8 Okt 2009

IBUKU GURU TAPI TAK PERNAH MENGELUH

demo-guru-dalam

(aku copy foto dari mas irul wartawan detik.com)

Dua hari kemarin aku dapat info kalau di Banyuwang ada demo besar-besaran yang akan di lakukan oleh para guru. Aku langsung mengelus dada apalagi yang terjadi di kota tercitaku. Beberapa teman wartawan yang aku hubungi langsung mengiyakan berita itu dan mereka bilang, " biasalah Ra...seperti kasus lalu. Mereka menuntut kesejahteraan"



Guru demo.....? merupakan hal yang sangat ironis. Dari beberapa link yang aku dapatkan aku ketahui kalau para guru itu demo menutut beberapa hal diantaranya terkait kesejahteraan guru. Yakni, realisasi uang makan Rp 10 ribu per hari, pengangkatan guru bantu, intensif guru honorer dan swasta, perlindungan hukum bagi guru tidak tetap serta kelancaran dana biaya operasional sekolah.

Sedangkan satu tuntutan lagi, yakni pencabutan sanksi terhadap 7 PNS guru. Ketujuh guru tersebut dikenai sanksi mulai dari pemecatan hingga penurunan pangkat dan jabatan. Mereka dianggap sebagai penggerak unjukrasa tanpa izin dari kepolisian pertengahan Agustus lalu.

Salah satu tuntutan dari aksi saat itu, mendesak Kejaksaan Agung untuk segera menahan Bupati Ratna atas kasus korupsi lapangan terbang Banyuwangi.

Dada ku sesak liat tuntutan mereka. Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu saat almarhum ibuku masih ada. Dia adalah seorang guru......

DSCF3747

Almarhum Ibuku adalah guru angkatan pertama di kabupaten Banyuwangi. Tapi sebelumnya ia sempat menjadi pengajar sukwan diwilayah terpencil. Dia sempat cerita kalau hanya di bayar sayur-sayuran waktu wali murid panen. Dan pertama kali yang dia ajarkan pada muridnya adalah bagaimana cara mandi dan menggosok gigi, bukan seperti jaman sekarang. Anak SD langsung di ajari Bahasa Inggris.

Almarhum ibuku telah mengajar puluhan tahun. Bahkan, murid terkahirnya adalah cucu dari murid pertamanya dulu. Kata mantan murid-muridnya, ibuku adalah guru yang keras, disiplin dan prinsipil. Pernah sekitar tahun 2000-an, ibuku mengajar di salah satu sekolah yang bonafit di Bnayuwangi. Tapi dia di mutasi karena bermasalah dengan Sang kepala sekolah. Tau alasanya....karena ibuku tidak setuju program kepala sekolah yang ingin membangun Mushola sekolah. Ibuku beralasan sebaiknya pihak sekolah memanfaatkan mushola kampung yang terletak persis di sekolahan. Ketidak setujuan ibuku lebih dikarenakan pembangunan mushola tersebut meminta dana pada walimurid. Ibuku bilang, " kasian Ra, soale ada wali murid ibu yang cuma tukang becak. Buat beli buku saja sering nunggak". Alhasil, ibuku di depak dari sekolahan dan di mutasi di sekolah pinggiran yang hanya mempunyai 8 siswa di kelasnya. Ibuku sempat mogok tidak mengajar selama 2 minggu dan akan membawa kasus ketidakadilan itu ke pihak terkait. Tapi aku sempat melarangnya karena aku tau kalau birokrasi di Banyuwangi adalah birokrasi hutan belantara!!!!!!! Bulshit!!!!

Ibuku pun kembali mengajar ke sekolah pinggiran yang hampir mayoritas wali muridnya adalah masyarakat menengah ke bawah yang bekerja sebagi petani dan buruh. Namun ibuku semakin semangat mengajar. Karena jumlah muridnya yang sedikit, ibuku membebaskan mereka dari bayaran sekolah dan di talangi lansung dari gajinya. Buku-buku pun tidak mereka beli, karena ibuku meminta pada temannya seorang guru di sekolah unggulan buku bekas pakai muridnya. Kadang-kadang aku juga sering diundang ke sekolah ibuku untuk mengajarkan menari, menyanyi, menjelajah atau camping di halaman sekolah. Ibuku sempat bilang, "Ra, ibu lebih seneng ngajar disini dari pada sekolah yang alam. Soale ibu lebih merasa dibutuhkan". Aku menimpali, "Mutasi yan indah kan Bu"

Kejadian demo guru yang dua hari lalu terjadi di Banyuwangi bukan yang petama. Saat masih kerja menjadi reporter radio, aku pernah ditugaskan liputan demo guru dan tuntutan dua tahun yang lalu sama dengan yang dituntut saat ini. Kesejahteraan!!!! selain menutut uang makan, mereka juga menuntut seragam yang selama dua tahun tidak di ganti!!!! dan mereka demo di pemerintahan yang sama!!!!!!

Kalau nggak salah demo guru waktu itu dilaksanakan pagi hari, sehingga banyak sekolah yang tutup. Saat hari H, aku bilang sama ibu ku kalau nggak usah ngajar soalnya para guru mau demo. Ibuku cuek dan tetap berangkat ngajar.

Saat sarapan ibuku bilang, " Raa, nggak seharusnya para guru demo apalagi pagi hari. Itu kan waktunya ngajar. Kalau mau nyampaikan aspirasi kan bisa pake cara lain. Nggak perlu teriak-teriak kayak gitu. Gimana kalau dilihat muridnya. Apalagi kalau dijaga polisi"

"Tapi kan kalau nggak gitu aspirasi mereka nggak didengar kan bu"

" Aspirasi apa? kesejahteraan? jadi guru itu adalah keikhlasan. dan gaji adalah bentuk dari sebuah penghargaan. Kalau mereka mau kaya jangan jadi guru, pegawai negeri dan juga wartawan kayak kamu. Nggak mungkin bisa kaya!!!!! karena kerja kayak ibu dan kamu adalah kerja dari hati. Bukan karena gaji!!! kayak kmu apa akan jadi sejahtera kalau jadi wartawan. La wong uang bensin aja masih minta. Tapi kalau kamu kerjanya ikhlas dan kemampuanmu semakin bagus pasti penghargaan gaji akan lebih lagi. Percaya kalau Tuhan tidak pernah tidur?"

"jadi ibu nggak ikut demo"

Ibuk menggeleng, " nggak dan nggak akan pernah. Ibu malu mau nuntut kesejahteraan la wong ibu masih belum pernah bisa ngasih apa-apa"

What....? aku sempat geleng-geleng dengan jawaban ibuku. Padahal ibuku telah mengajar lebih dari 50 tahun dan masih merasa belum meras ngasih apa-apa buat negara? Hebat........

" Tapi aku boleh liputan...." Ibuku mengangguk dan bilang, "Sekalian salam buat temen-temen ibu"

Kembali pada demo yang dua hari lalu terjadi di Banyuwangi. Aku nggak menyalahkan mereka.....dan juga tidak membenarkan apa yang mereka lakukan. Mungkin karena bentuk keikhlasan mengajar yang masih kurang, karena tuntutan ekonomi yang terus meningkat, atau pemerintah yang sama sekali tidak peduli pada para pahlawan tanda jasa itu? Belajar melihat masalah dari banyak sisi......

Yang pasti keiklasan mengajar seperti ibuku yang akan aku tiru. Walaupun sekarang aku bukan lagi siapa-siapa tapi Ikhlas adalah kunci untuk mendapatkan kebahagian. Karena ibuku adalah guru yang tak pernah mengeluh

Seandainya para guru itu ikhlas mengajar, seandainya pemerintah juga ikhlas memberikan pengertian dan bantuan asti demo itu tidak lagi ada.

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Lalu jika guru demo....apa yang akan di lakukan oleh sang murid. Silahkan jawab sendiri....Fuich.......!

(aku dedikaskan untuk ibuku, guru dari segala ilmu, serta semua guru-guru yang ada di tanahku)


13 komentar:

yans"dalamjeda" mengatakan...

Akupun sama herannya, melihat jawaban ibumu. Salut, sebuah keikhlasan yang sesungguhnya teramat mahal.
Guru dengan segenap rasa ikhlasnya, mereka hidup di negeri yang ironis.....

Bandit Pangaratto mengatakan...

Nice post...
Potonya keren.. :D

irarachma mengatakan...

@yans: keikhalasan itu mahal dan nggak ad yang jual juga...
@ bandit: (jadi riskan manggil bandit) heheheh tenkyu mas atas apresisinya

akhatam mengatakan...

artikel yang bagus sobat blogger, salam kenal ajah...

irarachma mengatakan...

@akhatam : salam kenal balik....

Munir Ardi mengatakan...

saya juga guru mbak sekali lagi masalah perut apalagi kalau menuntut hak yang jelek kalau guru sudah ditumpangi muatan politik atau sampai demo untuk menuntut seseorang

Munir Ardi mengatakan...

guru bersatulah dan teruslah menjadi pahlwan tanpa tanda jasa meski tidak kaya tetapi banyak amal

irarachma mengatakan...

@ Munir : tapi aku yakin mas munir kategori guru yang ikhlas bukan?

Vicky Laurentina mengatakan...

Ibunya Mbak Ira benar. Hendaknya kalo guru mau demo, jangan pas waktunya jam ngajar. Tidak pantas guru demo lalu murid yang jadi korban.

duniaira.blogspot mengatakan...

@vicky: bener mbak.....tapi aku boleh tanya nggak Dokter kok nggak pernah demo ya?

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Semoga saja aku bisa masuk kategori guru yang ikhlas.
Sebab ilmu ikhlas nampaknya sangat sulit dimiliki oleh seseorang tanpa pandang profesi.

Hormat saya buat Almarhum ibunda. Semoga Arwahnya tenang dialam sana.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Sekedar tambahan bahwa,...
Berdasarkan Surat Edaran Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nomor : 447/Um/PB/XIX/2007 tanggal 27 November 2007, bahwa kata : “Pahlawan Bangsa Tanpa Tanda Jasa” suda diganti dengan kata

“Pahlawan Bangsa Pembangun Insan Cendikia”

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

aku kagum sama ibumu, Ra. sungguh guru yg patut ditiru dan digugu.