24 Jan 2010

CATATAN AWAL KE TANAH BADUY


Awalya aku sedikit menimbang-nimbang apakah harus aku tulis perjalanan ku menuju ke tanah Baduy. Pasalnya sudah banyak catatan-catatan penting tentang keberadaan suku Baduy. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk tetap menulisnya. Memandang Suku Baduy dari pandangan mataku, seorang Ira yang hanya memiliki catatan biasa tentang Baduy

Awal perjalanan panjang.



Awalnya aku mengenal suku Baduy hanya dari buku-buku pelajaran. Hingga akhirnya ada kesempatan untuk pergi kesana. Setelah searching di internet, sempat ingin mundur setelah mengetahui kondisi alam yang berbukit. Aku mempertanyakan diri sendiri, apa sanggup kembali ke alam dengan kondisi badan ”tidak seperti dulu” lagi karena permasalahan di tubuhky. Tapi Bismillah! Aku harus bisa. Kembali ke alam adalah sebuah hiburan tersendiri bagiku setelah dengan rutinitas yang terkadang tidak masuk akal. Kembali mencari ransel. Kembali mem”packing” barang. Dan kembali mempersiapkan diri menemui tantangan.

Perjalanan tidak aku mulai dari Bintaro, tapi dari Blok M karena Ika, sahabatku dari  Koran Tempo menungguku disana. Ketakutan kami dikalahkan oleh kenekatan. Kami berdua sama-sama tidak tahu jalur menuju Desa Baduy. Hanya berpedoman dengan hasil searching di Internet. Ada 4 titik yang harus kita temukan. (1) terminal kali deres, (2) Rangkasbitung, (3) Terminal Awe dan (4) Terminal Ciboleger.
Mencari terminal Kali Deres ternyata susah-susah gampang. Kenapa? Karena kami buta jalur angkot metromini. Alhasil kami tertipu calo dan berkeliling kota Jakarta! Bayangkan! Dari Blok M, kami menuju UKI, lalu kembali ke grogol. Dan dari Grogol baru mendapatkan angkot ke Kali Deres. Bodoh memang! Tapi merupakan pengalaman yang berharga buat ku yang sama sekali tidak pernah naik angkot. Sempat terbersit untuk naik taxi, tapi pikiran itu langung dihapus. Niat kita adalah Backpacker! Titik!

Dari terminal Kali Deres, kami mencari bis kecil jurusan ke Rangkasbitung. Tidak banyak bus yang menuju arah sana dan kam harus menunggunya agak lama. Dan catatan terpenting, bus ini hanya ada sampai jam 8 malam. Harganya cukup murah, hanya 17.500 rupiah dengan perjalanan kuang lebih 3 sampai 4 jam. Dan petualangan dimulai. Jalan menuju Rangkasbitung benar-benar rusak parah. Serasa naik perahu di lautan. Belum lagi penumpang yang berjubel di dalamnya. Waaaahhhh........ada perasaan yang beda Tapi karena kebodohan kami yang salah memperkirakan waktu, sampai di Rangkasbitung jsudah am 8 malam. Dan sangat tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan karena transportasi malam hari sama sekali tidak ada. Mencari hotel kecil untuk menginap. Tak apalah........sesekali menikmati suasana lain di kota kecil. Dan malam itu aku menikmati Teh Poci dengan harga 3000 rupiah di sebuah lesehan pinggir jalan. Mantab............!!!

Pagi jam 4 shubuh, kami telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke terminal Awe. Dari info yang kami dapatkan, setiap pagi di pasar tumpah Rangkasbitung banyak kendaraan yang menuju langsung ke Ciboleger. Namun anehnya saat kami bertanya ke masyarakat sekitar, kami seperti di pingpong! Ada yang mengatakan kendaraannya cuma ada siang hari. Ada yang mengatakan harus naik naik angkot 07 ke terminal Aweh dan alasan-alasan lain yang aku pikir sama sekali tidak masuk akal. Halah...apa karena kami hanya perempuan. Mereka sepertinya memandang sebelah mata. Kembali kenekatan diuji. Setelah menikmati sepiring Tahu Campur dipasar tumpah, kami langsung naik ojeg ke terminal Aweh dengan ongkos 5000 rupiah. 05.30 pagi. Hujan lebat dari Rangkasbitung ke terminal Aweh. Dan cobaan kembali dialami. Fuch......kendaraan paling awal berangkat jam 9 pagi. Fuich.......3 jam menunggu di terminal Aweh yang sepiiiiiiii.

Inilah terminal Aweh yang super sepi
Dengan segelas kopi dan buku novel aku berusaha membunuh bosan. Sempat ada perasaan pupus saat menunggu sekian lama di terminal Aweh. Tapi kami saling memberi semangat. Sebenarnya bisa saja kami menyewa kendaraan untuk berangkat ke sana. Tapi kembali ke niat awal. Backpacker!. Dan ternyata pemberangkatan awal jam setengah 10. Ongkosnya murah, hanya 12.000 ribu rupiah. Hmmmmm.....petualangan kedua kembali dimulai. Bus kecil dengan beban yang saaaaannnnnnggggat berat. Pisang, petai, kelapa, ayam juga ikut bergabung bersama kami. Jalannya? Lebih parah dibandingkan jalur ke Rangkasbitung. Aku sempat juga melihat eksplorasi alam dengan melakukan penambangan pasir di sepanjang jalan. Sayang, aku tak bisa memotretnya. Perbukitan yang kehilangan sisi-sisinya. Jalan yang rusak karena terlalu sering dilewati oleh truk besar pengangkut pasir. Bukti keegoian manusia pada alam ternyata sampai juga di wilayah pedalaman.
Sahabatku Ika di depan patung Ciboleger

Ciboleger.....akhirnya sampai setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan dari terminal Aweh. Ciboleger adalah sebuah terminal yang sengaja di bangun untuk mempermudah menuju ke wilayah suku Baduy. Saat turun, sudah banyak tatapan asing kepada kami. Wajar saja, dua perempuan turun dari angkot dengan bawaan ransel. Dan mereka ternyata adalah calo-calo yang menawarkan sebagai guide menuju ke wilayah Baduy.

Setelah melapor ke Djaro (semacam kepala desa) serta mengisi buku tamu, guide yang berjumlah 5 orang itu mengarahkan kami k sebuah jalan. Dan transaksi berlangsung. Dan kami dengan tegas hanya butuh 1 orang pemandu. Dan tahu kan apa berapa angka yang ditawarkan untuk memandu ke dalam wilayah Baduy? 300 ribu lebih hanya sampai Baduy luar? Haa....kami langsung protes dan menawar 50 ribu. Setelah tarik menarik harga akhirnya kesepakatan 75 ribu dan hanya mengantarkan saja tanpa harus ikut menginap. Dan sang Guide ini mengaku sebagai orang suku baduy luar. Dan kelak, ternyata kami baru tahu kalau mereka adalah orang luar suku Baduy yang selalu mengambil keuntungan dari para pendatang yang ”bodoh” seperti kami, Tak apalah......tidak pelu disesali. Ini sebagai awal untuk mengunjungi dunia Baduy. Walaupun sebenarnya tanpa pemandu pun kita bisa sampai di rumah Kang Sarpin karena ternyata jalannya telah ditandai oleh batu yang disusun sebagi jalan.

Di depan pintu Gerbang masuk ke Tanah Baduy

Catatan penting yang harus diketahui untuk para tamu di suku Baduy:
(1) Selalu berskap percaya diri. Jangan terlihat seperti ”rusa masuk kampung”
(2) Turun dari Ciboleger langsung saja menuju arah tangga yang menjadi gerbang ke Suku Baduy Luar. Jika ada guide yang menawarkan jasa langsung tolak dengan tegas. Jika masih memaksa katakan saja, ”kita akan kerumah Kang Sarpin”. Kang Sarpin seperti kata sakti yang bisa menahan paksaan mereka.
(3) Setelah naik sekitar 200 meter langsung saja tanya pada masyarakat Baduy asli umah bapak Djaro. Ciri-ciri masyarakat Baduy adalah selalu mengenakan celana pendek. Walaupun dengan bahan Jeans, atau bahan kain serta menggunakan pakain warna gelap atau putih.
(4) Setelah melapor ke bapak Djaro langsung saja menuju jalan utama yang biasanya di tandai dengan batu yang disusun panjang sebagi pijakan.
(5) Bawa ikan asin atau terasi sebagai oleh-oleh bagi masyarakat Baduy.

 Kurang lebih seperti ini lah meda yang harus di lewati  sepanjang perjalanan masuk 
ke tanah Baduy






 


Hhmmmmmmm.....untuk pengalaman di dalam pemukiman Baduy sepertinya harus aku tulis di bagian lain dari catatan awal ini. Karena terlalu panjang untuk diceritakan termasuk sedikit sejarah tentang keberadaan suku Baduy di tanah Jawa yang aku ketahui dari Kang sarpin dan beberapa Referensi.

Catatan kecil ini aku persembahkan kepada
Sang Pemegang Adat Baduy
dan sahabat ku "Ika Ning Tyas" yang mengajarkan makna "tantangan"
Serta sahabat-sahabatku "pelestari budaya"




16 komentar:

reni mengatakan...

Wah mbak, bener-2 bertualang ya..?
Seru juga tuh petualangannya.

SeNjA mengatakan...

keren banget petualangannya mba ^^

mauu dong hehe....

Ivan Kavalera mengatakan...

wah, benar-benar mengasyikkan ya perjalanannya mbak.

ALOHA mengatakan...

pengeen..

arie m. dirganthara mengatakan...

sungguh, aku juga ingin mencicipi pengalaman semacam ini.

ninneta mengatakan...

seru ya di baduy... jadi inget waktu itu sama temen kampus sempet pergi dan membantu warga disana selama hampir sebulan...

Syifa Ahira mengatakan...

whuaa.. seru banget ya petualangannya..
jadi kangen nyalurin hasrat bertualang yang uda lama terpendam..

Ali Mas'adi mengatakan...

wah..petualangan yg mengesanka ya... hebat.. pengen ikutan juga kayak gitu.. sesekali menikmati tantangan seperti itu...

Hendriawanz mengatakan...

Tersesat, tertipu calo, proses yang sangat berharga nh mb, tidak sekedar sampai ke tujuan. Dan ternyata dengan seperti ini kita malah bisa lebih detil mengikuti jalur2, lebih lengkap dari internet yang mb baca. Thx mb, ku follow ya.

Ayas Tasli Wiguna mengatakan...

Seru bgt mbak.. ntar nyusul ah..

Alil mengatakan...

Ira... perjalanan yang menyenangkan
salut euy..
thanks banget buat info-infonya..

dan ditunggu cerita tentang pengalaman di pemukimannya...

menarik banget

anna fardiana mengatakan...

seru banget perjalanannya...
saya kagum ama cewek2 yang sanggup melakukan perjalanan semacam ini..

tidak hanya sekadar liburan yang nyaman.. tapi menantang

Alrezamittariq mengatakan...

bener2 deh cewek perkasa...
jalan masuknya bener2 tradisional yah....pengen juga nih maen kesana...

Sari mengatakan...

Aku suka bertualang, cuma jarang dapet kesempatan...
Mbak sungguh beruntung :)

nitya mengatakan...

Ada foto orang-orang suku Baduy nya ga?
Misalnya pakaiannya gitu..
hehe..
nice blog!

Anonim mengatakan...

Before finding out about links of london uk watches you should be familiar with some of the terminology. cheap links of london The word horology has two meanings; it is the study or science of measuring time links london jewellery or the art of making clocks, watches, and devices for telling links of london sale time.Since the first appearance of man on the earth an effort has links of london silver been made to determine time.The tracking of the sun's movement across discount links of london the sky, candles that were marked at intervals.Water clocks did links of london bracelet not depend on the observation of the sky or the sun.