27 Jan 2010

PERPUSTAKAANKU, DUNIAKU



Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu teman lamaku di wilayah Lubang Buaya. Dia sempat menanyakan aku tinggal dimana. Aku menjawab tinggal di wilayah Bintaro wilayah sector 9. Dia langsung kaget sambil bilang, “ Wah…..hebat kamu Raa, sudah tinggal di Bintaro”. Aku ikut terkejut, “Emang salah kalo aku tinggal di Bintaro”. Dengan panjang lebar, teman lamaku yang asli Betawi itu menceritakan jika wilayah Bintaro adalah wilayah perumahan ekslusif yang rata-rata di huni oleh mereka dari kalangan menengah ke atas. Aku hanya tersenyum ringan……


Aku memang tinggal di Bintaro wilayah sector 9 tapi bukan di wilayah perumahan. Tapi di sebuah rumah petak kontrakan yang berada di Desa Pondok Jaya. Dan batas tembok belakang dan samping rumahku adalah perumahan “High class” dan saat aku searching harga “rumah tetanggaku” mencapai 2 Milyar rupiah!. Tapi sayangnya walaupun tempat tinggalku “bertetangga” dengan perumahan mewah, nasib warganya tak seindah “tetangga mewah” itu. Mayoritas mereka adalah warga Betawi yang tergusur oleh para pendatang. Masih banyak tanah-tanah lapang yang di tumbuhi pohon rambutan. Tidak ada kesan kumuh dan sumpek seperti wilayah Jakarta. Dan aku sangat bersyukur setiap pagi aku masih bisa menghirup udara yan sangat segar. (walaupun tak sesegar udara di rumah Banyuwangiku). Tapi ada satu yang masih membuat aku sedikit nelangsa yaitu perilaku kehidupan mereka yang masih sangat ”konvensional”. Walaupun tidak semuanya, tapi masih ada yang memandang pendidikan sebagai hal yang tak penting.

Apalagi saat siang, ibu-ibu duduk ”ngrumpi” dengan anak-anak yang bermain tidak jelas tentu saja dengan obrolan-obrolan ”yang sangat super ringan” seperti membicarakan gosip artis ataupun gosip tetangga. Fuich.......sama sekali nggak nyambung. Terkadang aku sering bergabung mereka, dan aku berusaha menyisipkan isue-isue yang sedang hits, seperti saat Inul melahirkan ”anak mahal 600 jutanya”. Dari stimulus itu mereka sempat mempertanyakan tentang proses bayi tabung. Bukan bermaksud menggurui, dengan sedikit pengetahuanku, aku berusaha menjelaskan tentu saja dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Termasuk sedikit diskusi kecil saat poligami dan nikah sirri menjadi headline di beberapa media massa. Sedikit demi sedikit aku memberikan stimulus pada mereka, seperti tips-tips obat tradisional yang aku ambil dari majalah-majalah wanita. Dan setiap mereka berkumpul aku selalu membawa satu atau dua majalah.

Sering aku berpikir apa yang harus aku lakukan. Hingga akhirnya muncul ide membuat sebuah perpustakaan., tapi masalahnya koleksi majalah wanita, tabloid ku sangat minim. Aku hanya punya beberapa itupun aku selamatkan dari tumpukan barang bekas sahabatku yang akan diloakkan. Dan aku baru sadar jika koleksi bukuku adalah ”buku-buku berat”. Jangankan di baca,  untuk melihat saja ibu-ibu itu tetu sangat malas. Selain lumayan tebal dan tidak bergambar, tema-tema bukuku sangat tidak menarik bagi masyarakat kebanyakan. Sedikit demi sedikit aku berusaha mengumpulkan majalah bekas. Baik dari teman maupun dari saudara. Hingga akhirnya suamiku memberikan sebuah hadiah yang membuat aku sangat bahagia. Lemari Buku............”untuk perpustakaan kecilmu", katanya.


Yah.......perpustakaan kecil yang sangat aku impikan. Aku sering membayangkan, para ibu-ibu di sekitar rumahku semakin pintar walaupun hanya lulusan Sekolah Dasar dengan membaca. Anak-anak semakin mengerti dunia luar walaupun hanya dengan membaca sebuah majalah anak-anak. Impian ku...impian yang selama ini aku pendam. Sebuah perpustakaan kecil yang terselip di belakang rumah seharga 2 Milyar.
Aku bukan orang kaya yang bisa memborong ratusan buku, majalah untuk tetangga-tetanggaku. Tapi aku akan berusaha untuk membuat mereka lebih maju. Memulai mimpiku ini ternyata sangat sulit. Tidak semua ibu-ibu mau membaca. Tidak semua anak betah duduk di depan buku. Fuich......aku masih perlu koleksi buku yang lebih menatrik dan berwarna untuk mereka. Tapi aku yakin jika aku akan bisa dan mampu.

Aku jadi ingat perpustakaan kecil yang dulu aku buat di kampungku Banyuwangi saat aku masih duduk di bangku SMP. Perpustakaan kecil atas ijin Kepala Lingkungan di dirikan di sebuah bangunan kosong, yang akhirnya harus digusur karena dikontrakkan oleh pemiliknya untuk di jadikan sebuah warung. Aku menangis berhari-hari karena buku-buku itu hanya menjadi onggokan kertas yang tak pernah disentuh kembali. Dan aku masih ingat saat almarhum ibuku memelukku sambil mengatakan, ”Kita sumbang buku-buku itu buat mereka yang lebih butuh”. Dan akhirnya buku-buku itu berpindah pada sebuah sekolahan terpencil tempat ibuku mengajar.
Berbeda dengan buku-buku yang telah bepindah tangan. Karena inilah bagian sangat kecil dari koleksi bukuku
 Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat, Istri-istri Soekarno, 9 Dari Nadira, Ketika Cinta Bertasbih 2, Ca Bau Kan, "tertralogi" Laskar Pelangi

 
Tidak perlu menyebut judul, dari bacaanku apa yang dikatakan Mbak Strowbery benar
aku seorang feminis Whatever?


Bismillahirrohmanirrohim........aku harus percaya sesuatu yang di awali dengan sebuah keikhlasan pasti akan diberi jalan oleh Tuhan. Semoga.........


Karena perpustakaan ku adalah duniaku


 Catatan kecilku ini kupersembahkan kepada Ibuku, perpustakaan pertamaku
yang mengajarkan aku menemukan duniaku

18 komentar:

catatan kecilku mengatakan...

Wah, salut dg niatnya membuka perpustakaan kecil utk warga sekitar.
Pasti mmemberikan banyak manfaat, mbak.

the others.... mengatakan...

Aku ingat... Shasa pernah memintaku membuatkannya perpustakaan juga.
Tapi sampai sekarang belum terwujud karena beberapa kendala. Semoga suatu saat dapat terwujud deh. Amin.

Henny Y.Wijaya mengatakan...

zaman sekarang susah menimbulkan minat baca pada ibu-ibu (bener sih, sebagian besar dari mereka lebih suka gosip daripada baca),tapi semoga saja niat mbak ira bisa terwujud

Yunna mengatakan...

aku juga lagi ingin banget buka perpustakaan sendiri... tapi koleksi bukunya belum cukup banyak...

yasuyassyash mengatakan...

doakuuu menyertaimuuu mbaa..
yah majalah2 dirumahku udah kebanyakan yang digunting2 buat tugas dkv.. jadi ga bisa nyumbang...

Cerita Tugu mengatakan...

wah banyak amat bukunya, semoga banyak orang yang suka baca

SeNjA mengatakan...

itu juga salah satu impianku mba ^^
ingin punya perpustakaan,hemm...semoga terwujud impiannya mba ^^

Vicky Laurentina mengatakan...

Tulus benar niatmu, Ra. Salut aku.

Mending Ira konsentrasikan target pasar ke anak-anak. Kalau ke ibu-ibu rasanya prospeknya kurang bagus. Akan jauh lebih menarik, Ra, kalau di perpustakaannya Ira membacakan cerita. Sekalian belajar mengasuh anak, Ra, siapa tahu jadi pancingan buat hamil lagi. :-)

Alrezamittariq mengatakan...

subhanallah luar biasa mbak...sebuah niat yang suci yang insya Allah akan mendapat jalan yang terang..
oh ya mbak sekedar usul...mbak coba aja buka hibah online untuk ngedapetin majalah dan buku - buku ringan..sapa tau sahabat blogger yang lain punya niatan yang sama dengan mbak hanya saja tidak tau kemana hendak disalurkan mbak...cuma saran aja sih mbak..huehue

Abi Sabila mengatakan...

semoga Allah memudahkan segala perkara dan melancarkan segala urusan untuk niat yang mulia ini. amin

Hendriawanz mengatakan...

Perpustakaan...itu juga keinginanku. Kapan ya..? Sekarang aku lagi berusaha membeli buku yang "harus" aku punya daripada buku yang ingin aku punya.
Sepertinya akan ada pergeseran topik pembicaraan ketika para ibu berkumpul...
Perubahan yang positif

Hendriawanz mengatakan...

ah lum ada artikel baru ya..

ninneta mengatakan...

waaaah rumah kita deket dong mba... aku di pamulang, di bambu apus situ...

aku juga mengidam-idamkan perpustakaan di rumah... hmmmm kapan ya kira2

semoga impian kita terwujud ya mba

Jokostt mengatakan...

Sebuah niat yang mulia, Mbak Ira. Saya sangat appreciate dengan usaha yang Anda lakukan. Semoga tuhan juga akan membalas niat baik Anda.

Hem, saya jadi ingat pengalaman waktu pernah tinggal di Jakarta. Teman saya di Pondok Gede bilang ke saya kalau ingin beli tanah di kampung Betawi katanya gampang. Caranya, suruh tunggu saat orang Betawi mau naik Haji dulu maka mereka pasti akan jual tanahnya dengan harga murah.

Oh,ya salam kenal dari Jogja.

Darmanto Muat mengatakan...

Hajime...!!!!

Anonim mengatakan...

Before finding out about links of london uk watches you should be familiar with some of the terminology. cheap links of london The word horology has two meanings; it is the study or science of measuring time links london jewellery or the art of making clocks, watches, and devices for telling links of london sale time.Since the first appearance of man on the earth an effort has links of london silver been made to determine time.The tracking of the sun's movement across discount links of london the sky, candles that were marked at intervals.Water clocks did links of london bracelet not depend on the observation of the sky or the sun.

jinpeng mengatakan...

Place one matted light pandora Jewelry left of the area for jewellery, and one to the right. pandora sale Place reflector light near where the camera is. Whatever you do, avoid mixing light types. pandora charms Use only non-fluorescent lights, and isolate your photo 'lab' away from natural light. pandora bracelets To have freedom with many settings that will be a must, we will have to use longer exposures. For longer exposures to pandora bracelet achieve maximum sharpness, we'll need a tripod. pandora bracelets sale Our hand shakes too much, when camera runs at exposition Buy a 'tripod' for You don't need a heavy duty tripod. pandora bangles If your setup will be on a desk, you can chose mini tripod - approx and stand tripod on the pandora necklaces desk as well, or longer tripod, approxand stand it on the floor. pandora beads Two desk lamps with soft light irrelevant if you are using photo tent -- the tent is there to soften the light and reflector light at the front. pandora earrings I keep the cube open at the front, for easier adjustments and photographs, unless jewellery is highly reflective of the image of me taking photograph. Uniform background colour is recommended. White background works great.

leader mengatakan...

In most cases, thomas sabo charms buildings insurance covers the sourcing cost of rebuilding or thomas sabo restoring your properties structure in a case where it is destroyed by an event paid for thomas sabo bracelets by your home insurance plan, whilst contents insurance protects the price of replacing specified things. cheap thomas sabo watches Families are often demanded to order home insurance as a general condition of obtaining their mortgage, thpmas sabo although, they may be under no obligation to buy it using their mortgage service provider.