1 Feb 2010

RUMAH DARA : ANTARA MUTILASI DAN LITERAN ”DARAH”

Akhir pekan di akhir bulan Januari. Sengaja aku memaksakan diri untuk menonton film Rumah Dara yang sudah diputar dibioskop akhir Januari ini walaupun seorang diri.
Alasannya?


Selain tertarik dengan”sponsor” di media aku juga tertarik dengan kalimat yang tertulis di bawah judul Rumah Dara yang bertuliskan “Horor Menemukan Seorang Ibu”. Hmmmm...menemukan seorang Ibu? dan aku “sedikit” yakin jika film ini adalah film perempuan.
Tempat duduk tidak terisi penuh tapi juga tidak bisa dikatakan sedikit. Dan aku memilih bangku tepat ditengah ruangan. Selain untuk menemukan posisi yang nyaman karena menonton seoang diri, alasan lain adalah agar aku bisa mendapatkan sura ”Sourond” yang tepat.
Seperti yang aku kira. Film ini benar-benar film perempuan. Seperti biasa aku akan memberikan sinopsis yang mungkin lebih detail di bandingkan beberapa review fim lain.
Jika dibilang ceritanya sederhana. Aku akan menggelang. Jika dikatakan rumit seperti alur Sherlock Holmes aku juga akan mengeleng. Tapi film ini mengalir seperti air dengan sedikit kernyitan di di kening.
Rumah Dara menceritakan tentang perjalanan 6 orang sahabat. Yaitu pasangan suami istri Aji dan Astri (dalam keadaan hamil 8 bulan), Ladya (adik kandung Aji), Jimi, Eko dan Alam. Aji dan Astri beserta ketiga temannya pergi ke Bandung untuk berpamitan ke Ladya terkait rencananya pergi ke Luar negeri. Selama ini hubungan Aji dan Lidya tidak baik, karena Ladya menyalahkan Aji yang membuat kedua orang tuanya tewas kecelakaan. Untuk menghormati kakak dan iparnya, Ladya ikut rombongan itu untuk kembali ke Jakarta.
Ditengah jalan, rombongan itu di stop oleh seorang perempuan yang bernama Maya. Ia mengaku telah dirampok dan minta tolong agar diantar pulang. Atas paksaaan Eko, akhirnya rombongan itu mengantarkan Maya untuk pulang kerumahnya.
Setelah tiba di rumahnya, Maya mempersilahkan rombongan itu untuk singgah dan makan malam. Maya juga mengenalkan rombongan itu pada ibunya yang bernama ”Ibu Dara”.
Disinilah teror ini dimulai. Aji dan Astrid memilih istirahat di dalam kamar dari pada mengikui jamuan makan malam. Sedangkan Ladya dan ketiga kawannya mengikuti acara makan malam bersama keluarga Ibu Dara dan ketiga anaknya. Armand, Adam dan Maya. Ternyata makan malam itu mengandung obat bius yang membuat mereka tidak sadarkan diri. Masing-masing mengalami peristiwa yan menakutkan dan tragis. Salah satu mereka langsung dimutilasi secara sadis oleh Armand dengan menggunakan mesing pemotong kayu. Bagian-bagian terpenting dari tubuh langsung di simpan di lemari pendingin. Dan dimulailah pemandangan darah ada dimana-mana.......... Bahkan sabetan benda-benda tajam langsung dieksplor tanpa ada sensor. Apa karena faktor menonton seorang diri atau memang film ini sangat sadis. Aku berkali-kali memejamkan mata pada saat adegan-adegan mutilasi dan menggunaan senjata-senjata tajam yang langsung diarahkan pada tubuh manusi. Busyet.......aku saja yang terkenal pemberani langsung bergidik ngeri membayangkan senjata tajam itu melukai kulitku sendiri. Disini hanya satu orang yang berhasil di mutilasi di meja operasi sedangkan Lidya berhasil menyelamatkan diri dengan menggigit lidah Armand.
Saat Ladya berjuang untuk menyelamatkan diri, Astrid dan Aji juga mengalami nasib sama. Ternyata Ibu Dara telah mengincar bayi dalam kandungan Astrid. Aji yang berusaha melindungi Astrid terluka karena ditusuk oleh konde Ibu Dara. Astri mengunci diri di dalam kamar dan melahirkan seorang diri karena jamu peluruh kandungan yang diberikan oleh Ibu Dara saat pertama kali masuk ke dalam rumah itu. Setelah melewati beberapa adegan yang penuh darah, bayi Astrid lahir dan dibawa oleh Ibu Dara ke sebuah ruang yang berisi tulang-tulang bayi dan organ-organ bayi yang di awetkan. Astrid berusaha menyelamatkan anaknya tapi akhirnya tewas ditangan Ibu Dara. 

Pembunuhan demi pembunuhan terjadi termasuk kepada rombongan polisi yang curiga pada keberadaan rumah tersebut. Yang tertinggal hanyalah Lidya, Aji dan Sang Bayi. Terjadi pergumulan hebat antara Ladya, Aji dan anak-anak Dara. Hingga akhirnya Armand, Adam dan Maya tewas di tangan Ladya. Armand tewas dengan pukulan telak dikepala setelah matanya ditusuk oleh konde, Maya tewas terbunuh karena tembakan sedangkan Adam mati karena di bakar. Ibu Dara sangat marah besar hingga memburu Lidya dengan menggunakan gergaji besi. Demi menyelamatkan Ladya dan bayinya, Aji ikut tewas di tangan dara. Setelah meletakkan bayi ditempat aman, Ladya kembali bergumul dengan Ibu Dara termasuk saat menyelamatkan diri dengan menggunakan mobil. Akhirnya Ibu Dara tewas setelah terseret mobil dan terhempas di sebuah pohon besar. Entah benar-benar tewas atau kelak bangkit kembali. Pasalnya setelah Ladya meninggalkan rumah tersebut dengan sang bayi, jemari Ibu Dara kembali bergerak-gerak. (adegan yang selalu berulang disetiap film bergenre horor baik dalam neger maupun luar negeri)
Dari beberapa adegan yang ada di film itu, di ceritakan jika Ibu Dara terlahir sekitar tahun 1800-an. Ia dan anak-anaknya tetap terlihat awet muda karena – mungkin – selalu mengganti bagian tubuh mereka dengan organ-organ tamu yang telah mereka bunuh. Ibu Dara dan ketiga anaknya adalah penganut Sekte The Serpent. Sekte yang bersimbol ular ini merupakan sekte yang mengutamakan kehidupan keabadian. Dan ternyata mereka juga melakukan penjualan organ-organ manusia ke luar negeri. Sadis........


Film Rumah Dara bergenre Slasher horor movie ini karya The Mo Brother. Film yang awalnya diberi judul Macabre dan berubah menjadi Rumah Dara ini merupakan versi panjang film “DARA” di seri kompilasi TAKUT. Sebelumnya, The Mo Brother menyajikan film ‘Dara’ dalam sebuah film kompilasi horor “Takut” yang membuat Dannish meraih best Actress di Puchon film festival. Berbeda dengan film-film horror lainnya. Di Rumah Dara sama sekali tidak ada hantu yang muncul. (Aku selalu tertawa jika liat hantu di film Indonesia. Bukannya takut, tapi malah lucu karena terlihat sekali hanya permainan make up art) Memang……diluar literan darah yang memenuhi adegan di fim ini, Dannish yang memerankan tokoh Ibu Dara memang memilki karakter yang kuat. Wajahnya yang sangat antik, tatapan matanya yang tajam serta suara dengan tekanan yang sangat rendah tapi tegas terasa sangat kontras dengan suara musik jaman penjajahan yang mengiringi kejadian pembunuhan. Termasuk gerakannya yang sangat tenang tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa. Kerennnnnn………..

Dari segi penokohan, film Rumah Dara ini mempunya penokohan dan karakter yang sangat jelas. Tokoh Anogonis nampak pada Ibu Dara, pusat kekuatan dalam rumah itu. Maya, anak bungsu Dara yang sering memancing laki-laki agar datang ke rumahnya untuk dibunuh. Adam, anak kedua Dara yang mempunyai fisik sangat sempurna, tampan tapi seorang psikopat yang ahli membunuh. Sedangkan Armand, anak pertama Dara yang bertubuh gendut dan bertugas untuk memutilasi dan menyimpan bagian-bagian tubuh dalam es. Sementara dari Tokoh protagonis Ladya muncul sebagi leader dan menyelesaikan semua permasalahan termasuk menyelamatkan bayi yang dilahirkan oleh Astrid, kakak iparnya.
Kembali ke awal. Kalimat “ Horor Menemukan Seorang Ibu” yang membuat aku tertarik dengan film Rumah Dara. Lepas dari adegan-adegan sadis, dan bahkan lebih sadis dari Film G 30 S PKI yang dulu wajib aku tonton. 

Film ini adalah bagian kecil dari film perempuan produksi anak negeri. Perjuangan Astri saat melahirkan bayinya di tengah kekalutan, dan memilih mati untuk menyelamatkan anaknya walaupun ia sendiri tidak yakin anaknya juga akan selamat dari pembunuan keji ibu Dara. Ladya, perempuan yang dinggap lemah oleh orang-orang di sekelilingnya pasca kematian orang tuanya akhirnya menjadi leader yang mampu keluar dari rumah Dara dan menyelamatkan bayi yang kelak akan memangglnya “ibu”. Kekuatan di tengah kelemahan-kelemahan dia sebagai seorang perempuan. Terakhir sang Ibu penganut Sekte The Sepent. Ia sangat mencintai anak-anaknya hingga mengajak anaknya untuk menjadi penganut Sekte agar melihat anak-anaknya tetap abadi seperti dirinya. Kecintaannya terlihat saat melampiaskan kemarahannya pada Lidya yang dianggap paling bertanggung jawab pada kematian anak-anaknya. Walaupun terlihat sadis, Ibu Dara adalah ibu yang bertanggug jawab pada anak-anaknya. Hmmmm memang film Horor menemukan seorang Ibu dalam literan darah dan korban mutilasi.

Catatan ini aku persembahkan pada Almarhum Ibuku
yang sering "memaksa" ku membuat sinopsis dari sebuah cerita
Dan juga kepada seluruh ibu-ibu yang sangat mencintai anaknya

Ibu adalah cinta adalah sebuah film yang tak pernah tamat di sinopsiskan

14 komentar:

Hendriawanz mengatakan...

Mampir ah, hehehe...
Jika melihat (1) ketrampilan mereka, dari mengundang orang, memutilasi, sampai menyimpan (2) alat dan fasilitas yang mereka punya, tentu mereka sudah berpengalaman. Dalam banyak berita di tv sering kita saksikan betapa gemetar dan syok-nya seseorang ketika membunuh. Ini tidak. Yang berikut, mereka sangat kompak, sangat teroganisir. Untuk membentuk suatu tim dengan "misi seberat itu, dan berhasil dengan gemilang selama sekian lama", butuh seleksi dan pelatihan sangat ketat. Di mata pelaku dan teman-temannya, ini "prestasi" luar biasa dan pada saat yang sama mereka seolah-olah mengatakan "betapa bodohnya polisi".
Dari sisi medis, rasanya tidak mungkin untuk itu. Transplantasi saja belum tentu berhasil. Ada risiko tubuh menolak benda asing. Tapi film ini menceritakan dunia lain.
Tentang ibu yang ingin keabadian sehingga "memaksa" anaknya untuk ikut, itu ibu yang berkorban untuk anak atau ibu yang menuntut anak berkorban untuk keinginan dia ya...
Tentang keabadian, jika orang diberi pilihan untuk tidak bisa mati, apakah pasti akan memilih itu?
Aku bersyukur, selain poin-poin di atas, ada pesan lain yaitu tentang awareness.
Panjang ya..maap :p

Yunna mengatakan...

aku juga lagi kepengen banget nonton film ini...

Ivan Kavalera mengatakan...

Membaca tulisan ini, jadi penasatran juga mau nonton.

Munir Ardi mengatakan...

Ih ngeri deh mbak

Munir Ardi mengatakan...

Saya jg lama baru bisa berkunjung

Alil mengatakan...

Ira..
makasih atas review nya...

jadi tambah males nonton film ini..
hahahaha

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

mampir disaat rindu mulai membuncah

Resensi yang mantap,...
saya pernah posting tentang Film ini..
Tapi postingan disini saya menemukan sesuatu yang lebih.

Selamat pagi

jc mengatakan...

Shareefa Daanish menang Best Actress Fest film Puchon ya.. Jadi tertarik liat aktingnya nih... tapi serem juga kalo bunuh2an gitu...wew... but thanks banget review-nya ;)

setiakasih mengatakan...

Hi Ira.. makasih singgah...
kalo aja ceritanya ito bisa masuk ke Msia.. pengen juga aku nonton...

:)

setiakasih mengatakan...

Hi Ira.. makasih singgah...
kalo aja ceritanya ito bisa masuk ke Msia.. pengen juga aku nonton...

:)

catatan kecilku mengatakan...

Aku gak ingin nonton filmnya...

REYGHA's mum mengatakan...

Hai Ira, wah lengkap reviewnya....sadis ya...thanks banget karena aku ngga mungkin nonton filmnya di bioskop...seremmm.

ranii mengatakan...

mbak, awalnya saia pengen banget nonton film ini. banyaakkk temen yang uda kasi sinopsisnya, dan sampai mbak menuliskan sinopsisnya disini, saia masih belum berani nonton! hehehee

psypsypsy mengatakan...

Terimakasih kak ira atas review cerita film ini:3 pertama dan (mungkin) terakhir kali nonton film ini sekitar 2minggu lalu dan nonton lewat laptop di kelas bareng temen sekelas hehe. Sampe sebelum aku baca review kak ira, aku nggak ngerti banget itu film tentang apa-__- mereka kan kanibal? Tapi kok abadi? Mereka vampire? Tapi mereka makan bukan minum darah ._. Udah gitu nontonnya juga gak jelas gegara sibuk nutupin muka pake jilbab dan dengerin musik pake headset biar effect suara apapun gak kedenger jadi cuma baca sub-englishnya. Tapi bener2 deh akhirnya ngerti setelah baca review kakak!! Beneran terimakasih nih, dan ternyata, aku baru kali ini nemu blog orang yang mereview suatu film detail kayak gini.. Pokoknya unni daebak! Terimakasih^^