3 Agt 2009

PULANG......

Perjalanan ini sangat melelahkan. Entah sudah berapa ribu kilometer kakiku melangkah. Betisku sudah sebesar talas bogor, sepatuku sudah sobek dimana-mana, bahkan jempol kakiku sudah asyik mengintip dan bermain mata dengan kelingking kaki kananku. Perih….nanah menetes perlahan berwarna hitam menyatu dalam kuku. Baunya seperti bangkai-menurut orang lain-, tapi aku menikmatinya. Otot-otot kaki menegang berwarna kehijauan menyembul dari daki yang menumpuk di betis dan pahaku. Aku lupa kapan aku manid terakhi kali…..

Aku ingin pulang…..tapi aku tak paham apa arti pulang. Bagiku pulang adalah tempat aku menemukan kenyamanan. Jika aku merasa nyaman di laut, maka aku akan terlentang di atas pasir panas. Jika aku merasa nyaman di gunung aku akan mendaki dan tidur disela-sela asap belarang. Jika aku nyaman di taman bunga, maka aku akan meringkuk di sela-sela air mancur sambil menggumamkan puisi tentang kehidupan. Jika aku merasa nyaman di kampus, maka aku akan bermimpi ditumpukan buku-buku dan disertasi. Jika aku merasa nyaman di pasar, maka aku membunuh waktu sambil bersahabat dengan uang. Jika aku merasa nyaman di museum, maka aku akan mennekuk kaki dan menikmati tiap-tiap lukisan Raden Saleh tentang penangkapa Diponegoro, Jika aku nyaman di balai kta, maka aku akan melusuri kota tua dan melihat satu persatu batu bundar yang menggelinding didepannya. Tapi aku merasa belum pulang……kemana aku harus pulang…..
Tiba-tiba aku merasa lelah….bahkan untuk melangkah satu langkah pun aku sudah tak sanggup. Aku terduduk. Rambut panjangku berkibar bahkan sudah menyentuh langit. Bajuku sudah tak terbentuk mataku nanar. Bibirku hanya bergumam, “aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku ingin pulang…..”. Gumamamku tiba-iba berubah menjadi lagu yang memberi kekuatan padaku untuk menari. Tanganku bergerak….dan aku terus menari sambil bernyanyi satu kata, “pulang, pulang, pulang, pulang…..aku ingin pulang”.
Angin tiba-tiba berbisik padaku, “Raa pulang adalah akhir sebah penantian”. Aku terhenyak mendengar bisikan itu. Seperti ada kekuatan lain yang mendorong dadaku, aku terjerembab. Dan jatuh pada masa lalu…….
***
“Pulang kapan nduk?”. Aku menoleh asal suara dan melihat ibuku membawa segelas susu hangat sambil tersenyum menghampiriku. “Cuma dua malam Bu. Sudah lama aku nggak naik gunung Ijen”, ujarku sambil mengambil gelas dari tangan ibuku.
“ Lama? bukankah. Akhir pekan 2 minggu yang lalu kan kamu kesana.?.minggu kemarin kamu ke Pantai Bomo. Kenapa sih kamu jarang pulang?. Nglayap terus sampai lupa sama rumah”
“Aku nggak lupa kok Bu. Aku pasti pulang ke rumah ini. Karena disini ada wanita yan sangat aku cintai menungguku pulang dengan segelas susu. Aku hanya mengikuti kata hatiku Bu mencari tempat yang damai dan nyaman”
“Suatu saat kamu akan tahu dimana kamu akan merasa damai dan nyaman Nduk”
Aku mengangguk dan aku menatap mata Ibuku yang terlihat lelah. Namun gurat-gurat kekuatan masih tersimpan di wajah tua itu. Di hati aku berjanji bahwa aku akan pulang karena di rumah ini ada seseorang yang menantiku…….
***
Entah sudah berapa lama aku tertidur di tempat ini. Saat tersadar aku telah menjadi seorang putri. Kakiku berubah menjadi kaki seorang putri. Tanganku berbah menjadi tangan seorang putri. Bajuku pun berubah menjadi baju seorang putri lengkap dengan bunga-buna di sekitar rambutku. Aku membuka mata dengan posisi terlentang dan menatap langit. Tidak ada siapapun selain diriku.tidak pohon, tidak ada rumput, tidak ada batu, tidak ada kerikil, tidak ada binatang, tidak ada apapun. Mataku hanya nanar menatap langit yang gelap seperti sebuah layar bioskop tak berujung.
Satu garis ekliptika langsung muncul di pandanganku. Pada satu malam semua rasi muncul dengan sempurna di depanku. Aku ternganga. Rasi-rasi itu muncul seperti menunjukkan jalanku untuk pulang. Walauun aku tahu rasi hanyalah khayalan orang-orang dulu yang menhubungkan antar bintang hingga membentuk obyek kyalan. Dan malam ini aku mampu melihat tempatku untuk pulang. Aku tersenyum, senyum yang sudah lupa kapan terakhir aku sunggingkan……..
Taurus penjelmaan Dewa Zeus.terdapat bintang Aldebaran, sebagai bintang paling terang. Nebula Kepiting dan Pleiades, si Tujuh Bersaudara. Gemini dengan bintang Pollux, yang besarnya sepuluh kali lebih lebih besar dari diameter Matahari, sebagi primadona. Cancer si Kepiting, Leo sang Singa, dan tak lupa Virgo dengan bintang paling terangnya, Scorpius, si Kalajengking yang membunuh Orion.yang selalu melekat dalam anganku karena kumpulan dari cluster dan galaxy. Bintang Antares yang berwarna merah sebagai bintang paling terang. Sedangkan di Sagittarius, aku mampu melihat kabut galaksi Bimasaktio dan ada Capricornus, Aquarius, tempat lahirnya planet Neptunus, juga Pisces. Jika rasi saja punya keluarga….maka aku juga punya keluarga dan disanalah aku harus pulang……senyumku semakin mengembang dan berubah menjadi tawa terbahak-bahak hingga aku menangis dan gendang telingaku pecah karena tawaku sendiri. Aku berlari terus berlari sambil tertawa mengikut arah rasi-rasi itu yang menuntunku untuk pulang…….aku ingin pulang lebih berarti.
****
Aku sudah tiba di depan rumah. Tempat aku lahir besar dan mempelajari makna pulang. Tanpa aku sadari air mataku menetes. Karena sudah tidak ada lagi perempuan tua yang menungguku sambil tersenyum duduk di depan rumah dengan segelas susu. Tidak ada lagi jawaban dari salam yang aku teriakkan saat membuka sepatu. Tidak ada lagi yang menanyakan kapan aku pulang. Dan saat aku benar-benar ingin pulang semuanya sudah hilang. Blass…….Aku tergugu. Aku berteriak….aku ingin pulang tapi tidak ada lagi yang menungguku di rumah. Semua kosong yang tersisa hanya pusara merah basah tertutup melati putih. Dan aku membaca nama ibuku di pusara itu. Aku merintih sambil berkata, “ Aku harus pulang kemana Bu? Aku sudah lelah? Aku ingin pulang sambil memeluk ibu? Kenapa ibu pergi saat aku telah benar-benar pulang?”. Pertanyaaan itu terus muncul dan tidak terjawab dalam beberapa waktu.
Aku terhenyak saat bahuku tersentuh tangan seorang laki-laki. Saat aku menoleh, dia hanya berkata, “ Pulang sejatinya adalah kembali pada-Nya”. Dia tersenyum dan aku teringat kata terakhir ibuku, “Raa, saatnya kau mencari rumah baru untuk pulang”

3 agustus 2009
Untuk ibuku, tempatku pulang namun dia telah berpulang

Tidak ada komentar: