26 Des 2009

CATATAN DESEMBER TENTANGMU

Kau masih ingat? Kita bertemu pertama kali pada Bulan Desember saat Hujan pertama turun dan kita berdua sama-sama berdiri di lobi hotel. Dan aku baru sadar bahwa kau menatap lekat pada titik hujan yang menerpa kanopi di depan kita. Lekukan alismu yang sedikit menonjol membuat matamu telihat lekung kedalam. Bawah matamu terlihat menghitam dan menandakan bahwa kau adalah orang yang suka bergadang. Wajahmu tirus, memperkuat bentuk rahangmu yang kaku. Dan bibirmu hitam dan sesekai menghisap rokok kretek yang kau jepit di jemarimu.



Aku memberanikan diri untuk menyapamu dan bertanya apa yang kau lakukan di sini. Dengan dingin kau menjawab menunggu hujan reda. Kenapa harus menunggu dilobi hotel.
Kau mendengus sambil berkata ketus. " Apa urusanmu? terserah aku mau menunggu di lobi, di pasar, di rumah sakit atau di penjara sekalian".
Aku kembali terdiam dan memilih beranjak dari tempat dudukku dan meningalkanmu seorang diri tetap berdiri di depan lobi hotel menuju ke kamar tempat menginapku di kotamu. Dan aku masih ingat satu jam kemudian kau mengetuk pintu kamarku sambil menyerahkan buku ku yang tertinggal di lobi Hotel. Saat kutanya dari mana kau tahu? maih dengan gayamu yang dingin kau mengatakan ada namaku dibuku itu dan kemudian bertanya di receptionis hotel. Tanpa sempat mengucapkan terimakasih kau berlalu. Aku terdiam dan meletakkan buku itu di meja.

Dua malam buku itu terdiam teronggok tanpa sempat terjamah. Malam terakhir aku kotamu aku baru sadar ada nama dan nomer hp mu di di secarik kertas yang mungkin sengaja kau letakkan di halaman depan bukuku agar aku kemali bisa menhubunimu. Dan sejak itu kita berdua saling jatuh cinta. Setiap akhir pekan aku selalu ke kotamu atau kau yang berkunjung ke kotaku. Kau dan aku benar-benar saling jatuh cinta. Saling memuji dengan ribuan puisi. Bercinta dengan kata-kata. Bahkan saling bernyanyi tentang rindu. Hingga kembali di Bulan Desember itu. Satu tahun perkenalan kita.

"Maaf....kenapa aku tak pernah tau kau beribadah"

Kau tersenyum sambil menatap lekat ujung kakiku, " Aku telah beribadah. Silahkan!! akan aku tunggu kau disini"

Aku hanya terdiam sambil melipat mukenaku.Mataku nanar menatap laki-laki yang menemaniku tiap akhir pekan di kota ini. Laki-laki yang siap bergadang untuk menulis makalah-makalah penelitianku. Siap berdiskusi beram-jam dengan secangkir kopi hitam. Laki-laki yang selalu mengingatkan jika suara Tuhan memanggilku beribadah. Laki-laki yang sangat menghormatiku bahkan tidak pernah menyentuh ujung jemariku. Laki-laki yang sangat aku cintai dan dia juga mencintaiku. Laki-laki yang hanya berani berdiskusi tapi tak pernah berani menatap mataku. Dan laki-laki itu tetap berdiri di depan jalan di atas trotoar menantang panas matahari. Dan aku lihat dari sini dia sesekali mengusap peluh dikeningnya. Dia menungguku.

" Apa yang kau inginkan dari per"sahabatan" kita"

Aku terdiam dan menggelng keras.

" Kau tahu kalau aku mencintaimu"

Aku mengangguk perlahan dan sangat perlahan. Seakan-akan aku ragu dengan pernyataan sikapnya.

" Dan aku tau Raa...kalau kau juga mencintaiku. Kita tidak perlu mengatakan rasa cinta ini. Tapi aku sadar jika kita berdua merasakan indahnya cinta ini"

"Lalu...."

Dia mengeluarkan sebuah kalung dari lehernya.

"Inilah aku...."

Aku terhenyak. Kalung it. Aku terdiam. Mataku mulai memanas.

"Aku telah menemui ibumu tanpa kau ketahui. Hanya ntuk memastikan pada beliau bahwa aku benar-benar mencintaimu. Tapi Raa......aku sadar rasa cintaku pada Tuhanku lebih besar dari pasa rasa cintaku padamu. Dan aku telah katakan hal itu pada ibumu. Dan dia sangat menghargaiku dan menyerahkan keputusan padamu"

Bahuku terguncang. Bibirku bergetar.

"Kenapa baru kau katakan setelah satu tahun kita bersama. Setelah aku benar-benr mencintaimu?"

"Karena aku mencintaimu dan takut kehilanganmu"

" Kau benar lebih mencintai Tuhan mu"

Wajah tirus itu menganguk keras. Aku berusaha mencari keraguan di matamu tapi tak ada!!!

" Aku juga mencintaiku Tuhanku dibanding kamu"

Aku menguatkan diri untuk berdiri sambil membetulkan letak jilbabku.

"Tapi kau tetap menjadi Sahabatku. Selamat Hari Raya....".

Kata-kataku terputus dan menatap lekat kedua matamu yang teta tenang itu. Kau mencium liontin salib itu sambil tersenyum menghela nafas berat.

"Aku sangat mencintai mu Raa"

Dan kita terdiam cukup lama melarikan angan-angan ke perjalanan satu tahun lalu hingga masing-masing secangkir kopi di hadapan kita benar-benar kosong. Dan kita sama-sama beranjak setelah memutuskan untuk berpisah. Yah....benar-benar berpisah setelah baru mengetahui jika kau dan aku sama-sama saling mencintai.

25 Desember 3 tahun berlalu. Aku sengaja datang lagi ke kotamu. Duduk di tempat yang sama tempat kita berpisah dulu di sebuah cafe pada stasiun kota. Tempat yang sangat kita benci karena kereta senja selalu membawaku kembali ke kotaku sendiri. Menikati segelas kopi yang sama seperti kopi yang kita nikmati sebelum kereta itu tiba. Ah Dee.....aku merindukanmu.

Tiba-tiba pemilik cafe menghampiku. Ibu setengah baya yang selalu menggunakan celemek warna merah tua.

"Mbak....kok lama nggak ke sini?"

Aku hanya sedkit tersenyum, "Sibuk"

"Oh ya....ada titipan buat Mbak dari temen mbak yang kurus itu lo, yang sering ngopi sama mbak disini. Sudah lama mbak nitipnya....Ada kalau 6 bulan lebih. Dia wanti-wanti kapanpun mbak datang, saya disuruh ngasih titipan ini. Katanya penting!!!

Ak menghela nafas. Dengan hati sedikit berbungah atau sakit hati. Ah....terlalu tipis aku membedakannya. Bungkusan berwana mawar hitam itu aku buka perlahan. Dan aku melihat fotoku sendiri dengan jilbab merah kesayanganku duduk di lobi hotel membaca satu buku tentang perempuan. Potretku.....aku mengelusnya perlahan dan membaca secarik kertas yang ada kau tempel di balik potret itu.

Mereka ditemukan di situasi yang tidak terduga. Dengan Kuasa Tuhan mereka bertemu. Tuhan mencintai mereka berdua, tapi mereka tidak bisa saling mencintai karena masing-masing memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda!!! Di bulan Desember....aku selalu mengiatmu Raa!


Aku terdiam.......dan tak terasa air mata ini menetes untuk sebuah ketulusan. Selamat Hari raya kawan.........

 Catatan ini akupersembahkan secara tulus kepada semua kawan-kawanku yang merayakan hari raya di Bulan Desember. Semoga Tuhan selalu membei kebahagian pada kita semua Amien.....

 

 


Secangkir kopi tetap menemaniku dimalam suci bagimu!

19 komentar:

RanggaGoBloG mengatakan...

mampir..... siapayah yang dimaksud,,, jadi bertanyah tanyah..

Ivan Kavalera mengatakan...

Setitik hujan dari langit kenangan. Benarkah masih membasahi bumi di hatimu?

blogger bulukumba mengatakan...

apa kabar, mbak Ira. Baca-baca narasinya dulu ah..

Pekanbaru Riau mengatakan...

tentang aku, kamu dan kita bersama.. hehhe...

yasuyassyash mengatakan...

waa...
*bingung mau komentar apa..ehe

aku juga ketemu seseorang di bulan desember, tapi se agama sih..ehe..

*malah curhat. halah

Munir Ardi mengatakan...

2 jempol, Tuhan tetap yang utama kita cintai lebih dari apapun di bumi ini

sibaho way mengatakan...

paradoks ya... ajaranNya (cinta) terpisah karena Dia...

sibaho way mengatakan...

paradoks ya... ajaranNya (cinta) terpisah karena Dia...

JHONI mengatakan...

hallo ir....wah posting yg menyentuh!! dilema agama dan cinta yg entah berakhir bahagia untuk siapa?!?! tidak pernah ada yg tahu!!!

td bisa bersatu karena kita memanggil Tuhan dengan cara dan "nama" yg berbeda!?!?! sebuah ironi bagi saya...........

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Cinta kepada-Nya adalah cinta yang hakiki.....

Kenangan memang teramat indah untuk dikenang dan teramat pahit untuk dilupakan. Tapi kita tidak boleh larut didalamnya. biarlah semuanya menjadi sejarah yang tetap akan menjadi bahan pembelajaran...

duniaira.blogspot mengatakan...

jika ada yang bertanya antara kenyataan dan khayalan? Aku akan memilih dua-duanya
Thanks untuk apresiasinya

ninneta mengatakan...

ninneta likes this

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Kenapa harus mundur mba...bukankah cinta tak seharusnya dikalahkan oleh perbedaan ?

yans'dalamjeda' mengatakan...

Ku pilih juga dua-duanya..... hehe

Fajar mengatakan...

desember yang sedih atau yang ceria ya ..kira...kira...

Kabasaran Soultan mengatakan...

Jadi ingat nyanyian Desember kelabu nih...

Hidup harus memilih dan berbahagialah orang yang melakukan pilihan atas dasar akal sehat.

nice story

ranny mengatakan...

hujan dan kenangan selalu bergandengan :)

met taun baru mbaakk

Vicky Laurentina mengatakan...

Hiks..jadi terharu. I've been there, jadi tahu rasanya nggak enak.

Semoga Tuhan memberi yang terbaik buat Ira dan si December Man itu. Biarpun kalian masing-masing memanggil-Nya dengan nama yang berbeda..

Reni mengatakan...

Ceritanya keren mbak... desember yang kelabu...