1 Jun 2010

DAN DIA BERNAMA LAKI-LAKI HUJAN

Dia bernama hujan. Dia lahir dari kota yang bernama hujan. Ayah dan ibunya adalah hujan. Kakek dan neneknya adalah kakek nenek hujan. Sedangkan adik-adiknya adalah para hujan yang memiliki mata seperti mata hujan.Ya…..dia ada adalah sulung dari keluarga hujan.

Aku mengenalnya saat menjelang senja pada saat hujan. Dan aku menyebut namanya laki-laki hujan. Karena tiba-tiba hatiku luruh saat dia datang bersama dengan hujan.


“Hai…namaku Matahari”
“Aku hujan..”

Dan kami saling mejabat tangan. Udara panasku langsung meluruh. Magma dalam pusat matahari sedikit demi sedikit membeku dalam rinai hujan. Ia tidak dingin tapi menyejukkan dari sebuah keegoan matahari. 


Dia bernama hujan. Lahir dari rahim hujan. Matanya adalah mata hujan. Telinganya adalah telinga hujan. Bibirnya adalah bibir hujan. Tangannya adalah tangah hujan dan kakinya adalah kaki hujan.

“Aku ingin memegang hidungmu matahari”

Aku mengelak sambil terus bernyanyi. Merapalkan mantra-mantra kerinduan pada hujan. Dia adalah nyanyian hujan. Dia adalah tarian hujan. Dia adalah pelukan hujan. Dan dia adalah kekasih hujan.

Ya…dia adalah lelaki hujan. Dan aku betah menunggunya berjam-jam tiap hari hingga lewat tengah malam bahkan hingga dini hari. Bergumam sendiri bersama hujan. Berlari-larian dengan hujan lewat fantasi terliar yang tak pernah aku miliki. Berteriak-teriak di tengah hujan walaupun suaranya hanya terbentur pada tembok-tembok diam yang membatasi aku dengan hujanku. Tanganku menari tarian tari hujan. Menggelinjang sendiri mengikuti setiap rinai yang turun dari langit hujan. Dan kau memapah dan menuntunku pada sebuah kota yang aku sebut itu adalah kota hujan.

“setiap sentuhan butirannya ... meresap ke dalam sanubariku”

Tidak seperti laki-laki lain yang selalu memayungiku saat hujan. Lelaki hujan itu membebaskan aku menari-menari mengikuti alunan musik hujan. Menjejakkan kaki-kaki ku pada genangan hujan serta bertepuk tangan di dalam hujan. Dan lelaki hujan itu membiarkan sanggul rambutku terurai, panjang mengikuti aliran hujan. Ah….anak rambutku bermain nakal diantara kedua telinga dan leherku dan aku menikmati tiap-tiap tetes hujan yang melewati ribuan pori-pori di tubuhku. Aku memejamkan mata dan hujan kembali memelukku dan kepasrahanku. Hujan …. Aku jatuh cinta padamu.

Dan dia bernama laki-laki hujan. Yang membuatku terbiasa duduk berjam-jam di depan jendela menunggu ia datang seorang diri. Yang membuatku terbiasa mengisi catatan-catatan tulisanku dengan nada rindu. Yang membuat aku terbiasa berpikir tentang hujan.
Dan dia bernama laki-laki hujan yang hanya bisa aku nikmati dari seberang jendela ini. Tanpa bisa ku peluk. Tanpa bisa ku kecup. Tanpa bisa ku pegang jari-jari tanganya hanya untuk agar ia merasakan bahwa aku sangat mencintainya.

Dia adalah laki-laki hujan. Kumpulan dari mata air, air mata yang menguap karena aku, Matahari. Menjadi sebuah partikel-partikel air yang kelak akan turun dan bernama hujan. Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan

“Aku mencintai hujan”
“Kau gila Raa. Hujan tak mungkin bisa kau peluk. Karena kau adalah Matahari”
“Lalu apakah salah aku mencintai hujan”
“Tidak salah dengan cinta kamu asalkan…..”
“Asalkan apa kawan”
“Asalkan kau siap menghapus keegoisan dari panasmu, Matahari”

Dan dia bernama laki-laki hujan. Dan aku selalu menikmatinya selama 2 minggu terakhir ini. Terkadang dengan mata berat karena insomnia akut-ku. Atau menikmatinya sambil menikmati secangkir kopi hanya untuk sekedar menikmati rinai mu dari sudut kamarku. Atau saat aku bercinta dengan catatan-catatan kecilku. Dan aku jatuh cinta pada laki-laki itu. Aku mengenalnya. Dan dia adalah bernama laki-laki hujan


AKU MENCINTAI HUJAN SEPERTI AKU MENCINTAIMU LAKI-LAKIKU


Catatan kecilku ini aku persembahkan
Pada hujan Pada laki-laki Pada kotaku dan Pada kotamu



11 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

nice really nice. I like it.

yansDalamJeda mengatakan...

hmmmmmm....jd kangen sm hujan.

TRIMATRA mengatakan...

bener kata fanny, that really nice post!!

sibaho way mengatakan...

hujan butuh sinaran matahari agar tetap bisa menyiram bumi :) cool...

Hdsence mengatakan...

sebuah sinopsis yang mengalir, dan memanga bagaikan hujan, kata2nya meresap bagai hujan, menyentuh bagai hujan, namun tak membuat beku

ialah hujan

aku suka sekali

salam, langitsenja

ivan kavalera mengatakan...

teman hujan datang berkomentar

HUJAN JUGA mengatakan...

SALAM HUJAN

Adhini mengatakan...

Kadang dengan memandang hujan , hati bisa menjadi tenang..di kotaku hari ini juga sedang turun hujan..

nietha mengatakan...

aku suka banget. keren tulisannya

ica puspita mengatakan...

Nice Post mbak...
Lelaki hujan itu pasti sama merasa

Rahmat yudhistira mengatakan...

SALAM SASTRA