau kan?”

Aku mengangguk. Dan berangkat ke mushola kecil bersama perempuan tua. Mbah ku.

                # aku berusaha mengumpulkan kenangan itu#

“Pak….adik sudah bisa baca Al-Qur’an besar. Udah khatam Juzamma”

Bapak mengelus rambutku. Aku dan mas nurul duduk di tepi tempat duduk tempat bapak di rawat. Kami berdua mengaji gentian. Hingga akhirnya bapak menyuruh aku dan mas nurul pulang.

Bapak kapan pulang? Adik pingin bapak cerita pak Karno lagi”



Aku masih ingat memeluk bapakku erat-erat. Bapak membalas pelukanku sambil berpesan agar aku rajin belajar, baca buku dan menjaga ibu. Dia mencium keningku. Ibu menarik ku dari pelukan bapak. Aku berontak karena tidak mau berpisah dengan bapak.

“Jangan dikasari Ira. Dia Raja Guk Guk”

Bapak memelukku sekali lagi. “Kenapa adik di panggil Raja Guk Guk”

Dia hanya terdiam, “Adik sekarang pulang sama Mas Nurul. Di antar Kang Su. Jangan pernah sakiti ibu. Ingat pesen bapak Raa”.

Aku mengangguk. Sampai detik ini aku masih ingat tatapan mata bapak saat mengatakan, “Jangan pernah sakiti ibu”

Tengah malam aku terbangun, dibangunkan oleh bibi saya yang datang dari Bali. Aku berteriak-teriak bahagia, karena aku pikir dibangunkan untuk sahur. Melihat rumah terang benderang. Semua jendela besar di rumah terbuka. Aku berpikir bahwa rumahku ramai. Semua keluargaku  berkumpul. Aku tidak sahur sendiri. Rumah yang selama beberapa bulan terasa sepi karena bapak di rumah sakit seperti sebuah rumah yang akan mengadakan pesta.

“Bapak pulang Raa….”

Aku semakin bahagia. Bulan Ramadhan tepat 13 Februari lengkap. Bapak pulang. Aku bisa tarawih dan tadarus bersama bapak aku. Aku keluar dari kamar ke kamar ibu, dia tidak ada. Yang ada hanya Mbah ku yang menangis.

“Emak…bapak pulang ya”

Perempuan tua itu memelukku dan berkata, “Iya Raa. Bapak pulang surga. Ketemu Tuhan”

Aku tidak tahu apa lagi yang terjadi. Tengah malam itu banyak orang yang memeluk aku dan Mas Nurul sambil menangis. Aku bingung hingga semuanya terjawab saat ibu turun dari Ambulans dan diikuti peti mati di belakangnya. Aku menghambur di pelukan ibu yang saat itu memakai baju hitam nya dan kerudung putih,”Bapak sudah mati Raa”.

Mati…sebuah kalimat sederhana untuk anak-anak yang masih berusia 7 tahun. Saat itu aku hanya berpikir bahwa aku sudah tidak punya bapak. Saat aku masih belum tahu bagaimana tanggung jawab aku kepada ibu. Aku ikut menangis karena ibu ku juga menangis memeluk aku dan Mas Nurul.

Aku berbisik sama Mas Nurul, “Mas….kita sudah nggk punya bapak. Bapak sudah mati”. Mas menjawab, “kita Yatim Dek…”.

14. Februari…..(20 tahun lalu) atau lebih

Aku lebih memilih menggunakan celana pendek, kaos abu-abu gambar sukarno yang dibelikan bapak dan menggunakan topi motif doreng yang juga di berikan bapak. Aku memasukkan rambut panjang ku ke dalam topi.

“Raa…mau mandikan bapak buat yang terakhir”.

“Nggak mau. Bapak sudah mati”.

Bu Ipah, adik emak cuma menangis dan memelukku. Aku berontak dan berlari menuju sepupu-sepupuku yang berkumpul di pojokkan rumah.Iibu melihat dengan ekor mata nya mengikuti langkahku. Aku diam. Dari tempat aku berdiri aku melihat bapak yang di pangku oleh 3 laki-laki. Kau tidak ingat lagi siapa mereka. Bapak ku di mandikan dengan air bunga. Wangi. Badan bapak kurus sekali tinggal kulit yang membalut tulang. Semua orang menangis. Aku menghitung 3 kali. Dan berharap hitungan ke tiga bapak bangun dan memelukku. Aku tidak peduli bapak ku akan memeluk ku dalam keadaan telanjang seperti itu. Sampai hitungan ke sepuluh bapak sama tetap tidak bangun. Aku meneteskan air mata karena harapan agar bapak bangun ternyata sia-sia. Sepupu laki-laki saya berbisik,”Mbak Ira jangan nangis. Pak De Musa sudah mati”

Tiba-tiba saya benci dengan kata mati. Karena mati berarti aku tidak bisa lagi berbicara dengan bapak. Tidak bisa lagi bertemu. Ibu memanggilku dan aku langsung bebalik berlari sekencang-kencangnya ke lapangan bola belakang rumah dan menangis sejadi-jadinya tanpa ada orang yang tahu. Saya berteriak, “Allah…………….kenapa bapak harus mati”.

Kematian pertama yang aku kenal hingga akhirnya aku bersahabat dengan namanya kematian secara berulang-ulang.
Aku menyelip di antara ratusan orang yang ada di kuburan keluarga. Aku melihat jasad bapak di bungkus kain putih di masukkan ke dalam lubang. Aku tahu pasti di rumah semua orang bingung mencari aku. Mereka tidak bisa melarang aku untuk mengantar bapak yang katanya sudah mati. Aku terduduk di bawah pohon kelapa sambil menunggu semua orang pergi dari makam bapakku. Aku ingi baca Al-fatihah di makam bapak ku yang katanya sudah mati. Setelah makam kosong dan adzan dzhuhur terdengar , aku duduk di sebelah makam bapakku. Aku hanya bisa membaca Al-fatihah, sambil bercerita bahwa aku pingin lebaran sama bapak. Aku pingin raportku di ambilkan bapak. Aku pingin bapak cerita lagi tentang Pak Karno. Tentang Kahar Muzakar. Tentang peperangan. Semua ceritaku sama bapak terpotong saat ada seseorang yang menjewer telingaku dan menyuruh ku segera pulang. Tetanggaku……

Aku pulang gontai dan sampai di rumah semua orang memeluk ku dan kembali lagi menangis. Ibu hanya dia memandangiku, “Adik dari bapak, Bu”.
Ibu tidak menangis seperti orang-orang lain. Dia hanya berkata, “Mandi terus tidur….kalau nggk puasa makan dulu”. Aku menganguk. Aku ingat pesan ayahku, “ Jangan pernah sakiti Ibu Raa”.

Selepas berbuka puasa, dan tahlil untuk bapak. Rumah sepi. Beberapa saudara sudah pulang. Aku tidak bisa tidur masih berpikir bagaimana orang bisa mati. Aku ingin bertanya sama ibu tentang mati. Saat membuka pintu kamar, aku melihat ibu yang menggunakan mukena menangis sambil memeluk sebuah photo. Aku menangkap kalimat dari bibir ibu. “Pak…..gimana aku harus besarkan Ira sama nurul seorang diri. Kenapa bapak pergi dulu ninggalin ibu”. Ibu mengisak.........Saya melongokkan kepalaku dan melihat photo aku, bapak dan Mas Nurul yang ada di pangkuan ibu ku. Aku menutup pintu pelan-pelan. Ternyata bukan hanya aku yang kehilangan bapak. Tapi juga ibuku. Aku diam dan naik ke tempat tidur ku di kamar belakang, tidur di sebelah Mas Nurul. Dalam hati aku berjanji tidak akan pernah menyakiti ibu ku.

#13 Februari 2012


Aku mengumpulkan sisa-sisa kenangan itu. Kenangan bersama laki-laki yang menitipkan darah nya padaku. 20 tahun lalu atau lebih? Aku sendiri lupa bagaimana wajahnya. Aku hanya ingat mata nya yang tajam seperti mataku. Alisnya juga lebat. Badannya kecil bahkan tidak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah bagian dari Angkatan Darat Udayana Denpasar Bali. Tidak sampai 7 tahun aku mengenal bapak ku. Apalagi 7 tahun itu bapak tidak selalu menemani ku. Mengambilkan raport ku seperti bapak-bapak teman-temanku yang lain.

Pak……sekarang adik bukan lagi bocah perempuan berambut panjang yang berwarna merah karena terlalu sering main di pantai. Bukan lagi bocah yang bercelana pendek,kaos oblong, topi dan sepeda mini dengan keranjang di depan. Adik bukan lagi anak-anak yang selalu merajuk saat bapak mau berangkat kerja ke Bali. Adik sekarang adalah perempuan dewasa yang masih belum bisa di banggakan oleh bapak dan ibu. Dengan keegoisan adik. Dengan keras kepala yang katanya di turunkan dari bapak. Adik juga tidak bisa menjalankan amanat bapak untuk tidak menyakiti ibu. Sudah beberapa kali adik membuat ibu menangis karena sifat keras kepala adik.

Bapak boleh protes sama adik karena adik selalu menulis tentang ibu. Bukan karena adik tidak sayang dengan bapak. Tapi karena adik memang tidak punya banyak kenangan dengan bapak. Adik tetap anak perempuan bapak, yang masih sering menangis diam-diam. Pak…..adik kangen sama bapak.

20 tahun lebih bukan waktu yang gampang buat adik hidup tanpa bapak. Lihat pak…seperti apa adik sekarang. Apakah adik persis ibu atau bapak. Pak…..dalam perjalanan panjang, adik selalu mencari laki-laki seperti bapak. Dan adik menemukannya pak. Tingginya, alisnya, rahangnya, apalagi matanya. Kalau sudah menatap seakan hilang dalam cekungan mata. Dia baik kan pak…………? Ya dia sangat baik. Baik sekali…..walaupun sampai sekarang adik masih belum bisa memastikan apakah dia masih mencintai adik atau tidak. Nanti akan adik kenalkan, “Dear…..ini bapakku. Bapak …….ini lelakiku. Lihatlah kalian seperti orang kembar hanya saja warna kulit kalian saja yang sedikit berbeda”.

Bocah perempuan kecil bercelana pendek memakai topi memarkir sepeda mininya di jalan samping rumahnya.
“Dari mana Raa”
Bocah itu kesulian membawa buku “Di Bendera Revolusi” yang sangat tebal dari keranjang sepeda mini-nya.
“Adik dari makam bapak. Adik baca buku ini disana. Adik kangen Bapak, Bu”.

20 tahun itu telalu berlalu…………………………..


Saya, bapak dan Mas Nurul

2 komentar:

Ninda Rahadi mengatakan...

wah itu mbak iraaa? cutee
*cokot pipi*

RanggaGoBloG mengatakan...

speechless mbak membaca ceritanya... jadi teringat ibu saya yang hampir 100 hari ini meninggalkan kami... semoga mereka yang udah mendahului kita mendapat tempat terbaik di sisiNya... amin