24 Des 2011

KENAPA HARUS SAYA (LAGI)

“Masak Iraa lagi sih mbak?”

Saya kirim balasan sms itu.  “Iya sih Raa tapi gimana lagi. Kalau bukan kamu siapa lagi”
Dengan sekuat hati saya menekan rasa kemarahan dalam dada saya. Masih belum genap 2 minggu saya menginjak kota Batam tapi mengapa saya lagi yang harus menyelesaikan masalah di sana?. Jujur saya capek. Saya lelah. Saya pikir selama ini saya selalu berusaha membahagiakan orang lain. Orang-orang yang ada di sekitar saya. Keluarga saya. Sahabat-sahabat saya.

Saya tahu kita hanya berdua di dunia ini. Hanya ada aku dan kamu. Orang tua kita sudah tidak ada lagi. Tapi apa iya aku harus bertanggung jawab semuanya. Aku ingat saat dulu kamu bilang, “Kalau nggak ikhlas nggk usah di kerjakan”. Saat saya mengambil alih “selapan” putri kamu. Jika kamu mengatakan hal yang sama di hadapanku sekarang aku bisa menyiram kamu dengan air comberan. Jangan bicara masalah ikhlas dan tidak ikhlas di hadapan saya.

Sebenarnya banyak ingin saya bicarakan dengan kamu. Ya hanya saya dan kamu. Bagaimana perasaan aku sebagai seorang adik. Bagaimana saya harus bertanggung jawab kepada kamu kakak saya yang seharusnya lebih bertanggung jawab untuk melindungi saya. Kamu masih ingat jaman masih sekolah SD. Saat kamu bertengkar dengan teman kamu, saya maju ke depan dan melindungi kamu sambil berteriak, “Jangan ganggu kakak ku”. Dan kamu tidak pernah tau setelah kejadian itu saya di cegat oleh teman-teman kamu yang nakal di perempatan patung Basuki Rahmat. Ya saya  berkelahi dengan mereka hanya bermodal ilmu karate yang tidak seberapa. Perkelahian yang membuat leher saya sakit dan kacamata saya rusak. Saat pulang kerumah dan mengadu kepada ibu, beliau memarahiku habis-habisan karena dianggap keterlaluan seorang anak gadis berkelahi di pinggir jalan. Dan sekali lagi kamu tidak pernah tahu. Saya juga menyembunyikan hal itu kepada ibu.

Saya selalu bertanya kenapa saya harus mengalah. Kenapa saya yang harus melindungi kamu. Mulai SD, SMP, SMA bahkan sampai kuliah menikah dan punya anak. Kenapa harus saya terus-terusan!!!! Melindungi kamu saat kamu kelas 3 SMP sesaat setelah kamu kecelakaan. Masuk SMA yang sama!!! Jujur saat itu saya marah besar. Karena kamu lebih dulu masuk ke SMA yang menjadi incaran saya sejak dulu. Saat SMA Saya tidak ingin satu sekolah dengan kamu. Bayangkan sejak SD hingga SMP saya selalu satu sekolah dan berada di bawah bayang-bayang kamu. SMA yang kamu masuki adalah SMA favorit. Padahal nilai kamu tidak besar dan ada campur tangan ibu disana. Ibu hanya menenangkan saya sambil mengatakan. “Dia butuh tempat dan pengajar yang bagus untuk perkembangan pasca kecelakaan”. Dan akhirnya saya harus mengalah untuk satu gedung yang sama dengan kamu bertahun-tahun.
Sudah lah tidak perlu saya ceritakan satu persatu bagaimana saya menjadi ujung tombak dalam kehidupan kamu. Pernikahanmu yang membuat ibu shock dan harus mengirim saya ke tempat yang sama sekali asing buat saya. Cemoohan dan hujatan mereka kepada saya hanya untuk menjadikan tameng nama baik keluarga saya. Pernah kamu memikirkannya? Saya tidak ingin kamu memikirkan saya walaupun sering saya bermimpi kamu bisa mengerti posisi saya. Semuanya terbayarkan saat kamu menjadi wali dalam pernikahan saya karena kita sama-sama tidak mempunyai ayah.

Arrrrgghhh...............kapan kamu berpikir dewasa! Bisa bertanggung jawab dengan semua apa yang kamu lakukan. Mungkin dulu aku akan meng “iya” kan saja apa keinginanmu. Hanya satu alasan yaitu ibu kita. Ya ibu adalah alasan terbesar bagi saya untuk masih mengerti kamu. Tapi kini....? saya tidak tahu apakah saya masih mau negerti kamu. Saya pikir setelah 1000 hari ibu pergi saya masih mengerti kamu. Menyelesaikan semua masalah kamu satu-satu.  Saya pikir pernikahanmu yang terakhir adalah akhir dari otak saya untuk memikirkan kamu. Ternyata tidak.........

Kenapa harus saya lagi? Saya tahu karena saya adalah saudara kamu satu-satunya. Dan kita sudah tidak punya lagi orang tua. Walaupun kita masih banyak memiliki saudara tapi saya tau mereka pasti akan memikirkan keluarganya masing-masing. Bukan hanya memikirkan aku dan kamu. Dua saudara yang tidak pernah akur dalam pandangan mereka.

“Tolong bantu aku sekali lagi”. Saya mendengus keras. Kenapa kamu tidak bicara sendiri kepada saya bukankah kita saudara? Kamu salah besar jika kamu mengira mereka tidak memberitahukan kepada saya. Atau mungkin kamu jadikan mereka jembatan mu untuk berbicara dengan saya. Mereka pasti akan menghubungi saya karena mereka pikir saya adalah satu-satunya orang yang bertangggung jawab atas keberasaan kamu.  
“Ira capek mbak....selama ini kenapa harus ira harus terus-terusan mikirin dia. Pernah dia mikirin ira. Apa ada orang yang mau mikirin bagaimana ira bertahan sampai sekarang”

Saya tidak peduli orang lain menganggap saya adik perempuan yang jahat. Egois. Mau menangnya sendiri. Seperti yang di tuduhkan tetangga-tetangga saya melihat saya meninggalkan kamu sendirian di rumah kita tanpa pekerjaan yang jelas. Sedangkan saya di lihat sebagai perempuan yang berhasil.  Rumah tangga saya baik-baik saja. Saya terlalu sering melihat ejekan-ejekan mereka kepada saya. Menyudutkan saya. Membandingkan keberadaan saya sekarang dengan kamu. Apa salah saya menjadi seperti sekarang tapi kamu tetap seperti itu? Saya bekerja mati-matian untuk membahagiakan ibu saya. Membuat ibu saya bangga kepada saya. Hingga harus merelakan pergi dari Banyuwangi yang sangat saya cintai.

Kamu tidak pernah tahu kan saat 100 hari tepatnya setelah ibu meninggal saya menangis sejadi-jadinya di makam ibu. Hanya karena hal sederhana melihat kamu kerja di bangunan dan melihat kamu amplas kayu.  Pekerjaan kasar yang tidak pernah terbersit dalam otak saya kamu mau melakukannya. Lalu salah satu saudara kita mengatakan, “Kamu enak banget Raa mengeluarkan uang 50 ribu, sedangkan kakak kamu kerja keras banting tulang untuk mendapatkan uang yang sama. Di rewangi mangan iwak asin”. Saya sakit hati. Apa dipikirnya saya mendapatkan semua ini dengan gampang. Segampang kamu meminta tape compo yang saya beli kepada ibu. Lalu ibu memberikan nya kepada kamu. Untuk kesekian kalinya ibu selalu mengatakan kepada saya untuk mengalah.
Saya mendapatkan semuanya dengan proses yang panjang. Saat kamu asyik dengan kiriman ibu, saya sudah berpikir bagaimana caranya saya harus mendapatkan uang dengan bekerja. Saat kamu masih asyik tidur jam 5 pagi saya sudah keluar rumah dan baru pulang saat tengah malam saat kamu genjrang genjreng main gitar di pinggir jalan.  Saat saya sibuk membeli buku kamu malah sibuk membeli rokok. Bagaimana saya selalu mengirim tulisan-tulisan saya. Saat kamu sibuk dengan gaya pacaran kamu yang berlebihan, saya lebih memilih berkutat dengan organisasi saya. Saat kamu berpikir bagaimana membuat surat cinta saya lebih suka menulis tentang sejarah. Ibu selalu berkata, “Kamu nggak sama dengan kakak mu. Dia perlu perhatian lebih”. Saya selalu ingin protes. “Perhatian lebih”??????????? otak dia harus selalu di stimulus untuk terus berpikir. Membiarkannya hanya membuat dia berpikir dangkal. Saya masih ingat saat ujian SMA kamu selalu pulang “aku pusing Bu”. Dan ibu akan memeluk kamu dan mengatakan apakah kepalamu masih pusing karena efek kecelakaan itu. Belum lagi kamu anak lagi-lagi yang dianggap sebagai penerus garis keturunan darah sinjai. Bukan anak perempuan seperti saya!!! Kau tau....rasanya ingin menabrakkan tubuh saya juga ke mobil di depan rumah. Agar saya juga mendapatkan perhatian lebih pada masa remaja saya yang sudah direnggut oleh kamu. Hal itu lah yang membuat saya semakin mandiri hingga keras kepala sampai sekarang.

Kamu mengulang kembali. Bukankah kamu telah menjadi seorang Ayah? Walaupun di kelahiran anak pertamamu lebih banyak campur tangan aku dan ibu. Tapi sekarang? Mungkin kamu menganggap aku adalah adik perempuan kamu yang jahat. Terserah lah.....aku hanya ingin mengajarkan kepada kamu bagaimana menjadi seorang laki-laki yang lebih bertanggung jawab. Tidak hanya mengandalkan perhatian dan kepedulian orang lain kepada kita. Bukankah ibu dan ayah kita juga mengajarkan hal yang sama kepada kita berdua. Kita hanya berdua di dunia ini. Wajar jika kamu meminta bantuan saya. Tapi cobalah berpikir pernahkah saya meminta bantuan kepada kamu? Betapapun terpuruknya saya? Saya bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain. Saya tidak ingin kamu mempunyai sifat yang sama seperti saya. Walaupun jelas-jelas kita lahir dari rahim yang sama kita adalah dua pribadi yang berbeda. Dua pribadi dengan tempaan yang berbeda.

Entahlah bagaimana reaksi kamu membaca catatan saya ini. Apakah kamu akan semakin membenci saya? Tidak mau bertemu saya. Itu hak kamu seperti hak saya untuk melanjutkan perjalanan saya. Kamu hanya perlu tau betapa saya sangat mencintai kamu walaupun sejak kecil saya merasa tidak pernah dilindungi oleh kamu. Walaupun sejak kecil saya selalu mengalah untuk menuruti keinginan kamu. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan keluarga kamu. Karena hanya kamu yang saya miliki di dunia ini. Walaupun kita saat ini adalah dua pribadi yang asing tapi tetap dalam darah kita mengalir darah yang sama darah ibu dan bapak kita.

Saya hanya ingin sedikit berapatis akan masalah kamu. Dan memfokuskan diri pada kehidupan saya. Ketika bertahun-tahun saya selalu memikirkan kamu dan orang lain. Ketika saya harus belajar menghargai dan membahagiakan diri saya sendiri. Saya yakin kamu akan menemukan jalan keluar terbaik menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Sosok ayah yang pantas di banggakan oleh anak-anak mu kelak. Sosok suami yang membuat istri kamu merasa nyaman di sebelah kamu. Saya hanya mengajarkan.......agar kamu menjadi seperti ayah kita. Daeng Musa Rabin Sila! Sehingga kelak saya tidak akan lagi berkata, “kenapa harus ira lagi”.

Mas...kapan ya kita seperti doraemon dan Dorami? yang saling berbagi kue dorayaki?

3 komentar:

saryadinilan mengatakan...

menarik ceritanya,love,peace and gaul.

RanggaGoBloG mengatakan...

eh ini cerita apa curhat..?? Hehehe..

CJ mengatakan...

horee aku atu sapa yg km tulis.. yalah siapa lg?! ya kan ra? hehe